Gracia menampar wajah pria yang melecehkan dirinya dengan keras, suaranya menggema di seluruh ruangan kamar itu, "Plak!"
Darson menarik lengan pria itu dengan kasar sehingga pria tersebut jatuh dari kasur. Tubuhnya menghantam lantai dengan keras.
"Kau siapa? Berani sekali kau masuk ke kamarku? Apa kau sudah bosan hidup?" tanya Darson dengan nada mengancam, kemudian melayangkan pukulan ke wajah pria itu, "Bruk!"
Pria itu menjerit kesakitan, "Aahh!"
Zanella, yang menyadari bahwa rencananya telah gagal, segera beranjak dari sana dengan wajah penuh kekecewaan.
Beberapa saat kemudian, Darson duduk di sofa dengan angkuhnya, ditemani oleh beberapa anggotanya yang berdiri di belakang pria yang telah melecehkan Gracia.
"Kau adalah penyapu halaman. Siapa yang memberimu izin masuk ke kamarku?" tanya Darson dengan tatapan tajam.
"Ma-maaf, Tuan. Ini salahku. Aku hanya salah masuk kamar karena kebanyakan minum," jawab pria itu dengan suara gemetar, berusaha menghindari tatapan Darson.
"Siapa namamu dan sudah berapa lama kau di sini?" tanya Darson dengan nada dingin.
"Dua tahun, Tuan. Namaku Rico," jawabnya dengan kepala tertunduk. "Maaf, aku tidak sengaja menyentuh nona Gracia."
"Tidak sengaja? Tapi kau telah melakukannya. Apakah ada yang menyuruhmu melakukannya?" tanya Darson dengan nada curiga.
Rico terdiam sejenak, teringat ancaman yang diterimanya dari Zanella."Kalau kau berani mengkhianatiku, maka keluargamu yang akan menjadi korbannya. Aku mendengar istrimu baru melahirkan. Anak pertamamu baru 3 tahun. Kalau sampai mereka terjadi sesuatu, jangan salahkan aku. Suamiku adalah gangster. Aku juga putri gangster," kecam Zanella dalam ingatannya.
"Tidak ada! Aku melakukan kesalahan, maafkan aku, Tuan. Aku mohon maafkan aku!" ucap Rico sambil memohon, suaranya penuh kepanikan.
"Memaafkan bukan sifatku sebagai gangster. Kau masih bisa hidup, tapi kedua tanganmu yang telah menyentuhnya harus dijadikan sebagai ganti. Selain itu, kau harus segera tinggalkan tempat ini!" jawab Darson dengan tegas, tanpa sedikitpun belas kasihan.
"Tuan, tolong jangan mengambil tanganku, aku mohon!" tangis Rico dengan air mata mengalir deras. "Aku masih harus bekerja dan membiayai keluargaku. Aku mohon, Tuan!" pintanya sambil menangis penuh putus asa.
"Aku adalah seorang gangster yang tidak punya perasaan. Ketika barangku disentuh, maka aku tidak akan diam saja," ujar Darson dingin, menatap Rico tanpa sedikitpun empati.
"Bawa dia keluar! dan potong sepuluh jarinya!" perintah Darson dengan suara yang menggema di seluruh ruangan, membuat Rico semakin merintih ketakutan.
"Tuan, tolong maafkan aku! Aku akan pergi dan tidak akan muncul di sini lagi. Aku mohon padamu!" teriak Rico dengan suara penuh kepanikan.
Darson menatapnya dengan dingin. "Kau hanya ada dua pilihan, kehilangan jarimu atau katakan yang sebenarnya!" kecamnya, suaranya tajam seperti pisau.
Rico gemetar ketakutan, pikirannya dipenuhi oleh bayangan keluarganya yang berada dalam bahaya karena ancaman Zanella. "A-aku...," ucap Rico terbata-bata.
Dia berlutut, air mata mengalir di wajahnya. Dia membenturkan kepalanya ke lantai berulang kali, memohon ampun. "Tuan, maafkan aku. Aku mohon! Istriku dan dua anakku sangat membutuhkan aku!" suaranya terdengar penuh kepedihan.
Darson tetap tidak tergoyahkan. "Seret keluar dan lakukan sesuai perintahku!" katanya sambil bangkit dari sofa dengan gerakan tegas.
"Tuan, Tidak....aku mohon...," teriak Rico, suaranya putus asa saat dua pria tangguh menarik lengannya, menyeretnya keluar dari ruangan.
Di lantai dua, Gracia berdiri mengamati situasi. Matanya tertuju pada Zanella yang sedang mengamati dari kejauhan dengan tatapan mengancam.
