Dua Belas

“Hah! Perjalanan baru, ... benar-benar dimulai! Hidup dan matiku beneran aku yang tentukan!” batin Lalisa sambil menenteng kedua sisi gaun pengantin warna abu-abunya.

Gaun pengantin Lalisa terbilang gaun pengantin bervolume di bagian pinggang ke bawah. Alasan tersebut pula yang membuat Lalisa kewalahan. Ditambah lagi, Lalisa juga memakai heels yang lumayan. Lebih bikin capek lagi, Zico yang tidak ada romantis-romantisnya, justru sibuk dengan ponsel layaknya orang kasmaran. Iya, kesibukan Zico chatingan mirip orang kasmaran.

Dalam hatinya, Lalisa terus menyemangati dirinya sendiri. Ia sampai ngos-ngosan, tapi bukan karena lomba lari. Alasannya ngos-ngosan karena Lalisa menahan emosi. Bagaimana tidak, di lorong hotel mewah yang sepi dan dikhususkan untuk kamar pengantin baru, ia tidak sendiri. Ia bersama Zico yang sudah menjadi suaminya. Hanya saja, Zico yang awalnya ada di depannya malah tertinggal di belakangnya. Sebab Zico justru sibuk dengan ponsel.

Ketika Lalisa menoleh ke belakang, ia juga jadi makin kesal. Sebab Zico malah jadi senyum-senyum kegirangan sambil mengangguk-angguk. Zico seolah baru saja memenangkan sesuatu.

“Cepat ih ... enggak lihat apa aku capek banget. Gaunku seberat ini, heels aku juga setinggi ini bikin beban hidupku makin bertambah! Sementara kamu yang pegang kunci kamar malah enggak jelas! Bantuin apa gimana? Kamu kan suamiku. Masa enggak ada perhatian-perhatiannya?” keluh Lalisa yang berharap, Zico mulai KDRT kepadanya. “Ayo cepat gebugi.n aku. Ayo cepat KDRT ke aku!” batinnya tak sabar.

Lalisa memang sengaja membuat Zico emosi. Agar Zico melakukan KDRT fatal dan itu bisa menjadi alasannya memperkarakan Zico. Agar dirinya bisa secepatnya lepas dari Zico sekaligus perjodohan mereka.

Sebenarnya, Zico juga nyaris melakukan apa yang Lalisa harapkan. Ia sungguh tak sabar untuk menyik.sa Lalisa. Hanya saja, akal lici*k Zico bekerja. Zico refleks mengerling hingga membuatnya mendapati beberapa CCTV di sekitar sana. Bisa jadi boomerang andai dirinya kebablasan kasar ke Lalisa di area sekitar sana. Karena sudah bisa dipastikan, pasti akan bermasalah dan semua rencananya memperbud.ak Lalisa akan gagal total.

Zico hanya melirik kesal Lalisa sambil menghela napas. Ia menggandengnya mesra. Namun setelah pintu kamar hotel berhasil ia buka dan ia menggandeng masuk Lalisa. Detik selanjutnya ia sengaja membant.ing Lalisa sekuat tenaga.

“Ya ampun ... ya ampun ... dia curang banget! Beraninya beraksi di tempat tanpa CCTV!” batin Lalisa yang susah payah berangsur duduk.

Ulah nekat Zico membuat lutut, siku, dan juga dahi Lalisa membentur lantai kamar. Semuanya terasa sangat sakit hingga Lalisa refleks berkaca-kaca karena rasa sakit yang dirasa. Andai ia tak sedang menjebak Zico, sudah ia serudug kemudian banting pria sok kecakepan itu.

“Kamu itu sadar enggak sih, kalau kamu buru.k rupa? Wujud dan juga kelakuanmu beneran bikin aku jiji.k! Aku bahkan naji.s dengan cara kamu yang enggak pernah tahu diri!” kecam Zico tak lama setelah menutup pintu.

Dalam diamnya, Lalisa meraba pinggang kanannya. Di sana ada ponsel yang sengaja diselipkan. Ponsel yang langsung membuatnya bisa mengaktifkan-nya menggunakan sidik jari telunjuk kanan. Kemudian setelah melihatnya sekilas untuk memperhatikan, ia merasa lega. Sebab layar ponselnya masih memuat rekaman suara yang berlangsung.

“Untungnya dari awal aku sudah menyiapkan rekaman ini!” batin Lalisa merasa sangat lega bahkan puas. Karena belum apa-apa, Zico sudah menunjukkan taringnya. Zico sudah masuk perangkapnya.

“Jangan kecakepan! Dikiranya aku mau menyentuhmu?”

“Bahkan pela.cur saja jauh lebih berharga ketimbang wanita buru.k rupa sepertimu!”

Zico masih berkoar-koar dengan ucapan yang sangat menyakitkan.

