“Kalau kamu penasaran, dan kamu mau. Ya ayo, ... ayo kita coba! Kamu mau di mana? Mau aku, apa kamu yang tentuin hotelnya?”
Ucapan barusan dan itu merupakan suara Zico, langsung membuat Kirana tak karuan. Jantung berdebar kencang, rahim bergetar-getar, juga dadanya yang jadi berbunga-bunga.
Zico dan segala kenangan mereka di masa lalu, membuat dunia Kirana berubah total. Kadar sayang bahkan kadar cinta Kirana kepada Yusuf, langsung menyusut dengan sangat cepat. Terlebih, rasa kepada Zico yang sempat tak tersisa, mendadak tumbuh dengan sangat cepat mengalahkan rasa untuk Yusuf, hanya karena setitik kekurangan Yusuf. Kekurangan yang juga belum disertai bukti akurat.
Kekurangan Yusuf masih tentang kemandulan yang menjadi alasan Kirana tak kunjung hamil. Hingga Kirana yang memang pernah hamil dengan Zico di masa lalu, ingin membuktikannya lagi.
Meski Yusuf memberi solusi agar mereka sama-sama memeriksakan kesehatan ke dokter. Meski Yusuf juga berdalih lebih baik mereka bercerai daripada mereka berzin.a dengan orang lain untuk membuktikan siapa yang mandul. Kirana tidak peduli. Kirana akan melakukannya sebagai wujud rasa cintanya kepada Yusuf. Agar dirinya tetap memiliki anak tanpa harus berpisah dari Yusuf. Bahkan meski anak itu justru merupakan benih sekaligus darah daging pria lain.
Kirana tak mau berpisah apalagi kehilangan Yusuf. Terlebih, Yusuf sudah kembali membuat usaha keluarganya kembali hidup. Usaha yang awalnya sempat terpuruk, kini kembali hidup bahkan maju.
Setelah membuat kesepakatan, Kirana sengaja mandi. Ia sampai keramas dan memang sengaja menyiapkan penampilan terbaiknya. Semacam pak.aian dalam juga sengaja Kirana pilih yang spesial. Kirana memilih pakaian dal.am seksi serba hitam. Selanjutnya, ia juga menjatuhkan pilihan ke gaun merah permen nan seksi dari sekian banyak koleksi miliknya.
Namun sebelum memakainya, Kirana sengaja memfotonya kemudian mengirimnya. Niatnya, Kirana mengirimnya ke Zico. Namun karena selama dua bulan lebih, Kirana terbiasa melakukannya ke Yusuf, Kirana jadi salah kirim ke Yusuf.
“Hih ....” Kirana yang masih memakai handuk piyama warna purple, langsung panik. Lebih panik lagi lantaran fotonya sudah langsung dilihat oleh sang suami. Dua centeng biru menyala, menjadi keterangan foto tersebut. Alasan yang membuat Kirana mendadak deg-degan.
Namun berbeda ketika kepada Zico, alasan kali ini Kirana deg-degan murni karena Kirana takut. Kirana takut belum apa-apa, ia sudah ketahuan. Otomatis jika itu terjadi, ia tak bisa hamil atau setidaknya. Ia jadi tak bisa membuktikan siapa di antara dirinya dan Yusuf yang mandul.
Hubby : Langsung enggak pakai apa-apa saja.
Biasanya, Kirana paling suka jika sang suami membalas begitu. Namun kali ini, rasanya sudah lain. Hanya saja, mau tidak mau Kirana juga segera membalas.
Istriku : Ya sudah, nanti malam. Sayang, pulangnya masih lama, kan?
Hubby : Kamu mau pergi?
“Ya ampun ... ini mas Yusuf beneran tahu kalau aku mau sama Zico ...? Mas Yusuf enggak sampai sadap ponselku, kan? Jangan-jangan iya.” Kirana jadi ketakutan sendiri.
Padahal belum apa-apa, tapi hidup Kirana sudah kacau tak karuan. “Padahal apa yang aku dan Zico lakukan bukan selingkuh. Zico hanya akan membantuku yang sedang butuh!” batin Kirana yang kemudian lanjut siap-siap.
***
“Suamiku selalu pulang larut malam. Sebenarnya kalau mau di rumah, bisa saja. Namun demi jaga-jaga, ... ayo kita lakukan di hotel saja!” Mengingat ucapan tersebut dan merupakan ucapan Kirana, Zico langsung tersenyum semringah.
