Selembar Surat Cerai

Rasanya tidak sabar Edward ingin segera tiba di apartemen dan merebahkan tubuh di kasur empuk miliknya untuk menghilangkan segala kepenatan dan rasa kantuk yang menderanya karena selain sibuk dengan tugas operasi dan jadwal praktek, Edward kurang bisa tidur nyenyak di rumah sakit tapi enggan pulang bertemu Elsa sejak kejadian 2 hari yang lalu.

Edward yakin waktu istirahatnya di apartemen akan makin sempurna karena hari ini adalah jadwal Elsa pergi ke kampus dilanjutkan dengan tugas siang di rumah sakit.

Minimal Edward tidak akan bertemu dengan Elsa sampai ia harus kembali lagi ke rumah sakit sekitar jam 2 siang.

Di luar dugaan, begitu membuka pintu, wangi kopi kesukaannya langsung menyengat indera penciumannya. Alis Edward menaut karena yakin kalau hari ini jadwal Elsa cukup padat jadi tidak mungkin perempuan itu masih ada di apartemen.

Edward menghela nafas saat melihat Elsa duduk di meja makan yang menyatu dengan dapur. Secangkir kopi yang masih mengepul diletakkan persis di depan tempat duduk yang biasa ditempati Edward setiap kali sarapan.

“Kopi anda, dokter,” ujar Elsa dengan wajah datar dan suara lembut tanpa beranjak dari tempat duduknya.

Edward hanya melirik sekilas dan tidak mengindahkan ucapan Elsa malah berjalan menuju kamarnya.

“Saya ingin bicara, tolong berikan saya waktu beberapa menit saja.” 


Permintaan Elsa membuat Edward menghentikan langkahnya tapi enggan membalikkan badan.

“Soal apa lagi ? Kamu ingin memberitahu kalau sudah laporan pada orangtuaku sampai mommy memaksa aku segera datang menemuinya ?”

“Apa yang ingin saya sampaikan lebih penting dari dugaan dokter.”

Alis Edward menaut namun ia tidak mau menunjukkan rasa penasaran saat mendengar ucapan Elsa. Pria itu akhirnya berbalik dan menarik kursi persis di hadapan Elsa.

“Apa ini ?” tanya Edward saat Elsa menyodorkan satu map warna biru ke hadapannya.

“Tolong tandatangani surat permohonan cerai kita. Saya sudah mendapat ijin dari dokter Robert dan nyonya Silvia.”

Edward agak terkejut sekaligus tidak percaya, cepat-cepat ia membuka map dan melihat isinya untuk memastikan ucapan Elsa. Wajahnya berubah cerah usai membaca selembar surat yang sudah ditandatangani Elsa.

“Akhirnya kamu sadar dan menyerah juga,” sinis Edward dengan senyuman mengejek.

“Dokter Robert sudah memberi saya ijin untuk berpisah dengan anda tapi tidak berarti kita bisa langsung bercerai secara hukum karena kita sama-sama pernah menandatangani kesepakatan untuk mempertahankan pernikahan ini selama 5 tahun.”

“Tidak masalah ! Aku tetap akan menikahi Lily dan segera punya anak dengannya. Kalau sudah terjadi, aku yakin mommy dan daddy tidak bisa lagi menolak untuk menerima Lily sebagai istri sahku. Kamu akan diuntungkan juga karena tidak perlu menunggu sampai 4 tahun untuk mencari laki-laki lain yang bersedia menikah denganmu.”

Wajah Elsa kelihatan tenang dan datar seolah semua rencana Edward tidak berpengaruh apa-apa padanya.

“Asal kamu tahu, tanpa surat cerai ini dan tidak perlu menunggu restu dari mommy dan daddy, aku akan menikahi Lily secepatnya ! Tapi sepertinya kamu cukup pengertian dengan memudahkan aku mewujudkan rencana itu.”

