kelahiran

"Terima kasih karena telah menjamu saya duches," ujar putri thedore tersenyum.

"Tidak masalah, anda bisa datang kapan pun yang anda mau."

"Baiklah kalau begitu saya permisi undur diri," Kata nya sekali lagi sebelum hendak masuk kedalam kereta kuda.

Sela terlihat sedang merenung dengan murung mengingat saat putri thedore mengetahui tentang duke.

"Duches?" Nia menyadarkan lamunan sela.

"Disini dingin, mari kita masuk."

"Iya."

Mereka pun masuk kedalam dan menuju kamar duches. Sela duduk didepan perapian yang menyala hingga memancarkan cahaya dari api. Ia melamun menatap api itu, ia merasa jika ia tidak menikah dengan duke rayen quers mungkin duke akan menikah dengan putri thedore. Sela menghela napas berat.

"Kenapa kau menghela napas seperti itu?" Tanya duke yang tiba tiba saja muncul dibelakang sela.

"Duke!?" Ujar nya terkejut.

"Apa yang sedang kau pikirkan sampai begitu nya?"

"Tidak ada, saya hanya berpikir mungkin bayi ini akan lahir beberapa minggu lagi," jawab sela berbohong.

"Jadi kau sedang mengkhawatirkan hal itu ya."

"Tentu saja, ibu hamil akan sering merasa khawatir pada bayinya."

"Kau benar, dulu ibu juga seperti itu. Dia sangat protektif pada ku untuk hal kecil, tapi aku tahu itu adalah yang terbaik untuk ku."

"Bagaimana pun dia adalah ibu yang baik."

Sela mengangguk paham dengan ucapan duke bahwa ibu nya sangat berharga baginya. Tiba tiba perut nya terasa sakit.

"Arghh!" Jerit sela meringis kesakitan sambil memegangi perut nya yang besar.

"Sela, ada apa?" Tanya duke khawatir sambil memegangi dirinya.

"Perut ku sakit, kurasa bayi nya akan melahirkan sekarang," ucap sela mengeluarkan keringat sambil memegang erat lengan duke.

"Nia!" Pekik duke.

"Ya tuan." Nia masuk kedalam nya setelah mendengar jeritan sang duke.

"Panggil kan bidan sekarang, duches mungkin akan segera melahirkan."

"Ya tuhan! Baiklah tuan saya akan segera kembali lagi," ucap nia berlari keluar untuk memanggil bidan.

Duke menggendong sela menuju ranjang dan meletakkan tubuh sela dengan hati hati.  Namun sela terus meringis kesakitan dan perasaan khawatir tidak bisa disembunyikan duke, ia terus menggenggam erat tangan sela yang terasa dingin. Duke merasa sangat gugup menghadapi situasi ini lebih baik jika ia bertempur dimedan perang saja, pikir nya.

"Tenanglah sela, dokter nya mungkin akan datang lagi."

"Hei cepatlah!" Teriak duke pada pelayan nya hingga menggema dikastil.

"Duke, jangan berteriak seperti itu. Mereka akan takut jika mendengar nya, tidak apa-apa aku baik-baik saja." Ujar sela menenangkan duke yang kelihatan sangat khawatir.

"Duches, bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu. Aku sungguh takut melihat mu kesakitan," ucap duke membelai wajah sela dengan ekspresi khawatir pada istrinya.

Keringat dingin terus bercucuran diwajah sela dan juga tubuhnya.

"Percaya lah aku akan baik baik saja."

"Tuan, bidan nya sudah datang!" Teriak nia dari luar kamar dan bersamaan dengan seorang bidan yang masuk ke dalam kamar duches.

"Saya vana dan saya seorang bidan."

"Nyonya tolong periksa istri saya," pinta duke lalu bidan itu mendekati duke dan melihat keadaan sela yang terus menerus meringis kesakitan.

"Saya akan memulai nya, tolong tuan keluarlah dulu dan minta seorang pelayan wanita untuk membantu saya," ucap bidan itu yang menyadari bahwa duke sangat takut dan itu terlihat dari jari jemari nya yang gemetar.

"Tapi nyonya sa-"

"Kita tidak bisa menunda nya duke tolong menurut lah dulu ini demi kebaikan sang duches."

