Uji Coba

Entah sudah berapa kali handphone Edward bergetar dan Fahmi bisa melihat nama Lily muncul di layar yang menyatu dengan radio dan tape tapi sepertinya Edward tidak berminat menerima panggilan itu malah memutus sambungan bluetoothnya hingga tidak mengganggu konsentrasi Fahmi.

“Sepertinya ada hal penting sampai dokter Lily menhubungi anda berkali-kali, dokter.”

“Tidak ada yang lebih penting daripada masalahku saat ini, Fam. Tambah kecepatan, temanku sudah menunggu di sana.”

“Baik dokter.”

Edward tidak protes saat Fahmi mempercepat laju mobil dan sering membunyikan klakson hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan kurang dari 30 menit dan mobil sudah parkir di lantai basement.

“Sebaiknya kamu menungguku di mobil. Susul aku kalau belum kembali dalam waktu 2 jam.”

“Susul kemana dokter ?”

“Lantai 5. Cari saja Jonni, bilang kamu temanku.”


Terlihat Fahmi ragu membiarkan Edward turun sendirian tapi dokter muda itu sudah bergegas keluar langsung menuju lift yang ada di sisi kanan mobil.

Tidak yakin dengan permintaan bossnya, Fahmi ikut turun dan menunggu di depan lift untuk memastikan di lantai berapa Edward berhenti. Ternyata sesuai instruksi, lift berhenti lama di lantai 5.

Tanpa berlama-lama, Fahmi menekan tombol naik dan pintu lift di sebelahnya langsung terbuka. Perasaannya tidak enak, khawatir kejadian yang sama akan berulang lagi tapi kali ini tidak ada Elsa yang bisa membantunya.

Fahmi menghela nafas begitu membaca tulisan yang tertera di depan lift. Ia pun mempercepat langkah dan sayangnya tidak mudah mencari Edward karena selain cahaya lampu di dalam ruangan agak temaram, pengunjung di sana bisa dibilang cukup ramai.

Fahmi langsung menuju meja bar dan mencari tahu tentang pria yang bernama Jonni seperti yang diberitahu Edward. Ia sampai harus sedikit berteriak untuk melawan suara hingar bingar musik yang memekakkan telinga.

Fahmi gelisah dan bolak balik melihat layar handphonenya. Sudah lebih dari 10 menit dan pria yang bernama Jonni tidak kunjung datang menemuinya hingga akhirnya Fahmi nekad menelusuri ruangan yang ada di tempat itu.

“Apa anda sudah booking ?” Seorang pria bertubuh besar mencegahnya memasuki satu lorong yang sedikit lebih gelap dari ruang utama.

“Saya teman Edward Hartawan, ingin bertemu Jonni.”

Pria itu mengerutkan dahi memperhatikan Fahmi dari atas sampai ke bawah. Belum sempat ia berbicara dengan hand talkienya, seorang pria berpakaian jas keluar dari lorong gelap itu.

“Temannya Tuan Edward ingin bertemu anda boss.”

Fahmi menghela nafas dan yakin kalau pria yang sekarang berdiri di hadapannya bernama Jonni.

“Belum waktunya, kenapa kamu sudah datang kemari ?”

“Saya tidak bisa menundanya karena Tuan Robert berkali-kali menghubungi saya dan ingin bicara dengan Tuan Edward. Penting dari rumah sakit.”

Fahmi terpaksa berbohong karena firasatnya kurang baik apalagi melihat tempat yang didatangi Edward bukanlah restoran mewah meski sebagian besar pengunjungnya kelihatan berkantong tebal.

“Di ruang 3.”

Jonni menepi dan memberi isyarat supaya Fahmi melewatinya menuju ruang 3. Tanpa menundanya, Fahmi bergegas ke sana dan betapa terkejutnya ia melihat apa yang sedang terjadi di situ.

“Kenapa kamu kemari ?” bentak Edward yang terkejut melihat kedatangan asistennya.

