Alasan

Fera duduk termenung di sebuah kursi taman yang tak berada jauh di kantornya, ia sangat resah soal perjodohan yang papanya lakukan dan rencana sudah ada saat dirinya masih kecil.

"Sudahlah tidak usah memikirkan hal yang membuatmu lelah dengan pikiranmu sendiri," ucap seorang laki-laki yang menghampiri Fera. Laki-laki itu tau kegelisahan hati Fera setelah mendengar sebuah perjodohan ini.

"Kamu apaan sih, ini semua gara-gara kamu tau gak kalau saja kamu menolaknya sebuah perjodohan ini tidak mungkin terjadi. Kenapa sih Papa sama Papa kamu itu bisa jadi sahabat," ucap Fera, pada Reza yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya namun Fera langsung menggeser posisi duduknya.

"Sudahlah kamu itu seperti tidak ada kerjaan mikirin hal itu terus, memangnya perjodohan ini beban buat kamu sampai mau gerak saja susah," ucap Reza. Ia berpikir jika Fera menanggapi semua ini terlalu berlebihan.

"Menurut kamu, aku senang dengan perjodohan ini, asal kamu tau karena perjodohan aku tidak bisa meraih karir yang selama ini aku perjuangkan," ucap Fera,

"Karir?"

"Iya karir yang selama di tentang oleh Papa karena menurutnya hal itu sia-sia, bahkan aku punya rencana setelah mengikuti perintah Papa untuk menjadi pemimpin sementara di kantornya tapi_" ucap Fera menjadi kalimatnya.

"Tapi apa?"

"Tapi semua akan sia-sia juga karena perjodohan ini," ucap Fera.

"Awalnya saya pun menolak perjodohan ini tapi Papa saya terus memaksa hingga saya tidak kuasa untuk menolaknya, hingga Papa saya mempertemukan saya dengan temannya yang katanya anaknya yang di jodohkan dengan saya," ucap Reza.

Mungkin bagi semua orang perjodohan itu adalah hal biasa yang di lakukan, berawal dari permintaan kerja sama yang ternyata hanyalah sandiwara untuk memancing dirinya agar dekat dengan Reza.

"Omong kosong, jawab saja kalau kamu dari awal menerima perjodohan ini. Secara kamu tidak pernah punya pasangan dalam hidupmu," ucap Fera.

"Jangan sembarang kalau bicara, saya ini tipe laki-laki yang tidak suka cari sensasi dengan para wanita. Jika pun perlu saya akan mencintai satu wanita dan akan menjadikannya istri," ucap Reza.

"Mana ada laki-laki yang punya prinsip seperti itu, yang ada semua laki-laki itu sama, mata keranjang," ucap Fera.

"Kamu jangan melihat pria itu dari satu sisi, kalau memang semua cowok menurutmu bermata keranjang tapi tidak semua cowok itu genit. Stop bilang kalau semua cowok itu sama saja, jangan sampai sakit hatimu kepada satu cowok sampai-sampai membuatmu mengira kalau semua cowok itu sama saja, dan tidak ada lagi cowok yang pantas disebut baik, Hanya beberapa bukan berarti semua sama. Jangan pernah berasumsi dengan mengatakan kalau semua cowok itu sama saja, karena itu bukanlah hal yang bijak," ucap Reza. Menurutnya Fera terlalu berlebihan dalam memandang semua laki-laki.

"Apa buktinya jika semua cowok itu tidak sama, buktinya setiap kali ada wanita yang lebih cantik dari pasangannya maka ia akan berpindah ke lain hati," ucap Fera.

"Ada banyak buktinya, tapi saya mau bicara bagaimana jika asumsi kamu saya balik ke diri kamu sendiri, kalau ada seorang cowok yang mengatakan semua cewek itu sama saja bagaimana perasaanmu," ucap Reza.

"Ya enggaklah karena tidak semua cewek itu mempunyai sifat dan sikap yang berbeda," ucap Fera.

"Begitupun dengan laki-laki mempunyai sikap yang berbeda, kalau kamu ingin bukti jangan jauh-jauh lihat saja orang di sekitarmu, atau kamu punya kakak laki-laki bagaimana pandanganmu terhadapnya," ucap Reza.

Fera tertegun, memang ia punya kakak laki-laki walau hanya sebatas saudara sepupunya yaitu kakak dari Milani, kakak laki-lakinya adalah orang yang pendiam dan selalu menghargai seorang wanita.

"Kenapa diam,"

"Aku benarkan,"

"Udah ya aku capek terus meladeni orang seperti kamu, pokoknya kamu bilang sama Papa aku kalau kamu menolak perjodohan ini," ucap Fera.

"Tidak bisa," ucap Reza.

"Apa?Kenapa?"

"Tidak bisa saja, saya tidak mau menanggung resiko atas keputusan itu karena dapat merugikan kedua pihak," jawab Reza.

"Alasan, bilang saja kalau kamu tidak mau iya kan," ucap Fera.

Namun Reza hanya diam hingga membuat Fera semakin emosi di buatnya, walaupun ia tau kalau Reza adalah orang baik tapi dalam hati kecilnya ia menyebut perjodohan ini tidak akan membuatnya bahagia.

"Saya tau semua ini memang berat tapi mau tidak mau harus di jalani," ucap Reza.

Fera menatap sekilas ke wajah Reza, terlihat di sana kalau dia memang sedang tidak becanda dalam berkata.

Reza menghela nafas kasar, kemudian ia menatap ke langit mungkinkah jika semua waktu itu bisa di putar ia juga tidak akan berada di posisi ini.

"Kenapa kamu masih ada di sini?" Tanya Fera, karena Reza tak kunjung pergi dari sampingnya.

