"Om Aji Cemen wuu... Liat tu skol Sean sama my bebeb bunda Oza jauh lebih tinggi. Cemen om Aji Cemen!" Teriak Sean kesenangan dengan sombongnya ke arah Aji yang duduk di balik kemudi permainan mobil balap, sementara Sean tengah di pangku oleh Moza yang saat ini tengah tertawa melihat Aji yang diledek habis habisan oleh Sean.
"Hari ini Sean cuma beruntung aja makannya om Aji kalah." Sahut Aji matanya tak lepas dari wajah Moza yang kian tertawa geli karena melihat Aji mau meladeni Sean. Lagian Aji itu mengalah bukan benar-benar kalah karena ia tau dia akan di ledek habis habisan oleh Sean dan berakhir melihat tawa Moza yang begitu cantik di matanya. Taukan Aji itu sudah cinta mati pada Moza.
Saat ini mereka tengah berada di sebuah mall, tepatnya di salah satu time zone yang ada di sana menemani Sean yang sejak pagi tadi merengek minta di ajak ke time zone bersama Moza. Padahal kan ada mak bapaknya tapi ya kalau dia maunya Moza ya harus Moza, alhasil pekerjaan Moza di studio di limpahkan pada Okan karena tau ponakannya satu ini kalau gak di turuti pasti akan tantrum gak jelas.
"Cih, om Aji katanya tentala, tentala apaan dali tadi kalah telus sama bocil macam Sean. Nanti Sean bilang sama opi deh kalau om Aji Ndak cocok jadi pengawalnya bunda Sean. Pengawalnya bunda Sean itu sehalusnya pengelan ganteng dan pintel macam Sean."
Moza sebenarnya sadar setiap kali Aji ikut mengawal Sean di time zone begini pasti selalu ngalah ketika di ajak bermain dengan Sean dan menyimpulkan Aji mengalah juga karena bermain dengan Sean yang notabennya bocil baru netas.
"Udah udah, jangan di ledekin terus dong om Ajinya Sean, nanti kalau om Aji nangis kita yang repot." Moza melirik Aji dengan menahan tawa melihat raut wajah Aji yang cemberut di buat buat sok imut tapi jatuhnya malah jadi aneh karena wajah Aji ini radak sangar sangar gimana gitu.
"Kita suluh aja opi pulangin om Aji ke asalnya." Tandas Sean kali ini tawa Moza sudah tak bisa lagi di bendung, ia kembali ngakak. Sean ini sepertinya benar benar punya dendam pribadi pada Aji.
Tawa Moza mulai mereda lalu ia beralih melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan menunjukkan pukul 16:42. "Udah sore nih, baiknya kita pulang ya. Tadi mama Sean bilang gak boleh pulang sore sore loh."
"Yaaaah... Padahal kan Sean belum coba semua pelmainan yang ada di sini. Bunda sih, tadi pakai kelja dulu." Wajah Sean berubah sendu, dengan kepala tertunduk lesu. Ia malah menyalahkan Moza karena memang pagi sejak pagi tadi sibuk dengan beberapa pemotretan di studionya.
Moza dan Aji saling pandang sesaat namun setelahnya Moza lebih dulu memutuskannya dan beralih pada Sean "kapan kapan lagi kita main kesini ya. Kita main dari pagi sampai Sean puas."
"Benelan bunda?" Kepalanya kembali mendongak dengan wajah berseri. Secepat itu raut wajah bocah lima tahun ini berubah.
"Iya." Tidak lupa dengan full senyum
"Oke, tapi sebelum pulang kita beli es klim dulu ya. Please..." Mohon Sean dengan mata berbinar yang begitu menggemaskan dan Moza sudah pasti tak tahan melihat binar mata yang begitu menggemaskan ponakan gantengnya ini.
"Iya, kita beli es krim dulu." Tidak lupa dengan full senyum.
Setalah membeli es krim untuk Sean ketiganya langsung pergi ke besman dimana mobil mereka terparkir namun entah memang perasaan Moza saja atau memang besman mall itu saat ini agak aneh, sangat sunyi tak ada orang satupun disana. Moza menoleh ke sekeliling memperhatikan sekitar yang memang begitu sunyi, seakan akan situasinya begitu dingin dan mencekam.
"Letnan Aji..." Panggil Moza begitu lirih pada Aji yang tengah menggendong Sean yang sedang makan es krim. Mereka terlihat seperti pasangan yang begitu bahagia bersama anak mereka. Padahal nyatanya tidak begitu.
"Hm, kenapa?" Aji menoleh pada Moza yang berjalan di belakangnya.
"Perasaan ku aja atau... Letnan juga merasakan kalau besman ini agak aneh."
