Chapter 18

Aniza menatap putrinya yang tak sadarkan diri dengan mata penuh air mata. Wajahnya penuh kecemasan dan ketidakpercayaan.

"Beautiful, kenapa kamu bisa terluka seperti ini? Bukankah kamu di luar negeri?" tanya Aniza dengan suara bergetar, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Thomas, yang baru saja mendekati anak tirinya, mencoba menenangkan Aniza.

"Dia pingsan!" katanya dengan nada tegas, namun penuh kekhawatiran.

Aniza dengan cepat menoleh ke arah Thomas. "Cepat bawa ke rumah sakit!" pintanya, suaranya sarat dengan kecemasan dan ketakutan.

Dua jam kemudian, di rumah sakit, Aniza dan Thomas duduk gelisah di ruang tunggu UGD. Mereka terus memandangi pintu ruang gawat darurat, berharap dokter segera keluar dengan kabar baik. Ketika akhirnya seorang dokter keluar, melepas masker dan melihat mereka, Aniza segera berdiri.

"Bagaimana dengan putriku?" tanya Aniza penuh harap dan cemas.

Dokter menghela napas sejenak sebelum menjawab. "Kondisi pasien cukup parah. Ia mengalami kekerasan seksu4l dan fisik. Selain itu, jiwanya juga terganggu. Jadi saya harap Anda bisa lebih memperhatikan kondisinya agar pasien tidak melakukan tindakan yang tidak seharusnya," katanya dengan suara tenang namun serius.

Aniza terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. "Katakan, berapa orang?" tanyanya, emosinya hampir meledak.

Dokter menatap Aniza dengan penuh simpati. "Sperma yang kami dapatkan akan diperiksa di laboratorium. Setelah hasil keluar, kita akan mengetahuinya," jawabnya.

"Apakah itu artinya, pelaku bukan hanya satu orang?" tanya Aniza, suaranya bergetar.

Dokter mengangguk pelan. "Benar. Kondisi lukanya sangat parah, mengalami kerobekan dan pendarahan. Menurut perkiraan kami, pelakunya ada lebih dari 12 orang," jawabnya.

Mendengar jawaban itu, Aniza langsung terduduk, merasa hancur dan tak berdaya. Perasaannya remuk redam melihat putrinya yang menjadi korban kekerasan.

Thomas menggenggam tangan Aniza dengan lembut namun tegas.

"Kita harus melapor polisi, agar mereka bisa menyelidiki siapa pelakunya," ujar Aniza dengan suara serak, namun penuh tekad.

Thomas mengangguk. "Kita tunggu hasilnya keluar. Setelah itu, kita baru bicarakan lagi," jawabnya dengan nada yang mencoba menenangkan.

Thomas menarik napas panjang dan mengusap wajahnya yang penuh kecemasan. Dia bergumam pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. "Andaikan kalau polisi tahu, bukankah sama saja media juga akan tahu. Lalu, bagaimana dengan nama baik keluargaku? Siapa pelakunya, bagaimana bisa Beautiful menjadi korban mereka? Apa yang terjadi sebenarnya?"

Di mansion Darson yang megah dan penuh dengan hiasan mewah, suasana malam itu tampak tenang. Darson duduk di kamarnya yang luas, sambil merokok dan meneguk minuman anggur dari gelas kristal yang elegan. Gracia, dengan wajah yang penuh pertanyaan dan kegelisahan, duduk di hadapannya.

"Leo sudah menikah dan menjalankan bisnis kuliner. Sepertinya dia tidak tahu sama sekali tentang kehadiranmu. Atau mungkin dia tidak tahu kalau ibumu sudah meninggal," ujar Darson, matanya menyipit sedikit saat menghisap rokoknya.

Gracia mendengarkan dengan seksama, pikirannya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan. "Dia sudah pergi bertahun-tahun, mana mungkin tahu. Aku juga tidak tahu harus percaya dengan kata Thomas atau tidak. Untuk memastikan, aku hanya bisa menunggu kedatangan Leo," jawabnya, suaranya terdengar tegas meski penuh kebimbangan.

Darson mengangkat alisnya sedikit, menatap Gracia dengan penuh minat. "Kalau dia adalah papa kandungmu, apa yang ingin kamu lakukan? Dan kalau dia bukan papa kandungmu, apa juga yang akan kamu lakukan?" tanyanya, suaranya tenang namun penuh dengan curiositas.

Gracia mengepalkan tangannya, wajahnya menunjukkan tekad yang kuat. "Aku hanya ingin tahu siapa papa kandungku. Andaikan paman Leo bukan, itu artinya Thomas berbohong demi melindungi dirinya. Menutupi semua kesalahannya," jawabnya dengan nada tegas.

Darson tersenyum tipis, lalu mengajukan pertanyaan yang lebih dalam. "Apa tindakanmu jika dia berbohong dan mengkhianati mamamu? Apa yang akan kamu lakukan?"

Mata Gracia berkilat dengan amarah yang terpendam. "Kalau dia berbohong dan mengkhianati mamaku, aku tidak akan diam saja. Aku akan memastikan dia mendapatkan balasan yang setimpal," jawabnya dengan penuh determinasi, suaranya mengandung janji untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

"Baiklah, kita tunggu saja. Aku rasa saat ini dia pasti sudah di pesawat," kata Darson dengan nada tenang namun tegas, sambil memandang ke arah jendela yang menghadap ke luar.

"Pesawat? Apakah menurutmu paman Leo akan ikut dengan anggotamu begitu saja?" tanyanya, nada suaranya mencerminkan ketidakpercayaan yang masih menghantuinya.

Darson tersenyum tipis, matanya bersinar dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. "Tentu saja tidak. Tapi dia tidak ada pilihan selain ikut. Jadi, jangan khawatir!" jawab Darson, suaranya terdengar meyakinkan. "Tidurlah, besok kita akan menemuinya. Tanpa membuang waktu!"

Keesokan harinya, udara pagi terasa segar. Matahari baru saja muncul di ufuk timur, memancarkan sinar lembut yang menyapu kota. Darson dan Gracia bersiap-siap, keduanya berpakaian rapi. Mereka meninggalkan rumah dengan penuh tekad.

Perjalanan menuju restoran diisi dengan keheningan yang penuh arti. Darson fokus pada jalanan, sementara Gracia sesekali melirik ke arah Darson, berusaha menenangkan pikirannya yang penuh dengan spekulasi.

Setelah mobil berhenti di depan restoran, Darson keluar terlebih dahulu, membuka pintu untuk Gracia dengan sopan. Dia mengandeng tangan Gracia dengan lembut, tetapi tegas.

Mereka melangkah masuk ke dalam restoran tersebut, yang ternyata lebih megah dari luar. Dekorasi mewah dan suasana hangat menyambut mereka. Darson dan Gracia berjalan dengan penuh keyakinan.

Sementara di salah satu meja, terlihat seorang pria beruban duduk sambil meneguk air putih. Pria itu tampak tenang, matanya sesekali memandang ke arah pintu, seakan menunggu kedatangan seseorang.

Darson dan Gracia menghampiri meja tersebut. Gracia memandang pria itu dengan penuh pengenalan dan sedikit ketegangan.

"Paman Leo!" seru Gracia, suaranya terdengar penuh kelegaan dan kegembiraan.

"Nona," sapa Leo yang menoleh ke arah Gracia. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri menghadap Gracia dan Darson, matanya berbinar melihat Gracia.

"Sudah lama tidak bertemu, Nona sudah dewasa," ucap Leo dengan senyum ramah, memperlihatkan kerutan halus di wajahnya yang menambah kesan bijaksana.

"Mari kita pesan makan dulu, setelah itu kita baru bicara lagi!" kata Darson dengan nada tegas, tapi bersahabat, sambil memberi isyarat kepada pelayan untuk mendekat.

Beberapa saat kemudian, setelah mereka selesai makan, suasana di meja terasa lebih hangat dan akrab.

"Paman tidak menyangka Nyonya pergi begitu saja, sungguh menyedihkan sekali," kata Leo dengan nada sedih, matanya memandang kosong ke arah piringnya yang sudah kosong. Kesedihan tampak jelas di wajahnya, mengingat masa lalu yang penuh kenangan.

"Paman, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Gracia, suaranya terdengar serius. Dia menatap Leo dengan mata penuh harapan dan sedikit ketegangan.

"Silakan, Nona," jawab Leo, mencoba tersenyum meski hatinya terasa berat.

Gracia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Apakah Paman pernah bersama Mamaku?" tanyanya dengan suara lembut namun tegas, ingin mendapatkan jawaban yang jujur.

Keheningan sejenak menyelimuti meja mereka, seakan waktu berhenti sejenak menunggu jawaban Leo.

Terpopuler

Comments

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

12 orang ?? oh astaga mungkin kah itu balasan untuk beautiful

2024-10-15

0

Bu Kus

Bu Kus

penasaran ayo jawab biar ikut kepo🤣🤣🤣

2024-07-08

0

Isnanun

Isnanun

kebenaran akan terungkap lajoooot thor

2024-07-07

3

lihat semua
Episodes
1 Memuaskanku
2 Kesucian Yang di Renggut
3 Lupa Dengan Janjimu!
4 Des*h4n Dari Kamar Kakak Gracia
5 Diusir
6 Kedatangan Darson
7 Gracia Mengakhiri Hidupnya
8 Tawaran Darson
9 Darson Membawa Gracia ke Rumahnya
10 Setiap Hari Menginginkanmu
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Menikah Besok!
15 Permintaan Gracia
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Gracia Yang Kesal
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 Chapter 100
101 Promo Novel Menikah Dengan Ceo Lumpuh
102 Promo Novel
103 Promo novel
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Memuaskanku
2
Kesucian Yang di Renggut
3
Lupa Dengan Janjimu!
4
Des*h4n Dari Kamar Kakak Gracia
5
Diusir
6
Kedatangan Darson
7
Gracia Mengakhiri Hidupnya
8
Tawaran Darson
9
Darson Membawa Gracia ke Rumahnya
10
Setiap Hari Menginginkanmu
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Menikah Besok!
15
Permintaan Gracia
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Gracia Yang Kesal
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
Chapter 100
101
Promo Novel Menikah Dengan Ceo Lumpuh
102
Promo Novel
103
Promo novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!