8. Kampungan

Dari tempatnya duduk saat ini, Gracia bisa melihat Talitha dan Zico tersenyum sambil berbincang.

"Kok, mereka malah terlihat langsung akrab, sih? Apa yang dilakukan Talitha sampai bisa deketin, tuh, cowok?" gumam Gracia semakin penasaran.

"Jadi dia beneran gadis yang sudah menyelamatkan kamu?" tanya Davin yang sedari tadi hanya menjadi penonton dan pendengar.

"Iya. Oh, ya, Tha, kenalin, ini Davin, sahabat aku waktu SMA," ucap Zico memperkenalkan Davin pada Talitha.

"Talitha," ucap Talitha mengulurkan tangannya pada Davin.

"Kamu cewek yang beberapa kali pernah ngajak aku kenalan, 'kan?" tanya Davin tersenyum tipis.

Zico mengernyitkan keningnya menatap Talitha setelah mendengar pertanyaan Davin.

"Iya, dan kamu cuekin aku," ucap Talitha tersenyum masam.

"Sorry, aku emang nggak terlalu suka kenalan sama cewek baru," ucap Davin yang memang tidak terlalu suka didekati wanita yang tidak dikenalnya.

"Oh, begitu," sahut Talitha tersenyum tipis.

"Tha, kok, malah ninggalin aku sendiri, sih!" protes Gracia yang akhirnya menyusul Talitha, karena Talitha tidak cuma bisa bicara dengan Zico, tapi juga dengan Davin. Jadi Gracia merasa penasaran bagaimana caranya Talitha bisa membuat dua pemuda tampan dan tajir itu mau menerima kehadiran Talitha, bahkan bisa langsung akrab dengan Talitha.

"Oh, sorry. Aku lupa. Zic, Vin, kenalin, ini teman aku, Gracia," ucap Talitha memperkenalkan Gracia pada Zico dan Davin.

Gracia pun mengulurkan tangannya pada Zico dan Davin dengan seulas senyuman manis di bibirnya.

"Tak ku sangka bisa berkenalan dengan dua cowok tampan dan tajir ini. Zico, anak tunggal, menjabat sebagai CEO yang bapaknya pemegang saham terbesar di tempatnya bekerja. Davin anak tunggal pemilik klub malam yang besar ini. Benar-benar ikan kakap semua," batin Gracia.

"Biar lebih nyaman, kita pindah aja ke privat room," ajak Davin, kemudian beranjak dari duduknya dan mengarahkan Zico, Talitha dan Gracia ke sebuah private room.

*

Pagi itu Zico sedang sarapan bersama kedua orang tuanya dan Delia.

"Ma, pa, aku semalam bertemu dengan gadis yang menyelamatkan aku saat aku di gigit ular dulu," ucap Zico nampak bahagia.

"Benarkah?"

"Oh, ya?"

Ucap Marcell dan Ingrid bersamaan. Sepasang suami-isteri itu nampak antusias mendengar kabar dari Zico. Sedangkan Delia hanya menatap tiga orang itu bergantian.

"Iya, ma. Semalam aku bertemu dia saat aku nongkrong di klub malam bersama Davin. Ternyata dia masih ingat kejadian waktu itu," ujar Zico antusias.

"Dia mendengar kamu bercerita, lalu mengaku bahwa dia yang telah menolong kamu?" tanya Marcell dengan kening yang berkerut.

"Aku cuma bilang 15 tahun yang lalu aku pernah digigit ular, lalu aku ditolong seorang gadis, pa. Cuma itu yang aku katakan. Tapi dia bisa menceritakan kejadian waktu itu persis sama. Apa papa meragukan dia?" tanya Zico.

"Papa hanya tidak ingin kamu ditipu orang dan berterima kasih pada orang yang salah," sahut Marcell.

"Enggak, pa. Aku yakin itu dia," sahut Zico nampak yakin.

"Kalau begitu, ajak dia ke rumah. Perkenalkan sama papa dan mama," ujar Ingrid yang tidak seantusias tadi setelah mendengar Zico bertemu dengan gadis penyelamatnya di klub malam.

"Iya, ajaklah dia ke rumah! Papa dan mama ingin berterima makasih sama gadis itu," sahut Marcell yang juga tak seantusias tadi.

"Iya, pa," sahut Zico yang merasakan perubahan sikap papa dan mamanya. Sedangkan Delia yang tak tahu apa-apa pun hanya diam dan menjadi pendengar yang baik.

Sesuai permintaan papa dan mamanya tadi pagi, malam harinya Zico membawa Talitha pulang ke rumah.