Zico melangkah tak sabar meninggalkan ruang kerjanya. Ia ingin segera bertemu sekaligus menyentuh Kirana. Meski belum apa-apa, ia justru harus berhadapan dengan Lalisa, si hitam buru.k rupa.
“Hah ... memedi ini lagi, ... memedi ini lagi!” batin Zico benar-benar muak. Namun, ia diwajibkan bertahan oleh sang mama demi keperluan bisnis mereka. Ia ingat betul wanti-wanti sang mama yang memintanya baru boleh berulah, setelah ia dan Lalisa sudah menikah. Sebelum mereka benar-benar resmi menikah, Zico tidak boleh berulah karena ditakutkan, pernikahan bisnis mereka jadi gagal.
“Pelnikahan kita benelan hali besyok. Namun kenapa kamu masih saja cuek!” omel Lalisa dengan gaya cupunya yang sekadar berbicara saja kadang akan gagap.
“Aku sibuk. Ini saja aku mau urus kerjaan di luar. Sekarang, mending kamu pulang saja. Kamu istirahat biar besok, kamu lebih siap,” ucap Zico yang sekadar menatap Lalisa saja sangat terpaksa.
“Bentar ... ini aneh. Atas ada apa dia jadi baik begini? Atau ... dia sudah melakukan kesalahan?” pikir Lalisa yang dengan sengaja minta ikut.
“I—ikut ...? Buat apa? Ngapain kamu ikut, sementara aku sudah jelasin bahwa aku mau urus kerjaan di luar?!” ucap Zico ketar-ketir. Jantungnya berdetak lebih kencang karena ia takut ketahuan.
“Pasyangan lain duga gitu .. seling bawa pasyangannya ... kelja juga! Syekalian dikenal-kenalin gitu.” Lalisa terus berusaha membuat Zico membawanya.
Di tempat berbeda, Kirana benar-benar sudah cantik. Dress merah permen tak berlengan berbelahan dada turun, membuatnya tampak sangat cantik sekaligus seksi. Belum lagi kenyataan rias wajah maupun susunan rambut panjangnya yang sengaja digerai. Aroma sangat wangi terciu.m dari sekujur tubuhnya. Semua ART termasuk Oskar anak angkat Yusuf, langsung memperhatikannya. Oskar bahkan sempat merengek minta ikut, tapi Kirana berhasil meyakinkan agar bocah berusia empat tahun itu tak jadi ikut.
Sudah pukul setengah empat sore ketika Kirana memastikan waktu di arloji mahal yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. “Masih ada waktu. Semoga enggak macet!” batin Kirana sambil meninggalkan teras rumahnya dengan sangat hati-hati.
Kirana pikir, sudah tidak ada batu penghalang. Karena Oskar yang harus ia jaga saja, mau ditinggal. Namun Kirana salah. Sebab mobil sedan putih milik Yusuf, justru sudah terparkir di depan halaman bawah sana.
Kirana yang berdiri di anak tangga menuju bawah selaku halaman rumahnya, langsung terdiam. Ia benar-benar tak berkutik lantaran Yusuf sungguh sudah pulang. Padahal biasanya, Yusuf selalu pulang larut malam.
Penuh senyum, Yusuf mengeluarkan setiap hadiah yang sudah ia siapkan. Bukan hanya karton yang ia bawa dari butik dan membuatnya bertemu Lalisa. Namun juga masih ada hadiah lain. Buket mawar putih berisi tiga puluh empat tangkai baru ia raih dari tempat duduk penumpang sebelah kemudi. Sementara dari bagasi, balon hati warna pink dan jumlahnya masih tiga puluh empat sesuai usia Kirana, ia boyong. Balon-balon itu sengaja ditali dan dihiasi kertas papan ucapan ulang tahun untuk sang istri.
Bukan hanya dunia Kirana yang seolah berhenti berputar ketika akhirnya tatapan Yusuf memergokinya. Karena hal yang sama juga turut Yusuf rasakan.
“Sayang, ... kamu mau pergi?” seru Yusuf dan membuat Kirana ketakutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Ira Rachmad
WTF...
fixed gelo nih wadon
2024-12-27
0
💞pejuang🤑🤑🤑
hayooo loooh belum apa apa udah banyak penghalang.hhhh kirana gatel
2024-10-15
0
ayli
kamu g*la Kinara
2024-10-04
0