Empat buah roda berputar, melaju, membelah jalan setapak kecil di tengah hutan. Roda-roda itu adalah milik sebuah kereta kuda yang ditumpangi oleh seorang gadis muda. Suasana di sekitar begitu indah, hutan yang dipenuhi pepohonan menjulang tinggi, berjajar rapi di kedua sisi jalan yang mereka lalui. Suara gemerisik dedaunan yang diterpa angin terdengar merdu, menyatu dengan kicauan burung yang saling bersahutan.
"Kita sudah sampai, Nona Heksa," ujar kusir kereta, dari penampilannya ia adalah ras goblin. Makhluk kerdil berkulit hijau, dengan suara serak yang khas.
Heksa, gadis itu, turun perlahan dari kereta, menuruni anak tangga kecil yang tersedia di sisi kereta kuda. Tubuhnya bergetar, wajahnya meluap merah penuh emosi. "Apapun yang terjadi di sini, jangan ceritakan ini kepada Nyx."
"Tapi, Nona Heksa," balas goblin itu dengan cemas, matanya yang besar menunjukkan kekhawatirannya. "Yang Mulia Nyx tetap akan mengetahui semua yang kita lakukan—"
Sebelum goblin itu sempat menyelesaikan kalimatnya, dentuman keras menggema, membelah pepohonan hingga menghancurkan sebagian tebing di kejauhan. Heksa mengarahkan ujung tongkatnya ke arah tebing, melepaskan sihir hijau yang mematikan. Sihir itu melesat seperti kilat, menimbulkan ledakan besar yang membuat burung-burung beterbangan ketakutan.
"Mereka benar-benar telah mempermalukan ku!" teriak Heksa, meremas tongkat sihirnya dengan kedua tangan. Amarah membakar di matanya yang berwarna hijau terang. "Bukankah Program 999 seharusnya telah gagal? Lalu kenapa statusnya masih melekat pada Pecundang itu?"
"Lalu Guardian Angels... semua ini benar-benar membuatku muak!"
Goblin yang bekerja sebagai kusir, melompat turun dari kereta, ia membungkuk hormat. "Nona Heksa, maaf mengganggu," ujar makhluk hijau itu, menyempatkan dirinya untuk melirik sejenak ke arah bekas amukan sihir si gadis gila. "Yang Mulia Nyx telah menunggu Nona sejak tadi, lebih baik Nona Heksa segera memasuki portal itu untuk menemuinya."
"Aku sudah tahu, dasar tuyul!" Heksa menggeram, menatap goblin itu dengan tatapan tajam.
Heksa melangkah ke depan, menuju sebuah gua yang terletak tidak jauh dari jalan setapak. Suara gemericik air dari sungai kecil yang mengalir di dekatnya menambah kesan damai, namun ketegangan di wajah Heksa tidak bisa disembunyikan. Sebuah portal berdiri di depan gua, berputar perlahan dengan cahaya biru gelap yang memancar dari dalamnya.
Dengan wajah kesal, Heksa berjalan ke arah portal. Langkahnya tegas, namun sedikit gemetar. Saat ia mendekat, hawa dingin dari portal mulai terasa, menyentuh kulitnya dan membuat rambut di tengkuknya berdiri.
Tanpa ragu, Heksa memasuki portal itu. Seperti ditelan oleh kegelapan, tubuhnya menghilang dari pandangan, menyisakan hanya sedikit jejak sihir hijau yang perlahan memudar di udara.
...[Selamat datang di Eisentor]...
Dari terpaan angin pepohonan rindang yang sejuk, berubah menjadi belaian angin yang begitu menusuk. Heksa berpindah ke sebuah lokasi yang tidak terjamah player maupun NPC di Horizon. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai zona tidak teridentifikasi.
Eisentor sendiri adalah nama kota terpencil yang berada ditempat ini, tempat yang hanya menyuguhkan salju di sejauh mata memandang. Oleh karena itu, Eisentor dibangun tepat dibawah gadis itu berdiri.
Dibawah hembusan angin bersalju, Sebuah pintu misterius berdiri didepan Heksa, tidak jauh, hanya sekitar 3 meter dari tempat dia berdiri. Heksa menelan ludah, menyiapkan mental sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu yang tampak begitu sederhana.
"Heksa! Akhirnya kau pulang juga," seru seorang pria kekar dengan dua tanduk iblis dikepalanya. Dia menyambut gadis itu dengan riang, namun tersenyum sinis.
