Istri orang

"Heh, denger gak saya ngomong?" suara Abri membuat Moza yang tengah melamun kini tersadar. Ternyata sejak tadi pria itu berbicara. Berbicara apa? Dengan polosnya Moza menggeleng.

Abri berdecak. Ia lantas berdiri dari hadapan Moza "kamu bisa berdiri gak?" tanyanya sekali lagi memastikan.

"Kalau bisa udah dari tadi saya bangkit." Dengan hati hati Moza mencoba untuk berdiri sendiri.

"Ulurkan tanganmu." pinta Abri.

"Ha? Untuk apa?" tanya Moza heran, ia mendongak menatap Abri yang berdiri menjulang tinggi sementara dia masih duduk di atas trotoar.

"Ulurkan saja, mau bangun atau gak?" ujar Abri lagi sedikit tegas.

Moza agaknya kaget, namun akhirnya menurut. Ia mengulurkan tangannya yang dk sambut Abri dan langsung menariknya hingga bangkit, berdiri tegak di hadapan pria itu. Beberapa saat mata mereka bertemu.

Moza kembali tertegun menatap Abri dari jarak dekat seperti ini, belum lagi peluh keringat yang membanjiri wajah dan juga lengan berototnya yang menonjol itu. Uh, kharisma, pesona dan juga kegagahannya semakin tak terkira.

Tolong ya tolong Abri yang seperti ini semakin tidak bisa di tolerir, yang ada Moza akan semakin terperangkap dan jatuh dalam pesona pria itu.

"Kenapa ngeliatin saya segitunya? Terpesona hm?" ujar Abri setengah meledek ia melepaskan Hoodienya dan memberikannya pada Moza.

"Ini untuk apa?" tanya Moza balik ia tak menjawab pertanyaan Abri karena sudah dapat di pastikan ia memang terpesona cuma ya gak mungkinkan Moza bilang iya. Gengsi dong. Cukup cukup kejadian di restoran itu saja yang membuatnya malu di hadapan Abri kali ini jangan lagi. Ia menerima Hoodie yang di berikan Abri.

"Untuk nutupi aurat kamu yang kemana-mana." tunjuk Abri pada paha putih mulus Moza yang terlihat menggoda. "Bisa bawa sepeda gak?" tanyanya lagi melihat Moza yang masih mengikatkan Hoodie milik Abri di pinggangnya.

"Gak tau, akan saya coba." Setelahnya Moza berjalan kearah sepedanya yang tadi sempat di pinggirkan oleh para pria yang mengerubunginya tadi dengan tertatih-tatih "Ssskk!". Desisnya merasakan sakit di kaki, padahal baru berjalan tiga langkah.

Abri menghela nafas lagi langsung naik keatas sepeda Moza "ayo saya antar."

Moza kaget melihat Abri sudah duduk di atas sepeda milik Moza. Dia tidak salah dengarkan? "Mas mau antar saya?" Tanya Moza tak yakin.

"Hm." Jawab Abri hanya mengguman. Abri tulus ya mau nganter bukan mau modus seperti yang lain.

"Mas beneran?" tanya Moza lagi masih tak yakin.

"Apa wajah saya nampak bercanda?" Abri malah balik bertanya. "Mau naik atau gak? Saya masih banyak kerjaan lagi loh ini."

Sebenarnya bisa saja Moza minta jemput orang rumah, cuma kan dapat rezeki nomplok begini mana mungkin Moza tolak sih, bukan dia loh yang minta, malah Abri sendiri loh yang mau anterin. Lantas kepala Moza mengangguk dua kali. Tapi tunggu, kalau di antar naik sepeda dia mau duduk di mana ini? Kursi sepeda itu tunggal tak ada kursi penumpangnya . "Saya... Duduk dimana mas?"

"Duduk disini." tunjuk Abri tanpa ragu pada batangan sepeda yang ada di hadapannya.

Moza menatap Abri dan juga sepedanya secara bergantian. Yang benar saja? Yang ada pantatnya sakit sampai rumah kalau duduk disana.

"Heh, malah diam, mau saya antar gak nih?" ujar Abri sudah tidak sabar.

"Eh, iya iya." Akhirnya mau tak mau Moza menurut. Dengan sedikit ragu ia mendaratkan bokongnya kebatangan sepeda tersebut sambil beroda dalam hati semoga bokong imutnya tidak akan tetap baik baik saja selamat sampai rumah.

Dan setelah di rasa posisi Moza sudah nyaman, pelan-pelan Abri mulai mengayuh sepeda itu hingga semakin cepat. Moza yang ada di depan hanya diam seperti patung. Bagaimana tidak diam seperti patung? Dalam jarak sedekat dan cukup intim ini membuat Moza tak bisa berkutik.

Kanan kiri di suguhi lengan berotot Abri yang aduhai, melengos kekiri yang ada malah dia mencium pipi pria ini nantinya, karena posisi wajah pria itu ada di samping wajahnya. Sementara bergerak mundur lebih bahaya. Ini saja punggung dan dada Abri sudah menempel bak perangko dan amplopnya. Luwengket... Banget.