Tiga orang wanita yang ada di situ dengan pakaian super minim terlihat tidak terganggu dengan kedatangan Fahmi bahkan salah seorang yang duduk di atas pangkuan Edward terlihat anteng-anteng saja. Fahmi sampai membuang muka karena wanita itu sudah tidak memakai penutup di bagian atasnya.

“Pergi kalian !” tegas Fahmi dengan tatapan galak.

“Fam, jangan ikut campur urusanku !”

Fahmi tidak menggubris perkataan Edward malah menarik wanita yang duduk di atas pangkuan bossnya dengan kasar.

“Pergi !” Kali ini suara Fahmi benar-benar keras dan tegas.

Ketiga wanita tadi tidak menggubris perintah Fahmi malah menatap Edward yang akhirnya menganggukan kepala baru mereka keluar.

“Kenapa dokter sampai melakukan hal menjijikan seperti ini ? Apa semudah itu dokter melupakan kejadian di hotel ? Apa merenggut keperawanan seorang gadis tanpa tahu siapa orangnya bukan masalah besar untuk dokter ?”

Edward menghela nafas kemudian beranjak bangun dan mengambil kemejanya yang sudah dilepas dan merapikan kembali celana panjangnya yang terbuka.

“Aku akan menceritakan alasanku padamu. Kita pulang sekarang.”

Fahmi yang merasa kecolongan tidak mau meninggalkan Edward sendirian bahkan saat pria itu menemui Jonni untuk menyelesaikan transaksi mereka.

“Susah kalau punya CCTV hidup,” sindir Jonni sambil tertawa meledek, melirik Fahmi yang tidak peduli dan memasang wajah datar.

“Kapan-kapan kalau butuh lagi…”

“Sepertinya tidak akan ada kapan-kapan,” potong Edward sambil menepuk bahu pria itu sambil berlalu.

**

“Kenapa dokter tidak menemui dokter spesialis malah mendatangi tempat seperti itu ?”

Fahmi menautkan alisnya menatap Edward yang sedang menyesap teh hangatnya.

“Aku belum siap menerima kenyataannya, Fam. Semula kupikir semua ini hanya sementara karena terlalu lelah dan stres dengan pekerjaan tapi sudah 5 hari berlangsung dan segala cara yang aku lakukan tidak ada hasilnya.”

“Lalu hasil uji coba hari ini ?” Edward menggeleng.

“Aku tidak merasakan apa-apa, Fam. Bahkan perempuan yang duduk di atas pangkuanku tadi hanya terlihat seperti pasien di atas meja operasi.”

Keduanya sempat terdiam, masing-masing menikmati minumannya.

“Maaf kalau saya sedikit lancang. Apa dokter pernah terpikir kalau semua ini ada hubungannya dengan perpisahan anda dengan nona Elsa ?”

Edward malah tertawa dan hampir saja tersedak teh yang sedang disesapnya.

“Maksudmu aku stres karena ditinggal perempuan itu ? Aku malah bahagia karena bisa lepas darinya, Fam. Aku tidak pernah menganggap dia istriku dan pernikahan kami hanyalah di atas kertas.”

“Mungkin…”

“Aku tidak suka membahas tentang dia, Fam, menyebut namanya saja sudah malas, rasanya lidahku langsung gatal,” Edward tersenyum miring.

“Aku akan segera menikah dengan Lily tapi untuk sementara hanya bisa nikah siri. Kami akan segera punya anak karena aku yakin dengan begitu daddy tidak akan bersikeras mempertahankan pernikahanku dengannya.”

Hati-hati dengan ucapan anda, dokter, jangan sampai anda harus menjilat ludah sendiri dan semuanya sudah terlambat untuk menyesal.

Seandainya waktu bisa diulang, saya tidak akan membiarkan nona Elsa membantu anda malam itu.

“Kita pulang sekarang, Fam. Antarkan aku ke apartemen.”

“Baik dokter.”

