“Bukankah ini jalan ke lumahku?” sergah Lalisa kepada Zico yang masih fokus mengemudi.
Zico yang tak sudi duduk bersebelahan dengan Lalisa, memang sengaja membuat wanita berikut hitam mengkilap itu duduk di belakangnya. Seperti apa yang Lalisa keluhkan, Zico memang sengaja mengantar Lalisa pulang. Mana mungkin Zico membawa Lalisa ikut ke hotel dan Kirana janjian.
Mereka sudah memasuki jalan kompleks perumahan elite dan sangat sepi. Rumah di sana berukuran besar sekaligus luas semua. Kebanyakan malah sampai memiliki dua satpam dan belasan ART untuk satu rumahnya. Dan rumah orang tua Lalisa menjadi salah satu yang memiliki dua satpam sekaligus belasan ART. Bisa kalian bayangkan betapa kayanya orang tua Lalisa. Alasan tersebut pula yang membuat Zico dilarang kehilangan Lalisa khususnya oleh mamanya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Lalisa, Zico justru mendadak mengerem mobilnya. Lalisa berakhir nyungsep ke depan.
“Astaga ... Zico beneran mau jadi malaikat maut aku apa gimana? Ya ampun, ini rambut palsu jangan sampai lepas!” batin Lalisa ketar ketir sendiri.
Alasan Zico mengerem mendadak lantaran ponselnya berdering. Dering tanda pesan masuk dan memang sudah Zico tunggu-tunggu. Karena Zico yakin, itu pasti dari Kirana.
Kiran : Suamiku sudah pulang. Sepertinya rencana hari ini batal. Namun, besok sepertinya suamiku akan keluar kota.
Membaca pesan tersebut dan memang dari Kirana yang ditunggu-tunggu. Hati kecil Zico mengumpat. “Bajing.an. Sudah mandul, masih banyak gaya tuh suami Kirana. Awas saja kalau besok akhirnya kejadian. Aku rekam ke kamu, biar kamu tahu rasa karena istrimu lebih memilih tidur bahkan mengemis dihamili oleh aku!” batin Zico.
Selain akan membuat Yusuf hancur sehancur-hancurnya dengan video hasil rekamannya andai ia dan Kirana jadi berhubungan ba.dan. Hal yang sama juga akan Zico lakukan kepada Lalisa.
“Setelah aku resmi menikahinya, aku akan menghan.curkan mentalnya. Aku akan membuatnya terus mengemis perhatian apalagi cinta kepadaku. Aku pastikan, si hitam buru*k rupa ini akan bertekuk lutut kepadaku. Pastinya, Lalisa akan menjadi pundi-pundi kekayaanku!” batin Zico kali ini benar-benar bersumpah serapah.
Padahal, Lalisa tengah takut setengah mati rambut palsu panjang agak gimbalnya lepas. Karena memang, rambut palsunya itu tersangkut pedal gas.
“Ini apaan sih kepala! Bikin emosi saja!” kesal Zico tak segan mendorong kuat-kuat kepala Lalisa.
“Kampret!” refleks Lalisa dengan suara aslinya.
Detik itu juga Zico menatap aneh calon istrinya. “Kok suaranya berubah, ya? Lembut gemesin gitu. Bahkan, Kirana enggak ada apa-apanya? Ah ... ini pasti karena aku terlalu kecewa belum bisa temu kangen sama Kirana!” batin Zico sempat terpesona ke suara asli Lalisa.
***
Zico : Sebenarnya hari besok merupakan hari pernikahanku. Aku dijodohkan, tapi aku enggak cinta dan malah jijik ke calon istriku. Jadi, meski aku sudah menikah, kamu tetap prioritasku. Saat malam yang harusnya jadi malam pertamaku dengan istriku pun, aku akan melakukannya dengan kamu saja.
Zico : Semoga, besok juga suami kamu beneran keluar kota. Biar kita bisa temu kangen sepuasnya. Biar aku bisa secepatnya bikin kamu hamil.
Pesan-pesan dari Zico barusan sudah langsung menghadirkan senyum di bibir Kirana. Kasmaran, Kirana sungguh merasakan itu kepada Zico. Zico yang hanya memberinya kata-kata manis. Sementara suaminya yang memberinya kejutan sekaligus hadiah ulang tahun romantis, justru tidak sedikit pun berhasil membuatnya tersenyum. Padahal selain kejutan dan hadiah, suaminya yang selalu sibuk kerja, juga sengaja meluangkan waktu hanya agar bisa menemani sekaligus memanjakannya lebih dari biasanya.
Dari dalam area tempat tidur, Yusuf yang masih tak berbusana dan niatnya akan ke kamar mandi, memergoki istrinya senyum-senyum sendiri sambil memandangi ponsel. Yusuf menyaksikan kebahagiaan nyata di wajah sang istri dari pantulan cermin wastafel. Karena kini, Kirana yang juga belum kembali memakai pakaian layaknya dirinya, tengah di depan wastafel. Kirana yang memegang ponsel menggunakan kedua tangan, tampak sibuk berkirim pesan.
Jadi, siapa yang kiranya mampu membuat Kirana senyum-senyum, tersipu malu, dan bahkan pipi Kirana juga jadi merah merona? Yusuf sungguh penasaran. Karenanya, Yusuf berinisiatif memastikannya. Yusuf sengaja menunggu Kirana masuk ke dalam ruang untuk mandi di kamar mandi.
Yusuf memang langsung mengambil ponsel Kirana, tapi kali ini, ponsel itu sudah ganti sandi. Sidik jari tangan Yusuf juga sudah bukan lagi kunci ponsel Kirana. Kenyataan tersebut sudah langsung membuat perasaan Yusuf campur aduk. Jantung Yusuf berdetak kacau, selain tubuh apalagi kedua tangannya yang juga jadi gemetaran parah.
