19. Tak Menyangka

Dituduh sengaja ingin membuat Zico dimarahi papanya, Delia pun mengerucutkan bibirnya. Delia memilih diam tanpa menjawab pertanyaan Zico karena tak ingin berdebat di depan penjaga counter. Terpaksa Delia menerima ponsel yang dipilih dan dibelikan oleh Zico.

"Kak, tolong sekalian headset bluetooth yang paling bagus dan tolong sekalian pasang SIM card dan memory card ini, ya!" pinta Delia pada penjaga counter seraya menyerahkan SIM card dan memory card miliknya dari handphonenya yang sudah rusak.

"Baik, kak," sahut penjaga counter.

Zico membayar semuanya, sedangkan Delia nampak tersenyum saat menatap layar ponselnya yang baru saja menampilkan satu pesan masuk. Zico yang masih menyelesaikan pembayaran pun melirik Delia yang nampak mengetik pesan. Ia sangat penasaran dengan siapa Delia chatting.

Namun Zico tidak bisa melihat apa yang sedang di ketik Delia, karena posisi layar ponsel Delia tidak memungkinkan Zico membaca apa yang sedang di ketik Delia.

"Kamu mau pulang apa mau tinggal di sini?" tanya Zico menatap Delia setelah menyelesaikan pembayaran.

"Kalau kakak ingin meninggalkan aku, ya, silahkan saja! Aku, sih, fine-fine aja meskipun kakak tinggalkan. Aku tahu jalan pulang dan bisa pulang sendiri," sahut Delia yang memang benar adanya.

"Gadis ini..." geram Zico lirih, lalu menarik tangan Delia untuk pergi dari tempat itu. Sudah bisa dipastikan kalau dirinya akan kena marah oleh kedua orang tuanya kalau pulang tanpa Delia.

"Ishh..muka, sih, oke, penampilan pun kece, ngalahin artis, tapi sayangnya bengis, kelakuan miris, sama sekali nggak romantis," gerutu Delia yang terpaksa mengikuti langkah kaki pria yang sudah menjadi suaminya itu.

"Berisik! Tutup mulutmu itu!" geram Zico pelan karena tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya. Pemuda itu tetap menatap ke depan tanpa menatap Delia, tanpa sadar masih memegang tangan Delia.

"Kalau aku nggak mau, kakak mau apa?" tanya Delia berhenti mendadak, mengangkat dagunya menatap Zico yang lebih tinggi darinya.

Zico yang masih memegang tangan Delia pun berhenti melangkah saat Delia menghentikan langkah kakinya. Pemuda itu menghadap ke arah Delia tersenyum miring, lalu menunduk dan berbisik di telinga Delia.

"Kalau kamu nggak bisa diam, aku akan membungkam mulut kamu yang tidak berhenti mengoceh itu dengan bibirku," ancam Zico, kemudian kembali berdiri tegak.

"CK. Beraninya cuma mengancam doang. Kakak pikir aku takut dengan ancaman kosong kakak itu?" ucap Delia tersenyum remeh pada Zico, membuat Zico geram.

"Akhh..Kak Zic..emp..."

Delia terkejut saat tiba-tiba Zico mendorong tubuhnya ke samping, hingga membentur dinding yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Masih terkejut karena tiba-tiba di dorong Zico, Delia semakin terkejut saat Zico merangsek tubuhnya hingga tak ada jarak di antara mereka berdua. Pria yang telah menjadi suaminya itu langsung meraup bibirnya dengan agresif dan serakah.

Delia berusaha berontak, namun lagi-lagi perbedaan tinggi, berat badan dan kekuatan antara dirinya dan Zico yang terlalu besar membuat Delia tak bisa berkutik untuk melawan Zico.

Delia hanya bisa pasrah saat Zico mencium bibirnya di depan umum. Ia hanya bisa memejamkan matanya menahan malu karena sempat melihat beberapa orang menatap dirinya yang sedang di cium Zico.

Seperti biasanya, Zico lupa segalanya saat mencium Delia. Lupa akan dirinya yang suka menghina Delia, lupa dengan janjinya yang tak akan menyentuh Delia, lupa akan rasa bencinya, lupa dengan amarahnya, bahkan lupa dengan tempat dimana saat ini mereka berada.

