Bercerai dengan Kirana, juga membuat Yusuf kehilangan pekerjaannya. Hingga meski masih lelah bahkan pusing, Yusuf tetap memaksa dirinya menyiapkan sederet lamaran pekerjaan.
Terkantuk-kantuk Yusuf menyiapkan semua berkas di ruang keluarga kediamannya. Layaknya apa yang terjadi ke Kirana di rumah sakit. Kirana terkantuk-kantuk terjaga untuk sang papa. Ia dicueki oleh mamanya sendiri akibat apa yang ia lakukan dengan Zico, dan menjadi alasan hubungannya dengan Yusuf berakhir dengan perceraian.
Kirana merasa berjuang sendiri. Sebab Zico yang ia hubungi, terus mengabaikannya.
Zico : Sabar, ... orang tuaku marah besar. Sana sini minta uang tebusan.
Kiran : Harus sabar bagaimana lagi? Salahmu ngapain sebarin rekaman itu. Aku pikir hanya buat koleksi kita, makanya aku enggak masalah kamu rekam.
Di rumah sakit, Kirana mendadak tercengang. Sebab tak lama setelah pesan yang ia kirimkan tersebut, nomor ponselnya seolah diblokir.
“Hah? Ini si Zico blokir aku?” Kirana benar-benar tak percaya.
Di ruang keluarga kediaman orang tuanya, selain menyiapkan berkas lamaran pekerjaan dan jumlahnya ada lima, Yusuf juga mengurus berkas gugatan perceraiannya.
Dari belakang Yusuf, Oskar yang terpaksa tidak sekolah karena jarak sekolah yang jauh dari rumah sekarang, melangkah sedih. Oskar terlihat sangat tidak bersemangat. Sementara di pintu perbatasan ruang keluarga dan ruangan rumah bagian dalam, ibu Mimi yang bungkam, masih kerap berlinang air mata. Ibu Mimi jadi selalu menangis di setiap dirinya melihat Yusuf, meski tangisnya bukan yang sampai disertai suara.
“Pa, Nenek nangis telus,” lirih Oskar sengaja mengadu kepada sang papa.
Yusuf yang sudah memakai pakaian rapi khas akan pergi, tercengang mendengarnya. Ia mengalihkan tatapannya dari wajah Oskar, kemudian menoleh ke belakang. Ia dapati, sang mama yang memang tengah berlinang air mata. Sang mama langsung kebingungan dan mungkin karena kepergok olehnya.
“Hidup memang harus terus berjalan, Ma. Memang enggak mudah. Sakit, ... bahkan sakit banget! Namun akan lebih sakit lagi kalau aku, kalau kita enggal bangkit!” lembut Yusuf meyakinkan sang mama.
Yusuf sengaja menghampiri sang mama. Hingga obrolan mereka terjadi di bibir pintu ruang keluarga menuju ruangan bagian dalam kediaman mereka. Dari belakang, dari ruang rumah bagian dalam, tampak mbak Sari selaku ART di rumah mereka.
“Akhirnya Mas Yusuf balik ke setelan awal. Balik jadi duda lagi! Semoga setelah ini, Mas Yusuf benar-benar sadar kemudian nikahin aku!” batin mbak Sari kegirangan. Ia jadi tidak bisa tenang, selain ia yang juga jadi tidak bisa untuk tidak tersenyum.
“Mama istirahat minta ditemani mbak Sari saja, ya. Aku mau lamar beberapa pekerjaan.” Setelah berbicara lembut kepada sang mama, Yusuf mengalihkan fokus perhatiannya kepada mbak Sari.
“Mbak Sari, ... saya titip Oskar dulu, ya. Saya mau keluar dulu. Sekalian mau daftarin Oskar ke sekolah baru!” lembut Yusuf dan membuat Mbak Sari makin baper. Senyum mbak Sari jadi makin lebar.
“Innalilahi, Sari! Itu bibir kamu kenapa merah gitu? Habis makan orok, kamu, hah?” kaget ibu Mimi refleks teriak. Sebab bibir mbak Sari dipoles lipstik sangat merah sekaligus tebal. Saking merahnya dan agak belepotan, giginya pun turut terkena lipstik.
“Hapus ... hapus. Enggak suka saya kalau kamu ganjen. Takut kebablasan!” lanjut ibu Mimi kali ini mengomel.
