perjodohan

"Fera, boleh Mama bicara?" Tanya bu Hamdani, yang masuk ke dalam kamar Fera.

"Ada apa lagi Ma, Fera capek mau istirahat," Jawab Fera.

"Bisa di bicara dulu sayang, Papa sudah cerita semua soal kamu seharian ini. Kamu kenapa sih suka aja cari masalah di tempat umum, apa kamu tidak mau sama banyak orang," ucap bu Hamdani.

"Mama, Mama itu seperti tidak tau aku aja, kalau tidak ada yang mengganggu Fera tidak mungkin kan Fera bersikap seperti itu lagian Papa aja yang lebay," ucap Fera.

"Tapi itukan sama saja tidak baik, soal sikap kamu sama Papa juga salah, seharusnya kamu bicaranya sopan sedikit tidak usah sampai segitunya," ucap bu Hamdani.

"Tapi kan Mama tau kalau Papa selalu saja memulai suatu hal yang tidak aku suka," ucap Fera.

"Mama tau tapi kamu juga harus jaga sikap," ucap bu Hamdani

"Iya Ma,"

"Papa mau bicara sama kamu, kita ke bawah," ucap bu Hamdani.

"Bicara apa lagi?" Tanya Fera.

"Mama tidak tau, kita samperin saja saja yuk," jawab bu Hamdani.

Fera pun terpaksa menuju Papanya yang sedang duduk di ruang televisi, seperti biasanya setelah makan malam pak Hamdani akan bersantai di ruang keluarga.

"Papa mau bicara apa lagi, bukannya tadi kita udah bicara," ucap Fera.

"Ini penting Fera, sepertinya sudah saatnya kamu tau kalau Papa dan Papanya Reza itu adalah teman sejak Sma,dulu Papa sama dia berjanji jika kita menikah nanti kalau anak yang lahir itu laki-laki dan perempuan maka kami sepakat untuk menjodohkan mereka," ucap pak Hamdani.

"Maksud Papa jadi Reza itu anak sahabat Papa," ucap Fera.

"Iya,"

"Dan Papa ingin menjodohkan aku dengan dia gitu,"

"Iya,"

"Papa becanda kan,"

"Apa menurut kamu Papa sedang becanda," ucap pak Hamdani.

"Jadi selama ini Papa sengaja menyuruh Reza untuk bolak-balik ke kantor dan menemui aku setiap hari agar kita saling mengenal begitu," ucap Fera.

"Apa sih maksud Papa bisa-bisanya papa jodohin aku dengan Reza, memang apa hebatnya dia sampai Papa mau menjodohkan aku," ucap Fera dalam hati.

Menurut Fera perjodohan adalah suatu hal yang sangat ia benci selama hidupnya, tapi hal itu malah menimpa dirinya sendiri. Kenapa juga Papanya harus menjodohkan dirinya dengan lelaki itu.

Akan tetap jika ia terus melawan pembicaraan papanya pasti tidak akan selesai, ia harus cari akal agar perjodohan itu batal. Dia tidak mau di jodohkan dengan Reza.

"Pa mana mungkin sih aku menikah sama Reza, yang ada aku nanti naik darah dibuatnya," ucap Fera.

"Itu bukan alasan Fera, lagian Papa sudah sepakat waktu itu untuk menjodohkan kalian," ucap pak Hamdani.

Fera menghela nafas berat, kenapa harus seperti ini nasibnya sudah mempunyai ayah yang galak kini harus menikah dengan laki-laki yang bukan seleranya.

"Ma, apa mama tau soal ini?" Tanya Fera.

"Iya, Mama sudah lebih dulu dibertahukan oleh Papa, sebenarnya sudah sejak dulu kami ingin bicara tapi waktunya saja yang kurang pas makanya kami memilih sekarang untuk mengatakannya," ucap bu Hamdani.

"Kenapa juga harus Reza," garutunya dalam hati.

"Apa masih ada yang belum jelas," ucap pak Hamdani.

Fera pun hanya diam menahan semua kekesalannya, dia ingin sekali bilang kalau ia menolak perjodohan ini, lagian dia bisa cari pria untuk di jadikan suami tidak harus di jodohkan segala.

          ****************

Sementara itu di tempat lain Reza sudah tau semuanya jika ia akan di jodohkan dengan Fera, tapi menurutnya Fera adalah wanita yang susah untuk di atur karena sikap keras kepalanya yang tidak pernah berubah. Papanya saja tidak bisa merubah dia karena keseringan Fera selalu melawan.

Gadis itu juga tipe orang yang tidak enakan dengan orang lain, buktinya saat ia ditipu oleh temannya tetap saja dia ingin perbaiki hubungan dengan teman-temannya.

"Za, Om harap kamu bisa menerima Fera apa adanya. Kamu bisa memaklumi semua sikapnya," ucap pak Hamdani beberapa waktu lalu saat bertemu dengan dirinya.

Dia tau kalau orang tua Fera bergantung pada dirinya kalau Fera akan berubah, tapi kalau Fera tidak mau bagaimana. Semua itu pasti akan sia-sia dalam hidupnya.

Walaupun begitu perlahan ia mulai menyukai sikap wanita yang selalu marah dengan dirinya. Sikap baiknya yang membuat Reza sedikit tertarik dengan Fera.

        ****************

Fera mondar-mandir di kamarnya, berpikir bagaimana caranya agar ia tidak di jodohkan oleh Reza, tapi sejak tadi tidak ada ide yang keluar hingga ia pusing dibuatnya.

"Apa aku minta batuan Milani ya," ucapnya dalam hati.

Tapi dia takut kalau Milani tidak bisa membantunya seperti waktu itu, pasti akan sia-sia. Dia tau kalau Reza itu tampan dan hampir sempurna tapi menurutnya Reza bukanlah standartnya.

