Chapter 16

"Baiklah, Tapi kau harus tetap patuh denganku!" jawab Darson dengan nada tegas, matanya menyipit penuh peringatan.

Gracia menatapnya tajam, sambil mengelus, "Salah! Wanita hamil tidak bisa patuh pada siapapun, kecuali kamu yang harus patuh padaku. Seingatku, wanita hamil itu harus dijaga baik-baik dan tidak bisa membuatnya sedih. Kalau dia sedih maka anak dalam kandungannya akan ikut sedih. Jadi kamu harus selalu membuatku bahagia," kata Gracia

Darson menghela napas panjang, merasa kesabaran yang dimilikinya semakin menipis. "Apakah tidak berlebihan? Aku membayarmu untuk memberi aku seorang anak," ujar Darson, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan dan sedikit kemarahan.

Gracia memandang Darson dengan tatapan dingin. "Kamu jangan salah. Memang kamu membayarku, tapi aku harus mengandung selama sembilan bulan dan belum lagi harus melewati proses persalinan yang menyakitkan. Kamu menggunakan uang dan aku mempertaruhkan nyawaku. Apakah kamu mengira kalau uangmu mampu membeli nyawaku?" tanyanya, nada suaranya yang tidak mau kalah.

Darson terdiam sejenak, terkejut dengan keberanian Gracia. "Sejak kapan kamu berubah menjadi begitu keras kepala dan suka melawan?" tanya Darson, suaranya melembut dengan nada curiga. "Apakah kamu tidak takut kalau aku tidak akan membantumu mencari Leo?"

Mata Gracia berkilat penuh tekad. "Takut! Tapi kalau kamu tidak ingin membantu, aku akan mencarinya sendiri. Saat aku tidak ada di rumah, kamu jangan salahkan aku!" jawab Gracia yang langsung masuk ke dalam mobilnya dengan gerakan cepat dan tegas, menutup pintu dengan suara yang keras.

Darson berdiri mematung, merasakan kemarahan dan frustasi bercampur aduk dalam dirinya. "Wanita ini benar-benar menyusahkan," gumamnya pelan, sebelum menghela napas.

Gracia kembali ke rumah dengan langkah lesu, sementara Darson menuju perusahaannya dengan pikiran yang penuh.

Saat baru melangkah masuk, dia terkejut melihat pakaiannya berserakan di ruang tamu. Zanella, dengan wajah penuh kemarahan, sibuk membuang pakaian simpanan suaminya.

"Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku? Dan kenapa menyentuh semua pakaianku?" tanya Gracia sambil menahan emosi, suaranya bergetar.

Zanella berbalik, menatap Gracia dengan mata yang menyala-nyala. "Jangan lupa ini adalah rumahku, dan aku istri sahnya," jawab Zanella dengan tatapan tajam. "Ambil semua pakaianmu sebelum aku buang ke luar rumah!"

Gracia menggertakkan giginya, pikirannya berputar cepat. "Pria sialan, pasti lupa mengunci pintu kamar," batinnya kesal.

"Apakah karena suami kita tidak ada, kau sengaja mengusirku?" tanya Gracia dengan nada menantang, mencoba menenangkan diri.

"Suami kita? Sepertinya kau salah besar, dia adalah suamiku bukan suamimu," jawab Zanella dengan nada sinis.

Gracia tersenyum tipis, lalu dengan tenang mengambil buku nikah dari tasnya dan menunjukkannya kepada Zanella. "Baca baik-baik, kami baru tandatangan buku ini, kami adalah suami istri sah dari undang-undang. Terima atau tidak, ini adalah kenyataan," katanya dengan senyum penuh kemenangan.

"Wanita tidak tahu malu," ketus Zanella, wajahnya memerah karena marah.

"Salahkan saja suamimu, dia yang tergila-gila padaku. Bukan aku yang merayunya. Dia juga menikahiku. Jadi sekarang aku bukan lagi simpanannya, melainkan istrinya!" jawab Gracia dengan nada tegas.

Zanella mengepalkan tangannya, suaranya bergetar saat berbicara. "Tidak usah bangga menjadi istrinya. Suatu saat kau akan menjadi seperti aku. Ditinggalkan dan disakiti!"

Gracia mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Tidak masalah, asalkan uangnya sudah masuk ke rekeningku!" jawabnya tanpa ragu.

"Bawa pergi semua pakaianmu ini! Kalau tidak akan kubuang!" titah Zanella dengan suara yang semakin tinggi, menahan emosi yang hampir meledak.

Gracia mendengus dan melirik ke arah pintu. "Aku sedang malas bergerak. Kita tunggu saja kepulangan suami kita. Biar dia yang mengutipnya. Lagi pula semua pakaian yang kau keluarkan adalah pemberian darinya. Aku tidak sabar melihat reaksinya," jawab Gracia dengan nada tenang, namun penuh dengan provokasi.

Zanella semakin kesal, wajahnya merah padam, dan matanya berkaca-kaca menahan amarah. Sementara itu, Gracia tetap tenang, menikmati setiap detik ketegangan yang terjadi di antara mereka.

"Kau memang wanita yang tidak ada harga diri," ketus Zanella dengan nada penuh kebencian.

Gracia tersenyum sinis, tatapannya penuh dengan penghinaan. "Bagaimana denganmu? Bukankah kamu juga memberikan tubuhmu kepada pria lain? Kamu lebih tidak tahu malu dariku. Sementara suamimu membayarku dengan nilai yang tinggi. Itu artinya aku sangat berharga, bahkan nilaiku lebih tinggi darimu," sindir Gracia sambil mengejek, suaranya penuh dengan keyakinan yang dingin.

Zanella merasakan amarahnya semakin memuncak. "Bawa pakaian ini dan bakar semuanya!" perintah Zanella kepada pelayan rumah tangga yang berdiri canggung di sudut ruangan.