Mau tak mau, meski sangat yakin memakai lipstik merah tebal membuatnya tambah cantik, mbak Sari terpaksa ke belakang kemudian mencuci bibirnya.
“Si ibu Mimi kebiasaan, ke calon menantu kok galak banget!” batin mbak Sari belum ikhlas lipstiknya harus dihapus.
Tak lama kemudian, Yusuf menenteng tas kerjanya. Ia hanya memakai kemeja lengan panjang dipadukan dengan celana panjang. Namun berbeda dari biasanya, kali ini Yusuf tak memakai mobil mewah. Yusuf memakai motor matic. Lagi-lagi, perubahan drastis yang Yusuf alami membuat ibu Mimi nelangsa. Ibu Mimi yang melihat dari jendela kembali menitikkan air mata, sedangkan kedua tangannya merem*as dada.
“Ya Allah, Suf. Padahal selama dua tahun ke belakang, kalau kamu ke mana-mana selalu naik mobil bagus. Lah sekarang, kamu pakai motor matic yang sudah banyak lecet karena sering dipake buat gulat sama si Sari! Ya Allah ... sampai kapan Yusufku harus merasakan karma dari perbuatanku?” batin ibu Mimi benar-benar sedih. Padahal, Yusuf yang menjalani sudah sangat tegar. Bukan hanya rasa kantung yang sampai membuat Yusuf pusing karena belum tidur dari kemarin. Namun juga karena pengkhianatan dari Kirana.
“Andai uang denda dari Zico keluar, aku mau buka usaha atau beli saham. Namun andai sampai enggak keluar, Zico wajib dipenjara. Enggak apa-apa, Kirana enggak sampai dipenjara andai orang tua dia mohon-mohon ke aku. Bukan masalah karena dengan begitu, dia bisa melihat pernikahan sekaligus kebahagiaan aku dengan Lalisa!” batin Yusuf terus mengemudikan motornya. “Ini motor habis diapain ya. Suara ya saja mirip kentut. Sudah jarang diservis ini pasti. Si mbak Sari memang agak lain. Masalahnya andai enggak dikerjakan lagi juga kasihan,” batin Yusuf.
Berbeda dengan Yusuf yang sama sekali tidak memikirkan latar belakang Lalisa, ibu Mimi justru mendadak curiga.
“Katanya cuma pembantu dan kerjanya di rumah orang kaya raya. Lah kok bisa nikah sama orang kaya. Konsepnya itu gimana bisa kejadian, sementara dari tampang saja, kata Yusuf dia biasa saja?” lirih ibu Mimi. “Masa iya, sampai kejadian ada perjodohan pembantu dan anak majikan?” Ibu Mimi terus melangkah pelan. Tanpa ia ketahui bahwa di sana ada mbak Sari yang mendengar ucapan lirihnya.
“Ya ... ya sangat bisa lah, Bu. Perjodohan bahkan cinta antara pembantu dan anak majikan itu nyata. Kalau Ibu enggak percaya, ... jodohkan saja saya sama mas Yusuf. Sudah balik jadi duda, kan?” sergah mbak Sari langsung usaha. Namun bukannya tanggapan seperti yang ia harapkan, ibu Mimi malah melepas sandal jepit sebelah kanan yang dipakai. Menggunakan sandal jepit tersebut, ibu Mimi seolah akan menabo*k mulut mbak Sari. Karenanya, mbak Sari buru-buru kabur sebelum diam*uk sandal oleh sang majikan.
“Astaghfirulah si Sari makin lama makin menjadi!” gerutu ibu Mimi jadi emosi. Tak terima rasanya jika Yusuf yang sedang mengalami musibah besar, sampai dijadikan bahan candaan apalagi itu oleh ARTnya.
“Oh iya tadi aku kan niatnya mau menyelidiki si calon istri Yusuf. Masa iya, pembantu dijodohkan dengan anak majikan yang levelnya sekelas Kirana?” pikir ibu Mimi yang kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
💞pejuang🤑🤑🤑
buk mimi filingnya bagus
2024-10-16
0
Hilmiya Kasinji
Bu Mimi pintar menduga 😅
2024-07-22
0
Firli Putrawan
lalisa anak pembantu g taunya anak kandung tp msh nutupin kebenaran biar usup bs menerima terutama bu mimi yg jg matre cb nanti dia mau g nerima mantu ky lalisa
2024-07-18
0