Khuasar mengira Faran telah mati, setelah dia menginjaknya lebih dari tiga kali. Cekungan besar terbentuk, disertai retakan yang menjalar hingga ke dinding gua, Faran benar-benar telah dihancurkan olehnya.
Merasa puas, Sang Naga kini mengalihkan perhatiannya pada gadis kecil yang masih berdiri dengan ketakutan, mencoba merapal mantra es untuk terakhir kalinya. Akan tetapi semuanya terlambat, Mata Khuasar sudah menyala dengan kebencian saat ia mengangkat salah satu kakinya, bersiap untuk menghancurkan mangsa berikutnya.
Bagai hujan tanpa angin, sebuah keajaiban terjadi. Dari bawah bayangan kaki naga yang besar, Faran bangkit. Tubuhnya dipenuhi luka, darah mengalir dari berbagai goresan di tubuhnya. Sedangkan zirahnya sudah tidak dapat dikenali, potongan-potongan logam menggantung lepas dari tubuhnya, memperlihatkan daging yang bersimbah darah.
Khuasar menatapnya tidak percaya, sedangkan Faran dengan santai mendekati makhluk besar didepannya. "Hei, makhluk brengsek! Aku belum selesai denganmu." Suaranya lemah, namun secara tidak langsung berhasil membuat Khuasar mundur sejengkal.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa kau tidak mati?!" Bentak Sang Naga yang mulai panik.
Khuasar menggeram dan menyemburkan api ke arah Faran, berharap menghabisinya sekali lagi. Namun, api tersebut seolah tidak berarti bagi Faran, pemuda itu tetap berdiri dan tak terbakar sedikitpun.
Seketika kedua bola mata Khuasar seketika mengecil, bergerak tidak karuan melihat sosok yang ada di depannya. "K-kau... ?"
Tanpa basa-basi, Faran berlari secepat kilat, meraih pedangnya yang tergeletak di tanah. Membuat satu gerakan yang hampir tak terlihat, dia melompat dan menancapkan pedangnya ke leher Khuasar, tepat di bagian yang sama dimana dia sebelumnya berhasil membuat luka.
Pedang itu menembus lebih dalam kali ini, membelah kulit keras beserta tulangnya dengan mudah. Faran tidak berhenti disana. Dengan kecepatan luar biasa, dengan teriakan yang sangat dahsyat, dia menarik pedangnya sepanjang tubuh Khuasar, membelahnya menjadi dua hingga menyebabkan sebagian gua hancur.
Raungan terakhir Khuasar terdengar menggema di seluruh gua sebelum tubuhnya jatuh terkapar, terbelah dua.
Puing-puing bebatuan gua berterbangan dimana-mana, dentuman keras tercipta dibalik tebalnya asap dari butiran debu yang membumbung tinggi, memberikan jalan bagi sinar matahari untuk menerangi gua.
Dibalik kepulan debu, Faran berdiri di atas reruntuhan, terengah-engah namun dengan senyum kemenangan di wajahnya. "Program 999?" ucapnya penasaran, tubuhnya masih bergetar, matanya terbelalak menatap kedua telapak tangannya. "Apakah ini bagian dari event perburuan Khuasar? Kekuatan ini luar biasa besar."
...[Selamat, Tuan Faran. Temui aku di Teralia besok, ini tentang Program 999 yang baru saja aku berikan dan jangan berpikir untuk lari dariku]...
"Apa-apaan?!"
"Siapa kau sebenarnya, apa maksudmu memberikan kekuatan semacam ini kepada ku?!" Kebingungan melanda Faran.
Tentu dia mengerti, bagaimana pesan misterius itu tertulis, sangat berbeda dengan tulisan dari sistem yang biasa muncul di panelnya. "Itu bukan lah sistem, apakah yang barusan adalah pesan langsung dari pengembang?"
Namun sekali lagi, Faran tidak mengambil pusing hal itu, yang penting tugas hari ini telah selesai dan berhasil. Dia menyimpan kembali pedangnya, berpaling ke belakang untuk melihat bagaimana dampak serangan yang baru saja dia lancarkan.
"Luar biasa, bukankah ini seperti sebuah cheat?" ujarnya sambil menatap terangnya sinar matahari yang masuk.
...[Hadiah 10.000 Zon Credits telah diterima]...
"H-h-hadiahnya, sudah terkirim?"
"Memangnya boleh secepat ini?"
"Sial dada ku sesak." Tidak terasa, air mata seketika membanjiri wajahnya. "Melyn, berkat doa mu, hari ini kita bisa makan enak."
Namun kegembiraannya terhenti, ketika dia mendengar isakan kecil tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Ternyata gadis itu masih berdiri disana, ketakutan setengah mati setelah melihat apa yang baru saja terjadi. Mata birunya yang besar menatap Faran dengan campuran rasa kagum dan takut.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Faran sambil berjalan mendekatinya. "Siapa namamu?"
Gadis itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya berbisik, "Nayana... namaku Nayana."
Faran tersenyum padanya, berlutut agar sejajar dengan matanya. "Nayana, terima kasih telah menyelamatkanku. Tanpa kau, aku sudah pasti mati. Sekarang, kita harus keluar dari sini."