“Rasanya sesakit ini, padahal apa yang aku khawatirkan belum tentu benar,” batin Yusuf sambil menahan sesak di dadanya. Di dalam kamar mandi ruang mandi sang istri berada, air shower masih terdengar mengalir.
“Meski aku ingin bertahan, bagaimana jika dia tetap ingin dengan yang lain? Bukankah ini sudah tidak sehat? Istriku bilang tidak bisa tanpa aku, tapi pada kenyataannya, kini aku merasa berjuang sendiri,” batin Yusuf yang menaruh ponsel Kirana dengan berat ke tempat semula Kirana meletakkannya dan itu tak jauh dari wastafel.
Bukan perkara ponsel Kirana yang berat, tapi beban mental Yusuf akibat ketakutannya setelah perubahan drastis dari Kirana. Entah apa yang terjadi, tapi Yusuf yakin memang ada yang sengaja Kirana sembunyikan darinya.
Tak mau hanya diam dan memang yakin sudah tidak ada yang beres, Yusuf sengaja mengambil stok handuk dari lemari di bawah wastafel. Yusuf melilit pinggangnya menggunakan handuk yang ia ambil, hingga bagian pinggang ke bawahnya jadi tertutup.
Di depan wastafel, Yusuf berusaha menenangkan diri. Meski sesekali, lirikannya tertuju ke ponsel Kirana yang sekadar notifikasi apa pun jadi serba dirahasiakan. Ponsel Kirana kerap bergetar, tapi tak sampai disertai keterangan dari notifikasi apa. Layar ponsel tetap gelap, dan hanya lampu di atas yang jadi sibuk berkedip akibat notifikasi rahasianya.
Sampai akhirnya Kirana keluar dari ruang mandi, Yusuf masih berdiri merenung di sana. Kiranya nyaris dua puluh menit lamanya Yusuf berdiri menunggu di sana. Tanpa suara apalagi emosi. Yusuf hanya diam dan menyimpan segala emosi maupun lukanya sendiri. Meski kadang air mata mengalir membasahi pipi, Yusuf menerimanya. Yusuf sungguh tidak akan mempersulit langkah Kirana. Terlebih Yusuf sadar, dirinya hanya manusia biasa yang punya banyak kekurangan.
Melihat Yusuf justru ada di depan wastafel dan tampak merenung, sementara ponsel Kirana yang di sana sibuk kerlap-kerlip lampu notifikasinya. Kirana refleks kehilangan senyumnya. Wajahnya jadi serius khas orang yang takut ketahuan belangnya.
“S—sayang, ... kamu mau mandi juga? Aku pikir kamu masih mau tidur,” ucap Kirana sengaja basa-basi. Sampai saat ini, senyum di wajahnya tak lagi tulus. Senyum di wajahnya menjadi masam—terpaksa jika itu untuk Yusuf. Padahal sebelum ada Zico, sebelum ia kembali berkomunikasi dengan Zico akibat Grup WA SMA angkatan mereka, ... sesulit apa pun keadaan Kirana, Yusuf merupakan vitamin bahkan nyawa seorang Kirana.
Semenjak mereka menikah, Kirana pasti akan tersenyum hanya karena kedua matanya melihat Yusuf. Kirana juga akan baik-baik saja sesulit apa pun keadaannya jika Yusuf sudah memeluknya. Hingga karena perubahan aneh yang ia alami dan ia tengah merasakannya. Kirana jadi berpikir, bahwa cintanya kepada Yusuf memiliki masa kedaluarsa.
Tanpa menjawab Kirana, Yusuf sengaja maju. Ia melangkah berat dan sengaja tak sampai menatap kedua mata Kirana. Yusuf sengaja menunduk karena baginya, terlalu menyakitkan jika dirinya harus mengakui. Bahwa di mata Kirana yang sekarang, memang bukan lagi dirinya yang membuat wanitanya itu bahagia.
Dalam diamnya, Kirana juga jadi bertanya-tanya. Ia deg-degan tegang karena cara suaminya menyikapinya begitu dipenuhi kesedihan. Sekadar menatapnya saja, Yusuf tampak tidak sanggup.
“S—Sayang ...?” sergah Kirana berusaha mencairkan keadaan.
“Apa pun itu ... walau berat bahkan menyakitkan, ... aku tidak akan pernah mempersulit langkahmu. Karena melepas dan merelakan, memang yang harus dilakukan daripada bertahan tapi makin melukai!” batin Yusuf sengaja melewati Kirana. Selain tetap menunduk, Yusuf juga sengaja menghindari kontak fisik dengan Kirana. Berbeda dari biasanya juga, kali ini Yusuf sengaja menutup sekaligus mengunci pintu ruang mandi.
Kirana terdiam tak berkutik. Baginya apa yang baru saja Yusuf katakan, seolah suaminya itu sengaja menyindirnya. Padahal sebelum ini, Yusuf masih sangat bucin kepadanya. Namun, kenapa Yusuf mendadak berubah drastis?
Detik berikutnya, Kirana menatap ponselnya. “Harusnya mas Yusuf enggak lihat. Ponselku sudah diganti sandi dan memang hanya aku yang bisa mengoperasikannya,” pikirnya yakin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
💞pejuang🤑🤑🤑
lanjut nanti lagi.
makin penasaran euy
2024-10-15
0
Rosmiati Ros
Kirana ga bisa hamil karena pernah aborsi, jadi susah hamil
2024-09-12
0
Elizabeth Zulfa
ksihan bnget Yusuf.. 2x nikah tpi istrinya g bner semua 🥺🥺
2024-08-30
0