"Ma, pa, kenalkan, ini Talitha. Dialah gadis kecil yang menolong aku saat aku di gigit ular dulu," ucap Zico memperkenalkan Talitha pada kedua orang tuanya.

"Jadi, kamu yang dulu menyelamatkan Zico?" tanya Ingrid pada Talitha.

"Iya, Tan," sahut Talitha tersenyum ramah.

"Ayo, duduk!" ajak Ingrid tersenyum tipis seraya berjalan menuju sofa.

Akhirnya mereka semua duduk di sofa ruang tamu. Zico duduk di sebelah Talitha, berhadapan dengan Ingrid yang duduk di antara Marcell dan Delia. Mereka bertiga nampak memperhatikan Talitha yang memakai gaun berlengan pendek dengan panjang di bawah lutut.

Pakaian yang sopan dan terlihat elegan di tubuh Talitha yang tinggi dan cantik, jika saja gaun itu tidak menonjolkan bagian dada dan tidak ketat hingga mencetak lekuk tubuh Talitha.

"Bagaimana dulu kamu bisa meyelamatkan Zico?" tanya Marcell memulai pembicaraan.

Marcell, Ingrid dan Delia nampak menunggu jawaban dari Talitha atas pertanyaan Marcell.

"Waktu itu, aku sedang mencari ular dengan ayahku. Tanpa sengaja aku lihat Zico di gigit ular. Aku menangkap dua ekor ular cobra yang salah satunya menggigit Zico. Setelah itu aku memberikan Zico obat penawar racun yang selalu aku bawa setiap kali menangkap' ular bersama ayah. Aku juga menyemprotkan air bawang di sekitar tempat Zico berada sebelum meninggalkan Zico untuk mencari bantuan. Untungnya tidak jauh dari tempat kami berada ada dua orang petugas pengawas hutan, jadi aku langsung meminta mereka untuk menolong Zico," jelas Talitha yang persis dengan yang pernah diceritakan Zico pada Marcell dan Ingrid 15 tahun yang lalu.

"Om dan Tante mengucapkan terima kasih banyak atas pertolongan kamu beberapa tahun yang lalu. Sebagai rasa terima kasih kami, katakan saja jika kamu butuh bantuan kami," ucap Marcell.

"Terima kasih, Om. Aku ikhlas, kok, nolong Zico," ucap Talitha tersenyum seraya menggenggam tangan Zico.

"Sekarang, kamu masih kuliah atau sudah bekerja?" tanya Ingrid.

"Aku sudah bekerja, Tan," sahut Talitha.

"Bekerja di bidang apa?" tanya Marcell.

"Dunia fesyen, Om. Aku berprofesi sebagai foto model," ucap Talitha bangga.

"Oh, begitu?" sahut Ingrid.

Wanita itu tersenyum tipis melihat Talitha yang duduk menempel pada putranya, bahkan meletakkan tangannya di paha putranya. Padahal Zico mengaku baru bertemu dengan Talitha kemarin malam.

Sedangkan Delia nampak mengamati Talitha sejak Talitha masuk ke rumah itu. Delia seperti sedang mengingat-ingat siapa Talitha.

"Aku seperti pernah melihat wanita yang bernama Talitha ini. Tapi.. dimana, ya?" gumam Delia dalam hati menatap Talitha sambil mencoba mengingat di mana pernah melihat Talitha.

"Astaga.." ucap Delia tanpa sadar saat mengingat dimana pernah melihat Talitha. Delia langsung menutup mulutnya sendiri saat menyadari semua orang menatap ke arah dirinya.

"Ada apa, Del?" tanya Ingrid.

"Ah, itu..anu.. ah..a..aku lupa merendam kacang hijau untuk dibuat bubur besok, Tan. Tante tahu sendiri, kacang hijau kalau nggak direndam dari sore sampai pagi, pasti merebusnya bakalan lama dan ngabisin gas," sahut Delia mencari alasan. Tidak mungkin Delia mengatakan apa yang membuat dirinya terkejut di depan semua orang yang ada di ruangan ini, terutama di depan Talitha.

"Oh, kirain apa. Kalau gitu, bikin bubur kacang hijaunya lusa aja," sahut Ingrid tersenyum tipis.

"Iya, Tan," sahut Delia membalas senyuman Ingrid.

"Terakhir kali bikin bubur kemarin, bubur kacang hijaunya masih keras, Yang," sahut Marcell.

