Aniza menatap putrinya yang tak sadarkan diri dengan mata penuh air mata. Wajahnya penuh kecemasan dan ketidakpercayaan.
"Beautiful, kenapa kamu bisa terluka seperti ini? Bukankah kamu di luar negeri?" tanya Aniza dengan suara bergetar, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Thomas, yang baru saja mendekati anak tirinya, mencoba menenangkan Aniza.
"Dia pingsan!" katanya dengan nada tegas, namun penuh kekhawatiran.
Aniza dengan cepat menoleh ke arah Thomas. "Cepat bawa ke rumah sakit!" pintanya, suaranya sarat dengan kecemasan dan ketakutan.
Dua jam kemudian, di rumah sakit, Aniza dan Thomas duduk gelisah di ruang tunggu UGD. Mereka terus memandangi pintu ruang gawat darurat, berharap dokter segera keluar dengan kabar baik. Ketika akhirnya seorang dokter keluar, melepas masker dan melihat mereka, Aniza segera berdiri.
"Bagaimana dengan putriku?" tanya Aniza penuh harap dan cemas.
Dokter menghela napas sejenak sebelum menjawab. "Kondisi pasien cukup parah. Ia mengalami kekerasan seksu4l dan fisik. Selain itu, jiwanya juga terganggu. Jadi saya harap Anda bisa lebih memperhatikan kondisinya agar pasien tidak melakukan tindakan yang tidak seharusnya," katanya dengan suara tenang namun serius.
Aniza terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. "Katakan, berapa orang?" tanyanya, emosinya hampir meledak.
Dokter menatap Aniza dengan penuh simpati. "Sperma yang kami dapatkan akan diperiksa di laboratorium. Setelah hasil keluar, kita akan mengetahuinya," jawabnya.
"Apakah itu artinya, pelaku bukan hanya satu orang?" tanya Aniza, suaranya bergetar.
Dokter mengangguk pelan. "Benar. Kondisi lukanya sangat parah, mengalami kerobekan dan pendarahan. Menurut perkiraan kami, pelakunya ada lebih dari 12 orang," jawabnya.
Mendengar jawaban itu, Aniza langsung terduduk, merasa hancur dan tak berdaya. Perasaannya remuk redam melihat putrinya yang menjadi korban kekerasan.
Thomas menggenggam tangan Aniza dengan lembut namun tegas.
"Kita harus melapor polisi, agar mereka bisa menyelidiki siapa pelakunya," ujar Aniza dengan suara serak, namun penuh tekad.
Thomas mengangguk. "Kita tunggu hasilnya keluar. Setelah itu, kita baru bicarakan lagi," jawabnya dengan nada yang mencoba menenangkan.
Thomas menarik napas panjang dan mengusap wajahnya yang penuh kecemasan. Dia bergumam pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. "Andaikan kalau polisi tahu, bukankah sama saja media juga akan tahu. Lalu, bagaimana dengan nama baik keluargaku? Siapa pelakunya, bagaimana bisa Beautiful menjadi korban mereka? Apa yang terjadi sebenarnya?"
Di mansion Darson yang megah dan penuh dengan hiasan mewah, suasana malam itu tampak tenang. Darson duduk di kamarnya yang luas, sambil merokok dan meneguk minuman anggur dari gelas kristal yang elegan. Gracia, dengan wajah yang penuh pertanyaan dan kegelisahan, duduk di hadapannya.
"Leo sudah menikah dan menjalankan bisnis kuliner. Sepertinya dia tidak tahu sama sekali tentang kehadiranmu. Atau mungkin dia tidak tahu kalau ibumu sudah meninggal," ujar Darson, matanya menyipit sedikit saat menghisap rokoknya.
Gracia mendengarkan dengan seksama, pikirannya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan. "Dia sudah pergi bertahun-tahun, mana mungkin tahu. Aku juga tidak tahu harus percaya dengan kata Thomas atau tidak. Untuk memastikan, aku hanya bisa menunggu kedatangan Leo," jawabnya, suaranya terdengar tegas meski penuh kebimbangan.
Darson mengangkat alisnya sedikit, menatap Gracia dengan penuh minat. "Kalau dia adalah papa kandungmu, apa yang ingin kamu lakukan? Dan kalau dia bukan papa kandungmu, apa juga yang akan kamu lakukan?" tanyanya, suaranya tenang namun penuh dengan curiositas.
Gracia mengepalkan tangannya, wajahnya menunjukkan tekad yang kuat. "Aku hanya ingin tahu siapa papa kandungku. Andaikan paman Leo bukan, itu artinya Thomas berbohong demi melindungi dirinya. Menutupi semua kesalahannya," jawabnya dengan nada tegas.
