Fitnah dari Winda

Fera merasa tidak enak dengan temannya itu, apapun alasannya dia telah melakukan kesalahan pada winda.

"Pa, kenapa sih tadi itu papa marahin Winda, kan semua bisa dibicarakan baik-baik. Papa itu terlalu berlebihan tau gak, jangankan sama aku, dengan Milani dan lainnya Papa juga mengatur mereka dengan aturan yang sama padahal mereka itu hanya keponakan Papa. Om aldi saja membebaskan anak-anaknya melakukan apa yang mereka suka, sedangkan aku harus menunggu keputusan Papa terlebih dahulu, lama-lama Fera bosan Pa," ucap Fera menyampaikan semua keluh kesahnya pada papanya.

"Sudah selesai kamu bicaranya? Kamu tau kalau Papa melakukan semua ini buat kamu, buat kebaikan kamu agar kamu tidak terjerumus dalam hal yang salah. Papa melarang kamu bertemu teman-teman kamu karena Papa tau pergaulan kalian seperti apa," ucap pak Hamdani.

"Selalu itu yang menjadi alasan Papa, Mereka itu orang baik Pa, mereka tidak sama dengan apa yang Papa tuduhkan selama ini. Dan jika Papa menginginkan kebaikan untuk masa depan Fera seharusnya Papa tidak menekan Fera, kenapa Papa tidak pernah mendukung aku seperti yang Mama lakukan," ucap Fera, dia heran kenapa papanya bisa memandang teman-temannya seperti itu padahal apa yang dilihat dari penampilan tak sama dengan perbuatan.

"Fera kamu itu anak satu-satunya Papa, siapa yang Papa harapkan selain kamu," ucap pak Hamdani, ia pun meninggalkan Fera yang sebenarnya ingin menyampaikan semua apa yang dirasakannya.

"Mbak Fera, saya tau menjadi Mbak itu memang berat Mbak, awalnya saya tidak mau menjadi mata-mata Mbak tapi pak Hamdani terus memaksa saya," ucap Diana.

Fera hanya diam saja tak menanggapi ucapan Diana, hingga pak Hamdani kembali lagi dari ruangannya.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Di tempat lain Winda sedang menuju ke rumah Clara, dia sangat kesal dalam hatinya karena tadi dimarahi oleh papanya Fera.

Setelah sampai di rumahnya Clara ia langsung duduk di kursi yang sudah di sediakan di teras.

"Kenapa sih datang-datang cemberut aja, apa kamu tidak senang karena sebentar lagi aku ulang tahun," ucap Clara yang melihat temannya itu.

"Bukan begitu, Fera tidak bisa datang hari ini katanya dia malas datang ke ulang tahunmu," ucap Winda, dia memang sengaja berbicara seperti itu agar Clara tidak suka dengan Fera.

"Apa? Kamu tidak bercanda kan, lagian kamu tau darimana kalau Fera tidak bisa datang," ucap Clara.

"Aku habis menemuinya di kantor milik Papanya, Malah aku di usir secara paksa," ujar Winda.

Clara pun tidak tinggal diam, dia menghubungi Fera namun tidak di angkat panggilannya hingga beberapa kali Clara memanggil tapi tidak ada yang berhasil.

"Kenapa tidak di angkat kan," ucap Winda.

"Iya, padahal berdering tadi," ucap Clara dengan wajah kesal.

"Ra, ada minuman gak sih, aku haus nih," ujar Winda.

"Aku lupa, Maaf ya sebentar aku ambilkan," ucap Clara, ia langsung masuk menuju dapur.

Ting

Sebuah notifikasi dari ponsel Winda, rupanya itu transferan yang sudah Fera janjikan tapi Winda merencakan hal lain. Dia tidak akan menyerahkan uang itu pada Clara tapi akan ia gunakan sendiri.

"Ini Win, oh ya apa Fera menitipkan.Hadiah untukku biasanya dia tidak pernah absen kalau di acara ulang tahunku," ucap Clara.

"Jangan Hadiah, dia aja tidak mau datang ," ucap Winda setelah meneguk segelas air yang Clara bagi tadi.

"Udahlah Clara tidak usah di pikirkan, kan masih ada teman-teman yang lain," ucap Winda.

"Iya sih," ujar Clara.

Winda pun tersenyum licik, dalam hatinya biar saja Clara dan Fera berantem karena tadi dia cukup sakit hati dengan ucapan papanya Fera.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Di tempat lain ponsel milik Fera terus berdering, dimana tepat di waktu yang salah karena dia sedang duduk di samping papanya, saat di cek ternyata itu dari Clara salah satu temannya, tapi terpaksa tidak dia angkat karena takut papanya marah lagi.

"Dari siapa sih? Berisik banget!" Serunya.

"Dari teman Pa," ujar Fera.

"Teman kamu yang tadi itu, matikan saja tidak usah di angkat panggilannya buat apa sih kamu berteman sama orang tidak punya adab begitu," ujar pak Hamdani.

"Pa udah jangan menjelekkan Winda, dia itu orang baik pa," ucap Fera.

"Terus saja kamu bela dia," ucap pak Hamdani.

Fera pun diam tidak melanjutkan perdebatan dengan papanya, ia pun diam-diam mengirimkan sejumlah uang ke rekening Winda. Semoga saja bisa menjadi ganti untuk waktunya yang sibuk hari ini, ia juga berpesan agar uang itu diberikan juga pada Clara untuk membeli hadiah.

Saat tiba makan siang, pak Hamdani pamit untuk pulang terlebih dahulu pada Fera.

"Yaudah Papa pulang saja, biar Fera di sini melanjutkan kerja papa," ujar Fera.

"Ok! Diana," ujar pak Hamdani, dan memanggil seketarisnya.

