"Menebusnya? Apa maksud Anda, Tuan?" tanya Aniza dengan gugup, tangannya gemetar di belakang punggungnya.
"Bukankah kalian menjual putri kalian sendiri demi uang? Untuk apa berpura-pura lagi? Jawab! Berapa yang kalian minta!" titah Darson dengan nada keras dan menatap tajam pada Aniza dan Thomas, matanya menyala penuh amarah.
"Tuan, ini hanya kesalahpahaman. Mamaku tidak menjual Gracia kepada siapapun," jelas Beautiful dengan suara gemetar, berusaha menjelaskan dengan air mata yang mulai menggenang di matanya. Ia berusaha mendapatkan perhatian pria itu.
Darson mengangkat tangan, menghentikan penjelasan Beautiful. "Tidak perlu membuang waktu. Katakan sekarang atau kalau tidak, aku tidak akan ragu mengeledah rumah kalian!" kecam Darson dengan nada kesal, tatapannya penuh dengan ketidaksabaran dan kecurigaan.
Di sisi lain, Gracia merasakan kepanikan dan putus asa semakin menghimpit hatinya. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim sesuatu ke nomor kontak yang dia pilih, Tidak tahu nomor siapa yang dituju. Kemudian, dengan air mata yang mulai mengalir deras di wajahnya, Gracia mengeluarkan pisau kecil dari saku bajunya.
Dengan putus asa dan rasa sakit yang mendalam, ia mengiris pergelangan tangannya hingga darah menetes ke atas tanah.Tak lama kemudian, tubuh Gracia tumbang ke atas tanah, matanya yang berkaca-kaca menatap foto ibunya yang ada di batu nisan ibunya.
"Ma, aku akan menjumpaimu di sana. Hidupku telah dihancurkan oleh keluarga Vanessa dan pria itu. Tidak ada arti lagi untuk aku bertahan hidup dengan rasa hina," batin Gracia, air matanya bercucuran tanpa henti.
Dengan detik-detik yang terasa abadi, Gracia merasakan tubuhnya semakin lemah. Dia terbaring di sana, merasakan dinginnya tanah di bawahnya dan berharap penderitaannya segera berakhir.
Darson yang masih menunggu kepulangan Gracia, kesabarannya hampir habis. Di ruang tamu, ia terus-menerus melirik jam dinding, mengharapkan Gracia segera muncul di depan pintu.
Sementara itu, ponsel milik Aniza bergetar. Ia membuka pesan yang dikirim oleh Gracia, dan matanya langsung terbelalak kaget saat melihat rekaman putrinya melakukan hubungan intim dengan suaminya sendiri, Thomas. Emosi wanita itu langsung memuncak, tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya.
"Thomas, Beautiful, apa yang kalian lakukan di belakangku?" teriak Aniza dengan suara penuh kepedihan dan marah, tubuhnya bergetar hebat. Air mata mulai mengalir di pipinya.
Thomas yang sedang duduk di sofa, menoleh dengan terkejut. "Aniza, kenapa kau berteriak?" tanyanya dengan nada bingung.
Aniza melempar ponselnya ke arah Thomas. "Lihat rekaman ini! Kalian berdua berselingkuh di belakangku. Kalian sangat hina," bentak Aniza, sebelum menampar wajah Beautiful dan juga Thomas dengan keras.
"Plak!"
"Plak!"
Beautiful yang terkejut, mundur beberapa langkah sambil memegangi pipinya yang sakit. "Ma, siapa yang mengirimmu rekaman itu? Itu semua tidak benar," katanya dengan suara gemetar, mencoba membela diri.
"Tidak benar? Kalian melakukannya di kamarmu sendiri! Apakah masih menyangkal?" tanya Aniza dengan kesal, nadanya semakin tinggi.
Thomas mencoba mendekati Aniza, tangannya terangkat seolah ingin menenangkannya.
"Aniza, bukan seperti itu hubungan kami. Bajingan mana yang mengirim rekaman itu padamu? Apakah Gracia?" tanyanya dengan nada tegang.
"Benar! Anak itu yang mengirim rekamannya," jawab Aniza dengan suara bergetar, matanya penuh kebencian.
Thomas menggelengkan kepalanya, tidak percaya. "Kenapa kau harus percaya padanya? Itu rekaman palsu," jelas Thomas, mencoba meraih ponselnya dan menghubungi Gracia.
"Hallo, kau di mana?" teriak Thomas dengan suara penuh kemarahan.
Di seberang sana, suara Gracia terdengar lemah dan lelah. "Kenapa, kau cemas?" tanyanya dengan nada dingin.
"Kau sudah gila, kenapa mengirim video palsu?" teriak Thomas lagi, suaranya semakin keras.
Aniza yang semakin kesal, merampas ponsel itu dari tangan suaminya. "Katakan, kapan kau mengetahui hal ini?" tanya Aniza, suaranya terdengar putus asa.
"Semalam! Suamimu dan putri kesayanganmu sedang bersenang-senang. Bagaimana perasaanmu di saat suamimu menjadi kekasih gelap putrimu?" tanya Gracia dengan sengaja, suaranya penuh kepuasan.