Rico memandang Zanella beberapa kali dengan ketakutan, sambil terus memohon pada Darson.
"Jangan membuang waktuku lagi, seret keluar!" perintah Darson dengan nada memerintah yang tidak bisa dibantah.
"Siap, Bos," jawab salah satu pria itu sambil menarik lengan Rico lebih keras.
Di lantai yang sama, Gracia melangkah cepat menghampiri Zanella dengan kemarahan yang membara di matanya.
"Keterlaluan!" bentaknya sebelum melayangkan tamparan keras ke wajah Zanella, "Plak!"
Suara tamparan itu bergema, terdengar jelas oleh Darson yang berada di lantai bawah.
Zanella memegang pipinya yang memerah, matanya menyala dengan kemarahan. "Kenapa kau menamparku!" bentak Zanella dengan marah, suaranya gemetar antara kemarahan dan ketakutan.
"Tidak usah berpura-pura! Semua ini adalah rencana darimu!" jawab Gracia dengan tegas, matanya menatap tajam Zanella.
Darson, yang mendengar pertengkaran itu, memandang ke arah dua wanita tersebut. Ia memberi isyarat kepada anggotanya untuk menghentikan langkah mereka yang ingin menarik Rico keluar dari sana.
"Apa kau sudah gila? Sengaja mencari masalah denganku," kata Zanella dengan nada ketus, mencoba mempertahankan sikap dinginnya.
Gracia mendekat, matanya penuh kemarahan. "Seorang pekerja tidak akan berani masuk ke kamar majikannya. Mereka bahkan tidak pernah menginjakkan kaki ke dalam rumah karena tugas mereka hanya di luar. Bukankah ini adalah peraturan untuk pekerja di kediaman ini? Kalau bukan karena ada yang memberi perintah, mana mungkin dia tahu di mana posisi kamarku," ujar Gracia dengan nada penuh keyakinan.
Darson menatap tajam ke arah Zanella, langkahnya mantap menuju anak tangga. Ia menghampiri istrinya dengan pandangan penuh kecurigaan.
"Tidak benar! Semua ini hanya pendapatmu. Aku tahu kau sengaja ingin mengusirku dari sini. Tidak semudah itu," jawab Zanella, berusaha menyangkal dengan keras.
Namun, Gracia tidak memberi kesempatan. "Plak!" Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Zanella, membuat wanita itu terhuyung ke belakang.
"Kau berani sekali menamparku," teriak Zanella, suaranya penuh kemarahan dan ketidakpercayaan.
"Kenapa aku harus takut? Kau bahkan lebih keji dari siapapun," balas Gracia tanpa ragu.
Darson, yang sudah diliputi emosi, langsung mencengkeram leher Zanella dengan kasar. Wanita itu meronta-ronta kesakitan, sulit untuk bicara.
"Wanita jalang, apakah kau mengira aku tidak akan membunuhmu?" ujar Darson dengan nada mengancam, cengkeramannya semakin kuat.
Zanella berusaha berbicara, suaranya terputus-putus, "Le-lepaskan! Kalau aku ma...ti...kau juga tidak akan...hidup."
Darson tertawa dingin, "Karena ayahmu juga gangster? Aku juga ingin tahu, apakah dia akan membelamu setelah tahu apa yang kau lakukan selama ini." Pandangannya penuh dengan kebencian, tangannya masih mencengkeram erat leher Zanella.
"Aku... adalah putri satu-satunya. Dia akan... membunuhmu kalau... aku ma...ti," kata Zanella dengan suara terputus-putus, matanya berusaha menatap Darson dengan penuh ketakutan
Darson mencibir, "Kau tidak perlu menggunakan ayahmu untuk mengancamku," katanya dengan nada meremehkan sebelum melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Zanella terjatuh ke lantai.
Wanita itu terkapar dan masih kesakitan pada lehernya, napasnya tersengal-sengal. Zanella berusaha mengumpulkan kekuatannya, menatap Darson dengan mata penuh luka.
"Darson, aku adalah istrimu. Mana mungkin aku melakukan hal ini. Aku juga masih sayang dengan nyawaku. Dia sengaja memprovokasi kita," kata Zanella, berusaha membela diri dengan suara yang bergetar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
tuh Zanela gak punya otak mlh bikin rencana yang menjijikan gagal pula😅😅😅
2024-10-15
0
Retno Palupi
kasian sekali jebakan gagal
2024-08-22
1
Bu Kus
ingin punya lebih uang untuk kebutuhan anak istri si perkerja sampe mau lakuin apa yang nyoyah suruh kasihan semoga aja bisa di ampunin
2024-07-07
3