Duke membopong sela membawa nya menuju ruang kamar. Dan menutup pintu dengan rapat, ia merebahkan tubuh sela dengan hati hati.
Ia mendekat kearah leher sela dan mencium nya hingga menuju bibir nya sela. Ia melumat bibir mungil sela hingga merasakan sensasi panas yang bisa dirasakan oleh keduanya.
Keesokan harinya Sela terbangun dari tidur nya dan beringsut duduk bersandar diranjang. Ia mengamati duke yang sedang tertidur pulas di samping nya. Dan ia merasa sangat senang hingga tak sadar membelai wajah duke.
"Sela," Panggil duke dengan nada serak basah nya memanggil nama sela dengan sensual.
"Duke, ini sudah pagi."
"Biarkan lah, aku ingin bersama mu lebih lama lagi," ucap duke memeluk sela.
Tok..tok
Suara ketukan pintu terdengar, duke mengeryit kesal ketika mendengar nya dan beranjak dari tidurnya yang hanya menggunakan kain untuk menutupi tubuh bagian bawah nya. Duke membuka pintu kamar sendiri, lalu menutup nya kembali.
"Pelayan mu Sungguh menyebalkan, dia terus mengatakan akan melakukan nya sendiri padahal aku sudah bilang aku akan melakukan nya untuk mu," ujar duke jengkel sambil membawa sebaskom air basuh cuci muka untuk sela.
Sela tertawa kecil, "dia memang anak yang perhatian, jangan marah pada nya duke."
"Aku tidak marah. Ayo aku akan bantu mu mencuci muka," ujar duke berjongkok dihadapan sela.
"Kau tidak perlu melakukan nya, aku bisa sendiri."
"Jangan keras kepala, aku akan melakukan nya untuk mu jadi terima lah," ucap duke meraih handuk dan mencelupkan nya kedalam sebaskom air lalu memerasnya dan mengusap wajah sela.
"Apa kau tidak pergi ketempat pelatihan mu?" Tanya sela penasaran.
"Aku akan pergi setelah membantu mu."
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan ku duke disini ada banyak orang yang menjaga saya. Jadi tidak perlu khawatirkan saya."
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi," ujar duke lalu mencium kening sela.
"Aku akan bersiap siap dulu dan aku akan kembali ketika makan siang."
Setelah sarapan sela memutuskan untuk mengisi waktu luang nya dengan merangkai bunga di paviliun taman.
"Wah itu keliatan bagus nyonya," puji nia memandangi rangkaian bunga sela.
"Apa begitu?"
"Iya itu cantik, kita bisa memajang nya dikamar jika anda menginginkan nya."
"Kalau begitu bawa lah ini ke kamar ku," pinta sela pada nia.
"Baik nyonya."
"Selamat pagi duches quers," sapa putri thedore yang berjalan mendekati nya. Sela begitu terkejut akan kedatangan tuan putri yang tiba tiba, ia berpikir mungkin duke yang mengundang nya kesini.
"Selamat pagi putri thedore," ucap sela berdiri lalu memberi hormat.
"Apa kau sedang merangkai bunga?" Tanya putri thedore melirik bunga yang berada diatas meja.
"Iya, hanya untuk mengisi waktu luang."
"Apakah anda ingin bertemu dengan duke?" Tanya sela.
"Tidak, saya tidak ingin bertemu dengan nya. Saya kemari ingin bertemu dengan anda nyonya quers."
Sela tampak sedikit terkejut, "Kalau begitu duduk lah dulu tuan putri."
"Kapten marco beritahu pelayan untuk menghidangkan makanan dan teh untuk tuan putri," pinta sela .
"Baik nyonya."
"Saya terkejut anda datang kemari untuk menemui saya, apa ada hal yang penting hingga anda ingin bertemu dengan saya," tanya sela curiga.
"Saya hanya ingin berteman dengan anda nyonya quers, apa itu tidak boleh?"