Jantungnya berdegup kencang setiap kali mencium bibir Delia. Rasa manis, lembut dan kenyal di bibir Delia membuatnya merasa candu dan enggan untuk melepaskan bibir gadis yang telah menjadi istrinya. Zico menggigit bibir Delia agar mulut Delia terbuka, memegang tengkuk Delia untuk memperdalam ciuman mereka.

"Hah..hah..hah.."

Delia menghirup udara dengan serakah, sedangkan keningnya masih menempel dengan kening Zico yang enggan menjauh dari Delia. Bahkan hidung mereka masih saling bersentuhan. Mata Zico masih tertuju pada bibir Delia yang basah olehnya.

Saat napas Delia belum sepenuhnya teratur, Zico kembali memiringkan wajahnya hendak menikmati lagi bibir ranum Delia. Entah mengapa bibir Delia selalu saja membuat Zico merasa candu hingga ingin terus menikmatinya lagi dan lagi.

"Tidak! Ini tidak boleh terjadi lagi," batin Delia yang yakin seratus persen kalau Zico hendak mengunyah bibirnya lagi.

Tinggal beberapa millimeter lagi bibir Zico akan menyentuh bibir Delia, namun dengan sekuat tenaga Delia mendorong dada Zico, hingga Zico terhuyung mundur dua langkah.

"Shitt!" umpat Zico mengusap rambutnya ke belakang dengan kasar, merasa kecewa karena bibirnya tak bisa mendarat kembali di bibir Delia.

Sedangkan Delia yang berhasil mendorong Zico langsung berlari meninggalkan Zico. Malu bercampur kesal menjadi satu karena ulah Zico.

"Kak Zico benar-benar keterlaluan," batin Delia tak menyangka kalau Zico berani mencium dirinya di tempat umum yang ramai dengan orang yang berlalu lalang.

"Sial! Aku harus segera mengejarnya, kalau tidak, dia akan pulang sendiri dan aku akan dimarahi mama dan papa," gumam Zico lirih, langsung mengejar Delia.

Tak berapa lama kemudian Zico berhasil mengejar Delia dan memegang tangan Delia. Tanpa berkata apapun Zico menarik Delia ke arah mobilnya di parkir.

Setelah sampai di mobil, Zico membuka pintu mobil bagian penumpang di samping kursi kemudi dan mendorong pelan Delia untuk masuk.ke dalam mobil, kemudian menutup pintu mobil.

Zico bergegas mengitari mobil, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Ia melirik Delia yang duduk menyamping menghadap kaca mobil.

"Kak Zico benar-benar keterlaluan dan tak tahu malu. Katanya nggak suka sama aku, tapi belum sampai 1 x 24 jam sudah berkali-kali mencium aku, bahkan di tempat umum," gerutu Delia yang masih merasa kesal pada Zico karena di ciuman di tempat umum dan banyak orang yang melihat dirinya di cium Zico.

"Siapa suruh mulut kamu berisik dan berani menantang aku?" sahut Zico acuh.

"Alasan! Kata-kata kakak tidak sesuai dengan tindakan kakak. Ngomong nggak suka sama aku, tapi setiap ada kesempatan nyosor juga," gerutu Delia bersungut-sungut.

"Aku memang nggak suka sama kamu. Aku mencium kamu, karena kamu baru bisa diam jika aku cium," kilah Zico membenarkan perbuatannya.

"Cih! Mana ada yang seperti itu? Kakak punya tangan untuk membekap mulutku, kenapa harus dengan bibir kakak? Sejak semalam kakak sudah berulang kali mencium aku. Katanya sudah sepakat tidak ada kontak fisik, tapi nyosor terus. Kakak itu laki-laki, tapi nggak bisa di pegang kata-katanya," omel Delia yang kata-katanya selalu saja tajam dan pedas setiap kali bertengkar dengan Zico. Delia semakin kesal karena Zico masih saja berkilah.