Wajah Aniza memerah karena marah. "Kau ada di mana sekarang? Kembali sekarang juga!" bentak Aniza, nadanya penuh tuntutan.
"Aku berada di depan makam mamaku. Walau kalian menemukanku juga percuma. Karena aku akan segera menyusul mamaku. Kalian sekeluarga adalah jelmaan iblis," jawab Gracia dengan suara yang terdengar semakin lemah.
"Halo! Halo!" teriak Aniza, tapi tidak terdengar suara apapun di seberang sana. Aniza membanting ponselnya ke lantai, hatinya hancur berkeping-keping.
"Katakan di mana dia sekarang!" perintah Darson yang bangkit dari sofa dengan wajah penuh ketegangan.
"Di depan makam ibunya," jawab Aniza, suaranya serak dan penuh kepedihan.
Tanpa membuang waktu, Darson segera keluar dari rumah itu dan menuju ke makam ibu Gracia. Langkahnya cepat dan penuh determinasi, tidak peduli pada tatapan heran tetangga yang melihatnya pergi dengan tergesa-gesa.
Di dalam rumah, Aniza masih berdiri dengan tubuh yang bergetar. Matanya memerah karena marah dan kecewa. "Kenapa kau begitu tega melakukan itu padaku? Apa salahku pada kalian? Kau adalah putriku, dan bisanya kau bercinta dengan ayah tirimu," ketus Aniza, suaranya bergetar namun penuh kemarahan yang membara.
Thomas berusaha mendekati Aniza, tangannya terulur seolah ingin menenangkan, tetapi Aniza mundur, menolak kontak apapun darinya.
"Aniza, aku bukannya mengabaikanmu. Aku dan anak kita hanya bercinta, bukan saling mencintai... kami hanya saling membutuhkan," jawab Thomas, suaranya terdengar putus asa.
Aniza menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. "Aku adalah istrimu, pria brengsek. Berani sekali kau berkata seperti itu padaku," bentak Aniza, nadanya penuh kekecewaan dan kemarahan.
Beautiful berdiri terpaku, air mata mengalir di pipinya. "Ma, aku...," suaranya tercekat, tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
Ruangan itu dipenuhi keheningan yang mencekam, hanya suara napas berat dan isak tangis Aniza yang terdengar, memecah keheningan malam yang dingin.
"Tidak tahu malu! Kalian memang tidak tahu malu," bentak Aniza, suaranya menggema di seluruh ruangan, membuat Thomas dan Beautiful terdiam, terpaku dalam rasa bersalah.
Sementara itu, di tempat lain, Darson telah tiba di makam ibu Gracia. Ia keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa, melangkah cepat menghampiri gadis itu yang berbaring lemah di atas tanah. Pemandangan yang dilihatnya membuat hatinya terenyuh. Tangan Gracia berlumuran darah akibat memotong nadinya sendiri.
"Gracia!" seru Darson dengan suara parau, berlari menghampiri dan segera menggendong gadis itu dengan hati-hati. Darah yang mengalir dari pergelangan tangannya menodai pakaian Darson, tapi ia tidak peduli. Ia langsung melarikan Gracia ke rumah sakit, berjuang melawan waktu demi menyelamatkan nyawa gadis itu.
Cuaca menjelang malam menambah dramatis suasana, langit gelap seolah mencerminkan kecemasan yang dirasakan Darson.
Di rumah sakit, ia menunggu dengan cemas di luar ruang UGD, duduk tak tenang di kursi. Waktu terasa berjalan sangat lambat, setiap detik terasa seperti sebuah penantian tanpa akhir.
Tak lama kemudian, pintu ruang UGD terbuka dan seorang dokter keluar menghampiri Darson. Wajah dokter itu serius, tapi tetap menunjukkan profesionalisme yang tenang.
"Tuan, apakah Anda anggota keluarga pasien?" tanya dokter dengan nada resmi.
Darson menatap dokter itu dengan tatapan dingin dan penuh beban. "Anggota keluarganya sudah mati semua. Katakan saja padaku, bagaimana dengan gadis itu!" jawabnya, suaranya dingin namun terdengar tegas.
Dokter menghela napas sebelum menjawab. "Pasien mengalami depresi berat sehingga memilih mengakhiri hidupnya. Tuan, pasien butuh ketenangan dan ruang untuk memulihkan mentalnya. Untung saja luka di tangannya tidak melukai nadinya. Kalau tidak, nyawanya akan terancam," jawab dokter dengan suara penuh simpati.
"Gracia Vanessa, aku tidak menyangka kalau dirimu akan memilih jalan ini," batin Darson
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Sariahbb Sataihh
sok sedih sok hamcur ....son?sok bngt tertekan.
2025-01-18
0
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
hikzzz jgn menyerah Grace ...
2024-10-15
0
Nurlela Aritonang
ayah biadab , tapi bagus jg biar ibu nya tau diri siapa sebenarnya yg pelacur.
2024-09-05
0