Suasana kamar bernuansa putih emas milik Kirana tak lagi dihiasi suara penuh emosi maupun tangis penghuninya. Keadaan di sana sudah kembali sunyi. Hanya aktivitas Yusuf dalam bersiap-siap pergi kerja saja yang kadang menimbulkan suara berarti.
Di ranjang tidurnya, Kirana yang sudah memakai piyama lengan panjang warna kuning, duduk selonjor. Tubuhnya sudah berselimut, sementara ia masih mengawasi saksama apa yang sang suami lakukan. Di sebelahnya, Yusuf masih membelakanginya. Yusuf memakai kemeja lengan panjang biru gelap dan tengah mengancing setiap kancingnya.
“Sayang, pakai jas biru gelap yang aku beliin di Singapura minggu lalu. Itu lebih cocok dengan kemeja yang sekarang kamu pakai,” ucap Kirana ketika Yusuf meraih jas hitam dari dalam lemari gantung khusus pakaian suaminya itu. Sebab sekadar lemari pakaian saja memang sengaja dipisah.
Pakaian Yusuf yang tak sebanyak pakaian Kirana ada di ruang tempat tidur mereka. Sementara pakaian Kirana ada di ruang sebelah. Di sana merupakan ruang khusus barang-barang Kirana dan lebih mirip dengan toko fashion. Sebab apa-apa serba ada.
Mengenai fashion, Yusuf memang masih nol besar. Karena sebelumnya, Yusuf memang tidak terbiasa dengan fashion maupun hal yang berkaitan dengan kemewahan. Yusuf yang awalnya hanya karyawan biasa di perusahaan suami mantan istrinya, kini telah mengurus sekaligus memimpin perusahaan milik orang tua Kirana.
Keuletan sekaligus kerja keras Yusuf menjadi alasan orang tua Kirana sangat percaya kepada Yusuf. Perusahaan yang awalnya dipegang Kirana maupun sang papa, kini telah sepenuhnya berpindah kepada Yusuf. Keadaan tersebut terjadi, selain Kirana jadi makin tempramental gara-gara tak kunjung hamil, kesehatan pak Ilyam papanya Kirana, memang sudah kurang baik.
“Enggak perlu pakai dasi. Gitu saja sudah cukup. Keren!” manja Kirana yang tak segan memuji suaminya.
Karena tak perlu memakai dasi, Yusuf berangsur menaruhnya kembali di tempat dasi. Ia melakukannya dengan sangat buru-buru karena mengejar waktu. Kini sudah siang dan ia bahkan belum sarapan.
“Peluk dulu,” rengek Kirana yang juga langsung membuat Yusuf memeluknya.
“Enggak usah pegang hape karena sebaik-baiknya teman kamu. Mereka bisa jadi orang yang paling bang.sat pula buat kamu. Kamu fokus istirahat,” bisik Yusuf. Kedua tangannya mengelus-elus punggung Kirana, sementara bibirnya mengecup kepala atau malah pipi Kirana.
Ciuman bibir yang terbilang sangat mesra sekaligus berlangsung lama, mengakhiri kebersamaan mereka. Yusuf menaruh ponsel sang istri di meja bawah televisi LED, persis di sebelah pot kaktus. Agar sang istri tidak sibuk berkomunikasi dengan teman-teman yang hanya meru.sak mental Kirana.
“I love you ...,” manis Kirana melepas kepergian suaminya.
Yusuf mengangguk-angguk sambil berbisik, “I love you too!” Ia berangsur menekan sakelar lampu dan membuat lampu di area ranjang tidur padam.
Sebelum benar-benar pergi, Yusuf sengaja menunggu sang istri memejamkan kedua mata. Iya, Kirana yang memang sangat manja kepadanya, memejamkan kedua mata dengan bibir yang masih tersenyum.
“Ya Allah ... izinkan kami menua bersama. Izinkan kami selalu bersama-sama. Namun jika bersamaku hanya membuatnya terluka, ... jauhkan lah kami segera!” batin Yusuf sambil menahan tangis.
Dari pagi menuju siang hingga sore, Yusuf sibuk kerja. Sementara Kirana yang hanya istirahat di rumah, pada akhirnya merasa bosan.
Kirana berangsur meninggalkan tempat tidurnya. Awalnya ia tak berniat meraih ponsel selain untuk menghubungi sang suami. Namun sederet pesan belum dibaca di ponselnya, membuatnya penasaran.
