Jejak yang Hilang

Elsa benar-benar menepati janjinya meninggalkan apartemen Edward 3 hari kemudian tanpa kehadiran pemiliknya.

Elsa hanya meninggalkan barang-barang pemberian Edward di meja makan dengan catatan kecil, tidak peduli apakah pria itu akan membacanya atau tidak.

Sementara di rumah sakit, tidak ada yang berani membahas atau bertanya tentang kepergian Elsa yang tiba-tiba apalagi sampai keluar dari kampus padahal saat ini adalah tahun terakhirnya.

Isu mulai beredar Elsa pergi karena malu sudah menjadi pelakor dalam kehidupan Edward dan Lily namun tidak juga berhasil membuat Edward mencintainya padahal sudah setahun menikah.

Tapi bagi sebagian orang yang mengenal Elsa dengan baik, tidak percaya kalau calon perawat itu tipe perempuan yang suka merebut milik orang lain.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat pasien terakhir keluar dari ruang praktek Edward. Pria itu pun beranjak dari kursi dan merenggangkan otot-ototnya yang kaku sebelum melepaskan snelli.

“Sayang, capek ya ?”

Edward terkejut saat Lily memeluknya dari belakang, ia tidak mendengar atau melihat kapan wanita itu masuk karena posisinya membelakangi pintu.

“Kok belum pulang ?”

“Tugas malam di IGD. Tiba-tiba aku kangen dan ingat kalau kamu ada jadwal praktek sore ini.”

Edward tertawa pelan dan berbalik memeluk Lily saat mereka sudah berhadapan.

“Kamu selalu menjadi obat penghilang rasa capekku.”

“Gombal !” Lily memukul dada Edward dengan nada manja.

Tanpa membuang waktu, seperti sebelumnya, Lily menarik kemeja Edward dan mencium bibir pria itu dengan penuh semangat.

Edward yang mulai terbiasa, membalas ciuman panas itu bahkan mengangkat tubuh Lily ke atas meja kerjanya.

Yakin ners Asih tidak akan berani menerobos masuk karena tahu dokter Edward sedang kedatangan pasien khusus, ciuman panas itu berlanjut hingga keduanya saling membelit lidah bahkan jemari lentik Lily mulai membuka kancing kemeja Edward dengan sentuhan menggoda.

Tangan Lily sudah berhasil membuka ikat pinggag Edward saat pria itu malah melepaskan bibirnya dan menjaga jarak dengan Lily.

“Jangan sekarang lagipula tidak nyaman melakukannya di sini.”

“Kenapa ? Aku yakin tidak akan ada yang berani masuk apalagi tadi aku sudah berpesan…”

Edward meletakkan jari telunjuknya di bibir Lily sambil tersenyum.

“Kamu tahu tentang prinsip hidupku. Paling tidak kita melakukannya setelah nikah siri.”

“Bukannya kamu bilang akan lebih baik kalau aku segera hamil supaya proses ceraimu bisa cepat selesai dan kita mendapat restu ?”

“Aku tidak lupa, tapi tidak terburu-buru seperti ini. Aku ingin melakukan malam pertama yang istimewa dan sangat berkesan denganmu.”

Lily menghela nafas. Meski hatinya sedikit kesal tapi ia tidak membantah keinginan Edward.

Edward melepaskan tangan Lily yang merangkul lengannya saat keluar ruangan.

“Kenapa ? Kamu malu ? Hampir semua karyawan rumah sakit ini sudah tahu kalau mantanmu itu adalah pelakor,” sinis Lily dengan wajah ditekuk.

“Belum seminggu Elsa keluar dari rumah sakit ini dan kamu pasti tahu berapa banyak pendukungnya.

Aku tidak mau kamu dipandang negatif kalau terlalu cepat memperlihatkan hubungan kita apalagi daddy masih sangat menentangnya. Sabarlah sebentar, tunggu sampai kondisi lebih tenang.”

Lily menghela nafas berusaha meredakan emosinya. Ia berpikir setelah Elsa pergi, tidak ada lagi penghalang yang membuatnya harus menjaga jarak dengan Edward.

“Selamat malam dokter ?”

“Fam, kok masih di sini ? Kamu menunggu seseorang ?”

“Iya.”

Fahmi melirik Lily tapi wanita yang sedang kesal itu tidak sadar hingga akhirnya Edward menyuruh kekasihnya kembali ke IGD.

Tanpa berpamitan Lily meninggalkan kedua pria itu. Hatinya semakin kesal karena Edward tidak berusaha membujuknya seperti biasa.

“Ada masalah penting apa, Fam ?”

“Soal rekaman CCTV hotel.”

Edward mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Sudah mulai sepi, hanya tersisa para ners di depan ruang-ruang poli.

“Kita bicara di mobil saja.”

“Baik dokter.”

Fahmi menerima kunci mobil dari Edward. Sejak kepergian Elsa, dokter spesialis itu lebih suka membawa mobil sendiri daripada diantar jemput sopir.

“Bagaimana ? Kamu berhasil mendapat rekamannya ?”