Heksa menanggapi dengan wajah datar, berjalan masuk ke dalam ruangan yang gelap dan luas. Ruangan itu seperti sebuah tempat rapat, diisi dengan sebuah meja panjang lengkap dengan kursi-kursinya. Dinding batu yang dingin memantulkan cahaya redup dari beberapa lilin yang terletak di sepanjang dinding.
"Aku pulang." Heksa membungkuk, mengarah pada seorang wanita yang duduk dipaling ujung meja.
"Mana sopan santunmu, Heksa?" ucap seorang wanita bermata ular yang sedang duduk di dekatnya. "Bukankah lebih baik kau meminta maaf terlebih dahulu?" Lidah panjangnya terjulur keluar, di antara kedua taring panjangnya, membuat desis yang membuat bulu kuduk meremang.
"Maafkan a—"
"Jelaskan padaku siapa mereka," potong wanita di ujung meja. Ia terlihat duduk tegap di kursinya dengan kedua tangan di atas meja. Kondisi yang gelap tidak memperlihatkan sosok di baliknya, hanya siluet yang diselimuti bayangan pekat.
Heksa terbelalak, menatap lurus wanita dikejauhan dengan wajah pucat."Faran, adalah pewaris dari Program999 yang tersisa. Sedangkan Guardian An—"
"Tunggu sampai disitu dulu," potong wanita itu, lagi. "Faran... menarik. Jadi Program999 memang belum sepenuhnya hancur."
"Aku sudah melihatnya bertarung dan dia hanyalah sampah biasa," lanjutnya dengan nada dingin. "Namun aku penasaran kenapa statusnya masih berada di sana."
"Itu karena bug memang hanya dapat menghancurkan suatu sistem tidak lebih dari 99%," timpal seorang pria berjubah dengan kedua kaki diatas meja.
"Bukankah itu sama saja Program 999 sudah sepenuhnya lumpuh? Mungkin itu hanya status kosong yang tersisa dari serangan bug," balas wanita bermata ular. Matanya yang berkilat, menyorot langsung ke arah pria berjubah itu, seakan menantang.
Di tengah keheningan, aroma teh muncul memenuhi ruangan. Suara air yang keluar dari teko untuk mengisi sebuah cangkir terdengar begitu jelas. Semua orang diam, menunggu wanita di ujung sana menyiapkan tehnya. Suara gesekan logam halus dari sendok yang diaduk di dalam cangkir menambah kesan tenang namun mencekam.
"Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," kata wanita itu setelah menyesap teh. "Program999, bisa jadi masih tersisa di dalam bocah itu dan itu akan merepotkan."
"Lalu apa yang ingin kau lakukan, Nyx?" Mata pria berjubah itu berkilat saat bertanya kepada wanita diujung sana.
"Yang akan kulakukan?" Nyx tertawa sejenak, tawa yang begitu dingin, seakan mampu membekukan sekumpulan player dimeja itu. "Tentu saja kita harus menghabisi bocah itu sebelum keadaan semakin parah."
"Oh iya," lanjut wanita bernama Nyx dengan santai. "Habisi juga ketiga pengawalnya. Aku sudah mengerti dari mana mereka berasal, jadi tidak perlu membahas para NPC itu."
"Lalu bagaimana dengan Heksa? Bukankah dia telah mengotori nama baik kita?" ujar pria bertanduk sambil merangkul Heksa dari belakang. Senyumannya samasekali tidak mewakili perilakunya, seperti dirinya memiliki dendam pribadi terhadap gadis itu.
Nyx hanya menopang wajahnya dengan tangan, wajahnya terlihat begitu malas saat berfikir. "Baiklah, Heksa akan mendapat hukuman dari ku, nanti."
"Yess!" seru pria bertanduk, begitu riang.
Nyx tersenyum kearah belasan pengikutnya. Matanya menyala merah dibalik kegelapan. "Aku sudah menyiapkan apa saja yang akan kita lakukan selanjutnya."
"Kehancuran Horizon hanya tinggal menunggu waktu, bersamaan dengan bangkrutnya LH.Corp sebagai hidangan utamanya."
...[Bersambung]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Kerta Wijaya
🤟
2024-07-07
1
Author2074
Waduh, terlaku sadis, tapi boleh juga /Applaud/
2024-06-23
0
Cassandra🌙
Awalnya aku kira Nyx bakal pecahin kepala tuh anak kaya di film" 🙄😅
2024-06-23
1