melawan perampok

"Nyonya duches, selamat datang ditoko saya," sapa pemilik toko. Ia adalah nyonya clory yang memiliki toko pakaian yang terkenal di ibu kota. Dia terlihat ramah pada semua orang yang datang ke tokonya.

"Saya ingin mengambil pakaian saya, apa itu sudah selesai nyonya clory."

"Benar saya hampir lupa, duduk lah dulu duches saya akan mengambilnya," jawab nyonya clory lalu melangkah pergi dan meninggal kan duches duduk disofa yang telah disediakan oleh toko itu.

Tak berapa lama nyonya clory menghampiri duches dengan membawa sebuah gaun dan baju tidur bayi.

"Silakan dilihat dulu duches, saya sudah menjahitnya sesuai dengan ukuran anda duches," ujar nyonya clory memberikan gaun milik duches. Gaun yang cantik berwarna kuning dan putih serta rendah yang melapisi gaun tersebut, serta baju bayi berwarna putih.

"Ini sangat cantik dan seperti nya sesuai dengan ukuran saya, terima kasih nyonya clory."

"Sama-sama duches, saya senang bisa melayani duches."

Setelah dari toko pakaian, sela berhenti disebuah kafe di ibu kota. Ia pun memesan sebuah cake cokelat yang terkenal di kafe itu. Kafe itu sangat ramai mungkin karena kafe itu terkenal di ibu kota, untung lah sela datang tepat waktu jadi tidak mengantri lagi.

Sudah lama sela tidak keluar dari kastil, ia merasa senang karena bisa berjalan jalan di ibu kota. Pemandangan ibu kota sangat lah indah, dan terlihat beberapa toko di ibu kota.

Hari terus berjalan hingga sela tidak sadar bahwa hari sudah sangat sore. Sela pun pulang ke kastil dengan keretanya dan beberapa pelayan yang mengawal nya. Saat ditengah jalan, kereta yang dinaik sela terpaksa berhenti karena beberapa perampok mencoba menghalangi jalan didepan kereta nya.

"Berhenti!," teriak salah satu perampok yang berdiri didepan kereta duches.

"Ada apa ini?" Tanya sela menatap kapten marco yang juga berada didalam kereta itu dengan duches dan pelayan nia.

"Sepertinya ada beberapa perampok yang mencoba menghalangi kita. Aku akan melihatnya keluar, nyonya dan pelayan nia tetap lah berada didalam." Ujar kapten marco keluar dari kereta tersebut. Kelompok perampok sering sekali mencuri barang berharga dari beberapa bangsawan yang melintas. Namun sela tidak menyangka bahwa ia akan menjadi korban perampokan, ia berharap kapten marco bisa menghentikan para perampok itu.

"Serahkan barang berharga anda pada kami sekarang!" Teriak salah satu perampok sambil mengarahkan pedang ke arah leher kusir yang ia sandera. Kapten marco mengeryit kan alisnya ia berpikir bagaimana caranya agar perampok itu melepaskan kusir itu padanya.

"Tidak ada barang berharga disini, jadi lepaskan saja kusir itu padaku."

"Kau pikir kami bodoh, Serahkan saja perhiasan wanita itu pada kami," pinta perampok itu sambil menyeringai.

"Tidak akan aku biarkan kau mengambil nya," ujar kapten marco dengan marah dan menyerang perampok yang menyandera kusir itu. Perampok itu melepaskan kusir itu dan mencoba melawan kapten marco bersama kelompok perampok lainnya.

Sela yang melihat itu dari jendela terlihat begitu khawatir pada kapten marco. Bagaimana mungkin kapten marco bisa melawan sekelompok perampok itu sendirian.

"Nyonya, bagaimana ini," ucap nia ketakutan pada situasi ini.

"Tenang lah nia, kita harus percaya pada kapten marco."

Buk!

Kapten marco terjatuh ketanah dengan keras dan lengan nya terluka begitu parah. Ia tidak bisa melawan perampok itu jika lengan nya terluka bahkan tak hanya lengan nya saja, dadanya juga terlihat terluka akibat sayatan pedang.

Sela yang melihat itu tentu saja tidak bisa membiarkan nya saja. Sela pun mencoba turun dari kereta.

"Nyonya! Anda tidak boleh keluar!." Nia menahan lengan sang duches agar tidak keluar dari kereta itu. Ia takut jika duches terluka apalagi sekarang beliau sedang mengandung.