"Lakukan saja, aku tidak masalah sama sekali. Aku masih bisa meminta suami kita membeli yang baru," kata Gracia dengan nada santai, mengangkat bahu seolah tidak peduli.

Zanella menggelengkan kepala, mencoba menahan emosinya. "Darson bukan tipe suami yang murah hati. Dia tidak akan memberimu apa yang kamu inginkan," jawab Zanella dengan nada penuh kepastian.

Gracia tertawa kecil, suaranya terdengar meremehkan. "Benarkah? Kita lihat saja nanti!" jawab Gracia dengan yakin. "Kalau dia menolak permintaanku, maka... dia hanya bisa tidur di luar!"

Zanella menatap Gracia dengan tatapan penuh rasa penasaran. "Kau ingin membuat Darson tunduk padamu?" tanyanya dengan nada tak percaya.

Gracia mendekati Zanella, suaranya berubah menjadi lebih rendah namun penuh dengan tekad. "Dia tidak akan tunduk pada siapapun, tapi dia begitu tertarik padaku. Kalau dia tidak membuatku bahagia, aku tidak akan sudi melayaninya. Aku bukannya tidak tahu keinginan suami kita. Seharusnya kamu paham apa yang dia inginkan," jawab Gracia, matanya menyala dengan semangat.

Gracia mengeluarkan handphonenya dengan gerakan cepat dan menghubungi Darson yang sedang berada di kantornya. Dia menunggu beberapa detik sebelum mendengar suara suaminya di ujung sana.

"Hallo, ada apa?" tanya Darson dengan nada sedikit bingung.

Gracia menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara, suaranya terdengar manis namun penuh dengan maksud tertentu. "Semua pakaianku dibuang oleh istri pertamamu. Aku ingin memintamu membelikan yang baru, bukan hanya pakaian, tapi juga tas dan sepatu beserta perhiasan. Apapun yang dia miliki, aku juga mau!" kata Gracia, menekankan setiap kata dengan tegas.

Darson yang di seberang sana tersenyum mendengar permintaan istri yang baru dia nikahi itu, membayangkan wajah Gracia yang penuh tekad. "Apakah hanya itu yang kamu minta?" tanyanya, suaranya terdengar tenang.

"Iya, kalau kamu mau memberiku lebih dari permintaanku, juga tidak apa-apa," jawab Gracia dengan nada menggoda.

Darson tertawa kecil. "Kalian pasti sedang bertengkar lagi," ucapnya, sudah terbiasa dengan perseteruan antara kedua istrinya.

"Nasib sebagai istri kedua, pasti selalu ditindas oleh istri pertamamu," jawab Gracia, suaranya terdengar sedikit merajuk namun penuh dengan determinasi.

"Bukankah kau bisa mengatasinya, kenapa begitu cepat sudah mengalah?" tanya Darson, mencoba memprovokasi Gracia.

"Siapa yang mengalah? Aku tidak akan diam saja," jawab Gracia dengan tegas sebelum memutuskan panggilan, matanya berkilat penuh semangat perlawanan.

Setelah menutup telepon, Gracia menatap Zanella dengan tatapan penuh tantangan. "Pakaian ini aku tidak mau lagi, bakar saja dan setelah suami kita pulang, kamu harus terima konsekuensinya," ucap Gracia, suaranya dingin dan tajam.

Zanella memandang Gracia dengan kebencian yang membara di matanya. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya mengepalkan tangannya lebih kuat.

Sementara itu, di kantornya, Darson memanggil asistennya dengan nada tegas, "Siapkan semua permintaan Gracia!"

"Siap, Bos," jawab asisten dengan cepat, mencatat setiap permintaan yang diberikan.

Darson menghela napas, menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Ulah apa lagi yang dia rencanakan," gumamnya, mengingat tingkah laku Gracia yang selalu penuh kejutan. Dengan gerakan lambat, Darson mengeluarkan dompetnya dari saku jas. Di dalamnya, terselip sebuah foto kecil. Ia menatap foto itu dengan perasaan campur aduk. Foto itu menampilkan dirinya dan Gracia, entah sejak kapan foto itu diambil.

Terpopuler

Comments

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

turutin aja lah si Darsono itu Grace setelah melahirkan kmu Langs pergi dari hidup nya

2024-10-15

0

Bu Kus

Bu Kus

pasti lama lama Darso bucin Garcia

2024-07-07

0

wiemay

wiemay

cinta masa kecil

2024-07-06

0

lihat semua
Episodes
1 Memuaskanku
2 Kesucian Yang di Renggut
3 Lupa Dengan Janjimu!
4 Des*h4n Dari Kamar Kakak Gracia
5 Diusir
6 Kedatangan Darson
7 Gracia Mengakhiri Hidupnya
8 Tawaran Darson
9 Darson Membawa Gracia ke Rumahnya
10 Setiap Hari Menginginkanmu
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Menikah Besok!
15 Permintaan Gracia
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Gracia Yang Kesal
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 Chapter 100
101 Promo Novel Menikah Dengan Ceo Lumpuh
102 Promo Novel
103 Promo novel
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Memuaskanku
2
Kesucian Yang di Renggut
3
Lupa Dengan Janjimu!
4
Des*h4n Dari Kamar Kakak Gracia
5
Diusir
6
Kedatangan Darson
7
Gracia Mengakhiri Hidupnya
8
Tawaran Darson
9
Darson Membawa Gracia ke Rumahnya
10
Setiap Hari Menginginkanmu
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Menikah Besok!
15
Permintaan Gracia
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Gracia Yang Kesal
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
Chapter 100
101
Promo Novel Menikah Dengan Ceo Lumpuh
102
Promo Novel
103
Promo novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!