Bertemu Reza

"Bagaimana Fer, kamu setujukan dengan perjodohan itu, Papa harap kamu bisa menerima Reza karena hanya dia yang bisa papa percaya akan mengelola perusahaan kita suatu hari nanti dengan kamu," ucap pak Hamdani, Fera menatap wajah papanya. Kenapa di awal pagi yang indah hari ini malah membahas soal perjodohan.

"Pa ini kan masih makan, tidak usah bahas itu gak enak. Masa pagi-pagi harus bahas soal perjodohan, lagian ya perjodohan itu udah gak zaman sekarang," ucap Fera.

"Kata siapa?"

"Ya kata orang-orang, lagian ya Pa belum tentu juga si Reza itu mau sama aku," ucap Fera.

"Reza sudah tau lebih dulu daripada kamu tentang perjodohan ini dari keluarganya, makanya dia balik ke kota ini untuk menemui kamu," ucap pak Hamdani.

"Apa,"

Fera sangat terkejut karena ternyata Reza sudah tau lebih dulu soal perjodohan ini, lalu kenapa dia tidak menolak saja. Apa ini alasan dia selalu muncul di hadapannya.

"Sudahlah Pa, Fera mau berangkat," ucapnya lalu pergi begitu saja setelah mencium tangan kedua orang tuanya.

Sepanjang perjalanan Fera menggerutu kesal, kenapa papanya menjodohkan dirinya secara mendadak seperti ini. Semalam ia tidak bisa tidur hanya memikirkan bagaimana caranya ia bisa menolak perjodohannya dengan Reza.

Saat tiba di depan kantornya, ia bertemu dengan Reza dan menghampiri laki-laki yang baru saja turun dari mobilnya.

"Reza,"

"Eh kamu tumben manggil nama, ada apa?" Tanya Reza dengan senyum khasnya.

"Tidak usah basa-basi terus deh, kamu tau kan soal perjodohan yang di sepakati oleh Papa dan Papa kamu sampai harus pura-pura menjadi rekan bisnis segala. Kenapa sih kamu tidak menolak saja perjodohan ini, oh apa kamu sengaja menerima agar kamu bisa menguasai semua harta milik Papaku," ucap Fera,Namun Reza hanya diam saja.

"Kenapa diam saja, jawab Za!"

"Perusahaan Papa kamu ini berdiri karena ada campur tangan dari Papaku, dan perjodohan itu terjadi begitu saja karena mereka tidak mau persahabatan mereka berakhir begitu saja jadi yang terpikir oleh mereka saat itu ya kata-kata tentang perjodohan, Jadi kalau untuk masalah kaya raya siapa yang lebih kaya dari keluarga kamu," ucap Reza.

"Maksud kamu perusahaan ini milik bersama begitu,"

"Tidak Fera, dulu itu Papa kamu bingung mencari pekerjaan, dia ingin membuka bisnis di bidang properti tapi waktu tidak ada modal untuk membuat. Sampai Papaku datang dan memberi pinjaman pada pak Hamdani," ucap Reza.

"Apapun itu aku minta sama kamu untuk menolak perjodohan ini, aku tidak mau harus menikah sama kamu," ucap Fera.

"Kenapa kamu tidak bujuk saja Papa kamu, aku ikut apa yang akan mereka putuskan," ucap Reza.

"Kamu lupa siapa Papaku, kalau sedikit saja aku melawan dia akan marah besar apalagi tentang perjodohan ini," ucap Fera.

"Kamu tau sendiri kan bagaimana sikap Papa kamu, anaknya sendiri saja tidak bisa membujuk apalagi orang lain. Kamu seharusnya tau diri akan hal itu, lagian pernikahan itu sesuatu yang sakral dan bagiku itu bukan main-main apalagi harus menikah dengan wanita yang menikah saja dia belum siap," ucap Reza lalu pergi dari hadapan Fera.

Fera semakin di buat kesal oleh Reza, dia sekarang tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena orang yang bisa ia harap untuk menolak perjodohan ini ternyata hanya pasrah dengan keadaan. Jadi percuma saja dia menghampiri Reza barusan.

Dirinya memang belum siap untuk menikah karena masih banyak yang belum ia miliki, salah satunya menjadi wanita karir dari pekerjaan dan hobinya sendiri.

Menikah baginya terlalu mengerikan karena ada beberapa peraturan yang tidak sesuai dengan hati nuraninya, dia bukanlah tipe wanita yang penurut apalagi bagi laki-laki, itu yang ada dalam diri Fera.

Reza menoleh kebelakang ternyata Fera masih diam saja di tempat dimana mereka tadi bicara, Reza pun menebak kalau gadis itu sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa menolak tentang perjodohannya.

"Dasar wanita aneh, bukannya masuk untuk kerja malah diam kayak patung," ucap Reza, lalu kembali berjalan lagi.

Fera pun kemudian berjalan ke kantornya karena sudah lelah lama berdiri di sana.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

"Fer, itu makanan kenapa tidak di makan. Kalau kamu tidak mau makan kenapa pesan sih kan mubazir," ucap Milani, lagi-lagi Fera memanggilnya untul menemani makan siang.

"Aku lagi badmood tau, gara-gara Papa semalam," ucap Fera.

"Memang Papa kamu kenapa lagi sih," ucap Milani.

"Masa sih dia malah menjodohkan aku dengan anak teman Sma nya dulu," ucap Fera.

"Siapa?" Tanya Milani dengan penasaran.

"Itu cowok yang beberapa waktu lalu ikut aku menemuimu," jawab Fera.

"Oh Reza ya namanya," ucap Milani.

"Hmm,"

"Memang kenapa sih, dia kan ganteng pasti cocok sama kamu," ucap Milani.