Dengan tangan yang masih gemetar, Nayana mengangguk, menyambut uluran tangan dari pemuda didepannya.
...[VR Horizon : Kebangkitan Pecundang]...
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di dalam ruangan pribadi CEO Half-Life Corporation (HL Corp), suasana tegang terasa begitu kental.
Ruangan itu luas, dengan dinding berlapis panel kayu mahoni, lampu gantung kristal yang berkilau di langit-langit, dan jendela besar yang langsung memberikan pemandangan Kota Shanghai di malam hari. Di satu sisi ruangan, terdapat sebuah meja kayu besar dengan sebuah papan nama bertuliskan Zhang Wei, sedangkan di kedua sisi mejanya terdapat dua kursi kulit berwarna hitam yang tidak kalah mewah.
Dua pria sedang berbincang serius, suasana panas terjadi setelah perusahaan mereka sedang berada di ujung tanduk.
"Ini gila, Irwan. Program 999? Kau benar-benar ingin kita mengambil risiko sebesar itu?" tanya Zhang Wei dengan nada skeptis. "Mau berapa kali aku harus berdebat mengenai hal ini denganmu?"
Sedangkan lawan bicaranya, Irwan Rahantyo, Chief Game Designer asal Indonesia menarik napasnya dalam-dalam. "Tuan Muda Zhang, ini satu-satunya cara untuk menghentikan Nyx. Kau tahu betapa berbahayanya dia jika kita membiarkannya terus berkeliaran di dalam sistem. Kerugian yang kita alami sejauh ini sudah cukup untuk membuat kita bangkrut dalam waktu dekat."
Zhang Wei berhenti mengetuk meja, tatapannya berubah menjadi lebih serius. "Buktikan padaku bahwa Nyx benar-benar menjadi ancaman sebesar itu. Semua ini bisa saja hanya ketakutanmu yang berlebihan."
Dengan gerakan pasti, Irwan mengeluarkan tablet dari tasnya lalu meletakkannya di atas meja. Dia menekan layar, mengarahkannya pada serangkaian laporan beserta grafik yang memperlihatkan kerusakan yang telah disebabkan oleh Nyx. Sedangkan Zhang Wei memperhatikan dengan seksama, matanya menyipit saat melihat angka-angka rumit yang terus bergerak di layar.
"Nyx telah menyusup ke dalam sistem kita, mengacaukan algoritma utama dan menyebabkan kerugian finansial yang signifikan. Lihat ini," Irwan menunjuk pada sebuah grafik yang menunjukkan lonjakan biaya operasional dan penurunan drastis dalam keuntungan. "Setiap hari dia di luar kendali, perusahaan ini semakin merugi."
"Mungkin dia tidak melakukan hal ekstrim seperti meretas sistem utama kita, namun melainkan dengan cara menghancurkan situs-situs penting di dalam VR Horizon. Tentu kita tidak dapat menyaingi kekuatannya Tuan Muda Zhang, Nyx bahkan telah membantai dan merekrut para top player di game kita," lanjut pria itu.
Mendengar penjelasan panjang itu, Zhang Wei hanya menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ini menjadi lebih menyebalkan karena pada kenyataannya, melakukan pembaruan sistem Half-Life Vive ke versi terbaru akan memakan waktu hingga berbulan-bulan lamannya."
Suara klakson mobil tepat jauh dibawah mereka sampai terdengar jelas, bukan masalah karena mereka merokok di dalam ruangan dan terpaksa untuk membuka jendela, melainkan karena situasi disana yang mendadak hening.
Zhang Wei berdiri dari kursinya, kepalanya penat, ia berjalan menuju jendela dan menatap keluar. Pemandangan kota yang megah tidak mampu menenangkan pikirannya yang gelisah. "Irwan," ujarnya mencoba untuk tenang. "Kau paham betapa besarnya risiko yang kita hadapi jika program ini gagal? Ini bisa menghancurkan perusahaan."
Irwan mengangguk, mengikuti Zhang Wei dengan matanya. "Aku tahu, Tuan Muda Zhang. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Jika kita tidak bertindak sekarang, Nyx akan menghancurkan kita dari dalam. Program 999 adalah harapan terakhir kita. Aku telah mengujinya secara ekstensif dan yakin bahwa ini akan berhasil."
"Buat aku percaya bahwa ini bukan hanya mimpi yang akan menghancurkan kita lebih cepat daripada Nyx." Zhang Wei berbalik, menatap Irwan dengan intensitas yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. "Lalu apa yang akan kita lakukan dengan Program 999 ini?"
Setelah menyesap secangkir kopi hangat, Irwan membereskan barang-barangnya ke dalam tas, lalu berdiri tegap menghadap Zhang Wei. "Tuan Muda Zhang, kita akan memberikan Program 999 kepada sepuluh player sekaligus, dan semua player yang terpilih akan berkumpul di Teralia untuk membahas hal ini."
...[Bersambung]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Kerta Wijaya
🤟
2024-07-07
1
Fendi Kurnia Anggara
up up
2024-06-15
1