Zico yang sedang mengemudi langsung melirik Delia saat melihat dan mendengar Delia berbicara melalui sambungan telepon. Apalagi saat mendengar Delia menyebut nama laki-laki.
"Akhirnya nomor kamu aktif juga," ucap Andri dari sambungan telepon.
"Sorry, kak, soalnya aku baru beli handphone lagi," sahut Delia jujur.
Sedangkan Zico yang sedang mengemudi nampak memasang telinganya baik-baik mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh Delia.
"Nggak apa-apa. Btw, sekarang kegiatan kamu apa, Del?" tanya Andri.
"Em, aku lagi cari loker ( lowongan pekerjaan), Kak. Sementara ini sambil nunggu kabar lamaran kerja yang sudah aku kirim ke beberapa perusahaan, aku bekerja sebagai freelance. Ya, biar nggak gabut," sahut Delia terkekeh kecil tanpa sadar Zico diam-diam memerhatikan dirinya dan mendengarkan pembicaraannya.
"Oh, sedang nyari loker? Kalau boleh tahu, kamu lulusan apa, Del?" tanya Andri.
"Aku lulusan S1 jurusan ekonomi dan bisnis, Kak," sahut Delia.
"Aku baru tahu kalau Delia kuliah di jurusan ekonomi dan bisnis," batin Zico yang selama ini memang tak pernah kepo tentang Delia.
"Wah, kebetulan sekali aku sedang mencari sekretaris. Apa kamu mau bekerja menjadi sekretarisku, Del?" tanya Andri terdengar penuh harap.
"Seriusan, Kak?" tanya Delia nampak antusias membuat Zico penasaran, karena hanya bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Delia tanpa bisa mendengar apa yang dikatakan lawan bicara Delia.
"Dua rius malah. Aku beneran lagi nyari sekretaris. Kalau kamu mau jadi sekretarisku, aku nggak bakal nyari lagi dan kamu bisa datang ke kantor aku besok. Nanti aku kirim alamat kantorku," ujar Andri yang memang serius.
"Mau, mau. Kakak kirim saja alamatnya, besok pagi aku pasti ke sana," sahut Delia antusias. Senyuman senang nampak menghiasi bibirnya.
"Okey, aku kirim alamat kantorku, ya? Aku tunggu kamu besok pagi," ucap Andri.
"Siap, Pak Bos. Besok pagi aku pasti hadir sebelum jam kantor dimulai," sahut Delia dengan senyuman lebar.
"Okey, sampai ketemu besok. Bye!" ucap Andri terdengar riang
"Bye.." ucap Delia terlihat senang. Gadis itu menggenggam ponselnya dengan wajah cerah.
"Mau kemana kamu besok pagi?" tanya Zico terdengar datar.
"Mau kerja. Kebetulan teman lamaku menawarkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginanku," sahut Delia tersenyum cerah membuka pesan yang dikirim Andri.
"Kamu mau bekerja dan pergi tanpa izin dari aku? Bagaimana pun, aku adalah suamimu," ujar Zico terdengar tidak senang dan wajahnya pun terlihat datar.
"Kalau begitu, aku minta izin. Mulai besok aku akan bekerja," ucap Delia masih dengan aura bahagia di wajahnya.
"Mau bekerja sebagai apa? Dimana? Sama siapa?" tanya Zico masih dengan suara yang terdengar datar melirik Delia sepintas, lalu kembali fokus menatap jalan raya.
"Aku akan bekerja sebagai sekretaris di kantor teman lamaku. Aku akan menjadi sekretarisnya," sahut Delia terlihat sangat senang.
"Dengan teman kamu yang ketemu di hotel tadi? Yang namanya Andri?" tanya Zico memastikan tebakannya tidak salah.
"Iya. Ternyata kakak masih mengingatnya," sahut Delia tak menyangka Zico mengingat nama Andri yang mereka temui di lobby hotel tadi.
"Tentu saja aku ingat. IQ aku tinggi, nggak jongkok, jadi aku mudah mengingat," sahut Zico bangga.
"CK. Narsis!" cibir Delia.
"Aku menang pintar. Dan soal izin bekerja, aku tidak mengizinkan kamu bekerja," ucap Zico tegas merasa tidak suka mendengar Delia mau bekerja dengan teman lamanya yang mereka temui di hotel tadi pagi. Dari tatapan mata Andri tadi, Zico bisa melihat kalau Andri menyukai Delia.
"Eh, mana bisa begitu? Kakak nggak boleh melarang aku bekerja," protes Delia yang terkejut mendengar Zico melarang dirinya untuk bekerja.
"Tentu saja boleh, karena aku adalah suami kamu yang sah di mata hukum dan agama. Lagipula, aku masih sanggup memberi kamu makan dan memberikan uang belanja lebih dari gaji seorang sekretaris sama kamu," tukas Zico.
"CK. Sombong! Buktinya sampai sekarang kakak belum memberikan aku uang belanja. Baru juga diberikan ponsel dan headset, itupun terpaksa, karena takut dimarahin papa sama mama. Sedangkan istri siri kakak sudah kakak belikan apartemen. Nggak tahu tuh, sudah diberikan uang belanja berapa," ucap Delia bersungut-sungut.
"CK. Ngomong aja kamu mau minta uang sama aku dan iri sama Talitha. Banyak alasan," tukas Zico, kemudian mengambil dompetnya dari saku celananya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih memegang stir mobil.
"Aku nggak iri sama dia dan aku juga nggak butuh uang dari kakak. Penghasilan aku sebagai freelance aja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Seandainya aku harus tinggal di kontrakan pun aku yakin bisa hidup dengan gajiku sebagai freelance," ucap Delia yang memang benar adanya.
"Ck. Sok gengsi. Ini, kamu tinggal pilih kartu ATM dan kartu kredit yang kamu suka. Jangan bilang aku nggak ngasih kamu uang belanja," ujar Zico menyodorkan dompetnya pada Delia, menatap Delia sepintas, lalu kembali fokus menatap jalan raya.
"Sudah aku bilang, aku nggak butuh uang kakak. Aku bisa nyari uang sendiri," tolak Delia hanya melirik dompet yang di sodorkan Zico padanya tanpa mau mengambilnya, apalagi membuka dan mengambil isi dompet Zico.
"CK. Dasar keras kepala! Terserah kalau kamu nggak mau mengambilnya. Tapi aku tetap nggak mengizinkan kamu bekerja," tegas Zico tetap pada pendiriannya seraya meletakkan dompetnya di dashboard mobil.
"Kalau kakak tidak mau mengizinkan aku bekerja, aku akan adukan perbuatan kakak semalam yang sudah meninggalkan aku di kamar hotel sendirian untuk bercinta dengan istri siri kakak itu sama mama dan papa. Aku punya bukti kakak sedang berciuman panas dengan istri siri kakak itu," ancam Delia memicingkan sebelah matanya menatap Zico.
"Kamu mengancam aku?" tanya Zico menatap ke arah Delia beberapa saat dengan tatapan tajam.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Kakak mau apa?" tantang Delia mengangkat dagunya menatap Zico.
"Kau.." geram Zico langsung menepikan mobilnya. Zico menatap tajam pada Delia setelah berhasil menepikan mobilnya.
"Kenapa firasatku.jadi nggak enak gini, ya?" batin Delia saat Zico menepikan mobilnya setelah mengeram karena menahan amarah.
Zico melepaskan sabuk pengamannya, sedangkan Delia mengernyitkan keningnya tak tahu dan tidak bisa menebak apa yang hendak dilakukan oleh Zico.
"Plak"
Zico memiringkan tubuhnya, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di sisi kanan dan kiri sandaran kursi tempat Delia duduk, mengunci pergerakan Delia, membuat Delia takut, tapi berusaha di sembunyikannya.
"Katakan! Kau mengancam aku? Menantang aku?" tanya Zico menatap tajam pada Delia.
"Kalau iya, memang kenapa?" tanya Delia balas menatap tajam pada Zico seraya menaikkan dagunya. Padahal jantungnya sudah berdegup dengan kencang melihat Zico yang menatap dirinya dengan tatapan tajam. Apalagi jarak mereka saat ini begitu dekat. Bahkan Delia bisa merasakan hembusan napas hangat Zico menerpa wajahnya.
"Hmm.. kamu begitu berani rupanya. Kita lihat seberapa berani kamu," ucap Zico semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Delia.
"Kakak mau apa?" tanya Delia masih berpura-pura berani, padahal jantungnya sudah tidak aman karena semakin berdetak kencang saat wajah Zico semakin dekat dengan wajahnya.
"Mau apa? Mau memakan kamu," ucap Zico tersenyum miring.
"Pergi! Menjauh dariku!" pekik Delia berusaha mendorong dada Zico agar pemuda itu menjauh darinya.
"Kamu begitu berani bukan? Aku ingin lihat seberapa berani kamu," ucap Zico mencekal kedua tangan Delia, hingga Delia kesulitan bergerak, apalagi Delia masih mengenakan sabuk pengaman.
"Kak Zico! Jangan macam-macam!" teriak Delia berusaha memberontak dengan tenaganya yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan tenaga Zico. Apalagi duduk di dalam mobil dengan sabuk pengaman yang masih di pakainya membuat Delia semakin sulit untuk melawan Zico.
"Aku akan memberimu pelajaran karena berani menantang suamimu," ucap Zico yang tersulut emosi karena di tantang Delia.
"Jangan..."
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
who am I
woi zico, mau ditilang berhentuin mobil terus mobilnya goyang goyang 😅
2024-08-13
3
Susetiyanti RoroSuli
Kelaki koq kasar begitu ya , jujur aku secara orobadi kurang respek tho kelaki yg kasar , nggak ada lembut lembutnya , lanjut thor
2024-08-12
2
Susetiyanti RoroSuli
Kelaki koq kasar begitu ya , jujur aku secara orobadi kurang respek tho kelaki yg kasar , nggak ada lembut lembutnya , lanjut thor
2024-08-12
2