"Nia lepaskan aku."

"Tidak nyonya, saya tidak akan melepaskan anda ," tukas nia mempererat pegangan nya.

"Nia! Ini perintah!," Tegas sela pada nia. Ia tidak ingin seseorang terluka dan ingin membantu kapten marco.

"Nyonya..." nia pun melepaskan pegangan nya. Namun ia tetap ingin menjaga duches agar tidak keluar.

"Nia tetap lah disini, aku tidak ingin kau terluka karena kau orang yang sangat penting bagiku. Jadi tetap lah disini."

Nia pun menuruti perintah duches yang turun dari kereta itu meninggal kan dirinya dikareta sendiri.

" Berhenti!" Pekik sela mendekati perampok yang mencoba melukai kapten marco.

"Nyonya! Anda tidak boleh keluar dari kereta!" Teriak kapten marco tidak ingin majikannya terluka juga. Namun sela mengabaikan perkataan kapten marco.

"Apa yang kalian inginkan?."

"Serahkan perhiasan anda pada kami ," pinta perampok itu menyeringai.

Sela yang mendengar itu langsung memberikan semua perhiasan yang ia pakai. Ia tidak ingin bersikap egois dan melukai orangnya.

"Nyonya! Jangan lakukan itu," pekik kapten marco mencoba menghentikan sela.

"He diam kau!,"  Teriak perampok itu mengarahkan pedang nya pada kapten marco.

"Lepaskan semua orang saya dan saya akan memberikan perhiasan ini pada kalian," pinta sela agar perampok itu berhenti mengarahkan pedang kepada kapten marco dan kusir nya.

"Baiklah kalau begitu Serahkan dulu barang nya."

Sela pun memberikan perhiasan nya pada seorang perampok yang sepertinya ketua komplotan perampok itu. Ia pun menerima itu dengan menyeringai merasa senang bisa mendapatkan apa yang telah ia ingin kan.

Namun ia melihat ke jari manis sela dan melihat cincin permata yang seperti nya mahal jika dijual. Cincin itu adalah cincin pernikahan nya dengan duke.

"Serahkan juga cincin anda," pinta perampok itu dengan serakah.

Sela mengeryit kan alisnya, ia tidak bisa begitu saja menyerah kan cincin pernikahan nya pada perampok itu namun jika ia tidak memberikan nya perampok itu bisa melukai orangnya.

"Dasar serakah! Setelah nyonya memberikan mu semua perhiasan nya kau malah menginginkan cincin itu. Jangan berikan kepada nya nyonya! " Pekik kapten marco geram karena perilaku perampok yang serakah itu. Jika ia tidak terluka mungkin ia akan menghabisi perampok itu.

Sela terlihat bingung menatap cincin itu, itu adalah pemberian pertama duke padanya. Dan ia terus menjaganya selama ini.

"Tunggu apa lagi nyonya, Serahkan saja pada kami. "

"Benar Serahkan saja," timpal perampok lain.

'Bagaimana ini, aku tidak bisa begitu saja menyerahkan cincin ini' batin sela.

SREK!

sekelompok pemuda menggunakan baju zirah menghabisi perampok itu hingga tak berdaya dan tergeletak ditanah. Gerakan mereka sangat gesit dan begitu kuat. Dengan kuda yang mereka tunggangi mereka menghabisi perampok itu dengan cepat.

"Apa anda baik baik saja nyonya," ujar pemuda yang seperti nya ketua dari kelompok itu. Ia turun dari kuda nya menghampiri sela.

"Saya baik-baik saja, terima kasih telah menolong saya."

"Sama-sama, saya senang anda baik baik saja," tutur pemuda itu dengan tersenyum pada sela. Ia pria yang tampan dengan rambut kuning dan mata yang merah.

"Sepertinya anda dari keluarga quers ya?" Lanjut pemuda itu.

"Bagaimana anda tahu?." Jawab sela kebingungan karena pemuda itu mengenali nya.

"Itu terlihat dari lambang di kereta anda nyonya." Pria itu menunjuk lambang dikereta yang sela naiki. Sebenarnya sela tidak tahu jika ada lambang keluarga quers dikareta nya, dan itu membuat sela malu .

"Perkenalkan saya marques nuel oliver ," ucap nya memberi hormat pada sela dan tentu saja sela memberi hormat juga pada pria itu. Pria itu terlihat ramah dan baik.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!