Udara pagi ini udara sangat dingin sekali, Fera tak ingin beranjak beranjak dari tempat tidurnya tapi karena sebuah tugas dia harus bangun melawan rasa dingin yang menghampiri.
Setelah sarapan Fera pun berangkat ke kantor, saat di perjalanan ia melihat Clara, Fera menghentikan mobilnya namun Clara sudah pergi menaiki angkutan umum. Dengan rasa kecewa dia kembali melanjutkan perjalanannya.
Saat tiba di kantor, dia di kagetkan dengan kehadiran Milani. Ia pun menyambut gadis itu dengan senang karena ada teman untuk bercerita.
"Tumben banget ke sini," ucap Fera.
"Aku kepikiran terus sama kamu, aku kira kamu ngambek sama aku karena di telepon tidak pernah di jawab," ucap Milani.
"Yah Maaf kan kamu tau sendiri kalau aku ini sibuk," ucap Fera.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Milani karena tidak biasanya Fera selalu cuek dengan sekitarnya.
"Mil, tolong bujuk Papa untuk mengizinkan aku bertemu dengan teman-teman. Kamu tau, aku itu seperti anak kecil saja terus dilarang ketemu mereka," ucap Fera.
"Fer, kamu kan tau bagaimana sikap Papa kamu. Kenapa kamu tidak paham-paham sih, lagian ya kalau mereka menganggap kamu sebagai teman seharusnya mereka mengerti dengan kesibukan kamu," ucap Milani.
Fera mendecak kesal, kenapa tidak satu pun yang mau membantunya.
"Ini urgent banget, masa iya kamu tidak bisa bantu," ucap Fera.
Tiba-tiba ada seorang laki- laki yang baru saja datang dan mengejutkan Fera. Laki-laki tak lain adalah Reza, sosok yang selalu Fera benci dalam hidupnya.
"Kamu ngapain lagi sih ke sini?" Tanya Fera.
"Memang kenapa, apa ada masalah," jawab Reza.
"Fer dia siapa?" Tanya Milani menyikut lengan Fera dengan pelan.
"Dia_"
"Saya orang penting di kantor ini," ucap Reza memotong kalimat Fera.
"Kenapa setiap hari kamu selalu muncul di hadapanku sih, apa tidak ada kerjaan lain yang kamu lakukan selain menganggu hidupku. Udah cukup satu hari kemarin kamu memperlakukanku bagai pelayanmu," ucap Fera.
"Fera jaga ucapanmu," ucap Milani.
"Apa sih Mil, memang benar kok dia itu selalu aja mengangguku," ucap Fera.
"Kamu tidak berubah ya, selalu saja mengajak ribut," ucap Reza kemudian pergi ke dalam perusahaan.
"Fera kamu jangan terlalu kasar gitu sama pria, apalagi seperti pria tadi kayaknya dia bukan orang biasa," ucap Milani.
"Emang, tapi aku benci sama dia," ucap Fera.
"Jangan kayak gitulah, awal loh bisa jadi orang yang kamu benci akan menikah denganmu," ucap Milani.
"Kamu jangan sembarangan kalau bicara Mil," ucap Fera.
Fera pun sontak kaget dengan celetukan sepupunya itu, bisa-bisanya dia berkata seperti itu.
"Yaudah kalau tidak bicara, soalnya banyak yang kejadian Fer kamu aja yang kurang update," ucap Milani.
"Aku juga tidak mau menikah dengan dia, lagian dia bukan levelku. Pokoknya aku dengan dia tidak serasi lah," ucap Fera.
"Siapa tau kejadian beneran," ucap Milani seraya tertawa pelan.
"Udahlah tidak usah bahas itu aku muak tau dengarnya," ucap Fera menatap ke arah Milani yang terus meledeknya, lagian buat apa dia harus menikah dengan lelaki seperti Reza yang sangat sombong menurutnya.
Namun tanpa mereka ketahui Reza mendengar semua pembicaraan Milani dan juga Fera, sebenarnya Reza cukup tertarik dengan Fera karena sikapnya yang berbeda dengan wanita lain yang biasa ia temui diluaran sana.