Seperti perjanjian, Kirana memang Yusuf wajibkan untuk istirahat. Sekadar memegang ponsel saja, sebenarnya Yusuf tak mengizinkannya. Alasan tersebut pula yang membuat Yusuf menaruh ponsel Kirana di sebelah pot kaktus berukuran mungil. Kaktus yang sengaja Yusuf beli khusus untuk menghindari radiasi dari gawai mereka. Diharapkan adanya kaktus mungil di sana juga mampu membuat Kirana tenang. Agar Kirana tak tempramental.
Kini karena teringat suaminya dan baginya sempurna jika tidak melibatkan momongan dalam hubungan mereka, Kirana luluh. Kirana menaruh ponselnya dan meninggalkan kamar untuk ke dapur. Ia sudah berjanji untuk makan tepat waktu kepada sang suami agar ia tak sakit lagi.
Sementara itu di tempat berbeda, ada Zico yang jadi sibuk muntah-muntah di wastafel toilet sebuah restoran.
“Gi.laaaa! Ada cewek sehitam bahkan sejelek itu, tapi bermimpi jadi istriku?! Andai pun dia kaya, ngapain juga enggak perawatan atau langsung operasi plastik sekalian?!” batin Zico yang kemudian buru-buru membasuh wajah menggunakan kedua tangan.
Dari belakang Zico, ada seorang wanita paruh baya berdandan elegan dan menenteng tas mahal. Wanita bertubuh gempal tersebut menghampiri Zico.
“Sayang, kamu jangan gitu dong. Masa kamu langsung nyeletuk Lalisa hitam mengkilap bahkan buru.k rupa,” ucap si wanita bernama ibu Meganti dan tak lain mamanya Zico.
Mendengar itu, Zico langsung balik badan menatap sang mama tanpa bisa menahan rasa kesalnya. “Ma ... perjodohan sih perjodohan. Masa iya enggak seimbang!”
“Mama lihat ... aku yang sekeren ini dan semuanya tahu bahwa aku ini play boy. Semua mantanku enggak ada yang jel.ek atau setidaknya di bawah standar, Ma!”
“Masa foto sama asli beda banget. Di foto yang Mama kasih ke aku dia cantik banget, makanya aku mau. Namun pas ketemuan tadi, ... ihhh, ngeri! ”
“Masa ada manusia yang kelihatan cuma giginya saja, itu saja kalau dia meringis, kalau enggak ya dikira arang raksasa!”
Mendengar keluh kesah sang putra, ibu Meganti jadi harap-harap cemas. “Kan tadi sudah dijelasin, bahwa ternyata itu foto setengah tahun lalu sebelum dia kecelakaan lalu lintas dan bikin sekujur tubuhnya gosong permanen.”
“Pokoknya aku enggak mau, Ma! Apaan sih ... jijik iya!” protes Zico yang sekadar bersuara saja tak kuasa mengontrolnya.
Zico terus meledak-ledak hingga wanita bertubuh semampai berkulit hitam mengkilap dan tak lain Lalisa, mendengarnya. Lebih kebetulan lagi, Lalisa sengaja menguping dari sebelah pintu masuk utama area toilet di restoran merek berada.
“Pokoknya kamu harus mau. Karena selain semua persiapan pernikahan sudah final, orang tua Lalisa juga yang sudah menyumbang banyak dana ke perusahaan kita! Awas saja kalau kamu sampai berulah!” tegas ibu Meganti.
“Ma ... dia sehitam itu ... jijik aku! Sekarang saja aku jadi mual terus, sementara pernikahan kami justru lusa! Sssttt! Bang.sat aku ditipu mentah-mentah! Andai tahu begini, aku enggak sudi dijodohkan dengan dia seberapa pun kaya orang tuanya, Ma!”
Mendengar setiap umpatan Zico, Lalisa menggeleng tak habis pikir. “Ternyata Zico memang enggak pernah berubah. Untung aku melakukan penyamaran ini. Andai aku tetap tampil cantik sesuai foto yang dikirimkan ke dia, ... dia pasti tetap hanya memanfaatkan aku. Orang seperti dia memang susah tulus!” batin Lalisa bergegas mengakhiri persembunyiannya. Namun alih-alih menghampiri Zico, ia memilih pergi kembali ke meja makan tempat orang tuanya sekaligus papa Zico menunggu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
BANG JUPECK
boleh
2024-11-20
0
💞pejuang🤑🤑🤑
kok kayak film india 🤔🤔🤔🤔 menyamar hitam padahal aslinya mah cantik
2024-10-15
0
Hilmiya Kasinji
untung lalisa cerdik ya, kalo gak bisa ditipu seumur hidup. tapi kalo ttp nikah juga rugi kan ya
2024-07-22
0