Duke pun keluar dari kamar itu menyisahkan sela dengan bidan itu.

"Nia, kau masuklah kedalam untuk membantu," pinta duke memegangi kepalanya.

"Baik tuan."

Suara jeritan sela terdengar menggema seisi kastil. Semua orang tampak cemas dan khawatir didepan kamar sang duches, mereka tak henti henti nya memanjatkan doa yang terbaik bagi sang duches dan juga anak nya.

Tiga jam berlalu kini suara sela tak terdengar lagi dari dalam kamar malahan suara bayi lah yang terdengar, duke terkejut  dan menoleh menatap pintu kamar duches.

Seorang wanita tua yang merupakan bidan tersebut keluar dari dalam kamar. Duke pun bergegas menghampiri nya.

"Apa duches baik baik saja sekarang? Apa semua nya berjalan lancar?" Tanya duke khawatir dan tangan nya tak henti hentinya gemetar.

"Semua nya baik baik saja, ibu dan anak nya selamat. Dan selamat anak anda seorang putra yang kuat."

"Syukurlah."

Semua menghela napas lega mendengar bahwa semua nya berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala apa pun.

"Tapi sepertinya duches pingsan setelah melahirkan. Mungkin ia kelelahan, dan itu wajar terjadi pada beberapa wanita yang baru melahirkan. Jangan khawatir dia akan segera siuman."

"Ah Syukurlah, apa sekarang aku boleh masuk?" Tanya duke tak sabaran.

"Iya tentu aku akan mengirimkan obat nya pada hans nanti."

"Terima kasih nyonya."

Duke pun bergegas menghampiri sela yang tergeletak diranjang yang tak sadarkan diri. Nia menyeka keringat sela dengan handuk basah, duke melihat bayinya sedang tertidur pulas disamping ibunya.

Duke mengelus perlahan wajah sang bayi mungil itu, dia sangat kecil dan mirip ibunya jika sedang tidur, batin duke.

"Nia, biar kan aku saja yang menyeka keringat nya."

"Tidak apa-apa tuan, saya bisa melakukan nya."

"Nia berikan saja, aku bisa melakukan nya pada sela. Beristirahat lah kau pasti lelah karena telah membantu proses lahiran," pinta sang duke menatap lembut pada sela yang sedang tertidur.

"Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Nian meletakkan handuk kedalam baskom berisi air diatas meja. Lalu pergi dari kamar duches.

"Sela, aku sungguh takut melihat mu kesakitan," ucap duke membelai wajah sang duches perlahan.

Duke meraih handuk didalam baskom diatas meja disamping nya, lalu memerasnya dan segera menyeka keringat sela.

"Hmm." Sela menggerakkan jemarinya dan mengerjapkan kedua matanya.

"Sela kau sudah bangun."

"Duke? Kenapa anda menangis?" Tanya sela mengusap air mata duke yang telah membasahi pipi suaminya.

"Aku sungguh takut, ketika kau menahan kesakitan. Aku tidak tahu harus melakukan apa saat itu."

"Duke, jangan menangis seperti itu," pinta sela tersenyum tipis pada duke.

"Lihat lah putra ku yang tampan ini, dia bahkan tidak menangis," ledek sang duches.

"Aku akan berhenti menangis."

Keesokan harinya putri thedore menjenguk duches setelah mendengar bahwa duches telah melahirkan. Mereka berada dikamar duches, karena sementara duches tidak diperbolehkan untuk bergerak secara berlebihan.

"Anak anda mirip dengan rayen," ucap putri thedore tersenyum menatap putra duke yang sedang digendong oleh sela.

"Iya dia mirip dengan duke."

"Ngomong ngomong saya dengar anda sedang mencari seorang pengasuh. Apa itu benar?" Tanya putri thedore penasaran.

"Iya benar, saya tidak pandai mengasuh anak. Maka nya saya meminta duke untuk mencari kan pengasuh yang ahli."

"Saya kenal seorang yang sangat ahli dibidang itu,jika anda tidak keberatan saya bisa memanggil nya untuk anda."

"Terima kasih banyak putri thedore, saya akan menantikan nya."

"Ya, saya akan segera menghubungi nya."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!