Lantas Aji langsung memperhatikan sekitar seperti yang di lakukan Moza tadi dan memang benar adanya besman ini begitu aneh, sunyi seperti kuburan tak ada manusia satupun disana hanya ada mobil yang berjejer rapih.
Iya, tau besman itu memang tempat yang tak pernah ramai, tapi paling tidak pasti akan selalu ada beberapa orang yang ada disana kan, baik itu baru datang ataupun mau pulang seperti mereka ini. Tapi kali ini benar benar berbeda membuat otak Moza kian berpikiran yang tidak tidak, belum lagi akhir akhir ini Moza menyadari ada beberapa orang yang mengikutinya, lebih tepatnya sejak kejadian dia di kejar kejar saat akan ke car free day waktu itu dengan sepeda. Sungguh, Moza merasa sejak saat itu ia seperti di buntuti oleh orang tak di kenal.
Moza menempel ke sisi tubuh Aji menyelipkan tangannya di antara lengan Aji yang masih menggendong Sean yang nampak asyik dengan es krimnya dan belum menyadari ketakutan Moza dan ke was wasan Aji.
Seharusnya ini sebuah momen langkah dimana Moza mau dengan suka rela menempel pada Aji seperti ini, dalam beberapa bulan ia bertugas mengawal Moza ini kali pertama gadis itu mau menempel seperti ini padanya, tapi situasi saat ini bukanlah saatnya untuk merasakan hati berbunga bunga malah sebaliknya Aji malah menjadi was was dan cemas.
"Sebentar. Nona bisa gendong Sean sebentar?"
Moza mengangguk lalu menerima Sean dalam gendongannya. Bocah lima tahun itu baru sadar akan raut wajah Moza yang terlihat ketakutan.
"Bunda kenapa?" Tanya Sean.
Moza menggeleng "bunda gak papa sayang." Matanya melirik sekitar.
Sementara Aji berjongkok pura pura menjatuhkan dompetnya, lalu setelahnya merunduk melihat pada bagian setiap kolong mobil yang terparkir disana untuk memastikan sesuatu sambil sebelah tangannya perlahan meraba tubuh bagian belakang untuk mengambil pistol yang selalu ia bawa dan sembunyikan disana.
Deg!
Aji meneguk Saliva. Jantungnya mulai berpacu tak menentu. Dugaannya maupun Moza ternyata benar, besman ini memang tak beres, di beberapa mobil yang terparkir ada orang orang yang bersembunyi tak hanya satu atau dua orang, tapi lebih dari itu. Entah komplotan itu menargetkan siapa yang jelas saat ini mereka dalam bahaya. Belum lagi mata Aji mendapati salah satu moncong senjata yang mengarah ke mereka, di balik salah satu ban mobil yang tak jauh dari ketiganya posisinya orang tersebut berjongkok disana.
Aji lantas mendongak menatap Moza yang kini tengah menatapnya dengan sorot cemas, khawatir bercampur takut.
Aji berbisik setelah bangkit "Nona tetap berada di belakang saya." Ia memindahkan pistol tadi ke bagian saku kanan celana kargo yang ia gunakan.
Kata kata Aji membuat Moza kian yakin kalau keadaan mereka saat ini sedang tak baik baik saja. Moza langsung mengambil tempat berjalan di belakang Aji bersembunyi di balik tubuh Tegap lelaki itu dan tanpa sadar menggenggam erat tangan Aji yang langsung Aji sambut tak kalah erat menggenggam tangan Moza.
"Letnan, mobil kita tadi sebelah mana si? Ayo kita cepat pulang, aku takut. Aku mau ketemu papi." Suara Moza tak kalah lirih, ia mengeratkan gendongannya pada Sean. Matanya bahkan sudah mulai berkaca kaca ketakutan setengah mati.
"Bunda... Sean kok melinding ya? Apa di sini banyak hantunya?" Ternyata lama kelamaan Sean juga menyadari sekitar.
"Ssst..!!" Aji menempelkan jari telunjuk miliknya pada bibirnya memberi isyarat pada Sean untuk diam.
Dan dengan patuh bocah itu mengangguk, menyimpulkan bahwa mungkin jika dia mengeluarkan suara para hantu disana akan bangun.
Aji mulai melangkah pelan di ikuti Moza, ia juga tak kalah cemas dengan keadaan mereka sekarang, otaknya juga berputar memikirkan jalan keluar. Ini kali pertama dalam seumur hidup Aji ia dalam keadaan semencekam ini lebih lebih ia tengah bersama dua orang yang merupakan bukan orang terlatih seperti dirinya, yang satu bocah berusia lima tahun yang satu anak panglima jenderal.