Tanpa ragu-ragu malah terlihat bahagia, Edward mengambil pena dari saku kemejanya untuk menggoreskan tandatangan di atas lembaran yang diberikan Elsa lalu menyimpannya kembali ke dalam map.

“Terima kasih, siang ini juga saya akan menyerahkan dokumen ini pada dokter Robert dan mempercayakan prosedur selanjutnya pada beliau.”

Edward beranjak bangun, menatap Elsa dengan wajah penuh kemenangan dan senyuman sinis namun ia sempat bergedik saat merasakan tatapan Elsa terlalu dingin dan tanpa ekspresi.

“Tolong beri saya waktu 3 hari untuk mengeluarkan barang-barang saya dari apartemen dan kalau dokter khawatir saya….”

“Aku tidak peduli kamu sekalipun kamu akan mengakui seluruh isi apartemen ini sebagai milikmu, silakan ambil apapun yang kamu mau,” poton Edward sambil tertawa mengejek.

“Bagiku tidak ada yang lebih berharga daripada kebebasan hidupku yang akhirnya bisa lepas dari perempuan tidak tahu diri seperti kamu !”

Elsa ikut beranjak sambil membawa map biru tadi.

“Terima kasih atas setahun pernikahan kita. Semoga rencana dokter bisa berjalan lancar dan mendapatkan kebahgiaan seperti yang dokter impikan. Saya permisi.”

“Aku tidak butuh doamu karena keputusanmu hari ini sudah bisa membuatku sangat bahagia. Semoga daddy dan mommy bisa segera membuka mata mereka setelah kamu pergi.”

Elsa tidak membantah, hanya menganggukan kepalanya sekilas lalu meninggalkan Edward yang masih berdiri di situ dan tanpa sadar meraih cangkir kopi yang ada di dekatnya lalu meneguknya sampai setengah.

Tidak sabar ingin berbagi berita baik dengan belahan hatinya, Edward segera kembali ke kamar, mengunci pintu lalu mengeluarkan handphone dari saku celana panjangnya. Tangannya langsung bergerak lincah menekan nomor Lily sambil tersenyum bahagia tapi sayang sampai 5 kali mengulang, Lily tidak juga mengangkat handphonenya. Edward pun memutuskan untuk mengirimkan pesan ke nomor Lily.

(EDWARD) Apa kabarnya sayang, sedang sibuk ? Mau makan malam bersamaku ? Ada berita baik yang ingin aku sampaikan langsung. Hubungi aku segera setelah kamu sempat.

Pesan yang dikirim Edward langsung centang dua tapi hingga beberapa menit belum berubah jadi warna biru. Hatinya terlalu bahagia untuk gelisah dan mencari tahu keberadaan Lily seperti biasa.

Edward malah mengambil pakaian ganti dan sambil bersiul masuk ke kamar mandi.

***

Meskipun Lily masih belum mengangkat telepon dan membalas pesannya, Edward tidak bisa menutupi rasa bahagianya.

Beberapa orang yang berpapasan dibuat bingung karena entah kapan terakhir kali Edward membalas sapaan mereka sambil tersenyum ramah.

“Selamat siang dokter.”

Edward menghela nafas dan mood baiknya langsung drop begitu melihat Fahmi berdiri tidak jauh dari pintu lobi.

“Daddy ingin bertemu denganku ?” tebak Edward yang diangguki oleh Fahmi.

“Dimana ?”

“Dokter Robert menunggu anda di ruangannya.”

Edward tidak bertanya apa-apa lagi. Ia kembali memeriksa handphonenya sambil menunggu lift terbuka dan dahinya sempat berkerut melihat kedua centang di pesan Lily masih belum berubah warna.

Hatinya mulai khawatir tapi hanya sesaat karena begitu pintu lift terbuka, Edward langsung tersenyum melihat Lily keluar dari dalam lift bersama Dian.

Kalau tidak ingat daddy Robert sedang menunggunya, Edward pasti akan langsung menarik Lily ke tempat sepi untuk memberikan kabar baik soal perceraiannya dengan Elsa.