Haduh, mimpi apa Moza semalam bisa di bonceng romantis seperti ini oleh pria hot, berkarisma dan tampan seperti Abri.

"Ya Tuhan, rencana apa yang ingin telah kau susun? Jangan sampai aku terjerat dalam pesona dan perhatiannya ini!" Batin Moza sudah meronta-ronta. Jujur saja kalau terus berdekatan dengan Abri seperti ini yang ada Moza benar-benar jatuh ini.

Mana jantung pakai jedag-jedug lagi Belum lagi pipinya malah memanas dan ia juga sampai susah untuk bernafas..

Oh, tuhan! Seandainya saja Moza tau kalau di antar pulang pria ini membahayakan nyawanya seperti ini. Dari awal sudah pasti Moza tak ingin di antarkan pulang

Kenapa Moza bilang sampai membahayakan nyawa? Itu karena pesona Abri benar-benar mematikan, Moza saja sampai susah nafas ada di dekatnya begini.

Intinya Abri itu sangatlah berbahaya dan diam-diam memiliki perangkap tak kasat mata yang mampu menjerat Moza dalam sekejap mata. Moza akui itu, karena detik itu juga ia sudah masuk dalam perangkap tak kasat mata pria ini dan terjerat habis-habisan dalam pesonanya.

Semantara Abri, ia tetap fokus akan jalanan, sesekali melirik Moza yang tidak bergerak sama sekali di hadapannya sudah seperti patung.

Tapi ya, di situsi ini Moza tak sendiri karena Abri juga tidak beda jauh dari Moza, jantungnya juga tidak karuan. Ini kali pertama ia dalam jarak sedekat ini dengan seorang gadis, ya walaupun dulu Abri pernah pacaran tapi tidak pernah sampai segininya. Ia pacaran dengan sehat tidak lebih dari pegangan tangan, ya pernah su cepika cepiki. Tapi entah mengapa sensasi bersama Moza itu berbeda sekaan lebih membakar jiwanya.

Begelora gak tuh?

Belum lagi wangi manis dari rambut dan juga tubuh gadis ini yang mampu membuatnya otaknya mobat mabit.

Ya Tuhan! Salah sendiri, nyari penyakit sih bri.

"Rumahmu di mana?" tanya Abri, seraya mengenyahkan gelenyar aneh yang menjalar di tubuhnya.

"I-itu" tunjuk Moza pada gang perumahan mewah yang ada di depan sana.

Oh ternyata jarak rumah mereka tidaklah jauh. Tapi kok ya baru bertemu sekarang?

Akhirnya mereka memasuki Simpang dengan santai sesekali membalas senyum pada satpam yang berjaga di Simpang perumahan elit tersebut. Agaknya wajah satpam di Simpang itu kaget bercampur heran melihat Moza di bonceng naik sepeda dengan pria yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Ini rumah saya." ujar Moza setalah cukup jauh mereka memasuki perumahan dengan bangunan yang hampir seluruhnya rumah mewah.

Abri langsung saja melewati gerbang rumah yang memang sudah terbuka. Sementara satpam yang berjaga hanya melongo melihat anak majikannya yang pulang di antar oleh pria asing yang belum pernah ia lihat. Bahkan bukan dari salah satu pria yang sering mengantarkan bunga-bunga untuk Moza, karena satpam rumah Moza itu sangat hafal dan tanda wajah-wajah pria yang silih berganti yang mengantakan bunga.

Setelah menghentikan sepedanya di depan rumah mewah itu. Moza langsung turun dari atas sepeda, begitu juga Abri.

"Ssskk!!" desis Moza merasakan kakinya yang teramat sakit, ia menatap Abri dengan tatapan memohon pertolongan.

Abri yang mengerti arti tatapan gadis itu pun lantas menghela nafas berat, tapi ia tetap membantu memapah gadis itu berjalan memasuki rumah.

"Haduh Gusti, mbak Moza kenapa ini mbak?" Tanya pak satpam berlari menghampiri saat melihat Abri memapah Moza untuk berjalan masuk tidak lupa ia meneteng beberapa buket bunga.

"Tadi jatuh pak." Jawab Moza dengan raut kesakitan.

"Haduh, Gusti. Gak ada orang di rumah loh ini mbak, ibu kepasar sama si mbok. Bapak juga sudah pergi sama mas Marwan mbak Fira sama mas Julian sih yang di rumah, tapi mungkin masih tidur. Sementara mas Aji belum balik. Haduh mbak bisa di teteli ini serumah kalau bapak tau mbak Moza luka begini." Panik satpam tersebut.

Abri langsung menoleh ke Moza yang ternyata tengah meliriknya. Satu yang Abri simpulkan, Moza ini anak manja plus kesayangan bapaknya. Lihat saja cara satpam itu menjelaskan.

