Semakin bikin kesal

Sesampainya di kantor Fera di kejutkan oleh pemandangan di sana, dia bingung untuk apa semua ini berada di sini dan ada tulisan selamat untuk dirinya. Dia bingung perbuatan siapa sebenarnya ini.

"Diana...." Teriak Fera hingga terdengar ke seluruh kantor, pagi-pagi begini gadis itu dibuat kesal oleh semua orang.

"Ada apa Mbak?" Tanya Diana yang berjalan buru-buru menuju Fera.

"Ada apa, ada apa kamu lihat ini itu apaan sih pakai di taro di sini, di depan juga kenapa banyak karangan bunga," ucap Fera.

"Saya tidak tau Mbak, tadi saya datang semua sudah ada kok ini," ucap Diana.

Pak Hamdani, Papa Fera pun datang bersamaan dengan Reza.

"Papa ini itu apaan sih, memangnya kita mau bikin acara," ucap Fera.

"Iya bukannya akan ada penyambutan pemimpin baru di sini," ucap pak Hamdani.

"Pa, aku tidak mau menjadi pemimpin di sini bukankah kita sudah sepakat kalau aku hanya sementara di sini, setidaknya sampai aku mendapat pekerjaan yang lain Pa," ucap Fera.

"Tidak bisa Fera,"

"Pa,"

"Tidak ada gunanya kamu membujuk Papa Fera, sekali iya harus iya," ucap pak Hamdani.

"Sudahlah kamu turuti saja, memangnya apa susahnya sih bekerja di sini," ucap Reza.

"Kamu ikut campur aja kalau ada orang sedang bicara, memangnya apa sih kerjaan kamu setiap hari ganggu hidupku terus. Apa kamu cari perhatian di sini, atau cuma mau cari ketenaran saja," ucap Fera.

"Siapa juga yang mau ikut campur, aku itu cuma mau nasehatin kamu," ucap Reza.

"Sama aja kamu selalu menyela setiap kali aku berbicara," ucap Fera.

"Itu perasaan kamu aja, makanya jangan jadi anak yang keras kepala," ucap Reza. Pria itu tersenyum sinis melihat wajah Fera yang sangat marah.

Fera pun masuk ke dalam ruangannya dengan hati yang masih kesal dengan Reza. Sebenarnya karangan bunga itu sengaja ia beli hanya untuk menguji kesabaran dirinya dan itu adalah rencana dari Reza.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

"Kamu kenapa sih dari tadi ikutin aku terus, cukup tadi pagi dan kemarin kamu bikin aku kesal," ucap Fera karena saat ia hendak membeli makan untuk makan siang ternyata Reza juga ada di sana.

"Siapa juga yang mau ikutin kamu, aku juga mau makan di sini. Kamu kali yang ngikutin aku, kamu pikir aku mau gitu tiap hari ngeliatin muka judes kamu itu," ucap Reza.

"Yang judes itu kamu, selain itu suka banget ikut campur urusan orang lain," ucap Fera.

"Masih saja di bahas, aku tidak ikut campur urusan orang lain seperti apa yang kamu bilang. Aku cuma kasihan saja sama pak Hamdani punya putri keras kepala seperti kamu," ucap Reza.

mereka seperti tidak mau mengalah dalam masalah berdebat, walaupun Reza ingin berhenti tapi tetap saja Fera selalu memulainya hingga mau tak mau ia terpaksa meladeni setiap kali Fera bicara supaya gadis itu semakin kesal.

Mereka seperti musuh yang tidak pernah akur, hanya sebuah keterpaksaan yang ada jika mereka berada dalam satu tempat yang sama apalagi di situ ada pak Hamdani.

Fera kemudian kembali ke kantornya dengan perasaan kesal. Dia merasa jika Reza selalu saja membuat ulah, sehingga ia tidak henti-hentinya menggerutu sampai tak menyadari kehadirannya.

