Tanpa menunggu lama, Darson melepaskan celana Gracia sehingga tanpa sehelai benang. Ia melebarkan kedua kaki wanita itu dan melakukan penyatuan.
Gracia yang ingin bangkit, namun pria itu menekan pinggangnya dan langsung memasukkan pusakanya. Ia mengoyangkan pinggulnya dan menusuk sedalam-dalamnya.
"Hentikan!" pinta Gracia yang takut dirinya akan mengandung anak pria itu.
Darson tidak peduli dan hanya fokus pada aksinya yang bergerak maju mundur di atas tubuh wanita itu.
"Aku tidak mau," tangis Gracia tersendat-sendat, tubuhnya menegang saat merasakan pusaka Darson yang semakin menusuk dalam.
Darson menatapnya dengan dingin, matanya berkilat-kilat penuh n*fsu. "Apa kau mengira kau berhak menolakku," suaranya terdengar serak, penuh kekuasaan. Ia semakin mempercepat gerakannya, setiap dorongan semakin kuat dan dalam. Ia merasakan pusakanya terjepit dalam goa sempit itu, kepuasan yang aneh menyelimutinya.
Gracia hanya bisa pasrah, air matanya mengalir di pipi. Ia menarik spreinya dengan cemas, menggigit bibirnya untuk menahan rasa perih dan ketidakberdayaan. Setiap gerakan Darson membuatnya merasa semakin terperangkap.
Dengan kasar, Darson meremas gundukan dada Gracia, cengkeramannya kuat dan posesif. Desahan nafasnya semakin berat, hasr*tnya semakin menggila.
"Tolong hentikan!" pinta Gracia yang berusaha memohon, air mata mengalir di pipinya.
"Kalau malam ini kamu masih tidak hamil, aku akan melakukannya setiap malam," kata Darson dengan nada dingin, bergerak maju mundur di atas tubuh wanita itu tanpa belas kasihan.
Gracia merasa kewalahan dengan aksi pria itu yang semakin gila. Tubuhnya lelah dan rasa sakit semakin mendalam, namun Darson tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Darson sedang menikmati tubuh wanita itu dan mencapai puncak berulang kali, seolah-olah penderitaan Gracia hanya menjadi bahan hiburan baginya.
Jam dinding menunjukkan pukul 02.00.Gracia masih belum bisa memejamkan matanya. Ia merasa hidupnya dikendalikan oleh pria itu secara tidak adil.
"Bagaimana caranya aku bisa pergi dari sini? Aku tidak ingin melahirkan anak untuknya. Aku belum menikah dan tidak mau melakukannya. Hubungan menjijikkan ini hanya sementara saja. Suatu saat aku akan dibuang juga oleh pria seperti dia," gumam Gracia sambil menatap Darson yang terlelap di sampingnya.
Gracia bangkit perlahan dari ranjang, berusaha agar gerakannya tidak membangunkan Darson. Ia merasa tubuhnya berat dan sakit.
Tanpa balutan apapun di tubuhnya, ia mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai dan melangkah menuju kamar mandi.
Setelah tiba di kamar mandi, Gracia menyalakan air shower dan membiarkan air dingin menyirami tubuhnya yang gemetar. Ia merasakan campuran antara keputusasaan dan kemarahan menguasai dirinya. Hidupnya yang tidak pernah berjalan lancar dan bahagia membuatnya ingin menangis.
"Kenapa malam-malam begini kamu mandi? Apakah tidak takut masuk angin?" tanya Darson yang tiba-tiba muncul di pintu kamar mandi.
"Keluar! Aku ingin mandi, jangan menggangguku," bentak Gracia yang mencoba menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
"Untuk apa kau tutupi lagi? Aku sudah melihat semuanya dan sudah hafal," kata Darson sambil mengunci pintu kamar mandi tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Aku sedang mandi, cepat keluar!" ujar Gracia yang cemas melihat pria itu yang juga tanpa pakaian.
"Bukankah aku menginginkan anak darimu? Jadi kau harus memberikan tubuhmu padaku," jawab Darson sambil mendekati Gracia dengan langkah perlahan.