Sepanjang jalan tidak ada percakapan, hanya alunan musik yang terdengar. Edward pun menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata tidak peduli dengan handphonenya yang kembali bergetar berkali-kali dan lagi-lagi nama Lily yang terlihat di layar.

Jalanan yang mulai lengang membuat mereka tiba di lobi apartemen hanya dalam waktu 30 menit.

“Bawa pulang mobil, jemput aku besok pagi sebelum jam 7.”

“Baik….”

Keduanya langsung menoleh saat kaca jendela sisi penumpang digedor dari luar dengan cukup keras.

“Edward turun ! Jangan coba-coba menghindar lagi.”

Edward menghela nafas berat melihat Lily betolak pinggang sambil melotot.

Terpopuler

Comments

kriwil

kriwil

elsa juga ga bener udah tau yang di pilih jadi suami punya pacar juga di pilih padahal masih ada adiknya yang jomblo siapa pun juga akan jijik hanya atas dasar dia cinta sama si edward padahal udah tau lakinya punya pcr ngapain si elsa maju milih nikah sama si ed

2025-03-28

0

Ayu Dani

Ayu Dani

iiih Makin menjijikan saja kelakuan s Edward rasanya gak rela bgt kalo si Elsa balikan sama dia.... secara s Edward bgtu kejam sama elsa

2024-08-21

3

Tinaristina

Tinaristina

sabar ed ini br permulaan ....