Darson tersenyum tipis, lalu mengajukan pertanyaan yang lebih dalam. "Apa tindakanmu jika dia berbohong dan mengkhianati mamamu? Apa yang akan kamu lakukan?"
Mata Gracia berkilat dengan amarah yang terpendam. "Kalau dia berbohong dan mengkhianati mamaku, aku tidak akan diam saja. Aku akan memastikan dia mendapatkan balasan yang setimpal," jawabnya dengan penuh determinasi, suaranya mengandung janji untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
"Baiklah, kita tunggu saja. Aku rasa saat ini dia pasti sudah di pesawat," kata Darson dengan nada tenang namun tegas, sambil memandang ke arah jendela yang menghadap ke luar.
"Pesawat? Apakah menurutmu paman Leo akan ikut dengan anggotamu begitu saja?" tanyanya, nada suaranya mencerminkan ketidakpercayaan yang masih menghantuinya.
Darson tersenyum tipis, matanya bersinar dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. "Tentu saja tidak. Tapi dia tidak ada pilihan selain ikut. Jadi, jangan khawatir!" jawab Darson, suaranya terdengar meyakinkan. "Tidurlah, besok kita akan menemuinya. Tanpa membuang waktu!"
Keesokan harinya, udara pagi terasa segar. Matahari baru saja muncul di ufuk timur, memancarkan sinar lembut yang menyapu kota. Darson dan Gracia bersiap-siap, keduanya berpakaian rapi. Mereka meninggalkan rumah dengan penuh tekad.
Perjalanan menuju restoran diisi dengan keheningan yang penuh arti. Darson fokus pada jalanan, sementara Gracia sesekali melirik ke arah Darson, berusaha menenangkan pikirannya yang penuh dengan spekulasi.
Setelah mobil berhenti di depan restoran, Darson keluar terlebih dahulu, membuka pintu untuk Gracia dengan sopan. Dia mengandeng tangan Gracia dengan lembut, tetapi tegas.
Mereka melangkah masuk ke dalam restoran tersebut, yang ternyata lebih megah dari luar. Dekorasi mewah dan suasana hangat menyambut mereka. Darson dan Gracia berjalan dengan penuh keyakinan.
Sementara di salah satu meja, terlihat seorang pria beruban duduk sambil meneguk air putih. Pria itu tampak tenang, matanya sesekali memandang ke arah pintu, seakan menunggu kedatangan seseorang.
Darson dan Gracia menghampiri meja tersebut. Gracia memandang pria itu dengan penuh pengenalan dan sedikit ketegangan.
"Paman Leo!" seru Gracia, suaranya terdengar penuh kelegaan dan kegembiraan.
"Nona," sapa Leo yang menoleh ke arah Gracia. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri menghadap Gracia dan Darson, matanya berbinar melihat Gracia.
"Sudah lama tidak bertemu, Nona sudah dewasa," ucap Leo dengan senyum ramah, memperlihatkan kerutan halus di wajahnya yang menambah kesan bijaksana.
"Mari kita pesan makan dulu, setelah itu kita baru bicara lagi!" kata Darson dengan nada tegas, tapi bersahabat, sambil memberi isyarat kepada pelayan untuk mendekat.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka selesai makan, suasana di meja terasa lebih hangat dan akrab.
"Paman tidak menyangka Nyonya pergi begitu saja, sungguh menyedihkan sekali," kata Leo dengan nada sedih, matanya memandang kosong ke arah piringnya yang sudah kosong. Kesedihan tampak jelas di wajahnya, mengingat masa lalu yang penuh kenangan.
"Paman, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Gracia, suaranya terdengar serius. Dia menatap Leo dengan mata penuh harapan dan sedikit ketegangan.
"Silakan, Nona," jawab Leo, mencoba tersenyum meski hatinya terasa berat.
Gracia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Apakah Paman pernah bersama Mamaku?" tanyanya dengan suara lembut namun tegas, ingin mendapatkan jawaban yang jujur.
Keheningan sejenak menyelimuti meja mereka, seakan waktu berhenti sejenak menunggu jawaban Leo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
12 orang ?? oh astaga mungkin kah itu balasan untuk beautiful
2024-10-15
0
Bu Kus
penasaran ayo jawab biar ikut kepo🤣🤣🤣
2024-07-08
0
Isnanun
kebenaran akan terungkap lajoooot thor
2024-07-07
3