sosok Reza

Fera kembali ke kantornya, dia heran kenapa Milani berpikir sama dengan papanya selalu berpikir negatif soal teman-temannya, padahal teman-temannya itu orang baik dan tak pernah menyakiti dirinya.

Dia memutuskan menghubungi Clara dan Winda namun ponsel keduanya tidak aktif, padahal jam segini biasanya mereka tidak sibuk tapi kenapa keduanya tidak mengangkat panggilannya.

"Kok ponsel mereka tidak aktif sih, dari tadi juga di hubungi tapi tidak satu pun yang menjawab," ujarnya dalam hati.

Fera kembali keruangannya, membuka laptopnya banyak hal yang harus diselesaikan hari ini sebelum pulang ke rumah, meskipun dalam hatinya dia sangat ingin bertemu dengan semua teman-temannya.

Setelah semua selesai ia pun pulang ke rumah, rasanya capek banget hari ini, lebih capek dari sebelumnya karena bertemu dengan rekan bisnis papanya yang menurutnya sangat menyebalkan.

"Assalamualaikum." Fera langsung duduk begitu saja di ruang tamu, rupanya habis ada tamu karena ada gelas di meja tamu.

"Waalaikumsalam, kamu sudah pulang. Bagaimana pekerjaannya senangkan hari ini," ucap bu Hamdani.

"Biasa Ma, capek banget!" Serunya.

"Iya pasti Sayang namanya juga kerja, Tapi Mama kok tidak dengar suara mobil kamu," ucap bu Hamdani.

"Di bengkel, besok baru di ambil," ucapnya

"Kenapa lagi, Mama kan udah bilang jual dan beli yang baru," ucap bu Hamdani.

"Papa kemana Ma?" Tanyanya karena biasanya Papanya yang menyambutnya.

"Papa baru saja di jemput temannya," jawab bu Hamdani.

"Udah ya Ma, Fera mau istirahat capek," ucapnya lalu menuju kamarnya.

Fera masih berusaha menghubungi teman-temannya tapi masih tidak dijawab oleh mereka, ia pun menulis pesan di aplikasi WhatsAppnya tapi tidak di baca meskipun sudah terkirim, saat ingin mengabari lewat grup WhatsApp tapi ternyata dia sudah di keluarkan kemarin. Dia sedikit heran kenapa dirinya di keluarkan, ia membuka nomor WhatsApp milik Winda dan mengirim pesan tapi tidak di jawab hanya di baca saja.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Malam pun tiba, tidak ada yang Fera lakukan selain menunggu kabar dari.teman-temannya, di samping itu ia teringat dengan ucapan Milani tapi langsung menepisnya karena tidak mungkin teman-temannya bersikap seperti itu.

"Tidak ada kerjaan dari tadi hanya menatap layar ponsel terus," ucap pak Hamdani.

"Pa, besok Fera mau masuk setengah hari ke kantor karena Fera harus bertemu dengan teman-teman," ucap Fera membujuk papanya agar diizinkan untuk bertemu dengan temannya.

"Tidak, selain kerjaan Papa tidak akan pernah mengizinkan kamu," ucap pak Hamdani.

"Pa, tidak mungkinkan selamanya Fera harus berurusan dengan pekerjaan, ada waktunya untuk libur walaupun itu cuma sebentar," ucap Fera.

"Sudahlah kamu izinkan saja Fera libur, dia juga butuh healing sejenak apa kamu mau sampai anakmu ini sakit karena kamu terus menekannya," ucap bu Hamdani.

"Tidak bisa, udah kamu istirahat besok kan harus ke kantor," ucap pak Hamdani lalu pergi.

Fera menghela nafas, apa sampai seperti itu papanya mendidiknya dengan cara keras. Dia pun masuk ke kamarnya berusaha menenangkan hatinya yang sejak tadi merasa tak enak dengan teman-temannya.

