Sepuluh

Keributan telah usai. Lebih tepatnya, Yusuf yang mengakhirinya. Yusuf tak mau berlarut-larut dalam kesedihan apalagi membuat keadaan makin runyam. Terlebih jika pada kenyataannya, Kirana memang tetap menginginkan Zico dan tak mau menyudahi hubungan mereka.

Yusuf sadar, dirinya tak mampu mengubah Kirana atau setidaknya membuat Kirana mengikuti arahannya tanpa kemauan dari Kirana sendiri. Jadi, jalan terbaik memang menyudahi, mengakhiri hubungan mereka jika memang Kirana tetap ingin mempertahankan hubungannya dengan Zico.

“Buang ponselmu kalau kamu memang mau mempertahankan hubungan kita. Sudah dibuang saja kalian masih bisa berhubungan. Apalagi kalau belum?” ucap Yusuf yang kemudian berkata, “Selingkuh itu ibarat penyakit. Lagipula, seindah-indahnya dia sebagai mantan kamu, ... alasan kalian putus kenapa? Dia selingkuh, kan? Dan kamu pernah aborsi?”

“Aku benar-benar minta maaf!” sesal Kirana yang kemudian mengambil ponselnya dari tangan kanan Yusuf. Setelah membantingnya sekuat tenaga dan layar ponselnya sampai pecah, Kirana juga membuangnya ke tong sampa.h di sebelah. Kemudian, yang Kirana lakukan ialah buru-buru memeluk Yusuf.

Yusuf hanya diam, tapi ia meminta Kirana untuk kembali tidur. Yusuf memberi Kirana kesempatan. Kesempatan pertama sekaligus terakhir. “Andai sampai terulang, aku benar-benar akan menikahkan kalian. Setelah apa yang kalian lakukan, baik di masa lalu maupun di tengah hubungan kita. Biar kamu enggak penasaran. Biar ke depannya kamu bisa lebih menghargai!”

Kirana yang sadar dirinya bersalah, lagi-lagi hanya diam. Ia tetap memeluk Yusuf meski sang suami tak kunjung membalas pelukannya.

“Sayang, aku janji aku akan berubah,” yakin Kirana sembari menengadah demi menatap kedua mata Yusuf. Kedua mata itu masih basah, dan ia jadi tak berani menatapnya lagi.

Di tempat berbeda, di sebuah kamar hotel mewah, Zico sudah menunggu. Satu botol minuman beral.kohol sudah Zico habiskan, tapi masih saja belum ada tanda-tanda Kirana datang. Sekadar kabar pun tetap belum ia dapatkan. Selain itu, nomor ponsel Kirana juga tak mengabarinya lagi. Malahan, nomor ponsel Kirana tidak aktif.

“Ketahuan sama suaminya apa bagaimana?”

“Kalau memang iya, aku jadi makin tertantang buat merebut Kirana dari suaminya!”

“Tunggu saja, ... hubungan kalian pasti han.cur. Kamu akan menjadi laki-laki paling hanc.ur karena istrimu lebih memilihku!”

Zico benar-benar murka. Apalagi hingga pukul lima pagi, keadaan tetap sama. Di kamar hotel mewah dirinya janjian dengan Kirana, ia tetap sendiri. Kirana tetap tidak ada kabar. Jangankan mengabari, dihubungi saja masih belum bisa.

••••

Selepas shalat subuh, Yusuf sengaja ke kamar Oskar. Seperti biasa, Yusuf membangunkannya untuk pamit. Ia ditemani Kirana yang terus mengikutinya.

Sejak pertengkaran mereka, mereka sama-sama terjaga. Mereka tidak tidur dan mendiamkan satu sama lain. Namun sedari tadi, Kirana terus berusaha mendekati Yusuf. Karena untuk pakaian yang Yusuf pakai pun, Kirana yang menyiapkannya.

“Papa mau keja?” tanya Oskar masih terkantuk-kantuk.

Di hadapannya, sang papa sudah rapi. Yusuf memakai kemeja slimfit lengan panjang warna abu-abu. Sementara di belakang Yusuf, Kirana masih memakai piyama kimono warna merah. Oskar yakin, sang papa sudah akan berangkat bekerja. Sementara sang mama, akan tinggal dan memang tidak bekerja. Biasanya, sang papa sengaja pamit kemudian memintanya untuk di rumah bersama sang mama.

“Kamu fokus urus Oskar saja. Cukup temani dia belajar, makan, atau main. Karena mandi sudah ada yang urus,” ucap Yusuf yang kemudian berkata, “Buat apa ngada-ngadain yang belum tentu jadi, kalau yang sudah ada saja enggak kamu urus?”

“Iya, ... udah jangan dibahas lagi,” lirih Kirana sembari menunduk dalam. Kirana merasa tersindir padahal ia sudah berusaha memperbaiki keadaan.