"Kamu kenapa sih tidak pernah bersikap baik sama Reza," ucap pak Hamdani.

"Buat apa bersikap baik sama dia sih Pa, tidak ada gunanya," ucap Fera.

"Tapi dia itu orang penting juga di sini, kamu juga jangan seenaknya ngatain orang. Seharusnya kamu bisa menahan emosi kamu," ucap pak Hamdani.

"Orang penting? Bukannya perusahaan yang dia kelola juga milik Papanya," ucap Fera.

"Tapi dia adalah pewaris dua perusahaan nantinya," ucap pak.Hamdani.

"Maksud Papa dia_"

"Sudah lebih baik kamu masuk sana," ucap pak Hamdani lalu pergi.

Fera merasa aneh dengan papanya, kenapa dia bisa bilang seperti itu berarti papanya tau semua tentang Reza, Lalu kenapa harus di rahasiakan.

Di lain tempat pak Hamdani terlihat bingung, bagaimana ia berkata jujur dengan Fera soal kesepakatan dirinya dengan kedua orang tua Reza beberapa tahun lalu, padahal saat dia menyatukan Reza dan Fera mereka terlihat seperti saling bertengkar, apalagi Fera yang dari awal pertemuan mereka sudah mengatakan kalau ia tidak pernah mau Reza menjadi rekan bisnis papanya.

Tapi ia akan mengusahakan sesuatu agar Fera dan Reza bisa akur, apalagi Fera sudah tidak lagi bersama dengan teman-temannya yang menurut pak Hamdani jauh dari kata baik, karena kegiatan mereka yang ia ketahui dari orang yang ia suruh menjadi pengawal Fera saat bertemu dengan temannya.

Jadi ia takut putrinya akan melakukan hal yang membuat dirinya malu, maka dari itu ia kembali menekan putrinya dengan cara seperti yang dia lakukan sekarang.

Sesampainya di rumah Fera harus kembali berhadapan dengan papanya.

"Apa lagi sih Pa, apa papa mau bahas itu lagi," ucap Fera seraya duduk di sofa.

"Kamu itu semakin dewasa Fera, seharusnya kamu bisa menjaga sikap kamu. Apa kamu tidak malu setiap hari cari ribut terus sama Reza," ucap pak Hamdani.

"Terus saja Papa bahas itu, lagian dari awal aku sudah bilang tidak usah kerja sama dengan dia tapi Papa tetap aja," ucap Fera.

"Karena dia itu_"

"Apa pa, apa dia itu anak papa dari wanita lain," ucap Fera.

"Jaga mulut kamu Fera, kenapa kamu malah semakin kurang aja sih. Apa hasil dari semua yang papa lakukan," ucap pak Hamdani.

"Fera juga tidak bakal seperti ini kalau papa tidak mengekang Fera," ucapnya.

"Seharusnya semakin Fera dewasa Papa harus membebaskan Fera dengan apa yang Fera suka bukan yang papa suka," ucapnya lalu masuk ke dalam kamar.

"Fera papa belum selesai bicara," ucap pak Hamdani.

Pak Hamdani menghela nafas kasar, berat sekali memberitahu Fera karena anak itu selalu menjawab semua kata-katanya.

"Mas ada apa lagi sih? Kalian ribut lagi, kenapa kamu jadi Papa bisanya bikin anak kamu setiap hari kesal terus. Jika kamu seperti ini yang ada dia akan di semakin membenci figur ayah di dalam dirinya," ucap bu Hamdani.

"Dia itu anak yang tidak bisa di atur Ma, kamu tau dia selalu saja bikin ulah sama Reza apalagi keluargnya itu punya andil dalam berdirinya perusahaan yang aku kelola selama ini," ucap pak Hamdani.

"Kamu bisa kasih tau dia pelan-pelan bukan kasar Mas, sudah biar aku yang akan kasih tau dia," ucap bu Hamdani.