Gracia mundur hingga punggungnya menempel di dinding kamar mandi. Ia mencoba mencari jalan keluar, tetapi ruang itu tidak memberinya banyak pilihan. Darson menangkup wajah Gracia dengan kedua tangannya dan mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu.
"Sudah kukatakan, setelah bosan aku akan melepaskanmu pergi. Aku akan menikahimu besok. Kau akan melahirkan anak dengan status istriku," bisik Darson sambil mengangkat kaki kanan Gracia dan menahannya di pinggangnya sendiri.
Tanpa menunggu jawaban, Darson memasukkan dirinya ke dalam Gracia dengan paksa. Gerakan Darson semakin kasar, sementara Gracia hanya bisa memejamkan matanya dan merasakan pusaka pria itu yang menghujam tubuhnya. Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan air shower yang terus mengalir.
Gracia ingin melawan, tetapi tubuhnya tidak berdaya. Darson menikmati setiap gerakan yang dia lakukan, menyudutkan Gracia lebih dalam pada perasaan putus asa dan ketidakberdayaan.
Meskipun ia merasa jijik dan marah, tubuhnya bereaksi dengan sensasi yang bertentangan. Darson merasakan perubahan kecil pada Gracia dan semakin intensif dengan gerakannya. Gracia merasakan sensasi kenikmatan yang bercampur dengan rasa ketakutan. Ia menolak perasaan itu dengan sekuat tenaga, tetapi tubuhnya tidak bisa berbohong.
Setiap sentuhan dan gerakan dari Darson mengirimkan gelombang sensasi melalui dirinya. Gracia mengalihkan pandangannya, mencoba mengabaikan segala yang terjadi, tetapi suara napas Darson yang berat dan hisapan kecil di lehernya membuatnya sulit untuk fokus. Ia tahu bahwa perlawanan tidak ada gunanya saat ini.
Keesokan harinya.
Darson dan Gracia mendatangi kantor sipil untuk menandatangani buku pernikahan mereka. Di siang itu, pasangan tersebut resmi menjadi suami istri di mata hukum.
Raut wajah Gracia terlihat tidak bahagia sama sekali. Matanya kosong, seolah memandang masa depan yang suram dan penuh ketidakpastian. Dia tahu, pernikahan ini bukanlah akhir dari penderitaannya, melainkan babak baru yang tak kalah sulit.
Namun, dia juga tahu bahwa ini adalah langkah yang harus diambil untuk melindungi dirinya dan mungkin masa depan anak yang mungkin akan dikandungnya.
"Sekarang kita adalah suami istri, Kamu tidak ada alasan untuk menolakku," kata Darson dengan nada yang tegas dan otoritatif, seolah menegaskan kekuasaannya atas Gracia.
Gracia menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab. Dia harus kuat dan berdiri teguh pada keputusannya. "Baiklah, kalau aku hamil aku ada permintaan," jawab Gracia, suaranya penuh dengan ketegasan yang jarang terdengar dari bibirnya yang biasanya lembut.
Darson mengerutkan keningnya, sedikit bingung dengan permintaan mendadak itu. "Apa permintaanmu?" tanyanya, meskipun dalam hatinya ada rasa was-was.
"Pindah keluar dari rumah itu, aku tidak ingin tinggal bersama dengan istrimu! Aku ingin merawat diriku dengan baik. dan tentu saja ibu hamil tidak bisa diganggu," Gracia menatap langsung ke mata Darson, menyampaikan pesannya dengan sangat jelas. "Kalau kamu menolak maka kita bercerai saja sekarang!" jawab Gracia dengan tegas, menekankan kata 'sekarang' untuk menunjukkan keseriusannya.
"Baru menikah saja kau sudah berani mendesakku," kata Darson.
"Yang ingin memiliki anak adalah kamu, bukan aku!" jawab Gracia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
kasian bgt Grace .. dasar Darsono egois 😭😭😭
2024-10-15
0
Bundanya Aulia
ok Thor😊👍
2024-09-16
0
Retno Palupi
ya semoga hidup mu lebih tenang
2024-08-22
0