Setelah masuk ke kamar Zico, Delia melihat seluruh isi ruangan. Kamar Zico didominasi oleh warna putih, perabotan di dalamnya tersusun rapi dan estetik.
"Tak ada lemari pakaian. Apa kamar Kak Zico ada walk in closet-nya juga seperti di kamar Tante, eh, mama Ingrid?" gumam Delia terus menyusuri ruangan, "ternyata beneran ada walk in closet-nya," gumam Delia yang akhirnya benar-benar menemukan walk in closet di kamar Zico.
Delia melihat begitu banyak pakaian pria dan wanita di dalam ruangan itu lengkap dengan aksesorisnya. Delia yakin pakaian dan aksesoris wanita yang ada di ruangan itu pasti di siapkan mama mertuanya untuk dirinya.
Walk in closet adalah ruang penyimpanan khusus untuk merapikan pakaian, tas, sepatu, dan perlengkapan fashion lainnya.
"Begitu banyak pakaian baru yang modis lengkap beserta aksesorisnya. Semuanya barang branded. Pasti Tante Ingrid, eh, mama Ingrid telah menghabiskan banyak uang untuk membeli semua ini. Ini terlalu banyak, terlalu berlebihan," gumam Delia, kemudian keluar dari walk in closet itu setelah melihat semua pakaian dan aksesoris yang disiapkan ibu mertuanya untuk dirinya.
"Kau? Kenapa kamu ada di kamarku?" tanya Zico saat melihat Delia keluar dari walk in closet yang ada di kamarnya.
"Aku baru saja melihat di mana pakaian ku diletakkan," sahut Delia santai.
"Pakaian kamu? Maksud kamu, pakaian kamu ada di dalam walk in closet milikku?" tanya Zico memastikan kalau ia tidak salah mengartikan kata-kata Delia.
"Iya. Walaupun aku hanya istri kakak di atas kertas, tapi mama kakak sudah memindahkan semua barang-barang ku ke kamar kakak. Haruskah aku membawa semua barang-barang ku kembali ke kamarku di lantai satu?" tanya Delia menaikkan kedua alisnya menatap Zico.
"Kamu sengaja? Ingin aku dimarahi kedua orang tuaku?" tanya Zico sewot.
"Aku bertanya begitu karena kakak nampak keberatan melihat aku ada di kamar kakak," sahut Delia.
"Tentu saja aku keberatan," tandas Zico.
"Apa kakak pikir aku senang berada di kamar kakak? Aku merasa lebih nyaman berada di kamarku di lantai bawah dari pada di kamar kakak ini," ucap Delia jujur adanya.
"Aku juga terpaksa menerima kamu di kamarku. Jika bukan karena mama dan papa, aku tidak akan membiarkan kamu tidur di kamarku. Oh, ya, kamu boleh tidur di mana pun yang kamu suka, tapi jangan pernah tidur di atas ranjangku!" ucap Zico memperingati, lalu berjalan menuju ranjangnya.
"Kakak pikir aku pengen apa tidur di ranjang kakak? Aku juga ogah tidur satu ranjang sama kakak. Aku sudah nggak sabar menunggu satu tahun berlalu, agar aku bisa bebas mencari cinta sejati ku," ucap Delia, kemudian mengambil laptopnya untuk bekerja.
"Gadis ini.." geram Zico yang selalu saja kalah saat berdebat dengan Delia.
Delia nampak acuh pada Zico, ia memiilih mengerjakan pekerjaannya. Pekerjaannya sebagai freelance yang di gelutinya akhir-akhir ini tidak dikerjakannya kemarin karena acara pernikahan yang melelahkan.
"Gadis ini.. dia selalu saja berkata seperti itu. Apa benar, dia sama sekali tidak menyukai aku? Banyak wanita yang ingin menjadi istriku, tapi dia yang dengan mudah bisa menjadi istriku malah selalu mengatakan tidak sabar bercerai dariku. Sebenarnya, tipe laki-laki seperti apa yang disukainya?" batin Zico yang merasa heran dengan Delia yang tidak terlihat kagum sama sekali pada dirinya, apalagi menunjukkan rasa suka padanya.
Tak mau pusing memikirkannya, Zico pun meraih laptopnya. Pekerjaannya juga menumpuk karena acara pernikahan kemarin.
Zico duduk di atas ranjang dengan laptop di pangkuannya, sedangkan Delia duduk di sofa menghadap laptopnya yang berada di atas meja sofa. Sepasang suami-isteri itu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Namun sesekali Zico melirik Delia yang nampak serius di depan laptopnya. Hingga pada akhirnya tatapan mata Zico tertuju pada bibir Delia.