2024-08-11

3

lihat semua
Episodes
1 Tugas Seorang Istri
2 Teman Selingkuh
3 Tindakan Nekad Si Pelakor
4 Selembar Surat Cerai
5 Rencana Gila
6 Jejak yang Hilang
7 Gejala Menakutkan
8 Uji Coba
9 Pelakor Diselingkuhi
10 Di Balik Permintaan Maaf
11 Kedatangan Penjaga Hartawan
12 Siap Menerima Tantangan
13 Perjanjian yang Terlewatkan
14 Saputangan dan Wanita Penuntut
15 Pertanggungjawaban
16 Berandai-andai
17 Pengakuan Lily
18 Kedatangan yang Tiba-tiba
19 Sentuhan Maut
20 Awal Pencarian
21 Bocah yang Sudah Dewasa
22 Pria Sombong dan Menyebalkan
23 Marah, Kecewa dan Sakit
24 Pengakuan dan Kebohongan
25 Usaha Awal
26 Kemarahan Elsa dan Pendukungnya
27 Setengah Hari Bersama Gilang
28 Perbincangan dari Hati ke Hati
29 Pelajaran Tentang Kecewa
30 Percakapan Kakak Adik
31 Melepas dengan Ikhlas
32 Harus Bagaimana ?
33 Arti Sebuah Nama
34 Tamu yang Tiba-tiba
35 Skenario Baru
36 Permohonan dan Penyesalan
37 Cerita Lama dari Kinan
38 Kebodohan Edward
39 Ijin Tinggal
40 Meluruskan Kesalahpahaman
41 Pelajaran Pertama
42 Pelajaran Kedua
43 Kejujuran yang Beresiko
44 Kamar yang Terkunci
45 Pria Paling Beruntung
46 Pembelaan Elsa
47 Kebahagiaan dan Kebimbangan
48 Pesan Sponsor ?
49 Keruwetan Kinan
50 Kegalauan Edward
51 Kedatangan Kinan
52 Pertimbangan Erwin
53 Pertengkaran Sahabat
54 Kelulusan Elsa
55 Erwin yang Berbeda
56 Keputusan Erwin
57 De javu
58 Kembali ke Rumah Sakit
59 Menghalau Pelakor
60 Berita Mengejutkan
61 Obrolan Siang
62 Penyesalan dan Penyesalan
63 Ketegasan Elsa
64 Pria Bertanggungjawab
65 Cinta dan Pengorbanan
66 Cinta yang Belum Habis
67 Pertemuan Kinan dan Erwin
68 Pertanyaan Bodoh
69 Pengakuan
70 Permintaan Gilang
71 Menerima Takdir
72 Tidak Bisa dan Tidak Mau
73 Alasannya : Aku Takut
74 Aku Tahu dan Cemburu
75 Keresahan Gilang
76 Kegalauan Erwin
77 Pria Terbodoh
78 Kecemasan Elsa
79 Dinginnya Elsa
80 Protes Hilda
81 Teguran Keras
82 I love you Elsa
83 Kejutan
84 Penjelasan Gilang
85 Wani Piro, Mas ?
86 Dan Elsa pun…..
87 Cinta dan Keikhlasan
88 Kepergian Lily
89 Cintamu Selamanya
90 Terima Kasih
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Tugas Seorang Istri
2
Teman Selingkuh
3
Tindakan Nekad Si Pelakor
4
Selembar Surat Cerai
5
Rencana Gila
6
Jejak yang Hilang
7
Gejala Menakutkan
8
Uji Coba
9
Pelakor Diselingkuhi
10
Di Balik Permintaan Maaf
11
Kedatangan Penjaga Hartawan
12
Siap Menerima Tantangan
13
Perjanjian yang Terlewatkan
14
Saputangan dan Wanita Penuntut
15
Pertanggungjawaban
16
Berandai-andai
17
Pengakuan Lily
18
Kedatangan yang Tiba-tiba
19
Sentuhan Maut
20
Awal Pencarian
21
Bocah yang Sudah Dewasa
22
Pria Sombong dan Menyebalkan
23
Marah, Kecewa dan Sakit
24
Pengakuan dan Kebohongan
25
Usaha Awal
26
Kemarahan Elsa dan Pendukungnya
27
Setengah Hari Bersama Gilang
28
Perbincangan dari Hati ke Hati
29
Pelajaran Tentang Kecewa
30
Percakapan Kakak Adik
31
Melepas dengan Ikhlas
32
Harus Bagaimana ?
33
Arti Sebuah Nama
34
Tamu yang Tiba-tiba
35
Skenario Baru
36
Permohonan dan Penyesalan
37
Cerita Lama dari Kinan
38
Kebodohan Edward
39
Ijin Tinggal
40
Meluruskan Kesalahpahaman
41
Pelajaran Pertama
42
Pelajaran Kedua
43
Kejujuran yang Beresiko
44
Kamar yang Terkunci
45
Pria Paling Beruntung
46
Pembelaan Elsa
47
Kebahagiaan dan Kebimbangan
48
Pesan Sponsor ?
49
Keruwetan Kinan
50
Kegalauan Edward
51
Kedatangan Kinan
52
Pertimbangan Erwin
53
Pertengkaran Sahabat
54
Kelulusan Elsa
55
Erwin yang Berbeda
56
Keputusan Erwin
57
De javu
58
Kembali ke Rumah Sakit
59
Menghalau Pelakor
60
Berita Mengejutkan
61
Obrolan Siang
62
Penyesalan dan Penyesalan
63
Ketegasan Elsa
64
Pria Bertanggungjawab
65
Cinta dan Pengorbanan
66
Cinta yang Belum Habis
67
Pertemuan Kinan dan Erwin
68
Pertanyaan Bodoh
69
Pengakuan
70
Permintaan Gilang
71
Menerima Takdir
72
Tidak Bisa dan Tidak Mau
73
Alasannya : Aku Takut
74
Aku Tahu dan Cemburu
75
Keresahan Gilang
76
Kegalauan Erwin
77
Pria Terbodoh
78
Kecemasan Elsa
79
Dinginnya Elsa
80
Protes Hilda
81
Teguran Keras
82
I love you Elsa
83
Kejutan
84
Penjelasan Gilang
85
Wani Piro, Mas ?
86
Dan Elsa pun…..
87
Cinta dan Keikhlasan
88
Kepergian Lily
89
Cintamu Selamanya
90
Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!