Di tempat lain Milani memikirkan apa ucapan Fera tadi di cafe, dia tidak habis pikir kenapa sepupunya itu mudah percaya mentransfer uang sebanyak itu pada temannya hanya untuk hadiah ulang tahum padahal dia tidak tau uang itu akan di buat apa, apalagi dia sempat marah karena dirinya berkata seperti tadi pada teman Fera padahal dia hanya menasehati teman-temannya.

Ditempat lain Winda sangat senang karena uang sebesar sepuluh juta itu ia gunakan untuk belanja apa saja yang dia mau.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Keesokan paginya rutinitas yang sama Fera lakukan, setelah sarapan ia langsung berangkat menuju kantor, hingga hari ini teman-temannya tidak menghubungi balik dirinya padahal kemarin ponselnya berdering.

Sesampainya di kantor ia di kagetkan dengan kehadiran Reza.

"Kamu ngapain ke sini lagi," ucap Fera.

"Kangen!" Serunya.

"Hah... kamu gila ya emang kamu kangen siapa, emang kamu punya kekasih di kantor ini," ucap Fera.

"Kenapa kamu berbicara seperti itu, emang kamu tidak suka jika nantinya saya punya kekasih di kantor ini," ucap Reza.

"Iya saya tidak suka, siapa pun karyawati yang menjadi kekasihmu di sini akan saya pecat," ucap Fera.

"Tapi kan tugas itu atas izin Papa kamu, bukannya kamu bilang tidak suka bekerja di sini," ucap Reza.

"Itu bukan urusan kamu ya, udah sana kamu pergi," ucap Fera.

"Tadi saya ke bengkel tempat mobil kamu dibetulkan semua udah beres dan saya bawa ke sini, tuh mobilnya dan ini kunci mobilnya," ucap Reza seraya menyerahkan kunci mobil pada Fera.

"Apa,kenapa kamu bisa tau," ucap Fera.

"Kemarin saya setelah pulang saya tidak sengaja melihat kamu berdiri di pinggir jalan rupanya sedang menunggu ojek, lalu saya ikuti kemana kamu pergi, ternyata malah ke bengkel," ucap Reza, Fera benar-benar tidak habis pikir kenapa lelaki di depannya ini mengikuti dirinya.

"Kamu bisa tidak gak usah ikuti saya kemanapun saya pergi! Tidak usah sok baik mau membantu saya karena saya tidak butuh bantuan dari kamu kalau perlu batalkan semua kerja sama kamu dengan Papa saya agar kamu tidak ke sini lagi," ucap Fera.

"Dasar wanita tidak tau diri," ucap Reza.

"Apa maksudmu?"

"Wanita tidak tau diri, bukannya senang di bantu dan senang karena bisnis Papa kamu banyak yang berminat untuk kerja sama dengannya, ini malah minta di batalkan dan tidak tau terimakasih untuk di bantu," ucap Reza.

"Oh jadi kamu berharap saya berterima kasih ke kamu, tidak ada gunanya karena saya tidak minta kamu membantu saya. Saya juga bukan tidak senang jika banyak perusahaan melakukan kerja sama dengan perusahaan ini tapi jika orangnya seperti kamu saya tidak suka," ucap Fera.

"Baik saya akan bicara sama Papa kamu, tapi jika sampai beliau marah itu bukan urusan saya lagi," ucap Reza.

"Saya tidak masalah jika orang yang saya bantu tidak pernah berterimakasih pada saya karena itu haknya," imbuhnya lalu pergi.

Fera menetap kesal pada lelaki itu, tanpa ia ketahui kalau ia sedari tadi diperhatikan oleh karyawannya. Fera menoleh ke arah mereka tapi mereka langsung menundukkan pandangan dan fokus dengan pekerjaan mereka.