"Ya saya ingin santai di sini," jawabnya.

"Kamu cari tempat lain sana, kenapa sih selalu saja ngikutin aku terus atau jangan-jangan_"

"Tidak usah menduga hal yang tidak-tidak lagi, kamu itu terlalu curigaan tau gak," ucap Reza menyela ucapan Fera.

"Siapa yang curigaan,"

"Kamu, siapa lagi,"

"Lagian kamu cari gara-gara terus, apa kamu sengaja bikin aku emosi terus," ucap Fera.

"Memang siapa yang mau bikin orang emosi, kamunya aja yang emosian," ucap Reza.

"Kamu_"

"Sudah saya akan pergi," ucap Reza lalu pergi.

Fera lega jika Reza bisa pergi darinya, apa mungkin dia harus menerima Reza lalu bagaimana dengan karirnya. Kalau ia menurut terus dengan papanya mungkin peluang untuk masa depannya tidak ada. Fera benci dengan keadaan ini, ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan sesak di dadanya.

Reza kepikiran dengan Fera, ia takut jika gadis itu akan melalukan hal yang di luar dugaan apalagi sampai mengancam nyawanya. Hingga ia kembali lagi untuk memastikan jika wanita itu baik-baik saja.

Rupanya Fera masih berada di tempat yang sama,tapi dia tidak tau apa yang sebenarnya wanita itu inginkan.

Fera kemudian bangkit menuju kantornya, sesampainya di sana ia langsung ke ruangannya. Entahlah mengapa hari ini ia tidak sesemangat hari-hari kemarin.

Dia sangat ingin menyalahkan takdirnya yang begitu buruk baginya, hatinya selalu merasa kalau dia tidak pernah merasakan hidup bahagia dan tenang. Sejak kecil sudah di didik dengan begitu disiplin waktu dan selalu di atur-atur. Sempat ia putus asa tapi selalu saja ada yang menguatkannya dan selalu bilang ini untuk kebaikan masa depannya begitupun alasan sebuah perjodohan yang tak masuk akal baginya.

Dia merasa jika papanya semakin jauh sikap egoisnya bahkan bukan pada dirinya sendiri dengan orang lain pun sama.

Sampai ia bingung apa sebenarnya yang papanya inginkan, kadang Mamanya sendiri pun lelah dengan sikap papanya yang setiap hari banyak maunya.

Episodes
1 Wanita keras kepala
2 kabur
3 Terpaksa berangkat ke kantor
4 kedatangan teman
5 Fitnah dari Winda
6 Bertemu laki-laki menyebalkan
7 sosok Reza
8 Minta maaf
9 kedatangan Milani
10 Bertemu Winda
11 kedatangan Clara
12 kemana Winda ?
13 Tidak bisa membantu
14 Semakin bikin kesal
15 perjodohan
16 Bertemu Reza
17 Alasan
18 haruskah mengalah
19 terlalu sunyi
20 Keinginan Reza
21 pertemuan
22 pertemuan keluarga
23 Dia orang baik
24 Rumah sakit
25 berdebat lagi?
26 Di antar pulang
27 Rencana Milani dan Reza
28 pergi berlibur
29 perjalanan yang indah
30 Tiba di sebuah Rumah
31 Jalan berdua
32 kapan akurnya
33 jangan ganggu
34 Ada apa dengan hati.
35 Rasa yang tersimpan
36 Saling memendam rasa
37 janji
38 Arti sebuah cinta menurut Fera
39 Bingung
40 Firasat buruk
41 Terjatuh
42 tersesat
43 Mencari keberadaan Fera
44 Di temukan
45 Sadarkan diri
46 Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47 Surat dari sosok misterius
48 Bunga dari seseorang
49 kembali
50 Mengungkapkan Rasa
51 Bab 51
52 Bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 part 65
66 part 66
67 part 67
68 part 68
69 part 69
70 part 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 Bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 86
87 Episode 87
88 Bab 88
89 bab 89
90 bab 90
91 bab 91
92 bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 bab 101
102 bab 102
103 bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Wanita keras kepala
2
kabur
3
Terpaksa berangkat ke kantor
4
kedatangan teman
5
Fitnah dari Winda
6
Bertemu laki-laki menyebalkan
7
sosok Reza
8
Minta maaf
9
kedatangan Milani
10
Bertemu Winda
11
kedatangan Clara
12
kemana Winda ?
13
Tidak bisa membantu
14
Semakin bikin kesal
15
perjodohan
16
Bertemu Reza
17
Alasan
18
haruskah mengalah
19
terlalu sunyi
20
Keinginan Reza
21
pertemuan
22
pertemuan keluarga
23
Dia orang baik
24
Rumah sakit
25
berdebat lagi?
26
Di antar pulang
27
Rencana Milani dan Reza
28
pergi berlibur
29
perjalanan yang indah
30
Tiba di sebuah Rumah
31
Jalan berdua
32
kapan akurnya
33
jangan ganggu
34
Ada apa dengan hati.
35
Rasa yang tersimpan
36
Saling memendam rasa
37
janji
38
Arti sebuah cinta menurut Fera
39
Bingung
40
Firasat buruk
41
Terjatuh
42
tersesat
43
Mencari keberadaan Fera
44
Di temukan
45
Sadarkan diri
46
Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47
Surat dari sosok misterius
48
Bunga dari seseorang
49
kembali
50
Mengungkapkan Rasa
51
Bab 51
52
Bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
part 65
66
part 66
67
part 67
68
part 68
69
part 69
70
part 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
Bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 86
87
Episode 87
88
Bab 88
89
bab 89
90
bab 90
91
bab 91
92
bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
bab 101
102
bab 102
103
bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!