"Kamu dengar sendiri bukan, kalau aku tidak bisa menceraikan kamu? Kalau bukan kamu yang menceraikan aku, maka selamanya kita akan menjadi suami istri. Masa iya, istri yang aku biayai hidupnya cuma dijadikan pajangan? Rugi, dong, aku! Ibarat makanan yang sudah terlanjur di beli, 'kan, sayang kalau nggak dimakan. Mubazir tahu nggak, sih? Jadi, enak nggak enak ya, terpaksa dimakan aja," cetus Zico tanpa dosa kembali berdalih.

"Alasan! Kakak cuma takut fasilitas kakak di cabut sama papa, kalau menceraikan aku. Jadi laki-laki kok, cemen. Buat apa sekolah tinggi-tinggi sampai di luar negeri sampai meraih gelar doktor, kalau mati kutu cuma gara-gara di ancam akan di cabut semua fasilitas kakak? Nggak guna sekali ilmu yang kakak dapat," cibir Delia.

"Kamu pikir aku takut semua fasilitas aku di cabut? Aku sama sekali nggak takut. Aku bisa keluar negeri dengan bantuan temanku dan bekerja di sana. Aku bisa menghasilkan uang dengan otak cerdas ku. Aku hanya takut mama dan papa marah besar sama aku. Kalau papa udah marah besar, papa dan mama nggak bakal negur aku lagi dan mendiamkan aku. Bagiku, lebih baik di hajar sampai babak belur sama papa daripada di diamkan mama dan papa," ujar Zico yang kali ini terlihat serius.

Delia terdiam mendengar alasan Zico takut pada orang tuanya. Ternyata Zico hanya takut tidak ditegur oleh orang tuanya. Sedangkan Zico mulai melajukan mobilnya.

"Halo, Kak Andri?" ucap Delia dengan ponsel yang menempel di telinganya.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

yuli

yuli

okeh baik,,, lanjutkan perdebatan 🩷

2024-12-19

1

Annie Soe..

Annie Soe..

Seru, seru thor & tokoh ceweknya bar2 ga menye2..