"T-tidak bukan seperti itu, tentu saja anda bisa berteman dengan saya."
"Syukurlah kalau begitu." Putri thedore menghela napas lega.
"Ngomong ngomong dimana duke?"
"Ah? Dia sedang ada ditempat pelatihan."
"Haha.. dia tidak pernah berubah ya, dia selalu saja seperti itu," ujar putri thedore tertawa kecil.
"Iya begitu lah," balas sela tersenyum canggung.
"Frisilia?" Panggil duke menghampiri mereka.
"Rayen?" Ujar putri thedore mengalihkan pandangan nya pada duke.
"Aku terkejut kau datang kesini, ada apa?"
Duke duduk disamping sela dengan santai.
"Aku hanya ingin bertemu dengan duches quers saja, saat dipesta aku tidak sempat berbicara dengannya."
"Jadi begitu."
"Karena kau disini. Aku ingin bertanya padamu, apa kau benar-benar melenyapkan monster himerta saat akan pulang ke sini?"
"Itu benar, aku tidak mengira jika monster himerta berada dikaki gunung padahal habitat nya diatas gunung dengan suhu yang dingin."
"Wah aku juga gak menduga hal itu, aku sempat mendengar nya dari kesatria lim saat dipesta."
Di sela sela pembicaraan duke dan putri thedore, sela merasa mereka sangat dekat dan sela bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka bicara kan. Saat dipesta debut putri thedore, duke rayen menjadi pasangan debut nya dan semua mengira jika duke akan menjadi putra mahkota karena sangat serasi dengan putri thedore. Dan saat pesta debut putri thedore, sela tidak datang ikut ke pesta karena sakit tapi rumor itu terdengar ditelinga nya.
"Sela? Apa kau baik-baik saja?" Tanya duke khawatir sembari memegang pundak nya.
"Aku baik-baik saja duke," balas sela tersenyum tipis.
Putri thedore merasa jengkel dengan pandangan itu didepan matanya, ia mengerut kan gaun nya dengan erat. Tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi nya.
"Haha.. kalian pasangan yang serasi ya," puji putri thedore tersenyum.
Keduanya tampak malu mendengar perkataan itu dari putri thedore.
"Jangan malu-malu aku pikir kalian sangat cocok kok."
"Terima kasih putri thedore."
"Nyonya, makan siang telah siap," ujar hans memberi hormat.
"Ah? Sudah waktu nya makan siang, putri thedore maukah anda makan bersama kami," ajak sela pada putri thedore.
"Itu tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan mu."
"Tentu saja tidak, kami sangat senang jika kau bersedia untuk makan siang bersama kami bukan kah begitu duke?"
"Iya itu benar. Frisilia, ikut lah makan bersama kami."
"Baiklah kalau begitu."
Mereka pun melangkah menuju ruang jamuan yang telah disiapkan oleh pelayan kastil.
Sela duduk disamping duke rayen dan itu membuat darah putri thedore menjadi mendidih, rasanya ia ingin marah tapi ia tidak bisa melakukan nya.
"Rayen, makan lah ini," ucap putri thedore meletakkan daging di pinggan duke.
"Kau kan selalu menyukai makanan itu."
Sela terkejut melihat tindakan sang putri, ia merasa putri tahu segala hal tentang duke ketimbang dirinya sendiri.
"Frisilia, tidak perlu. Kau makan lah," sahut duke merasa canggung.
Ia merasa tidak enak pada sela yang sedari tadi tampak murung menatap makanan nya.
"Duches, apa anda tahu duke sama sekali tidak suka sup kentang," ujar putri thedore melirik sup kentang diatas meja. Dan sela tidak tahu akan hal itu, ia meminta hans membuat nya karena berpikir duke akan menyukai nya.
"Maafkan saya, saya tidak tahu."
"Tidak apa-apa duches."
Pandangan itu membuat nya semakin jengkel, ia terus menerus memotong daging dengan kesal ketika melihat duke dan sela sedang menunjukkan sisi romantis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments