"Apa maksud kamu ngomong kayak gitu, hah?" bentak Talitha yang merasa geram mendengar perkataan Delia.
"Apa maksud ku, kau lebih tahu, karena kamu yang melakukan. Wanita murahan tempat pembuangan kecebong haram seperti kamu itu akan melakukan segala macam cara untuk naik ke atas ranjang orang kaya. Dan cuma pria buta, tuli, oon, bodoh bin goblokk yang mau menikahi wanita murahan bekas pria lain macam kamu. Seorang janda lebih terhormat daripada wanita tak bermoral seperti mu," sarkas Delia yang muak pada Talitha sekaligus pada Zico, membuat wajah Zico merah padam.
"Kau.." geram Talitha seraya melepas sabuk pengamannya hendak menyerang Delia.
"Apa? Pria bodoh dan wanita murahan memang cocok," tandas Delia.
"Cekiiitt.."
"Diam!" bentak Zico seraya mengerem mendadak.
Delia dan Talitha terkejut dengan suara Zico yang menggelegar menggema di dalam mobil itu bersamaan dengan mobil yang berhenti mendadak. Dengan wajah merah padam Zico menatap tajam pada Delia.
"Tutup mulut kamu itu Delia! Jangan menuduh orang tanpa bukti! Berani-beraninya kamu menghina aku! Kamu pikir kamu siapa, hah? Jangan mentang-mentang kedua orang tua ku menyayangimu, lalu kamu jadi naik ke awang-awang lupa akan siapa dirimu. Kalau kedua orang tua ku tidak menolong kamu, kamu pasti sudah jadi gelandangan. Jadi gembel di jalanan. Ingat! Kita menjadi suami istri hanya sebatas di atas kertas. Aku tidak akan pernah mencintai kamu, apalagi menjadikan kamu sebagai pendamping hidupku selamanya. Kau yang hanya seorang gelandangan itulah yang bermimpi jadi nyonya di rumahku. Kalau papa dan mamaku tidak memaksa aku menikah dengan mu, apa kamu pikir aku mau menikah dengan perempuan pendek, kampungan, dan bar-bar bermulut tajam seperti kamu, hah? Dasar tukang hasut! Tukang fitnah! Jangan lagi mengeluarkan sepatah katapun dari mulutmu itu! Kalau tidak... kamu tidak akan bisa membayangkan apa yang akan aku lakukan padamu," ucap Zico dengan suara berat penuh penekanan. Ia tersulut emosi sebab dikatai Delia buta, tuli dan bodoh karena menikahi Talitha.
Delia mengepalkan kedua tangannya mendengar setiap kalimat yang terlontar dari mulut Zico.
Talitha tersenyum penuh kemenangan mendengar Delia dimarahi Zico, "Rasain! Teruskan saja mengatakan hal buruk tentang aku, agar Zico semakin membenci kamu," batin Talitha senang.
"Mau ngapain, kamu?" tanya Zico menatap Delia masih dengan tatapan tajamnya saat Delia berusaha membuka pintu mobil.
"Aku kebelet. Cepat buka pintunya!" pinta Delia dengan wajah dan suara datar.
"CK. Merepotkan sekali. Tinggalkan saja dia, Sayang," pinta Talitha.
Zico membuang napas kasar, lalu membuka kunci otomatis mobilnya agar Delia bisa membuka pintunya. Kebetulan saat ini mereka berada dekat dengan SPBU.
Delia pun bergegas keluar dari dalam mobil. Namun bukannya pergi ke toilet yang ada di SPBU, gadis itu malah mencegat taksi yang kebetulan melintas. Tapi sayangnya taksi itu sedang membawa penumpang. Zico pun terkejut melihat aksi Delia.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" teriak Zico setelah membuka kaca mobilnya.
Delia tidak menjawab pertanyaan Zico, apalagi menoleh ke arah Zico. Gadis itu sibuk menatap ke arah jalanan, mencari taksi.
"Delia Oktavia! Kamu dengar tidak? Cepat kembali ke mobil! Delia!" teriak Zico pada Delia penuh amarah. Namun Delia mengabaikan perintah Zico dan terus mencari taksi.
"Sudah, biarkan saja, Sayang," ucap Talitha yang malah senang karena Delia mencari kendaraan lain.
Zico bergegas turun dari mobilnya untuk menghampiri Delia dan bermaksud membawa Delia kembali ke dalam mobil.
"Shitt!" umpat Zico karena Delia malah sudah mendapatkan taksi dan langsung masuk ke dalam taksi. Zico tidak sempat lagi mencegah Delia masuk ke dalam taksi, yang langsung melaju.
"Syukurlah kalau tahu diri. Tidak menganggu aku dan Zico," gumam Talitha yang malah merasa senang.
Zico bergegas kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menyusul taksi yang ditumpangi Delia.