"Moza gak papa pak cuma terkilir sedikit." Ucap Moza untuk mengurangi rasa khawatir satpamnya. "Mas saya minta tolong bantu saya jalan sampai kedalam ya?" Pinta Moza pada Abri, Abri hanya mengangguk saja.

Abri menuntun gadis itu sampai tiba di dalam rumah sementara pak satpam tadi kembali ke pos ya. Abri mendudukkan Moza di salah satu sofa yang berbeda di ruang tamu.

"Oh, my God bebeb Sean!" Teriak seorang bocah yang sedang berada di anak tangga terakhir berlari ke arah Moza dan juga Abri, ia sempat terjatuh tersandung kaki sendiri membuatnya mengaduh namun tak menangis. Sean bahkan bangkit kembali dan menghampiri Moza dengan raut khawatir.

"Jangan lari lari sayang." Peringat Moza begitu Sean tiba di hadapannya.

Alis Abri berkerut, menatap Moza dan juga Sean yang sekilas terlihat mirip. Apa ini anaknya? Batinnya mulai menerka.

"Bebeb Sean kenapa? Kok kakinya luka luka begini?" Bocah lima tahun itu benar benar nampak khawatir sekali.

"Bunda jatuh dari sepeda Sean."

Bunda? Terjawab sudah rasa penasaran Abri, gadis di hadapannya sudah menyebutkan dirinya sebagai bunda yang berarti itu anaknya kan? Ternyata dia menolong istri orang toh. Kok agak nyeri ya? Iya jantungnya kayak di gigit semut gitu tau Moza udah punya suami dan juga anak. Abri lantas mengenyahkan perasaan aneh yang menghinggapinya itu.

Sean beralih mendongak menatap Abri "telus om ini siapa? Oh jangan jangan om cowok ganjen ya yang mau lebut bunda Sean? Oh atau om yang uda buat bunda Sean jadi lecet lecet begini ya hayo ngaku?! Dasal cowok spesialis buaya Dalat!" Segala tuduhan Sean layangkan pada Abri.

Tapi bukannya marah Abri malah melipat bibirnya kedalam berusaha menahan tawa rasanya lucu sekali melihat bocah ini marah marah dengan suara cedal.

"Sean gak boleh gitu." Peringat Moza merasa tak enak.

Namun bocah lima tahun yang wajahnya masih berhiaskan iler itu menggeleng dengan jari telunjuk di goyangkan ke kiri dan ke kanan. "Em, em, em. No bunda. Ini om om pasti komplotan om Aji pasti, Sean yakin ini om om pasti mau culik bunda Oza. Bener kan om? Haduh, ganteng ganteng tukang culik telnyata. Ndak lalu ya sampai mau culik bebebnya Sean?"

Tak tahan lagi, Abri punya turut menyemburkan tawanya merasa lucu akan bocah lima tahun yang pembawaannya tak seperti bocah lima tahun.

"Wah, ketawa lagi."jelas tawa Abri tak di sukai Sean yang sudah memasang wajah tak bersahabatnya. "Awas aja Sean aduin sama papanya Sean bial di sunat. Kata papa kalau ada cowok nakal itu halus di sunat bial gak nakal lagi."

Bocah itu lalu berlari kembali menaiki tangga sambil berteriak teriak "papa... Papa... Ada buaya Dalat mau culik bunda Sean papa....!!"

Abri lantas terkekeh. "Anakmu lucu." Ucapnya masih tertawa memperhatikan Sean yang kini telah menghilang karena telah sampai di lantai dua.

"Iya." Jawab Moza membenarkan tingkah Sean yang memang selucu itu.

Tawa Abri pun reda "Okelah, kalau gitu karena kamu sudah sampai rumahmu dengan selamat saya juga harus pulang. Titip salam sama anak dan juga suamimu. Assalamualaikum." Abri langsung berlalu tak ingin lama lama di sana. Tak enak juga berduaan dengan istri orang.

"Waalaikumsalam." Jawab Moza linglung memikirkan setiap kalimat yang Abri ucapkan. Tunggu dia bilang apa tadi? Suami? Abri mengira Moza punya suami dan Sean itu anaknya gitu? Oho, dia salah paham Moza! Moza masih gadis Ting Ting loh ini woy!

"Tung–" kalimat Moza menggantung tak jadi keluar kala sosok Abri sudah menghilang di balik pintu utama. Mau di kejar juga kakinya saja sakit. Ya tuhan, kacau banget dah Moza kacau. Baru pertama kali suka cowok eh malah si cowoknya salah paham begini.

Mati aja deh za mati!

Terpopuler

Comments

DozkyCrazy

DozkyCrazy

cadeel dee

2024-11-13

1

💗 AR Althafunisa 💗

💗 AR Althafunisa 💗

ya ya ya... habis, ga jadi deh ya nya. Masih lanjut 🤭 Alhamdulillah... 😍

2024-09-10

1

💗 AR Althafunisa 💗

💗 AR Althafunisa 💗

Ya Allah, gemesin bgt sih kamu Sean 😍😍😬

2024-09-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!