"Kenapa saat aku marah padanya, aku malah mencium bibirnya? Dan bibirnya itu, kenapa rasanya manis dan membuat aku jadi candu? Beberapa kali aku berciuman dengan Talitha, tapi rasanya biasa saja. Namun saat aku berciuman dengan Delia, aku merasakan sensasi yang berbeda, jantung ku berdetak kencang saat mencium dia. Saat bibirku sudah menempel di bibirnya, aku enggan untuk berhenti menciumnya. Semakin lama aku mencium bibirnya, aku merasa semakin tak ingin berhenti menciumnya," batin Zico yang tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Tok! Tok! Tok!"
"Tuan muda, nyonya muda, Anda berdua dipanggil ke ruangan makan untuk makan siang bersama," ucap seorang pelayan dari luar kamar Zico setelah mengetuk pintu kamar Zico.
"Iya, bik," sahut Delia.
Sepasang suami-isteri yang katanya hanya menikah di atas kertas tersebut beranjak pergi ke ruangan makan di mana Marcell dan Ingrid telah menunggu.
"Ayo, makan!" ajak Ingrid tersenyum hangat saat melihat anak dan menantunya memasuki ruangan makan.
"Iya, Tan, eh, ma," ucap Delia yang masih belum terbiasa dengan panggilan barunya pada Ingrid.
Sedangkan Marcell hanya tersenyum tipis menatap pasangan pengantin baru itu sepintas. Delia yang biasanya saat makan duduk di samping Ingrid, sekarang terpaksa harus duduk di samping Zico untuk melayani suaminya di meja makan.
"Kakak mau lauk apa?" tanya Delia lembut.
Zico menunjukkan lauk apa saja yang ingin dimakannya dan Delia pun mengambilkannya. Marcell dan Ingrid tersenyum samar melihat keduanya, berharap anak dan menantu mereka akur dan hidup bahagia.
Tak ada pembicaraan apapun saat mereka makan, hingga beberapa menit kemudian mereka pun selesai makan siang.
"Pa, ma, kami ingin hidup mandiri. Jadi, kami ingin tinggal di apartemen," ucap Zico mengungkapkan keinginannya. Mereka semua masih duduk di kursi meja makan.
"Di apartemen yang mana?" tanya Marcell terdengar datar.
"Apartemen yang tidak jauh dari tempat kerjaku," sahut Zico.
"Papa tidak setuju. Kalian harus tetap tinggal di sini bersama papa dan mama," ucap Marcell tegas
"Pa, bagaimana kami bisa belajar mandiri, kalau tinggal bersama papa dan mama terus?" protes Zico.
"Mau hidup mandiri atau ingin berdekatan dengan istri siri kamu itu? Papa tahu, kamu membelikan apartemen untuk istri siri kamu yang tempatnya tidak jauh dari kantor kamu, 'kan?" tanya Marcell yang terus mengawasi putranya.
Ingrid nampak terkejut mendengar Marcell membicarakan tentang istri siri Zico di depan Delia. Pasalnya, ia dan Marcell belum memberitahu Delia tentang Zico yang telah menikahi Talitha secara siri.
"Walau bagaimanapun, dia adalah istriku, pa. Wajar saja jika aku ingin berdekatan dengan istriku," sahut Zico menghela napas kasar.
"Tetap tidak bisa. Kalian akan tetap tinggal di sini bersama kami. Dan jangan coba-coba menginap di apartemen istri siri kamu itu, atau papa akan menyeret kamu pulang," ancam Marcell tak main-main.
Delia menahan senyumnya mendengar papa mertuanya yang hendak menyeret Zico, jika Zico berani menginap di apartemen Talitha. Sedangkan Zico hanya bisa menghela napas panjang.
Selama ini orang tuanya tak pernah mengatur hidupnya. Ia hidup bagai burung yang bisa terbang kemanapun ia suka. Tapi begitu ia menjalin hubungan dengan Talitha, orang tuanya langsung ikut campur dengan urusan pribadinya, bahkan memaksa dirinya menikah dengan Delia dan menghalangi dirinya berdekatan dengan Talitha.
"Delia, apa kamu sudah tahu, kalau Zico menikah lagi dengan wanita lain?" tanya Ingrid yang melihat Delia tidak terkejut sama sekali saat Marcell dan Zico membicarakan tentang istri siri Zico.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Eka Bundanedinar
udah tau mah tp delia g selemah itu dia bisa melawan madunya
2024-09-28
2
Diana diana
sudah ma , dan aku bodo amat . . kata Delia
2024-08-21
1
Susetiyanti RoroSuli
bgmn ya jawaban dari istri Ciko yg dianggapnya istri diatas kertas ?
2024-08-12
2