"Oh, itu. Itu karena yang bikin bubur pelayan baru. Dia merebus kacang hijaunya langsung bareng sama gula merahnya. Jadi, meskipun sudah di rebus lama, kacangnya masih keras," sahut Ingrid terkekeh kecil mengingat pelayan barunya yang tidak bisa membuat bubur kacang hijau.

"Memang ngaruh hanya gara-gara gula merahnya dimasak bareng sama kacang hijaunya, ma?" tanya Zico.

"Tentu saja, Sayang. Kacang hijaunya harus direbus dulu sampai matangnya sesuai yang kita inginkan, baru dimasukkan gula merah. Kalau enggak, ya, jadinya kacangnya jadi keras meskipun sudah direbus lama," sahut Ingrid.

"CK! Bahas apaan, sih, mereka ini? Nggak penting banget. Dan siapa, sih, cewek kampungan ini? Kayaknya deket banget sama ortu Zico," batin Talitha mengamati Delia.

Delia, gadis bermata bulat dengan bulu mata yang lentik. Rambutnya lebat dan hitam legam bak arang, panjangnya sepinggang dengan poni yang menutupi alisnya. Memakai kawat gigi, kaus oblong oversize, alias kebesaran yang dipadu dengan celana kulot.

"Benar-benar kampungan," inilah kalimat yang hanya bisa diucapkan Talitha dalam hati.

Entah mengapa, baru sekali melihat Delia, Talitha sudah langsung tak menyukai Delia. Tiba-tiba Talitha merasa iri dan kesal melihat keakraban Delia dan kedua orang tua Zico.

"Nanti aku akan bertanya pada Zico, siapa gadis kampungan ini," batin Talitha menyembunyikan rasa iri, kesal dan juga tidak sukanya pada Delia.

Setelah itu tidak banyak pembicaraan antara orang tua Zico dan Talitha, hingga akhirnya Talitha pamit pulang. Zico pun mengantarkan Talitha pulang.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

Ngrebus kacang hijau gk perlu lama kak thorr. Kacang di cuci bersih kasih air di rebus smpek mendidih skitar 10-15 mnt matiin api kacang dlm keadaan tertutup diemin skitar 30 mnit lalau nyalain api lgi sampek mendidih lgi skitar 10-15 mnit kacang udah Mateng tinggal nambah gula santen sak bolo”e Mateng deh.