"Apa dia tau soal perjodohan ini, kalau dia belum tau aku harap dia akan menolak, tapi kalau dia tau dan menerimanya bagaimana, besok aku harus menemuinya," ucap Fera dalam hati.

Fera mengambil ponsel di atas nakas menelpon Milani namun tidak ada jawaban, mungkin sekarang ia sedang tidur soalnya sudah malam begini.

Walaupun sudah terjawab siapa Reza sebenarnya tapi ia tetap saja gelisah karena kebenaran itu, kebenaran tentang Reza yang akan di jodohkan dengannya.

Fera juga heran kenapa papanya Reza ingin sekali anaknya menikah dengan dirinya, apa tidak ada wanita lain yang mau di jodohkan.

"Pokoknya aku tidak mau menikah karena perjodohan ataupun terpaksa untuk menikah," ucap Fera.

"Kenapa Mama harus setuju!" Serunya lagi.

Dia seperti orang kebingungan perkara perjodohan itu,padahal belum tentu juga Reza mau dengan dirinya. semua itu memang bermula dari sebuah persahabatan lama yang terjalin hingga membuat kesepakatan.

Nasib baik memang tidak berpihak pada dirinya itulah yang ada dia rasakan sekarang, padahal bukannya mendapat hasil yang ia usahakan selama ini, malah mendapat hal yang selama ini tak ia duga.

Selain pendidikan, karir, jodoh pun seperti di atur oleh orang tuanya, sedangkan keputusan dia sendiri seperti angin yang lewat saja, tidak pernah orang tuanya dengarkan.

"Aku tidak ingin berada di posisi ini,Bagiku perjodohan sama saja mengekang hak manusia. Bukannya jodoh itu sudah di atur lalu kenapa ada sistem perjodohan dalam dunia ini," ucap Fera, dia kemudian duduk di atas kasurnya. Berusaha menenangkan dirinya yang sejak tadi sangat gelisah.

Kemudian ia berusaha untuk tidur agar cepat lupa dengan perjodohan itu tapi tetap saja kepikiran hingga membuatnya sulit memejamkan mata.

Sekuat apapun besok ia menolak papanya pasti akan tetap untuk menjodohkan dirinya, ia harus memaksa Reza agar menolak perjodohan ini karena baginya tidak ada yang bisa di harapkan dari lelaki itu.

Episodes
1 Wanita keras kepala
2 kabur
3 Terpaksa berangkat ke kantor
4 kedatangan teman
5 Fitnah dari Winda
6 Bertemu laki-laki menyebalkan
7 sosok Reza
8 Minta maaf
9 kedatangan Milani
10 Bertemu Winda
11 kedatangan Clara
12 kemana Winda ?
13 Tidak bisa membantu
14 Semakin bikin kesal
15 perjodohan
16 Bertemu Reza
17 Alasan
18 haruskah mengalah
19 terlalu sunyi
20 Keinginan Reza
21 pertemuan
22 pertemuan keluarga
23 Dia orang baik
24 Rumah sakit
25 berdebat lagi?
26 Di antar pulang
27 Rencana Milani dan Reza
28 pergi berlibur
29 perjalanan yang indah
30 Tiba di sebuah Rumah
31 Jalan berdua
32 kapan akurnya
33 jangan ganggu
34 Ada apa dengan hati.
35 Rasa yang tersimpan
36 Saling memendam rasa
37 janji
38 Arti sebuah cinta menurut Fera
39 Bingung
40 Firasat buruk
41 Terjatuh
42 tersesat
43 Mencari keberadaan Fera
44 Di temukan
45 Sadarkan diri
46 Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47 Surat dari sosok misterius
48 Bunga dari seseorang
49 kembali
50 Mengungkapkan Rasa
51 Bab 51
52 Bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 part 65
66 part 66
67 part 67
68 part 68
69 part 69
70 part 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 Bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 86
87 Episode 87
88 Bab 88
89 bab 89
90 bab 90
91 bab 91
92 bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 bab 101
102 bab 102
103 bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Wanita keras kepala
2
kabur
3
Terpaksa berangkat ke kantor
4
kedatangan teman
5
Fitnah dari Winda
6
Bertemu laki-laki menyebalkan
7
sosok Reza
8
Minta maaf
9
kedatangan Milani
10
Bertemu Winda
11
kedatangan Clara
12
kemana Winda ?
13
Tidak bisa membantu
14
Semakin bikin kesal
15
perjodohan
16
Bertemu Reza
17
Alasan
18
haruskah mengalah
19
terlalu sunyi
20
Keinginan Reza
21
pertemuan
22
pertemuan keluarga
23
Dia orang baik
24
Rumah sakit
25
berdebat lagi?
26
Di antar pulang
27
Rencana Milani dan Reza
28
pergi berlibur
29
perjalanan yang indah
30
Tiba di sebuah Rumah
31
Jalan berdua
32
kapan akurnya
33
jangan ganggu
34
Ada apa dengan hati.
35
Rasa yang tersimpan
36
Saling memendam rasa
37
janji
38
Arti sebuah cinta menurut Fera
39
Bingung
40
Firasat buruk
41
Terjatuh
42
tersesat
43
Mencari keberadaan Fera
44
Di temukan
45
Sadarkan diri
46
Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47
Surat dari sosok misterius
48
Bunga dari seseorang
49
kembali
50
Mengungkapkan Rasa
51
Bab 51
52
Bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
part 65
66
part 66
67
part 67
68
part 68
69
part 69
70
part 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
Bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 86
87
Episode 87
88
Bab 88
89
bab 89
90
bab 90
91
bab 91
92
bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
bab 101
102
bab 102
103
bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!