Dua Puluh

“Semoga semuanya cepat berlalu ya Allah,” batin Yusuf ketika dirinya baru pulang.

Mbak Sari sudah langsung gercep membawa satu gelas besar berisi es teh. Pandangan mbak Sari terus tertuju kepada Yusuf dipenuhi senyum. Ibu Mimi yang melihatnya dari kejauhan sengaja menegur. Namun, mbak Sari tidak sedikit pun terusik.

Padahal, Yusuf baru saja mendapat pesan dari nomor Lalisa. Lalisa menanyakan kelanjutan hubungan mereka, dan Yusuf menjanjikan besok sebagai jadwal pertemuan mereka.

Om Yusuf : Aku mau tidur dulu ya. Ini baru pulang cari kerja. Dari kemarin aku belum tidur. Takut beneran ambruk.

Om Yusuf : Bilang ke orang tua kamu, besok aku bawa mamaku ke tempat kalian. Kamu cukup kasih alamat kamu saja. Nanti kami ke sana.

Pesan-pesan manusiawi dari Yusuf membuat senyum Lalisa dipenuhi kebahagiaan. Tak tanggung-tanggung, Lalisa memamerkan kepada orang tuanya. Kebetulan, mereka ada di kediaman mereka yang luas, di ruang keluarga.

Senja yang tengah berlangsung di luar sana menjadi saksi, bahwa orang tua Lalisa sempat tersentuh dengan pesan-pesan santun Yusuf.

“Ini kan baru awal,” ucap pak Pras tetap tidak mengizinkan Lalisa memakai wujud aslinya.

“Benar, ... tetap wajib nyamar!” sergah ibu Lasyita. “Kita buktikan ketulusan dia!” tambahnya.

Mau tak mau, Lalisa berangsur menghela napas pasrah. “Ya sudah ... okelah oke!” ucapnya yang kemudian pamit pergi ke kamar.

Untuk perasaannya kepada Yusuf, Lalisa yang telanjur menyukai bahkan mencintai Yusuf, jadi merasa berbeda. Lalisa layaknya orang jatuh cinta pada kebanyakan. Kebodo*han kerap Lalisa lakukan, hingga sang papa maupun mama, terus menegur sekaligus memberinya arahan.

Layaknya di keesokan harinya, Lalisa mendadak berubah gaya penampilan. Polesan di tubuhnya kurang hitam dan hanya samar hitam saja. Hingga kulitnya tampak layaknya warna kulit sawo matang. Dengan warna kulit itu, Lalisa jadi enggak jele*k-jele*k amat.

“Siniii,” heboh ibu Lasyita. Ia membawa Lalisa untuk kembali masuk ke dalam kamar.

Lalisa yang ingin tampil sempurna di depan Yusuf, tapi tetap jadi anak baik untuk kedua orang tuanya, tidak bisa untuk tidak menurut. Apalagi, pada kenyataannya kedua orang tuanya merestui asal Yusuf memang serius sekaligus tulus.

“Diurus itu Ma. Wajib tetap hitam mengkilap!” ucap pak Pras yang jadi menertawakan putrinya sendiri.

Awalnya, pak Pras merasa bahwa ulah putrinya yang melakukan penyamaran itu gil*a. Baginya, penyamaran yang Lalisa lakukan hanya buang-buang waktu, mirip orang kurang kerjaan. Namun nyatanya, apa yang Lalisa khawatirkan memang terbukti. Penyamaran Lalisa sungguh membuktikan ketulusan laki-laki yang menjadi pasangannya.

Tak beda dengan Lalisa, pak Pras pun sudah tampil sangat sederhana. Ia memakai batik lusuh milik sopirnya. Sementara sang istri yang masih mengurus Lalisa dan memoles tubuh Lalisa menggunakan alas bedak hitam, juga memakai pakaian sederhana ala-ala ART di rumah mereka.

Sekitar dua jam kemudian, Lalisa dan orang tuanya sudah ada di kontrakan kawasan padat penghuni. Itu akan menjadi tempat tinggal baru mereka selama menguji keseriusan Yusuf.

Tak ada meja apalagi sofa mahal. Tempat tidur pun berupa kasur busa yang ditaruh di lantai tanpa ranjang. Lemari berupa lemari plastik, dapur di sana juga sempit bersebelahan dengan kamar mandi tak kalah sempit. Ketika di rumah mereka, mereka memiliki banyak kamar mandi termasuk fasilitas lain, tidak dengan di kontrakan. Semuanya serba terbatas. Serangga dari semut, nyamuk, bahkan kecoa juga mereka tempati dan membuat mereka heboh berjamaah karena ketakutan.

Sekitar dua jam kemudian, di tengah suasana yang mulai sore, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Yusuf datang bersama sang mama. Keduanya membawa parsel buah dan juga beberapa boks berisi kue.

“Innalilahi ... si Lalisa sehitam ini? Manis sih, ... tapi kok, kayak ada yang janggal, ya? Orang tuanya kucel, tapi masih normal. Mirip andai mau perawatan, ya tetap bersih glowing,” batin ibu Mimi sibuk melakukan penilaian terhadap Lalisa sekeluarga.

Selain memastikan Lalisa tetap hitam mengkilap, orang tua Lalisa juga menjiwai sandiwara mereka. Keduanya kompak tampil kucel, dan bicara pun sengaja ikut cadel.

“Aihh ... Papa sama Mama ikut-ikutan,” batin Lalisa benar-benar terkejut.