“Papa hanya pergi dua hari. Sayang tolong jagain Mama, ya. Temani Mama, ... ajak Mama ngobrol atau main! Kalian seru-seruan biar Papa makin semangat kerjanya!” lanjut Yusuf.

“Bial dapat uang, Papa?” tanggap Oskar dan langsung membuat Yusuf mengangguk sembari tersenyum semangat.

Urusan dengan Oskar sudah beres karena memang, bocah itu sangat penurut. Kini, Yusuf kembali berhadapan dengan Kirana lagi.

Melihat Kirana, Yusuf langsung tidak baik-baik saja. Rasa kecewa dan juga luka hanya karena teringat isi ruang obrolan WA Kirana dan Zico, membuat emosi Yusuf jadi tidak stabil. Yusuf marah, ia susah payah menahan tangis.

Harapan Yusuf sangatlah sederhana. Ia ingin rumah tangganya utuh. Yang lalu biarlah berlalu asal tidak sampai terulang lagi. Yusuf akan memberi Kirana kesempatan. Kesempatan untuk pertama sekaligus yang terakhir.

“Aku pergi,” ucap Yusuf berat akibat tangis sekaligus luka yang ia tahan.

Kirana juga berangsur mengangguk-angguk sambil menahan tangisnya. Tak seperti biasa, kali ini Kirana masih menjadi bagian dari persiapan kepergian suaminya. Padahal biasanya, Yusuf selalu mengurus semuanya sendiri. Sementara Kirana akan dengan santainya tetap tidur.

“Aku mau peluk,” ucap Kirana setelah membantu Yusuf memakai mantel hangat warna hitam.

Meski tak sampai bersuara, Yusuf berangsur mendekap Kirana. Dekapan yang makin lama makin erat, seolah itu menjadi dekapan terakhir mereka.

“Aku ikut, ya ...,” lirih Kirana, tapi Yusuf menolaknya.

“Kamu istirahat di rumah saja sama Oskar. Perhatikan dia karena ketimbang aku, kamu lebih memiliki banyak waktu dengannya. Kamu tahu rasanya kurang perhatian dari orang tua. Jadi jangan sampai kamu membuat Oskar juga merasakannya,” ucap Yusuf berusaha bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Akan tetapi, ternyata itu hanya membuat dadanya terasa makin sesak saja. “Enggak apa-apa, pelan-pelan aku pasti bisa!” batin Yusuf sengaja menyemangati dirinya sendiri. Ia yang mengakhiri dekapannya, segera mengabsen wajah sang istri dengan ciuma.n gemas. Meski yang ada, ia tetap tidak bisa menahan air matanya agar tidak mengalir.

Melihat Yusuf yang menangis layaknya sekarang, Kirana benar-benar merasa bersalah. Terlebih selama mengenal apalagi berumah tangga, Yusuf selalu mengalah. Tak pernah sekali pun Yusuf membentaknya apalagi sampai berkata kasar dan fatalnya KDRT.

“Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku? Aku tetap tidak bisa melupakan Zico, meski jika harus memilih, aku juga tidak bisa tanpa suamiku. Mas Yusuf laki-laki paling sabar yang pernah aku kenal. Mas Yusuf laki-laki yang sangat baik. Dia sangat romantis dan serba bisa. Bagiku, mas Yusuf nyaris sempurna andai dia juga bisa membuatku hamil. Ya sudah, jalani saja. Sepertinya aku memang cukup fokus dengan Oskar,” pikir Kirana sambil melepas kepergian Yusuf.

Yusuf menyetir sendiri menggunakan mobil sport besar warna hitam. Cuaca yang tak menentu dan kerap hujan tiba-tiba hingga banjir, membuat Yusuf memakai mobil besar guna terhindar dari banjir.

Di tempat berbeda, seiring suasana luar yang makin terang, Lalisa masih sibuk memoles tubuhnya dengan alas bedak warna hitam. Alas bedak yang sudah Lalisa beli secara khusus hanya untuk misinya.

“Setelah menikah, semoga Zico langsung KDRT atau main gil.a, biar aku bisa langsung melakukan pembatalan pernikahan. Aamiin!” batin Lalisa yang nyaris rampung membuat kulit putih mulusnya hitam mengkilap.

Terpopuler

Comments

Sri Widjiastuti

Sri Widjiastuti

ada Oskar jg.. G diurusin. malah pingin ikut

2024-11-18

0

💞pejuang🤑🤑🤑

💞pejuang🤑🤑🤑

perasaan novelmu rata rata ada pembatalan pernikahan ya thor, walaupun ngga semuanya.
😁😁 tetep semangat kak ros✌️✌️

2024-10-15

0

Abinaya Albab

Abinaya Albab

doamu dikabulkan otor lalisa /Grin/

2024-08-05

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!