"Ganteng darimana orang sok ganteng dia," ucap Fera.

"Sudahlah setiap hari ada aja yang kamu permasalahkan dalam hidup, jangan gampang membenci orang karena benci sama cinta itu cuma beda tipis, siapa tau nanti kamu malah bucin lagi sama dia," ucap Milani.

"Hah, amit-amit aku bucin sama dia, udah deh tidak usah ngeledekin terus," ucap Fera.

"Iya, lagian siapa yang ngeledekin, Fera siapa tau Reza itu adalah jodoh dari Allah untuk kamu," ucap Milani.

"Masa lewat perjodohan,"

"Perjodohan itu perantara yang bisa di tempuh untuk mempertemukan dua orang agar bisa menikah, dengan perantara maka proses perkenalan tidak terlalu lama. Lagian tidak ada salahnya tentang sebuah perjodohan," ucap Milani.

"Milani aku tidak mau di jodohkan sama dia," ucap Fera.

"Kamu bisa bujuk kedua orang tua kamu untuk tidak memaksa soal perjodohan," ucap Milani.

Fera menghela nafas, percuma juga ia curhat sama Milani jika gadis itu hanya memberikan ia dua pilihan, memilih dipaksa menerim atau pasrah begitu saja.

"Kenapa sih, sudahlah makan dulu soal itu bisa di bahas lagi. Makanan yang sudah dibeli itu harus di makan gak usah mubazir," ucap Milani.

"Tapikan tetap bayar Mil,"

"Terserah kamu lah," ucap Milani yang melanjutkan menyantap makanannya.

Jodoh itu memang sudah di atur sejak dahulu bahkan sebelum kita di lahirkan ke dunia, manusia hanya butuh sabar untuk menunggunya, yakin dan selalu berusaha. Semua orang mendambakan pernikahan yang indah di masa depan bukan pernikahan yang terpaksa.

"Kapan kalian akan di pertemukan dengan keluarga, biasanya akan ada pertemuan keluarga," ucap Milani.

"Sudahlah Mil, aku capek banget bahas hal itu. Sampai sekarang pun aku bingung bagaimana menolak perjodohan itu," ucap Fera.

"Ya sudahlah, makan dulu tu," ucap Milani.

Mereka pun kembali hening, tidak ada pembicaraan lagi di antara keduanya dan fokus dengan makanan yang masih tersisa di atas meja. Fera melihat Milani yang bersikap santai saja di balik kegelisahan dirinya.

Episodes
1 Wanita keras kepala
2 kabur
3 Terpaksa berangkat ke kantor
4 kedatangan teman
5 Fitnah dari Winda
6 Bertemu laki-laki menyebalkan
7 sosok Reza
8 Minta maaf
9 kedatangan Milani
10 Bertemu Winda
11 kedatangan Clara
12 kemana Winda ?
13 Tidak bisa membantu
14 Semakin bikin kesal
15 perjodohan
16 Bertemu Reza
17 Alasan
18 haruskah mengalah
19 terlalu sunyi
20 Keinginan Reza
21 pertemuan
22 pertemuan keluarga
23 Dia orang baik
24 Rumah sakit
25 berdebat lagi?
26 Di antar pulang
27 Rencana Milani dan Reza
28 pergi berlibur
29 perjalanan yang indah
30 Tiba di sebuah Rumah
31 Jalan berdua
32 kapan akurnya
33 jangan ganggu
34 Ada apa dengan hati.
35 Rasa yang tersimpan
36 Saling memendam rasa
37 janji
38 Arti sebuah cinta menurut Fera
39 Bingung
40 Firasat buruk
41 Terjatuh
42 tersesat
43 Mencari keberadaan Fera
44 Di temukan
45 Sadarkan diri
46 Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47 Surat dari sosok misterius
48 Bunga dari seseorang
49 kembali
50 Mengungkapkan Rasa
51 Bab 51
52 Bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 part 65
66 part 66
67 part 67
68 part 68
69 part 69
70 part 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 Bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 86
87 Episode 87
88 Bab 88
89 bab 89
90 bab 90
91 bab 91
92 bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 bab 101
102 bab 102
103 bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Wanita keras kepala
2
kabur
3
Terpaksa berangkat ke kantor
4
kedatangan teman
5
Fitnah dari Winda
6
Bertemu laki-laki menyebalkan
7
sosok Reza
8
Minta maaf
9
kedatangan Milani
10
Bertemu Winda
11
kedatangan Clara
12
kemana Winda ?
13
Tidak bisa membantu
14
Semakin bikin kesal
15
perjodohan
16
Bertemu Reza
17
Alasan
18
haruskah mengalah
19
terlalu sunyi
20
Keinginan Reza
21
pertemuan
22
pertemuan keluarga
23
Dia orang baik
24
Rumah sakit
25
berdebat lagi?
26
Di antar pulang
27
Rencana Milani dan Reza
28
pergi berlibur
29
perjalanan yang indah
30
Tiba di sebuah Rumah
31
Jalan berdua
32
kapan akurnya
33
jangan ganggu
34
Ada apa dengan hati.
35
Rasa yang tersimpan
36
Saling memendam rasa
37
janji
38
Arti sebuah cinta menurut Fera
39
Bingung
40
Firasat buruk
41
Terjatuh
42
tersesat
43
Mencari keberadaan Fera
44
Di temukan
45
Sadarkan diri
46
Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47
Surat dari sosok misterius
48
Bunga dari seseorang
49
kembali
50
Mengungkapkan Rasa
51
Bab 51
52
Bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
part 65
66
part 66
67
part 67
68
part 68
69
part 69
70
part 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
Bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 86
87
Episode 87
88
Bab 88
89
bab 89
90
bab 90
91
bab 91
92
bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
bab 101
102
bab 102
103
bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!