“Periksa handphonemu dan respon secepatnya !” bisik Edward saat mereka berpapasan di depan lift.

Lily buru-buru mengeluarkan handphone dari saku snellinya dan bibirnya ikut menyunggingkan senyum usai membaca pesan yang dikirim Edward. Tangannya langsung mengetik balasan membuat Dian senyum-senyum sambil menggelengkan kepala.

“Ada apa ?” tanya Dian dengan nada penasaran.

“Dokter E mengajakku makan malam lagi, katanya ada berita baik.”

“Mungkin dia ingin melamarmu,” ledek Dian sambil terkekeh.

“Semoga saja dan aku tidak akan menolak apalagi malu-malu. Mungkin dengan menjadi istri kedua, aku bisa menyingkirkan perempuan kampung itu lebih cepat.”

“Jangan memulai sesuatu dengan niat buruk, Ly !”

“Aku tidak berniat buruk hanya mengambil kembali apa yang menjadi hakku !” tegas Lily dengan rahang mengeras.


Dian menarik satu sudut bibirnya. Kadang-kadang ia sedikit ngeri pada Lily yang terlalu keras dan memaksakan diri untuk mendapatkan Edward kembali padanya.

Terpopuler

Comments

Ayu Dani

Ayu Dani

mampir Thor

2024-08-21

1

lihat semua
Episodes
1 Tugas Seorang Istri
2 Teman Selingkuh
3 Tindakan Nekad Si Pelakor
4 Selembar Surat Cerai
5 Rencana Gila
6 Jejak yang Hilang
7 Gejala Menakutkan
8 Uji Coba
9 Pelakor Diselingkuhi
10 Di Balik Permintaan Maaf
11 Kedatangan Penjaga Hartawan
12 Siap Menerima Tantangan
13 Perjanjian yang Terlewatkan
14 Saputangan dan Wanita Penuntut
15 Pertanggungjawaban
16 Berandai-andai
17 Pengakuan Lily
18 Kedatangan yang Tiba-tiba
19 Sentuhan Maut
20 Awal Pencarian
21 Bocah yang Sudah Dewasa
22 Pria Sombong dan Menyebalkan
23 Marah, Kecewa dan Sakit
24 Pengakuan dan Kebohongan
25 Usaha Awal
26 Kemarahan Elsa dan Pendukungnya
27 Setengah Hari Bersama Gilang
28 Perbincangan dari Hati ke Hati
29 Pelajaran Tentang Kecewa
30 Percakapan Kakak Adik
31 Melepas dengan Ikhlas
32 Harus Bagaimana ?
33 Arti Sebuah Nama
34 Tamu yang Tiba-tiba
35 Skenario Baru
36 Permohonan dan Penyesalan
37 Cerita Lama dari Kinan
38 Kebodohan Edward
39 Ijin Tinggal
40 Meluruskan Kesalahpahaman
41 Pelajaran Pertama
42 Pelajaran Kedua
43 Kejujuran yang Beresiko
44 Kamar yang Terkunci
45 Pria Paling Beruntung
46 Pembelaan Elsa
47 Kebahagiaan dan Kebimbangan
48 Pesan Sponsor ?
49 Keruwetan Kinan
50 Kegalauan Edward
51 Kedatangan Kinan
52 Pertimbangan Erwin
53 Pertengkaran Sahabat
54 Kelulusan Elsa
55 Erwin yang Berbeda
56 Keputusan Erwin
57 De javu
58 Kembali ke Rumah Sakit
59 Menghalau Pelakor
60 Berita Mengejutkan
61 Obrolan Siang
62 Penyesalan dan Penyesalan
63 Ketegasan Elsa
64 Pria Bertanggungjawab
65 Cinta dan Pengorbanan