"Temani anak saya, jangan biarkan dia melihat ponselnya sedetik pun," ucap pak Hamdani.

"Papa tidak usah mulai lagi deh, nanti kalau aku mau lihat jam bagaimana," ujar Fera.

"Kamu tau kenapa di dinding terpasang jam, kamu kegunaannya kan. Melihat jam tidak perlu lihat di ponsel, di dinding juga ada," ucap pak Hamdani.

"Yaudah papa pulang, ingat jangan pulang terlalu malam atau jangan nongkrong dulu setelah pulang nanti harus segera ke rumah," Imbuhnya lalu pergi.

Fera menghela nafas lega akhirnya papanya tidak ada di sampingnya lagi.

"Saya permisi dulu ya Mbak," ucap Diana.

"Kenapa kamu tidak memberitahukan saya terlebih dahulu jika Papa saya akan ke sini," ucap Fera.

"Soal itu, sebenarnya saya ingin bilang tapi teman Mbak keburu menyela jadi saya tidak sempat bilang," ucap Diana.

"Yaudah deh sana balik ke tempat kamu," ucapnya.

Fera melihat jam setiap menitnya dan juga tumpukan kertas yang harus ia kerjakan. Tak terbayang berapa lama ia harus berkutat dengan barang-barang seperti itu setiap hari.

Satu hari saja di sini menghandle semuanya, ini diharuskan satu minggu. Apalagi ia harus bertanggung jawab pada setiap pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya, papanya juga menyuruhnya bertanggung jawab untuk menjalankan kebijakan perusahaan, serta memastikan tujuan perusahaan tercapai dengan optimal. Padahal dia itu sedang mencoba beradaptasi bukan mau menjadi bos muda di perusahaan Hamdani Group.

Apalagi kata Mamanya, wanita itu harus berkarir sembari menunggu pasangan yang tepat. Itu adalah kegiatan yang banyak manfaat dam tidak membuang-buang waktu selain itu mencari ilmu agar nanti jika sudah menjadi istri tau apa yang dia lakukan.

Apalagi menjadi wanita mandiri itu perlu, jangan terus bergantung pada orang lain karena kita tidak tau sampai kapan orang itu akan bersama kita dan sesabar apa orang itu menghadapi kita nantinya, Wanita kuat dan mandiri juga mampu mengenal dirinya sendiri dan kemampuan yang ada pada dirinya.

Episodes
1 Wanita keras kepala
2 kabur
3 Terpaksa berangkat ke kantor
4 kedatangan teman
5 Fitnah dari Winda
6 Bertemu laki-laki menyebalkan
7 sosok Reza
8 Minta maaf
9 kedatangan Milani
10 Bertemu Winda
11 kedatangan Clara
12 kemana Winda ?
13 Tidak bisa membantu
14 Semakin bikin kesal
15 perjodohan
16 Bertemu Reza
17 Alasan
18 haruskah mengalah
19 terlalu sunyi
20 Keinginan Reza
21 pertemuan
22 pertemuan keluarga
23 Dia orang baik
24 Rumah sakit
25 berdebat lagi?
26 Di antar pulang
27 Rencana Milani dan Reza
28 pergi berlibur
29 perjalanan yang indah
30 Tiba di sebuah Rumah
31 Jalan berdua
32 kapan akurnya
33 jangan ganggu
34 Ada apa dengan hati.
35 Rasa yang tersimpan
36 Saling memendam rasa
37 janji
38 Arti sebuah cinta menurut Fera
39 Bingung
40 Firasat buruk
41 Terjatuh
42 tersesat
43 Mencari keberadaan Fera
44 Di temukan
45 Sadarkan diri
46 Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47 Surat dari sosok misterius
48 Bunga dari seseorang
49 kembali
50 Mengungkapkan Rasa
51 Bab 51
52 Bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 part 65
66 part 66
67 part 67
68 part 68
69 part 69
70 part 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 Bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 86
87 Episode 87
88 Bab 88
89 bab 89
90 bab 90
91 bab 91
92 bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 bab 101
102 bab 102
103 bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Wanita keras kepala
2
kabur
3
Terpaksa berangkat ke kantor
4
kedatangan teman
5
Fitnah dari Winda
6
Bertemu laki-laki menyebalkan
7
sosok Reza
8
Minta maaf
9
kedatangan Milani
10
Bertemu Winda
11
kedatangan Clara
12
kemana Winda ?
13
Tidak bisa membantu
14
Semakin bikin kesal
15
perjodohan
16
Bertemu Reza
17
Alasan
18
haruskah mengalah
19
terlalu sunyi
20
Keinginan Reza
21
pertemuan
22
pertemuan keluarga
23
Dia orang baik
24
Rumah sakit
25
berdebat lagi?
26
Di antar pulang
27
Rencana Milani dan Reza
28
pergi berlibur
29
perjalanan yang indah
30
Tiba di sebuah Rumah
31
Jalan berdua
32
kapan akurnya
33
jangan ganggu
34
Ada apa dengan hati.
35
Rasa yang tersimpan
36
Saling memendam rasa
37
janji
38
Arti sebuah cinta menurut Fera
39
Bingung
40
Firasat buruk
41
Terjatuh
42
tersesat
43
Mencari keberadaan Fera
44
Di temukan
45
Sadarkan diri
46
Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47
Surat dari sosok misterius
48
Bunga dari seseorang
49
kembali
50
Mengungkapkan Rasa
51
Bab 51
52
Bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
part 65
66
part 66
67
part 67
68
part 68
69
part 69
70
part 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
Bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 86
87
Episode 87
88
Bab 88
89
bab 89
90
bab 90
91
bab 91
92
bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
bab 101
102
bab 102
103
bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!