Tapi tunggu, anak panglima jenderal? Apa komplotan ini tengah mengincar Moza dan Sean yang merupakan seseorang yang berharga bagi panglima jenderal yang merupakan pimpinan pasukan abdi negara yang ada di negara ini. Karena tau sendiri posisi itu memang tinggi dan mungkin terlihat menyenangkan di mata orang awam namun memiliki resiko yang juga tak main main dan tentunya membahayakan orang sekitar karena sudah pasti panglima jenderal memegang dan menyembunyikan beberapa data kasus kasus besar baik itu yang umum maupun rahasia.
Jika dugaan Aji ini benar, maka sudah dapat di pastikan semua senjata komplotan itu mengarah pada mereka bertiga terutama pada Moza dan juga Sean.
Aji melirik moncong senjata yang tadi ia sempat lihat dan benar saja senjata itu menargetkan mereka dan mengikuti setiap pergerakan ketiganya.
Letak mobil mereka masih sangat jauh. Otak Aji di paksa untuk berpikir keras mencari jalan keluar sebelum para bedebah sialan itu menghabisi mereka.
Aji yakin tak lama lagi salah satu dari beberapa komplotan itu akan menarik pelatuk mereka jika senjata mereka sudah tepat membidik targetnya.
Aji menghela nafas. Tanpa babibu lagi Aji menarik pistol dari saku celananya dan menarik pelatuk pada senjata api tersebut untuk memancing para komplotan itu setelahnya menarik sigap Moza untuk membawa bersembunyi di mobil terdekat.
Dor!
Dor!
Moza memekik kaget, lebih lebih mendengar suara tembakan yang di lakukan Aji. Jantungnya jadi berdebar debar tak karuan karena kaget bercampur takut.
"Bunda suala apa itu?! Om Aji jangan kasal kasal tal–"belum selesai Sean komplain karena Aji yang tiba tiba menarik Moza dan membuat es krim miliknya terjatuh mengenaskan suara tembakan lainnya pun keluar seakan akan menyambut pancingan Aji.
Dor!
Dor!
Dor!
"PAPIHHHH!!" Teriak Moza sekencang mungkin mendekap erat Sean yang kini berada dalam dekapannya. Tembakan demi tembakan itu menghancurkan beberapa kaca mobil disana bahkan mobil yang menjadi tempat mereka bersembunyi sudah benar benar tak karuan hancurnya karena di hujami peluru dari berbagai sisi.
"MAMA!!!" Tak kalah dari Moza, Sean juga ikut berteriak sekencang kencangnya mendengar suara tembakan yang berada di sekitar mereka. Tubuh bocah lima tahun itu bahkan bergetar hebat karena ketakutan.
Aji memicingkan kedua matanya sejenak, ia juga syok berat akan penyerangan mendadak yang tak ia sangka sangka ini. Ia mengintip sekitar sejenak yang dimana ketiganya sudah benar benar di kepung, moncong senjata para komplotan itu benar benar mengarah pada mereka, ini jika mereka masih tetap berada di mobil yang mereka gunakan untuk bersembunyi yang kini sudah ringsek dan hancur karena peluru, Aji dapat pastikan mereka akan segera mati di sini saat itu juga karena tetap bertahan di mobil yang sudah tak bisa mereka jadikan tempat berlindung itu.
"Nona kita harus segera pindah dari sini!" perintah Aji yang tak di dengarkan oleh Moza karena gadis itu sudah tak fokus akan sekitar ia sudah menangis tak karuan bersama Sean yang ada di pelukannya keduanya benar sudah ketakutan setengah mati.
Melihat tak ada reaksi dari Moza, Aji langsung menarik paksa Moza, mereka sudah tak punya pilihan lain selain lari dan bertahan hidup. Jika pun dari ketiganya harus ada yang mati maka itu adalah Aji bukan Moza ataupun Sean karena sebagai pengawal Aji harus selalu memastikan tuannya selamat hanya itu karena itu tugasnya.
Bugh!
Moza terjatuh di tengah pelarian mereka bersama Sean juga karena bocah itu masih di gendong oleh Moza.
Dor!
Dor!
Jleb!
"BUNDA!"
"SEAN!"
"NONA! SEAN!"
...Baca part 12 ulang ya. Karena aku tambahin ulang part disana....
...Terimakasih 🙏...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
DozkyCrazy
hadddeh Dee lambey mu minta di sun y wkwkwk
2024-11-13
1
DozkyCrazy
tegaaang mennn
2024-11-13
1
Naswa Al rasyid
sukses buat aku tegang kak author mah.... lajut kakak..
2024-09-17
1