"Aku jenuh banget tiap hari di kantor terus rasanya pengen gitu liburan," ucap Fera.
"Ya sabar saja sebentar lagi pasti ada jatahnya untuk libur kok, tenang saja lewati semua ini dengan diam tanpa berisik," ucap Milani.
"Aku tau tapi masa itu lama banget rasanya pengen nyerah saja," ucap Fera.
"Kebiasaan banget kamu belum aja dapat hasilnya tapi udah mau nyerah saja," ucap Milani.
"Ya mau bagaimana lagi prosesnya sulit banget!" Serunya.
Milani menghela nafas, jujur saja dia tidak tau apa yang Fera pikirkan karena biasanya jika anak seorang pembisnis akan mengikuti jejak orang tuanya tapi tidak bagi Fera malah kebalikannya.
"Fer, banyak kok orang yang lebih sulit hidupnya, tantangannya dan kerjanya tapi mereka tidak pernah mengeluh, banyak diluar sana yang pekerjaanya harus mengangkat benda berat dan lain sebagainya tapi mereka tetap tersenyum mengerjakannya tidak pernah dia berkoar-koar kalau dia capek, mau libur dululah, tidak karena bagi mereka kerja itu adalah keharusan untuk bertahan hidup, libur itu juga ada jatahnya jadi tinggal menunggu saja seraya menikmati semuanya. Kamu juga harus ingat tidak semua orang seberuntung kamu, tidak semua anak di perlakukan spesial oleh orang tuanya," ucap Milani.
"Kamu baru lima hari menjalani tugas ini malah mengeluh sama semua orang di sekitar kamu, dan juga orang tua kamu," Imbuhnya, Milani tau ini berat bagi Fera tapi memang benar tidak banyak orang seberuntung Fera.
Fera menghela nafas berat, yang Milani ucapkan sangat berlainan dengan apa yang ada dalam hatinya, karena orang diluar sana masih bisa kemana-mana tidak seperti dirinya yang hidup bagai di penjara.
"Tapi tetapnya mereka lebih beruntung daripada aku, Mil kamu tau kan sejak kecil aku harus menuruti semua keinginan Papa. Jika aku membangkang Papa tidak segan-segan menghukum," ucap Fera.
"Aku tau itu, tapi niat Papa kamu itu baik karena dia tidak mau anak perempuannya salah jalan,salah pergaulan dan dia ingin melindungi kamu," ucap Milani.
"Omong kosong!"
"Ya mungkin saja Papa kamu tidak bisa mendidikmu secara lembut tapi dengan cara Papa itu kamu mendapatkan sebuah pembelajarankan, di balik sikap kerasnya Papa kamu ada keinginan mendalam dalam hatinya," ucap Milani.
"Tapi Mil_"
"Kamu sayangkan sama orang tua kamu, sudahlah Fer apapun keputusan kamu setelah ini satu hal yang harus kamu ingat jangan sampai kamu membandingkan orang tuamu dengan yang lainnya," ucap Milani.
"Mil_"
"Kamu tau ada saudara kita yang sejak kecil hidup tanpa orang tua, kamu beruntung kan dari dia karena sampai kamu sebesar ini masih melihat kedua orang tuamu, apa kamu pernah melihat dia membandingkan nasibnya dengan nasibmu tidak kan Fera. Aku tidak tau kenapa bisa berbicara seperti itu yang jelas dari awal kamu seakan menyalahkan orang tuamu dalam hidupmu ini," ucap Milani.
Keduanya hening tidak ada pembicaraan sampai Milani pamit untuk kembali ke rumahnya. Fera merasa jika semua yang dikatakan Milani itu benar karena dia selama ini selalu berkata kalau Papanya tidak seperti yang lain, yang membebaskan putrinya untuk melakukan apa yang dia suka.
"Dia ke sini mau bahas itu aja tanpa mendengarkan apa yang aku rasakan," ucap Fera setelah kepergian Milani. Dia pun melangkah menuju keluar ruangannya menghirup udara segar agar hatinya sedikit lebih tenang.
kadang hidupnya begitu penuh teka-teki dan sulit untuk dipecahkan, termasuk tentang sebuah perasaan pada seseorang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments