Terpaksa berangkat ke kantor

Fera menghela nafas lalu menatap Milani, dia yakin kalau Milani juga takut pada Papanya karena beliau adalah Omnya sendiri, om yang paling galak di antara saudara-saudara papanya yang lain.

"Mil kamu yakin tidak bisa bantu aku," ucap Fera, dia berharap-harap cemas.

"Maaf banget aku benar-benar tidak bisa membantu kamu, begini saja kamu turuti keinginan Papa kamu gak lama kok, bertahan saja selama satu minggu nanti kamu juga akan terbiasa," ucap Milani.

Fera memejamkan mata, sekilas ia berpikir tentang ucapan Milani.

"Yaudah aku coba dulu tapi_" kalimatnya di jeda karena memang benar-benar tak sanggup.

"Fer, aku tau ini sulit tapi, ayolah jika aku anak tunggal seperti kamu, mungkin Papa aku akan memaksa juga aku untuk mengelola bisnisnya," ucap Milani.

"Baiklah akan aku coba selama satu minggu," ucap Fera.

Seketika hatinya sudah merasa lega karena mendapat solusi dari Milani, walaupun tetap saja dirinya tak bisa menghindari pekerjaan papanya.

"Yaudah aku pulang, takut Papa malah nyariin ke teman-temanku lagi," ucap Fera.

"Kamu yakin kan mau pulang," ucap Milani.

"Iya aku yakin," ucap Fera.

Ia pun berpamitan lalu memesan taksi online menuju rumahnya, rasanta jantungnya berdegup dengan kencang seolah tau apa yang akan terjadi sebentar lagi.

"Sudah sampai neng!" Ucap supir taksi itu.

"Iya terimakasih ya pak," ucapnya setelah membayar ia pun turun.

kemudian ia membuka gerbang ternyata belum di gembok, sepi sekali rumahnya biasanya jam segini security ataupun asisten rumah tangganya masih berada di luar rumahnya tapi hari ini tidak ada sama sekali. Lampu rumah masih menyala pertanda sang tuan rumah masih belum tidur.

Jantungnya semakin berdetak kencang, ia memberanikan diri untuk membuka pintu utama tapi ternyata masih belum terkunci juga.

Ia pun berjalan pelan menuju kamarnya, berharap lolos dari omelan papanya malam ini.

Namun....

"Darimana kamu jam segini baru pulang, pergi tidak pamit!" ucap pak Hamdani turun dari tangga.

"Papa," gumamnya pelan.

"Darimana kamu anak gadis jam segini baru pulang, apa kamu masih bertemu dengan teman kamu itu," ucap pak Hamdani.

"Enggak Pa, aku dari rumah Milani," ucap Fera.

"Milani? Lalu kenapa tidak pamit dimana adab kamu padahal di rumah masih ada orang tua," ucapnya lagi.

"Tadi Papa sama Mama kan tidak ada," ucap Fera.

"Oh ya!"

"Pa aku_"

"Mulai hari ini jangan pernah keluar kemana-mana selain ke kantor," ucap pak Hamdani.

"Pa aku tuh bukan tahanan, jangan seenaknya bikin aturan Pa." Fera sangat kesal dengan Papanya kenapa bisa berlebihan seperti itu.

"Papa juga akan bilang ke Milani untuk menyuruh kamu pulang jika ke rumahnya saat malam hari," Imbuhnya.

"Fera akan ke kantor Papa tapi_"

"Tapi apa?"

"Hanya satu minggu setelah itu Fera tidak akan pernah lagi untuk ke sana," ucap Fera melanjutkan kalimatnya yang terjeda.

"Baik kalau itu mau kamu," ucap pak Hamdani lalu pergi.

Fera menghela nafas lega karena Papanya tidak marah besar tapi ia masih kesal saja dengan aturan berlebihan papanya, dari kejauhan bu Hamdani melihat putrinya dan sedikit tidak terima dengan apa yang suaminya itu lakukan tapi ia tidak bisa apa-apa selain menyuruh putrinya itu untuk sabar.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Keesokan paginya, ia telah bersiap memakai pakaian terbaik untuk ke kantor. Walaupun ia tak ingin sekali melakukan hal ini.

"Sarapan dulu sayang," ucap bu Hamdani.

"Iya Ma," ucapnya lalu mengambil roti dan selai yang sudah siapkan.

"Bagaimana kamu sudah siap kan untuk hari ini, Mama tau kamu masih tidak mau kan tapi apapun alasan kamu untuk menolak Papa pasti dia akan terus memaksa kamu untuk tetap memimpin perusahaan Hamdani group," ucap bu Hamdani.

"Iya Ma, sudah ya Fera mau mau berangkat," ucap Fera lalu beranjak pergi setelah menyalami tangan Mamanya.

Ia pun mengeluarkan mobilnya, dirinya bukan tidak mau semua fasilitasnya di sita tapi dia takut jika papanya akan berbuat nekat seperti beberapa tahun yang lalu.

Drrrt drrrt

"Iya Hallo..."

"Hei Fer,kamu semalam bilang kalau pergi ke rumahku," ucap suara seseorang di sebrang telepon sana, tadi Fera langsung mengangkat saja tanpa melihat siapa yang menelpon, saat di lihat rupanya itu dari Milani.

"Hallo... ih jawablah Fer," ucap Milani.

"Iya mau bagaimana lagi, emang semalam aku habis dari rumah kamu kan Mil," ucap Fera.

"Kamu tau tadi subuh Om Hamdan menelponku dan mengomeliku, dia juga menyuruh aku untuk terus menasehati kamu supaya membujuk kamu terus untuk memimpin perusahaannya," ucap Milani.

"Lagian kenapa kamu harus jujur sih, ini itu sama aja kamu yang melakukan kesalahan, aku yang kena getahnya juga," sambungnya.

"Ya mau bagaimana lagi, aku tidak tau harus jawab apa, jadi aku jujur saja," ucap Fera.

"Kamu ada dimana?" Tanya Milani.

"Dijalan!" Jawabnya.

"Yaudah aku matikan panggilannya ya, hati-hati jangan sampai nabrak entar aku juga yang ikut dimarahi sama tuan Hamdani," ucap Milani.

"Iya ya bawel," ucap Fera lalu mereka berhenti berbicara.

Fera terus menyetir, dia menikmati pagi yang indah ini. Melihat kendaraan berlalu lalang, padat dan terkadang macet.

"Kalau saja aku punya kakak seperti Milani mungkin hidupku akan lebih baik dari ini," gumamnya dalam hati tapi mau bagaimana lagi jika takdirnya memang ia harus menjadi anak tunggal.

Terkadang ia bingung kan sepupunya banyak, mereka juga punya kakak ataupun adik, kenapa papanya tidak memberikannya pada mereka saja kan itu lebih baik.

Ditempat lain pak Hamdani sudah keluar dari kamarnya, dia menanyakan keberadaan putrinya karena tidak kelihatan.

"Kemana Fera Ma?" Tanya pada sang istri.

"Fera sudah berangkat kan kamu sendiri yang menyuruh dia ke kantor," jawab sang istri.

"Oh baguslah ternyata dia mau juga berangkat," ucap pak Hamdani.

"Kamu kenapa sih memaksa Fera lebih baik kamu biarkan saja dia dengan apa yang ia suka, karena bisa jadi dia sangat tertekan," ucap bu Hamdani.

"Lalu aku harus apa? Menjual perusahaan itu, kamu tau kan kita hanya punya Fera. Dia satu-satunya anak kita dan dia juga penerus perusahaan Hamdani group, kalau bukan dia siapa lagi," ucap pak Hamdani.

"Iya aku tau, tapi kamu seakan menekan dia Mas, itu dampaknya tidak baik buat dia," ucap bu Hamdani.

"Dia itu sudah dewasa Ma, sudah waktunya mengenal dunia bisnis bukan nongkrong gak jelas, keluar malam gak jelas, Tidak ada gunanya yang ada buang-buang waktu," ucap pak Hamdani.

"Ngomong sama kamu sama aja kayak bicara sama batu," ucap bu Hamdani, namun suaminya tak menggapi. Ia langsung menuju meja makan dengan makanan yang sudah disiapkan oleh istrinya. Nanti dia juga akan ke kantor untuk menemui putrinya untuk melihat kinerjanya.

Terpopuler

Comments

eka siti N

eka siti N

efeknya gini, kalau ayah mau A eh s ibu milih B. jadi ke anaknya bingung 😁✌️
ditampung dulu Thor. . semangat

2024-07-02

0

eka siti N

eka siti N

pemikiran bocah emang 😅

2024-07-02

0

eka siti N

eka siti N

bener loh fer, kasian tuh papa nya hehe

2024-07-02

0

lihat semua
Episodes
1 Wanita keras kepala
2 kabur
3 Terpaksa berangkat ke kantor
4 kedatangan teman
5 Fitnah dari Winda
6 Bertemu laki-laki menyebalkan
7 sosok Reza
8 Minta maaf
9 kedatangan Milani
10 Bertemu Winda
11 kedatangan Clara
12 kemana Winda ?
13 Tidak bisa membantu
14 Semakin bikin kesal
15 perjodohan
16 Bertemu Reza
17 Alasan
18 haruskah mengalah
19 terlalu sunyi
20 Keinginan Reza
21 pertemuan
22 pertemuan keluarga
23 Dia orang baik
24 Rumah sakit
25 berdebat lagi?
26 Di antar pulang
27 Rencana Milani dan Reza
28 pergi berlibur
29 perjalanan yang indah
30 Tiba di sebuah Rumah
31 Jalan berdua
32 kapan akurnya
33 jangan ganggu
34 Ada apa dengan hati.
35 Rasa yang tersimpan
36 Saling memendam rasa
37 janji
38 Arti sebuah cinta menurut Fera
39 Bingung
40 Firasat buruk
41 Terjatuh
42 tersesat
43 Mencari keberadaan Fera
44 Di temukan
45 Sadarkan diri
46 Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47 Surat dari sosok misterius
48 Bunga dari seseorang
49 kembali
50 Mengungkapkan Rasa
51 Bab 51
52 Bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 part 65
66 part 66
67 part 67
68 part 68
69 part 69
70 part 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 Bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 86
87 Episode 87
88 Bab 88
89 bab 89
90 bab 90
91 bab 91
92 bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 bab 101
102 bab 102
103 bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Wanita keras kepala
2
kabur
3
Terpaksa berangkat ke kantor
4
kedatangan teman
5
Fitnah dari Winda
6
Bertemu laki-laki menyebalkan
7
sosok Reza
8
Minta maaf
9
kedatangan Milani
10
Bertemu Winda
11
kedatangan Clara
12
kemana Winda ?
13
Tidak bisa membantu
14
Semakin bikin kesal
15
perjodohan
16
Bertemu Reza
17
Alasan
18
haruskah mengalah
19
terlalu sunyi
20
Keinginan Reza
21
pertemuan
22
pertemuan keluarga
23
Dia orang baik
24
Rumah sakit
25
berdebat lagi?
26
Di antar pulang
27
Rencana Milani dan Reza
28
pergi berlibur
29
perjalanan yang indah
30
Tiba di sebuah Rumah
31
Jalan berdua
32
kapan akurnya
33
jangan ganggu
34
Ada apa dengan hati.
35
Rasa yang tersimpan
36
Saling memendam rasa
37
janji
38
Arti sebuah cinta menurut Fera
39
Bingung
40
Firasat buruk
41
Terjatuh
42
tersesat
43
Mencari keberadaan Fera
44
Di temukan
45
Sadarkan diri
46
Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47
Surat dari sosok misterius
48
Bunga dari seseorang
49
kembali
50
Mengungkapkan Rasa
51
Bab 51
52
Bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
part 65
66
part 66
67
part 67
68
part 68
69
part 69
70
part 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
Bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 86
87
Episode 87
88
Bab 88
89
bab 89
90
bab 90
91
bab 91
92
bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
bab 101
102
bab 102
103
bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!