2024-10-12

0

Putri Dhamayanti

Putri Dhamayanti

padahal msh 1 ibu loh tp koq jahat sama adeknya, ckckck...kejamnya si talitha

2024-08-04

3

Uyhull01

Uyhull01

hmmm kayanya Delia mnyembunyikan wajahnya dgan dgan poni dan kawar gigi deh,

2024-08-03

2

lihat semua
Episodes
1 1. Amarah
2 2. Cancel Cinta
3 3. Harimau Lapar
4 4. Gara-gara Digelitik
5 5. Permintaan
6 6. Kedinginan
7 7. Merasa Beruntung
8 8. Kampungan
9 9. Terlanjur Ternoda
10 10. Kurang Apa?
11 11. Kecolongan
12 12. Tegas
13 13. Teman Lama
14 14. Mulut Tajam
15 15. Di Ikat
16 16. Kehabisan Kata-kata
17 17. Tidak Setuju
18 18. Posisi Terbalik
19 19. Tak Menyangka
20 20. Tidak Mengizinkan
21 21. Jangan-jangan..
22 22. Ngotot
23 23. Galau Sendiri
24 24. Guling Hidup
25 25. Merasa Salah Menilai
26 26. Tak Percaya
27 27. Who Knows?
28 28. Mauku?
29 29. Hampir Saja
30 30. Penuh Harap
31 31. Apa Benar?
32 32. Barang Umum
33 33. Nambah Lagi
34 34. Membandingkan
35 35. Tetap TI-DAK
36 36. Merasa Salah Bicara
37 37. Bagian Sensitif
38 38. Ahli Sejarah
39 39. Daris
40 40. Gabung
41 41. Senang Menggoda
42 42. Demi Kamu
43 43. Tersiksa
44 44. Kesulitan
45 45. Berpikir Macam-macam
46 46. Tidak Tahu
47 47. Pikir Saja Sendiri!
48 48. Hampir Lupa
49 49. Membujuk Untuk Membatalkan
50 50. Tidak Boleh!
51 51. Info Baru
52 52. Jail
53 53. Merasa Disidang
54 54. Kemungkinan Dua-duanya
55 55. Masa Lalu
56 56. Doa
57 57. Menyusul
58 58. Andai Saja
59 59. Sudah Tahu
60 60. Malu
61 61. Ucapan Selamat Pagi
62 62. Uring-uringan
63 63. Bersikap Lembut
64 64. Sudah Terbiasa
65 65. Di Anggap Halu
66 66. Nggak PD
67 67. Hafal
68 68. Dismenore
69 69. Merasa Malu
70 70. Sayang Sekali
71 71. Tidak Mau Mengajak
72 72. Hampir Tak Mengenali
73 73. Spot Jantung
74 74. Tak Sengaja
75 75. Tidak Bernafsu
76 76. Di Asah?
77 77. Tamu
78 78. Dianggap Pembantu
79 79. Balik Menindas
80 80. Bertanya Sendiri
81 81. Mertua?
82 82. Menunjukkan Bukti
83 83. Tidak Wajar
84 84. Perubahan Wajah
85 85. Kemungkinan Hilang
86 86. Bukan Pemilik
87 87. Menunggu
88 88. Wallpaper
89 89. Tak Ingin Percaya
90 90. Senyuman Masam
91 91. Karena Sayang
92 92. Menghalangi
93 93. Delia Lagi?
94 94. Istriku Selingkuhanku
95 95. Meresapi
96 96. Ternyata Benar
97 97. Dijebak
98 98. Berakhir Sendiri
99 99. Legowo
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1. Amarah
2
2. Cancel Cinta
3
3. Harimau Lapar
4
4. Gara-gara Digelitik
5
5. Permintaan
6
6. Kedinginan
7
7. Merasa Beruntung
8
8. Kampungan
9
9. Terlanjur Ternoda
10
10. Kurang Apa?
11
11. Kecolongan
12
12. Tegas
13
13. Teman Lama
14
14. Mulut Tajam
15
15. Di Ikat
16
16. Kehabisan Kata-kata
17
17. Tidak Setuju
18
18. Posisi Terbalik
19
19. Tak Menyangka
20
20. Tidak Mengizinkan
21
21. Jangan-jangan..
22
22. Ngotot
23
23. Galau Sendiri
24
24. Guling Hidup
25
25. Merasa Salah Menilai
26
26. Tak Percaya
27
27. Who Knows?
28
28. Mauku?
29
29. Hampir Saja
30
30. Penuh Harap
31
31. Apa Benar?
32
32. Barang Umum
33
33. Nambah Lagi
34
34. Membandingkan
35
35. Tetap TI-DAK
36
36. Merasa Salah Bicara
37
37. Bagian Sensitif
38
38. Ahli Sejarah
39
39. Daris
40
40. Gabung
41
41. Senang Menggoda
42
42. Demi Kamu
43
43. Tersiksa
44
44. Kesulitan
45
45. Berpikir Macam-macam
46
46. Tidak Tahu
47
47. Pikir Saja Sendiri!
48
48. Hampir Lupa
49
49. Membujuk Untuk Membatalkan
50
50. Tidak Boleh!
51
51. Info Baru
52
52. Jail
53
53. Merasa Disidang
54
54. Kemungkinan Dua-duanya
55
55. Masa Lalu
56
56. Doa
57
57. Menyusul
58
58. Andai Saja
59
59. Sudah Tahu
60
60. Malu
61
61. Ucapan Selamat Pagi
62
62. Uring-uringan
63
63. Bersikap Lembut
64
64. Sudah Terbiasa
65
65. Di Anggap Halu
66
66. Nggak PD
67
67. Hafal
68
68. Dismenore
69
69. Merasa Malu
70
70. Sayang Sekali
71
71. Tidak Mau Mengajak
72
72. Hampir Tak Mengenali
73
73. Spot Jantung
74
74. Tak Sengaja
75
75. Tidak Bernafsu
76
76. Di Asah?
77
77. Tamu
78
78. Dianggap Pembantu
79
79. Balik Menindas
80
80. Bertanya Sendiri
81
81. Mertua?
82
82. Menunjukkan Bukti
83
83. Tidak Wajar
84
84. Perubahan Wajah
85
85. Kemungkinan Hilang
86
86. Bukan Pemilik
87
87. Menunggu
88
88. Wallpaper
89
89. Tak Ingin Percaya
90
90. Senyuman Masam
91
91. Karena Sayang
92
92. Menghalangi
93
93. Delia Lagi?
94
94. Istriku Selingkuhanku
95
95. Meresapi
96
96. Ternyata Benar
97
97. Dijebak
98
98. Berakhir Sendiri
99
99. Legowo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!