Meski di tempat berbeda, akibat pesan-pesan intens yang saling dikirimkan, Kirana dan Zico jadi senyum-senyum sendiri. Keduanya begitu asyik bernostalgia menapaki kebersamaan indah walau dalam bentuk kenangan.
Zico : Duluan aku, apa Zeedev, sih?
Membaca pesan tersebut, dalam hatinya Kirana berdalih, Zeedev juga menjadi mantan tak terlupakannya. Karena biar bagaimanapun, Zeedev cinta pertamanya yang sangat sulit digapai. Jangankan sampai pacaran kebablasan dan menjalani sek.s di luar pernikahan seperti yang ia dan Zico lakukan di masa lalu. Sekadar gandeng tangan saja, Zeedev sangat jarang. Harus Kirana dulu yang melakukannya, itu saja kerap Zeedev singkirkan.
Sementara saat dengan Zico, Kirana sungguh merasakan surga dunia layaknya drama romansa. Hubungannya dan Zico yang dijalin sebelum Kirana pacaran dengan Zeedev efek Zeedev sulit digapai, layaknya hubungan pasangan suami istri.
Kiran : Kamu...
Zico : Jadi kangen.
Zico : Eh kamu sudah nikah, ya? Sori, ... tapi enggak tahu kenapa, ke kamu rasanya memang susah lupa.
Kiran : Enggak apa-apa.
Kiran : Aku juga kangen ke kamu.
Zico : Ini suamimu enggak marah?
Kiran : Suamiku sudah tidur. Enggak, ... suamiku bukan orang yang pemarah. Dia sayang banget ke aku. Seumur-umur bareng, dia belum pernah marah ke aku.
Zico : Waw
Hingga alarm di ponsel Yusuf berdering, Kirana masih berkirim WA dengan Zico. Bukan hanya pesan tulisan yang mereka lakukan. Karena beberapa foto terbaru mereka juga menghiasi ruang obrolan.
“Kamu belum tidur?” tanya Yusuf yang akhirnya terbangun. Mau tidak mau meski rasanya baru beberapa detik lalu dirinya tidur, ia harus bangun.
Meski sempat kebingungan khas orang kepergok, Kirana langsung memberikan senyum terbaiknya.
“Wudu terus subuhan. Habis itu tidur. Namun kalau bisa, dunia kamu jangan dibalik,” ucap Yusuf berusaha duduk meski rasanya, tubuhnya sangat berat.
Sepanjang Yusuf berbicara memberikan arahan, selama itu juga tangan kanan Kirana diam-diam menyelipkan ponselnya ke bawah bantal miliknya. Kirana menatap Yusuf sambil menahan napas. Sebab ia merasa bersalah setelah menceritakan semuanya. Karena entah mengapa, sekadar chating dengan Zico sudah membuatnya nyaman. Hingga ia kebablasan curhat, dan turut membongkar kecurigaannya kepada sang suami.
***
Kiran : Bagiku suamiku sempurna, kecuali ....
Zico : Kecuali?
Kiran : Aku curiga dia mandul. Mengsad banget, kan? Dua tahun nikah, aku enggak hamil-hamil. Aku beneran sudah kena mental.
Zico : Masa iya, harus aku yang hamilin kamu? Burung suami kamu kurang gizi apa memang mati suri? Awok awok ...
Kiran :🤕
Zico : Lagian kamu aneh. Dulu pas aku bikin kamu hamil, kamu marah dan buru-buru abor.si. Nah sekarang, enggak hamil-hamil, pengin hamil.
Sudah siang, tapi Zico terus kepikiran Kirana. Ia yang duduk di kursi kerja kantornya, sampai membaca ulang pesan-pesan mereka. Kendati demikian, ia terus mengabaikan pesan dari Lalisa. Termasuk juga, telepon suara dari Lalisa yang sengaja ia abaikan.
“Dari pagi sampai siang gini nih orang sibuk ngerepotin! Enggak tahu apa, lihat dia saja rasanya aku sudah sial banget!”
“Lagian dia kan kaya, ngapain enggak operasi plastik dulu biar cantik. Habis itu baru ngebet nikah sama aku? Emang dasar enggak tahu diri tuh si Lala personil teletubles!” Zico jadi uring-uringan sendiri.
Padahal di tempat berbeda, Lalisa dengan kulit hitamnya sudah mondar-mandir di dalam sebuah butik ternama. Ia sudah ada di ruang tunggu dan siap pulang. Beberapa pakaian pengantin sudah ada di sebelahnya dan siap diangkut. Semuanya terbungkus kain pelindung khusus. Total ada enam bungkus dan harusnya Zico juga membantunya membawanya.