"Mbak Fera, kenapa tadi Mbak ribut sama pak Reza padahal saya lihat tadi niat dia baik, mengantarkan mobil milik Mbak Fera supaya Mbak tidak bolak-balik ke bengkel," ucap Diana menghampiri Fera.

"Diam kamu Diana, lagian kenapa kamu tidak menyuruh dia pergi saja tadi," ucap Fera.

"Maaf Mbak, menurut pak Hamdani wajar saja jika pak Reza ke sini," ucap Diana.

"Udahlah terserah, kamu balik sana kerja," ucap Fera lalu pergi menuju ruangannya.

Episodes
1 Wanita keras kepala
2 kabur
3 Terpaksa berangkat ke kantor
4 kedatangan teman
5 Fitnah dari Winda
6 Bertemu laki-laki menyebalkan
7 sosok Reza
8 Minta maaf
9 kedatangan Milani
10 Bertemu Winda
11 kedatangan Clara
12 kemana Winda ?
13 Tidak bisa membantu
14 Semakin bikin kesal
15 perjodohan
16 Bertemu Reza
17 Alasan
18 haruskah mengalah
19 terlalu sunyi
20 Keinginan Reza
21 pertemuan
22 pertemuan keluarga
23 Dia orang baik
24 Rumah sakit
25 berdebat lagi?
26 Di antar pulang
27 Rencana Milani dan Reza
28 pergi berlibur
29 perjalanan yang indah
30 Tiba di sebuah Rumah
31 Jalan berdua
32 kapan akurnya
33 jangan ganggu
34 Ada apa dengan hati.
35 Rasa yang tersimpan
36 Saling memendam rasa
37 janji
38 Arti sebuah cinta menurut Fera
39 Bingung
40 Firasat buruk
41 Terjatuh
42 tersesat
43 Mencari keberadaan Fera
44 Di temukan
45 Sadarkan diri
46 Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47 Surat dari sosok misterius
48 Bunga dari seseorang
49 kembali
50 Mengungkapkan Rasa
51 Bab 51
52 Bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 part 65
66 part 66
67 part 67
68 part 68
69 part 69
70 part 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 Bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 86
87 Episode 87
88 Bab 88
89 bab 89
90 bab 90
91 bab 91
92 bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 bab 101
102 bab 102
103 bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Wanita keras kepala
2
kabur
3
Terpaksa berangkat ke kantor
4
kedatangan teman
5
Fitnah dari Winda
6
Bertemu laki-laki menyebalkan
7
sosok Reza
8
Minta maaf
9
kedatangan Milani
10
Bertemu Winda
11
kedatangan Clara
12
kemana Winda ?
13
Tidak bisa membantu
14
Semakin bikin kesal
15
perjodohan
16
Bertemu Reza
17
Alasan
18
haruskah mengalah
19
terlalu sunyi
20
Keinginan Reza
21
pertemuan
22
pertemuan keluarga
23
Dia orang baik
24
Rumah sakit
25
berdebat lagi?
26
Di antar pulang
27
Rencana Milani dan Reza
28
pergi berlibur
29
perjalanan yang indah
30
Tiba di sebuah Rumah
31
Jalan berdua
32
kapan akurnya
33
jangan ganggu
34
Ada apa dengan hati.
35
Rasa yang tersimpan
36
Saling memendam rasa
37
janji
38
Arti sebuah cinta menurut Fera
39
Bingung
40
Firasat buruk
41
Terjatuh
42
tersesat
43
Mencari keberadaan Fera
44
Di temukan
45
Sadarkan diri
46
Bertemu Danu dan sikap yang aneh
47
Surat dari sosok misterius
48
Bunga dari seseorang
49
kembali
50
Mengungkapkan Rasa
51
Bab 51
52
Bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
part 65
66
part 66
67
part 67
68
part 68
69
part 69
70
part 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
Bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 86
87
Episode 87
88
Bab 88
89
bab 89
90
bab 90
91
bab 91
92
bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
bab 101
102
bab 102
103
bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!