"Sayang, biarkan saja dia naik taksi. Kita pergi ke apartemen saja, yuk!" ajak Talitha kembali memeluk lengan Zico.
"Papa dan mama akan marah padaku jika mereka tahu kami pulang sendiri-sendiri," sahut Zico membuang napas kasar fokus mengemudi.
"Kamu takut banget, sih, sama orang tua kamu? Kamu itu anak tunggal, mana mungkin papa kamu serius mau mencabut semua fasilitas kamu. Itu pasti hanya gertakkan papa kamu saja. Kalaupun fasilitas kamu di cabut, itu pasti hanya untuk sementara saja," ucap Talitha kesal karena Zico terlalu takut pada kedua orang tuanya.
"Papaku bukan orang yang suka bercanda. Papa selalu melakukan apa yang dikatakannya," sahut Zico yang tahu pasti bagaimana sifat papanya.
"Ceraikan perempuan itu! Kita buat anak, agar orang tuamu merestui kita. Sudah satu minggu lebih kita menikah, tapi kamu belum menyentuh aku juga. Kamu bahkan tak punya waktu untuk aku," keluh Talitha.
"Kamu tahu sendiri, sejak kita menikah hari itu, aku harus mengurus pernikahan ku dengan Delia. Belum lagi perusahaan kami baru saja memenangkan tender besar. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Bahkan sempat tidur di kantor karena pekerjaan ku benar-benar menumpuk," ujar Zico masih fokus mengejar taksi yang ditumpangi Delia.
"Lalu, sampai kapan kita terus begini? Kamu ingat, 'kan, kamu sudah berjanji untuk membahagiakan aku, tapi nyatanya kamu malah terus saja membuat aku kecewa," keluh Talitha yang semua rencananya berantakan, sama sekali tidak berjalan sesuai ekspektasinya.
"Kita bicarakan nanti," ucap Zico yang tidak ingin kehilangan jejak Delia karena berdebat dengan Talitha. Padatnya kendaraan di jalan membuat Zico harus fokus mengemudi. Apalagi Zico juga harus mengejar taksi yang ditumpangi Delia.
"Selalu saja seperti ini. Kamu bilang kita bicarakan nanti, tapi sampai sekarang masih juga nggak punya waktu buat aku," ketus Talitha.
"Berhentilah bicara dan mengeluh, kalau tak ingin kita mengalami kecelakaan," tukas Zico yang tak ingin lagi mendengarkan keluh kesah Talitha.
Sedangkan Talitha nampak menekuk wajahnya mendengar perkataan Zico. Perkataan Zico membuat Talitha semakin kesal saja.
"Lebih cepat, Pak!" pinta Delia pada sang supir taksi karena sadar kalau Zico terus mengejar taksi yang ditumpangi oleh dirinya.
"Kenapa mobil itu mengejar Eneng?" tanya sang supir taksi.
"Aku ingin putus sama dia Pak, tapi dia nggak mau," sahut Delia beralasan.
"Ada-ada saja anak muda zaman sekarang," gumam sang supir taksi menghela napas panjang.
Zico melajukan mobilnya semakin cepat saat taksi yang ditumpangi Delia juga melaju semakin kencang.
"Gadis ini.. lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya nanti," geram Zico menahan emosi.
"Zico.." pekik Talitha saat Zico menginjak pedal gasnya semakin dalam.
Jalanan yang mereka lalui sekarang cukup sepi membuat Zico bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga...
"Ckiiitt..."
"Akkhhh..! Zico! Apa kamu sudah gila?" pekik Talitha saat Zico menyalip dan memotong jalan taksi yang ditumpangi Delia.
Delia yang berada di dalam mobil taksi pun tak kalah terkejut dengan aksi Zico yang nekat menghadang taksi yang ditumpanginya. Andai saja sang supir taksi tidak cekatan mengerem atau rem mobilnya tidak pakem, bisa dipastikan kalau taksi itu pasti menabrak mobil Zico.
Zico bergegas keluar dari mobilnya tanpa memedulikan kemarahan Talitha, membuat Talitha semakin merasa kesal.
"Ini semua gara-gara perempuan kampungan itu," geram Talitha menahan emosinya.
"Neng, pacar Eneng ke sini. Sepertinya dia sangat marah," ucap sang sopir taksi melihat aura suram di wajah Zico yang berjalan menghampiri taksinya.
...🌟...
...Terkadang, perkataan lebih menyakitkan dari sebuah tamparan....
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Eka Bundanedinar
kenyataan kamu memang bodoh zico
2024-09-12
2
Diana diana
kamu jangan lemah ya , Del
hajar terus tuch duo sejoli itu
2024-08-21
2
Susetiyanti RoroSuli
wuah rame nich jadinya
2024-08-10
2