2024-09-22

1

Diana diana

Diana diana

asiiiik ada bibit pebinorrr . . hahaha

2024-08-21

1

lihat semua
Episodes
1 1. Amarah
2 2. Cancel Cinta
3 3. Harimau Lapar
4 4. Gara-gara Digelitik
5 5. Permintaan
6 6. Kedinginan
7 7. Merasa Beruntung
8 8. Kampungan
9 9. Terlanjur Ternoda
10 10. Kurang Apa?
11 11. Kecolongan
12 12. Tegas
13 13. Teman Lama
14 14. Mulut Tajam
15 15. Di Ikat
16 16. Kehabisan Kata-kata
17 17. Tidak Setuju
18 18. Posisi Terbalik
19 19. Tak Menyangka
20 20. Tidak Mengizinkan
21 21. Jangan-jangan..
22 22. Ngotot
23 23. Galau Sendiri
24 24. Guling Hidup
25 25. Merasa Salah Menilai
26 26. Tak Percaya
27 27. Who Knows?
28 28. Mauku?
29 29. Hampir Saja
30 30. Penuh Harap
31 31. Apa Benar?
32 32. Barang Umum
33 33. Nambah Lagi
34 34. Membandingkan
35 35. Tetap TI-DAK
36 36. Merasa Salah Bicara
37 37. Bagian Sensitif
38 38. Ahli Sejarah
39 39. Daris
40 40. Gabung
41 41. Senang Menggoda
42 42. Demi Kamu
43 43. Tersiksa
44 44. Kesulitan
45 45. Berpikir Macam-macam
46 46. Tidak Tahu
47 47. Pikir Saja Sendiri!
48 48. Hampir Lupa
49 49. Membujuk Untuk Membatalkan
50 50. Tidak Boleh!
51 51. Info Baru
52 52. Jail
53 53. Merasa Disidang
54 54. Kemungkinan Dua-duanya
55 55. Masa Lalu
56 56. Doa
57 57. Menyusul
58 58. Andai Saja
59 59. Sudah Tahu
60 60. Malu
61 61. Ucapan Selamat Pagi
62 62. Uring-uringan
63 63. Bersikap Lembut
64 64. Sudah Terbiasa
65 65. Di Anggap Halu
66 66. Nggak PD
67 67. Hafal
68 68. Dismenore
69 69. Merasa Malu
70 70. Sayang Sekali
71 71. Tidak Mau Mengajak
72 72. Hampir Tak Mengenali
73 73. Spot Jantung
74 74. Tak Sengaja
75 75. Tidak Bernafsu
76 76. Di Asah?
77 77. Tamu
78 78. Dianggap Pembantu
79 79. Balik Menindas
80 80. Bertanya Sendiri
81 81. Mertua?
82 82. Menunjukkan Bukti
83 83. Tidak Wajar
84 84. Perubahan Wajah
85 85. Kemungkinan Hilang
86 86. Bukan Pemilik
87 87. Menunggu
88 88. Wallpaper
89 89. Tak Ingin Percaya
90 90. Senyuman Masam
91 91. Karena Sayang
92 92. Menghalangi
93 93. Delia Lagi?
94 94. Istriku Selingkuhanku
95 95. Meresapi
96 96. Ternyata Benar
97 97. Dijebak
98 98. Berakhir Sendiri
99 99. Legowo
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1. Amarah
2
2. Cancel Cinta
3
3. Harimau Lapar
4
4. Gara-gara Digelitik
5
5. Permintaan
6
6. Kedinginan
7
7. Merasa Beruntung
8
8. Kampungan
9
9. Terlanjur Ternoda
10
10. Kurang Apa?
11
11. Kecolongan
12
12. Tegas
13
13. Teman Lama
14
14. Mulut Tajam
15
15. Di Ikat
16
16. Kehabisan Kata-kata
17
17. Tidak Setuju
18
18. Posisi Terbalik
19
19. Tak Menyangka
20
20. Tidak Mengizinkan
21
21. Jangan-jangan..
22
22. Ngotot
23
23. Galau Sendiri
24
24. Guling Hidup
25
25. Merasa Salah Menilai
26
26. Tak Percaya
27
27. Who Knows?
28
28. Mauku?
29
29. Hampir Saja
30
30. Penuh Harap
31
31. Apa Benar?
32
32. Barang Umum
33
33. Nambah Lagi
34
34. Membandingkan
35
35. Tetap TI-DAK
36
36. Merasa Salah Bicara
37
37. Bagian Sensitif
38
38. Ahli Sejarah
39
39. Daris
40
40. Gabung
41
41. Senang Menggoda
42
42. Demi Kamu
43
43. Tersiksa
44
44. Kesulitan
45
45. Berpikir Macam-macam
46
46. Tidak Tahu
47
47. Pikir Saja Sendiri!
48
48. Hampir Lupa
49
49. Membujuk Untuk Membatalkan
50
50. Tidak Boleh!
51
51. Info Baru
52
52. Jail
53
53. Merasa Disidang
54
54. Kemungkinan Dua-duanya
55
55. Masa Lalu
56
56. Doa
57
57. Menyusul
58
58. Andai Saja
59
59. Sudah Tahu
60
60. Malu
61
61. Ucapan Selamat Pagi
62
62. Uring-uringan
63
63. Bersikap Lembut
64
64. Sudah Terbiasa
65
65. Di Anggap Halu
66
66. Nggak PD
67
67. Hafal
68
68. Dismenore
69
69. Merasa Malu
70
70. Sayang Sekali
71
71. Tidak Mau Mengajak
72
72. Hampir Tak Mengenali
73
73. Spot Jantung
74
74. Tak Sengaja
75
75. Tidak Bernafsu
76
76. Di Asah?
77
77. Tamu
78
78. Dianggap Pembantu
79
79. Balik Menindas
80
80. Bertanya Sendiri
81
81. Mertua?
82
82. Menunjukkan Bukti
83
83. Tidak Wajar
84
84. Perubahan Wajah
85
85. Kemungkinan Hilang
86
86. Bukan Pemilik
87
87. Menunggu
88
88. Wallpaper
89
89. Tak Ingin Percaya
90
90. Senyuman Masam
91
91. Karena Sayang
92
92. Menghalangi
93
93. Delia Lagi?
94
94. Istriku Selingkuhanku
95
95. Meresapi
96
96. Ternyata Benar
97
97. Dijebak
98
98. Berakhir Sendiri
99
99. Legowo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!