“Si Zico berharap aku anggap mati biar mati beneran apa bagaimana?” kesal Lalisa masih menunggu Zico karena aturan dari orang tua mereka begitu. Lalisa dan Zico diwajibkan membiasakan diri untuk selalu bersama-sama agar segera saling cinta.
“Gila sih, ... besok hari pernikahan kami, tapi dia masih secuek ini! Sumpah pengin banget mempermalukan dia, tapi papa mama kayak udah dipelet sama tuh orang. Mereka terlalu memuja Zico!”
“Sampai dini hari tadi, aku pantau Zico aktif di grup SMA! Lebih tepatnya dia baru gabung dan langsung eksis pamer fotonya yang sok ganteng, selain dia yang mengenalkan diri sebagai pengusaha muda. Hingga semua teman SMA muji-muji dia dan tak jarang juga yang minta loker. Dikiranya aku enggak punya banyak mata-mata. Dasar Zico kampreto!” batin Lalisa uring-uringan masih bertahan di ruang.
Di masa lalu, Lalisa dan Zico memang satu sekolah bahkan satu angkatan. Hanya saja, dari kecil Lalisa bertubuh gendut dan jauh dari menarik. Hingga Lalisa tak sedikit pun dilirik Zico. Namun meski kini sudah glow up, Lalisa yang sedikit banyaknya tahu kelakuan Zico, sengaja menyamar layaknya sekarang.
Lalisa terpaksa menjalani perjodohan konyol dengan Zico, asal Zico mau dijodohkan dengannya dalam tampang hitam sekaligus jel.ek. Masalahnya, sampai sekarang dan besok menjadi pernikahan mereka, Zico belum menolak atau setidaknya membuat kesalahan fatal. Karena harusnya, Zico yang melakukan kesalahan fatal agar orang tua Lalisa berhenti menjodohkan Lalisa dengan Zico. Sementara Lalisa yakin, Zico tak sedikit pun tertarik kepadanya. Yang ada, Zico seolah jijik kepadanya.
Kini, Lalisa malah ditolong Yusuf selaku pemenang proyek pilihannya. Sebab ia tertarik dengan tawaran kerja sama dari Yusuf. Terlebih, teman dekatnya yaitu Zeedev dan Dharen, merekomendasikan Yusuf kepadanya.
Yusuf dengan sigap menolong Lalisa, meski Lalisa mengaku semua yang ia angkut merupakan milik bosnya. Yusuf sama sekali tidak memandang fisik maupun status sosial Lalisa yang mengaku hanya seorang pembantu.
Pakaian pengantin yang Lalisa bawa memang berat apalagi tiga kantong berisi gaunnya. Hingga Yusuf yang melihatnya jadi kasihan. Ditambah lagi, butik di sana memang terbilang sedang ramai. Satpam yang bertugas tak bisa membantu karena sedang sibuk mengatur parkir di depan.
“Untuk Istri Tercintaku. Selamat Ulang tahun ya, Kirana Sayang!”
Sepenggal tulisan di amplop kartu ucapan yang menghiasi karton besar milik Yusuf, mengusik Lalisa. Lalisa tak sengaja melihatnya. Kotak besar tersebut berwarna purple layaknya karton besar yang menampungnya.
“Oh, ... dia sudah menikah dan istrinya sedang ulang tahun? Sepertinya dia sengaja bikin edisi khusus purple gitu. Ah, ya Allah ... kenapa aku enggak dikasih suami ideal kayak dia saja sih. Sudah kelihatannya dewasa banget. Sabar, penyayang, pengertian banget juga ke pasangan. Lah Zico, sumpah dia kayaknya emang reinkarnasinya si dakjal!” batin Lalisa sengaja memberikan karton besar berisi kotak besar dihiasi pita dengan kemasan sangat manis, milik Yusuf.
“Terima kasih banyak,” ucap Yusuf santun ketika Lalisa memberikan karton miliknya. Tak akan pernah Yusuf lupa adegan saat Lalisa terbanting karena tak kuat membawa dua kantong gaun sekaligus. Alasan yang membuatnya dengan segera membantu Lalisa.
“Sama-sama, Pak! Namun, sehalusnya justlu saya yang mengucapkan telima kasih kalena Bapak sudah membantu saya!” ucap Lalisa tak kalah santun dan tetap dengan penyamarannya. Ia tetap tampil cupu dan tidak bisa mengucapkan kata R dengan benar. Kendati demikian, Yusuf tetap memperlakukannya dengan sangat manusiawi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
💞pejuang🤑🤑🤑
penasaran
2024-10-15
0
Hilmiya Kasinji
lanjut baca, tapi gemesh lihat Karina ...
2024-07-22
0
Uthie
Suka ceritanya 👍🤗
2024-07-20
0