66 Cinta yang Belum Habis
67 Pertemuan Kinan dan Erwin
68 Pertanyaan Bodoh
69 Pengakuan
70 Permintaan Gilang
71 Menerima Takdir
72 Tidak Bisa dan Tidak Mau
73 Alasannya : Aku Takut
74 Aku Tahu dan Cemburu
75 Keresahan Gilang
76 Kegalauan Erwin
77 Pria Terbodoh
78 Kecemasan Elsa
79 Dinginnya Elsa
80 Protes Hilda
81 Teguran Keras
82 I love you Elsa
83 Kejutan
84 Penjelasan Gilang
85 Wani Piro, Mas ?
86 Dan Elsa pun…..
87 Cinta dan Keikhlasan
88 Kepergian Lily
89 Cintamu Selamanya
90 Terima Kasih
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Tugas Seorang Istri
2
Teman Selingkuh
3
Tindakan Nekad Si Pelakor
4
Selembar Surat Cerai
5
Rencana Gila
6
Jejak yang Hilang
7
Gejala Menakutkan
8
Uji Coba
9
Pelakor Diselingkuhi
10
Di Balik Permintaan Maaf
11
Kedatangan Penjaga Hartawan
12
Siap Menerima Tantangan
13
Perjanjian yang Terlewatkan
14
Saputangan dan Wanita Penuntut
15
Pertanggungjawaban
16
Berandai-andai
17
Pengakuan Lily
18
Kedatangan yang Tiba-tiba
19
Sentuhan Maut
20
Awal Pencarian
21
Bocah yang Sudah Dewasa
22
Pria Sombong dan Menyebalkan
23
Marah, Kecewa dan Sakit
24
Pengakuan dan Kebohongan
25
Usaha Awal
26
Kemarahan Elsa dan Pendukungnya
27
Setengah Hari Bersama Gilang
28
Perbincangan dari Hati ke Hati
29
Pelajaran Tentang Kecewa
30
Percakapan Kakak Adik
31
Melepas dengan Ikhlas
32
Harus Bagaimana ?
33
Arti Sebuah Nama
34
Tamu yang Tiba-tiba
35
Skenario Baru
36
Permohonan dan Penyesalan
37
Cerita Lama dari Kinan
38
Kebodohan Edward
39
Ijin Tinggal
40
Meluruskan Kesalahpahaman
41
Pelajaran Pertama
42
Pelajaran Kedua
43
Kejujuran yang Beresiko
44
Kamar yang Terkunci
45
Pria Paling Beruntung
46
Pembelaan Elsa
47
Kebahagiaan dan Kebimbangan
48
Pesan Sponsor ?
49
Keruwetan Kinan
50
Kegalauan Edward
51
Kedatangan Kinan
52
Pertimbangan Erwin
53
Pertengkaran Sahabat
54
Kelulusan Elsa
55
Erwin yang Berbeda
56
Keputusan Erwin
57
De javu
58
Kembali ke Rumah Sakit
59
Menghalau Pelakor
60
Berita Mengejutkan
61
Obrolan Siang
62
Penyesalan dan Penyesalan
63
Ketegasan Elsa
64
Pria Bertanggungjawab
65
Cinta dan Pengorbanan
66
Cinta yang Belum Habis
67
Pertemuan Kinan dan Erwin
68
Pertanyaan Bodoh
69
Pengakuan
70
Permintaan Gilang
71
Menerima Takdir
72
Tidak Bisa dan Tidak Mau
73
Alasannya : Aku Takut
74
Aku Tahu dan Cemburu
75
Keresahan Gilang
76
Kegalauan Erwin
77
Pria Terbodoh
78
Kecemasan Elsa
79
Dinginnya Elsa
80
Protes Hilda
81
Teguran Keras
82
I love you Elsa
83
Kejutan
84
Penjelasan Gilang
85
Wani Piro, Mas ?
86
Dan Elsa pun…..
87
Cinta dan Keikhlasan
88
Kepergian Lily
89
Cintamu Selamanya
90
Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!