Namun ketimbang memikirkan sandiwara orang tuanya, Lalisa lebih tak karuan gara-gara harus berhadapan dengan Yusuf.

Kemeja lengan panjang slim fit warna merah hati dipadukan dengan celana bahan warna hitam, Yusuf pilih untuk penampilannya kali ini. Yusuf memang hanya berpenampilan sederhana, tapi wibawa dan pesonanya mampu menghanyutkan dunia Lalisa.

Di tikar karakter yang ada di ruang depan, pertemuan mereka terjadi. Yusuf duduk bersebelahan dengan sang mama yang sesekali ia genggam tangannya.

“Aku sudah janji ke Yusuf untuk diam dan menerima. Ya sudah,” batin ibu Mimi.

“Bisa tolong perkenalkan jati diri kamu. Sekalian, bisa tolong berikan kartu identitas kamu? Kami ingin memastikan, kamu tidak terlibat hubungan pernikahan dengan wanita mana pun. Kamu beneran jadi cerai dengan istri kamu, kan? Kemajuan perceraian kalian sampai mana?” tanya pak Pras.

“Perceraian saya dan mantan istri saya masih diproses, Pak. Hari ini juga saya sudah mendaftarkan gugatan perceraian. Sementara saya merupakan ... saya sudah pernah menikah sebanyak ... tiga kali,” cerita Yusuf panjang lebar dan sukses membuat orang tua Lalisa berikut Lalisa, terbengong-bengong.

Dengan kata lain, Lalisa akan menjadi istri ke empat Yusuf. Seketika itu juga orang tua Lalisa jadi meragukan Yusuf. Kenapa Yusuf bisa terlibat pernikahan sebanyak tiga kali, jika Yusuf tidak bermasalah?

“Namun yang dengan Zico kan si istri yang selingkuh, ya. Apa terlalu sibuk kerja terus enggak ada waktu buat urus istri, apa gimana?” pikir pak Pras.

“Apa karena mamanya ini, tipikal mertua julid? Wajahnya judes banget. Jangan-jangan, nanti Lalisa disiksa kerja rodi. Kalau gitu caranya, mending Lalisa dikirim ke Korut. Di sana para wanita dididik tangguh tapi lebih dihargai,” batin ibu Lasyita yang justru curiga kepada ibu Mimi. Ia yakin, cikal bakal masalah rumah tangga Yusuf, ya ada di mamanya. Apalagi jika melihat interaksi Yusuf dengan sang mama, baginya Yusuf sangat memuliakan mamanya.

“Kebanyakan suami yang anak mama, dalam artian patuh ke mamanya, bikin mertua jadi maut istri sekaligus rumah tangga mereka. Sementara sampai di titik ini, si Lalisa telanjur bucin ke Yusuf. Sedangkan biasanya, orang bucin itu bod*oh. Enggak bisa bedain cinta sama kebod*han hakiki!” pikir ibu Lasyita lagi.

Baru dipikirkan oleh sang mama, Lalisa sudah dengan sendirinya menyanggupi dinikahi oleh Yusuf. “Enggak apa-apa jadi istli ke empat. Yang penting jadi satu-satunya istli sekaligus yang terakhir. Syoalnya, aku wanita yang menolak kelas poligami maupun pelselingkuhan,” ucap Lalisa.

“Lah ... lah, ... cara ngomongnya bikin aku kaget. Mirip Chilla. Apa memang masih muda, ya? Terlalu banyak yang bikin aku bertanya-tanya,” batin ibu Mimi jadi gelisah hingga membuat ibu Lasyita yang telanjur mencurigainya sebagai mertua jahat, makin curiga.

“Tentu. Kamu akan menjadi satu-satunya istriku karena aku juga sangat membenci perselingkuhan!” tegas Yusuf penuh ketenangan.

Lalisa refleks tersenyum dan membuatnya terlihat makin manis meski kini ia kembali dengan kulit hitam mengkilapnya.

“Satu lagi, ...,” ucap Yusuf sengaja menggantung ucapannya. Sadar Lalisa dan orang tuanya langsung menatapnya, Yusuf berkata, “Aku punya anak angkat yang usianya sudah hampir lima tahun. Namanya Oskar, dan sekarang dia ada di rumah bersama yang jaga.”

“Heh ...?” refleks orang tua Lalisa dalam hati mereka. Adanya Oskar dalam kehidupan seorang Yusuf, makin membuat mereka meragukan Yusuf. Namun lagi-lagi, Lalisa yang telanjur bucin, tak mempermasalahkannya.

“Aku juga suka anak kecil, Om. Jadi anak tunggal bikin aku kesepian. Belalti nanti aku bisa langsung kenalan sama Oskal!” ucap Lalisa masih sangat manis.

Mendengar balasan santai Lalisa, Yusuf benar-benar lega. Yusuf yakin Lalisa bisa menjadi istri yang baik asal Lalisa tak mendadak berubah seperti Kirana. Karena dulu sebelum ada Zico, Kirana juga tipikal yang sangat manis layaknya wanita penurut pada kebanyakan.

Di tempat berbeda dan itu di depan gerbang rumah ibu Mimi, ada Kirani yang baru turun dari mobilnya.

Terpopuler

Comments

💞pejuang🤑🤑🤑

💞pejuang🤑🤑🤑

jadi inget si chilla

2024-10-16

0

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

ya menyesal memang selalu diakhir

2024-07-22

0

Firli Putrawan

Firli Putrawan

sandiwara demi kebaikan gpp kedepan nya baik

2024-07-20

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!