“Maaf dokter, saya tidak berhasil mendapatkannya, bukan karena tidak diberi ijin tapi sudah ada yang mendahului saya menghapus rekaman yang berhubungan dengan dokter.”

“Tidak sembarangan orang bisa melakukannya, Fam. Apa kamu sempat melaporkan masalah ini pada daddy ?”

“Tidak pernah dokter. Saya tidak pernah menceritakan pada siapapun termasuk Rini.”

Kecuali nona Elsa ! Hanya nona yang tahu bahkan mengambil peranan dalam kejadian itu tapi bukan hak saya memberitahu dokter.

“Berarti wanita itu berasal dari kalangan orang penting dan berpengaruh juga, Fam.”

Edward memijat pelipisnya, hatinya mulai khawatir.

“Apa kamu sudah memeriksa rekaman CCTV di restoran ?”

”Maaf dokter, malam itu dokter tidak memberitahu saya kemana dan dengan siapa dokter pergi jadi saya tidak tahu harus mencari informasi di restoran mana.”

“Kenapa kamu tidak bertanya padaku ?”

“Maaf.”

“Kalau begitu kita ke sana sekarang. Aku kenal dengan pemiliknya karena sejak kecil daddy sering mengajak kami ke sana. Moga-moga saja mereka belum tutup.”

“Baik dokter.”

Edward langsung membuka aplikasi penunjuk arah di handphonenya dan Fahmi pun langsung menambah kecepatan untuk mengejar waktu sebelum restoran tutup.

Satu jam kemudian keduanya sudah duduk di sebuah kafe yang masih buka. Wajah Edward terlihat campur aduk antara lelah, kecewa dan cemas.

Di dalam rekaman CCTV yang dimiliki restoran, tidak ada jejak dengan siapa Edward pulang, tahu-tahu mobilnya sudah tidak ada di parkiran saat Lily pulang naik taksi sekitar 30 menit sejak Edward meninggalkannya untuk pergi ke toilet.

Sepertinya ada yang hilang atau sengaja dihapus tapi pemilik restoran meyakinkan Edward tidak mungkin ada yang bisa melakukannya karena pusat monitoring CCTV hanya ada di ruangannya dan tidak ada seorang pun yang diijinkan masuk tanpa kehadiran si pemilik.

”Fam, apa kamu punya ide siapa wanita itu ? Atau kamu tahu siapa yang mungkin melakukan semua ini padaku? Tapi untuk apa ? Rasanya aku tidak punya musuh yang ingin melihatku hancur.”

“Semuanya itu mungkin saja dokter tapi saya tidak punya ide siapa yang melakukannya. Bisa jadi perempuan itu hanyalah korban, sama seperti dokter.”

“Tapi untuk apa Fam ? Aku tenaga medis bukan pebisnis, tidak pernah melakukan persaingan hanya untuk mengejar kekayaan.”

“Anda adalah pewaris sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di Jakarta, jadi suka atau tidak, dokter adalah bagian dari bisnis keluarga. Persaingan selalu ada tapi kenapa harus menjebak dokter seperti itu, saya tidak punya ide sama sekali.”

“Antarkan aku pulang, Fam. Rasanya capek banget dan otakku mulai penuh jadi tidak ada guna kita membahasnya sekarang.”

“Baik dokter.”

Keduanya beranjak bangun dan kembali ke mobil.

“Pulang ke apartemen, dokter ?”

“Ya, antarkan aku ke sana.”

Terpopuler

Comments

Hairani Siregar

Hairani Siregar

Siapa sebenarnya Elsa....!