"Memangnya dia bisa luluh jika kamu yang bicara," ucap pak Hamdani.

"Sekeras kepalanya seorang anak jika ibunya sudah bicara dia pasti akan luluh, karena Seorang ibu dan anak perempuan selalu berbagi ikatan spesial, yang terukir di hati dan dia akan dia akan mudah mendengar dan menerima pembicaraan ibunya," ucap bu Hamdani.

Pak Hamdani pun mengangguk hanya saja permasalahannya bukan bagaimana Fera bisa menurut apa maunya tapi bisa menerima semua apa yang di dengarnya nanti.

Episodes
1 Wanita keras kepala
2 kabur
3 Terpaksa berangkat ke kantor
4 kedatangan teman
5 Fitnah dari Winda
6 Bertemu laki-laki menyebalkan
7 sosok Reza
8 Minta maaf
9 kedatangan Milani
10 Bertemu Winda
11 kedatangan Clara
12 kemana Winda ?
13 Tidak bisa membantu
14 Semakin bikin kesal
15 perjodohan
16 Bertemu Reza
17 Alasan
18 haruskah mengalah
19 terlalu sunyi
20 Keinginan Reza
21 pertemuan
22 pertemuan keluarga
23 Dia orang baik
24 Rumah sakit
25 berdebat lagi?
26 Di antar pulang
27 Rencana Milani dan Reza
28 pergi berlibur
29 perjalanan yang indah
30 Tiba di sebuah Rumah
31 Jalan berdua
32 kapan akurnya
33 jangan ganggu
34 Ada apa dengan hati.
35 Rasa yang tersimpan
36 Saling memendam rasa
37 janji
38 Arti sebuah cinta menurut Fera
39 Bingung
40 Firasat buruk
41 Terjatuh
42 tersesat
43 Mencari keberadaan Fera
44 Di temukan
45 Sadarkan diri
46 Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47 Surat dari sosok misterius
48 Bunga dari seseorang
49 kembali
50 Mengungkapkan Rasa
51 Bab 51
52 Bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 part 65
66 part 66
67 part 67
68 part 68
69 part 69
70 part 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 Bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 86
87 Episode 87
88 Bab 88
89 bab 89
90 bab 90
91 bab 91
92 bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 bab 101
102 bab 102
103 bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Wanita keras kepala
2
kabur
3
Terpaksa berangkat ke kantor
4
kedatangan teman
5
Fitnah dari Winda
6
Bertemu laki-laki menyebalkan
7
sosok Reza
8
Minta maaf
9
kedatangan Milani
10
Bertemu Winda
11
kedatangan Clara
12
kemana Winda ?
13
Tidak bisa membantu
14
Semakin bikin kesal
15
perjodohan
16
Bertemu Reza
17
Alasan
18
haruskah mengalah
19
terlalu sunyi
20
Keinginan Reza
21
pertemuan
22
pertemuan keluarga
23
Dia orang baik
24
Rumah sakit
25
berdebat lagi?
26
Di antar pulang
27
Rencana Milani dan Reza
28
pergi berlibur
29
perjalanan yang indah
30
Tiba di sebuah Rumah
31
Jalan berdua
32
kapan akurnya
33
jangan ganggu
34
Ada apa dengan hati.
35
Rasa yang tersimpan
36
Saling memendam rasa
37
janji
38
Arti sebuah cinta menurut Fera
39
Bingung
40
Firasat buruk
41
Terjatuh
42
tersesat
43
Mencari keberadaan Fera
44
Di temukan
45
Sadarkan diri
46
Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47
Surat dari sosok misterius
48
Bunga dari seseorang
49
kembali
50
Mengungkapkan Rasa
51
Bab 51
52
Bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
part 65
66
part 66
67
part 67
68
part 68
69
part 69
70
part 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
Bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 86
87
Episode 87
88
Bab 88
89
bab 89
90
bab 90
91
bab 91
92
bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
bab 101
102
bab 102
103
bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!