“Aku pastikan, kamu akan menjadi orang paling menyesal karena sudah berurusan denganku, Zicoooo!” batin Lalisa yang tidak bisa untuk tidak manis apalagi dendam.

Kedua tangan Lalisa merem.as gaun di sisi tubuhnya. Meski yang ia dapatkan dari Zico akibat ia yang melakukan penyamaran. Tetap saja ulah zalim Zico membuatnya sakit hati luar biasa.

Dihina karena fisik tidak cantik? Apa kabar jika Lalisa juga bukan anak orang kaya raya yang sudah membantu usaha keluarga Zico?

“Terus kalau begitu, alasanmu menikahiku apa?” lantang Lalisa.

“Tentu karena harta orang tua kamu! Itu kan, yang ingin kamu dengar dariku!” bengis Zico.

“Tega kamu menyamakan aku dengan pela.cur! Andaipun kamu sudah terbiasa dengan pela.cur, bukan berarti kamu menganggap aku lebih hina dari mereka, hanya karena fisikku tak sempurna!” kesal Lalisa.

“Terserah ... suka-suka aku! Intinya jangan pernah mencampuri urusanku jika kamu tidak mau menjadi janda dalam waktu dekat! Di luar sana tidak mungkin ada laki-laki yang sudi menikahimu!” tegas Zico yang sudah langsung pergi dari sana meninggalkan Lalisa begitu saja.

“Aku harus mengikutinya!” pikir Lalisa yang buru-buru melepas heels-nya.

“Sekadar kata-kata kasar seperti tadi belum cukup membuat orang tua kami yakin. Ujung-ujungnya, Zico pasti hanya diminta minta maaf, terus beres!” pikir Lalisa yang kemudian mengambil ponsel dari pinggang kanannya dan memang cukup rempong.

Lalisa menyusul Zico guna merekam kelakuan pria itu menggunakan ponselnya dalam bentuk video. Karena alih-alih menjalani malam pertama mereka, tampaknya Zico justru lebih memilih bersenang-senang dengan teman-temannya atau malah wanita lain. Lalisa amat sangat yakin itulah yang akan terjadi. Terlebih jika melihat tampang Zico ketika asyik main ponsel, pria itu tampak jelas bahagia khas orang kasmaran. Selain itu, Zico juga tampak layaknya merasa menang dan juga tengah merayakannya.

“Mungkin dia merasa menang karena telah menikahiku. Mungkin dia berpikir, bahwa aku akan menjadi istri yang tertindas. Iya, logikanya memang begitu!” batin Lalisa terus berusaha mengumpulkan bukti.

Ulahnya yang begitu buru-buru mengejar Zico membuat Lalisa mirip orang kurang waras. Ditambah lagi, gaun pengantin yang Lalisa pakai, membuat langkah yang dihasilkan sangat terbatas.

Lalisa melihat Zico memasuki lift. Jantungnya seolah loncat dan berusaha mengejar lantaran ia telah ketinggalan. “Astaga ... demit itu!” Sempat kecewa dan benar-benar emosi, Lalisa mendadak kepikiran, kenapa ia tak memakai kuasanya untuk mengecek gerak Zico melalui CCTV?

“Kenapa aku juga tak meminta pihak hotel untuk menahan atau setidaknya mengawasi langkah Zico, sementara aku pun sudah memiliki nomor ponsel manager hotel ini?!” ujar Lalisa segera menggunakan ponselnya untuk menghubungi nomor ponsel yang dimaksud.

Sementara itu di luar, mobil Kirana mulai memasuki pelataran hotel yang remang. Beberapa papan ucapan selamat tengah dirapikan. Namun, mata Kirana melihat jelas nama pemilik dari acara besar yang sempat digelar di hotel bintang lima dirinya datang. Itu nama Zico dengan wanita lain. Sungguh bukan namanya. Namun demi Zico yang jelas sudah menikahi wanita lain, Kirana dengan sengaja datang ke sana.

Demi Zico, Kirana bahkan rela menodai janjinya kepada Yusuf. Padahal, belum genap 24 jam Yusuf memberinya pilihan sekaligus kesempatan. Yang mana dengan datangnya Kirana ke sana juga, Kirana mengorbankan Yusuf sekaligus mengorbankan pernikahan mereka.

Terpopuler

Comments

💞pejuang🤑🤑🤑

💞pejuang🤑🤑🤑

yang namanya penyakit selingkuh iku wes angel angel angel.

2024-10-15

0

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

Kirana Kirana....hadewww, astaghfirullah , kelakuannya bikin nyebut

2024-07-22

0

azka myson28

azka myson28

bakalan kepergok kah saat bikin adonan...yusuf kuatkan hatimu smoga kedepannya kamu ketemu istri yang benar2 tulus menerima keadaanmu kamu..karma yusuf belum usai ternyata setelah menyia2kan alina

2024-07-09

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!