2025-01-28

1

Ayu Dani

Ayu Dani

segera kasih pelajaran Thor sama Edward juga lily

2024-08-21

1

Baretta

Baretta

Siap Kak 😊😊

2024-08-10

0

lihat semua
Episodes
1 Tugas Seorang Istri
2 Teman Selingkuh
3 Tindakan Nekad Si Pelakor
4 Selembar Surat Cerai
5 Rencana Gila
6 Jejak yang Hilang
7 Gejala Menakutkan
8 Uji Coba
9 Pelakor Diselingkuhi
10 Di Balik Permintaan Maaf
11 Kedatangan Penjaga Hartawan
12 Siap Menerima Tantangan
13 Perjanjian yang Terlewatkan
14 Saputangan dan Wanita Penuntut
15 Pertanggungjawaban
16 Berandai-andai
17 Pengakuan Lily
18 Kedatangan yang Tiba-tiba
19 Sentuhan Maut
20 Awal Pencarian
21 Bocah yang Sudah Dewasa
22 Pria Sombong dan Menyebalkan
23 Marah, Kecewa dan Sakit
24 Pengakuan dan Kebohongan
25 Usaha Awal
26 Kemarahan Elsa dan Pendukungnya
27 Setengah Hari Bersama Gilang
28 Perbincangan dari Hati ke Hati
29 Pelajaran Tentang Kecewa
30 Percakapan Kakak Adik
31 Melepas dengan Ikhlas
32 Harus Bagaimana ?
33 Arti Sebuah Nama
34 Tamu yang Tiba-tiba
35 Skenario Baru
36 Permohonan dan Penyesalan
37 Cerita Lama dari Kinan
38 Kebodohan Edward
39 Ijin Tinggal
40 Meluruskan Kesalahpahaman
41 Pelajaran Pertama
42 Pelajaran Kedua
43 Kejujuran yang Beresiko
44 Kamar yang Terkunci
45 Pria Paling Beruntung
46 Pembelaan Elsa
47 Kebahagiaan dan Kebimbangan
48 Pesan Sponsor ?
49 Keruwetan Kinan
50 Kegalauan Edward
51 Kedatangan Kinan
52 Pertimbangan Erwin
53 Pertengkaran Sahabat
54 Kelulusan Elsa
55 Erwin yang Berbeda
56 Keputusan Erwin
57 De javu
58 Kembali ke Rumah Sakit
59 Menghalau Pelakor
60 Berita Mengejutkan
61 Obrolan Siang
62 Penyesalan dan Penyesalan
63 Ketegasan Elsa
64 Pria Bertanggungjawab
65 Cinta dan Pengorbanan
66 Cinta yang Belum Habis
67 Pertemuan Kinan dan Erwin
68 Pertanyaan Bodoh
69 Pengakuan
70 Permintaan Gilang
71 Menerima Takdir
72 Tidak Bisa dan Tidak Mau
73 Alasannya : Aku Takut
74 Aku Tahu dan Cemburu
75 Keresahan Gilang
76 Kegalauan Erwin
77 Pria Terbodoh
78 Kecemasan Elsa
79 Dinginnya Elsa
80 Protes Hilda
81 Teguran Keras
82 I love you Elsa
83 Kejutan
84 Penjelasan Gilang
85 Wani Piro, Mas ?
86 Dan Elsa pun…..
87 Cinta dan Keikhlasan
88 Kepergian Lily
89 Cintamu Selamanya
90 Terima Kasih
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Tugas Seorang Istri
2
Teman Selingkuh
3
Tindakan Nekad Si Pelakor
4
Selembar Surat Cerai
5
Rencana Gila
6
Jejak yang Hilang
7
Gejala Menakutkan
8
Uji Coba
9
Pelakor Diselingkuhi
10
Di Balik Permintaan Maaf
11
Kedatangan Penjaga Hartawan
12
Siap Menerima Tantangan
13
Perjanjian yang Terlewatkan
14
Saputangan dan Wanita Penuntut
15
Pertanggungjawaban
16
Berandai-andai
17
Pengakuan Lily
18
Kedatangan yang Tiba-tiba
19
Sentuhan Maut
20
Awal Pencarian
21
Bocah yang Sudah Dewasa
22
Pria Sombong dan Menyebalkan
23
Marah, Kecewa dan Sakit
24
Pengakuan dan Kebohongan
25
Usaha Awal
26
Kemarahan Elsa dan Pendukungnya
27
Setengah Hari Bersama Gilang
28
Perbincangan dari Hati ke Hati
29
Pelajaran Tentang Kecewa
30
Percakapan Kakak Adik
31
Melepas dengan Ikhlas
32
Harus Bagaimana ?
33
Arti Sebuah Nama
34
Tamu yang Tiba-tiba
35
Skenario Baru
36
Permohonan dan Penyesalan
37
Cerita Lama dari Kinan
38
Kebodohan Edward
39
Ijin Tinggal
40
Meluruskan Kesalahpahaman
41
Pelajaran Pertama
42
Pelajaran Kedua
43
Kejujuran yang Beresiko
44
Kamar yang Terkunci
45
Pria Paling Beruntung
46
Pembelaan Elsa
47
Kebahagiaan dan Kebimbangan
48
Pesan Sponsor ?
49
Keruwetan Kinan
50
Kegalauan Edward
51
Kedatangan Kinan
52
Pertimbangan Erwin
53
Pertengkaran Sahabat
54
Kelulusan Elsa
55
Erwin yang Berbeda
56
Keputusan Erwin
57
De javu
58
Kembali ke Rumah Sakit
59
Menghalau Pelakor
60
Berita Mengejutkan
61
Obrolan Siang
62
Penyesalan dan Penyesalan
63
Ketegasan Elsa
64
Pria Bertanggungjawab
65
Cinta dan Pengorbanan
66
Cinta yang Belum Habis
67
Pertemuan Kinan dan Erwin
68
Pertanyaan Bodoh
69
Pengakuan
70
Permintaan Gilang
71
Menerima Takdir
72
Tidak Bisa dan Tidak Mau
73
Alasannya : Aku Takut
74
Aku Tahu dan Cemburu
75
Keresahan Gilang
76
Kegalauan Erwin
77
Pria Terbodoh
78
Kecemasan Elsa
79
Dinginnya Elsa
80
Protes Hilda
81
Teguran Keras
82
I love you Elsa
83
Kejutan
84
Penjelasan Gilang
85
Wani Piro, Mas ?
86
Dan Elsa pun…..
87
Cinta dan Keikhlasan
88
Kepergian Lily
89
Cintamu Selamanya
90
Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!