Bab 5

Suara sepatu kuda terdengar keras menapaki jalanan berbatu yang mengantarkan mereka berdua ke pusat Kota Teralia.

"Wah, rasanya belum ada satu Minggu terakhir kali aku mengunjungi tempat ini, tapi entah kenapa Teralia sekarang terlihat jauh berkembang dari sebelumnya."

Faran yang sejak perjalan telah berjuang mati-matian untuk tetap menjaga jarak agar tidak bersentuhan dengan Aqua didepannya, sekarang terlihat mirip seperti mayat hidup, dia tidak membalas ungkapan kagum dari teman barunya itu.

Semakin mereka mendekati gerbang utama kota, suasana disana semakin terasa begitu ramai. "Apakah ini benar-benar sebuah game, Aqua?" tanya Faran terkagum melihat gerbang utama Teralia yang begitu megah.

"Bagian dalamnya akan jauh lebih menarik dari ini," balas Aqua dengan garis lengkung dibibirnya. "Kita berhenti disini, Faran. Kuda maupun tunggangan lainnya tidak boleh memasuki kota."

Lega rasanya dapat turun dari kuda itu. Faran memutar pinggulnya dan mengulurkan kedua tangannya keatas hingga berbunyi suara krek yang cukup keras. Sedangkan Aqua sedang menghampiri seorang pria yang bertugas menjaga tempat penitipan tunggangan. Suara tempat itu sekilas terdengar seperti kebun binatang, walaupun kita tidak dapat melihat isinya karena dinding batu yang tinggi melingkupi tempat penitipan itu.

Ketika Faran dan Aqua melangkah melewati gerbang besar yang menjulang tinggi, suasana kota Teralia menyambut mereka dengan keramaian dan keindahan yang memukau. Dinding batu besar yang mengelilingi kota memberikan rasa aman, sedangkan arsitektur kastil yang menjulang di setiap sudut kota menambah nuansa megah yang klasik.

"Selamat datang di Teralia,” kata Aqua dengan senyum tipis. “Ini adalah pusat dari segala aktivitas para player. Tempat ini bisa menjadi rumah kedua jika kau pandai bergaul dan mencari peluang.”

"Tapi aku tidak pandai bergaul, dan apa pula yang kau maksud dengan mencari peluang?" balas Faran cepat.

Namun, dengan semangat Aqua menarik lengan Faran dan membawa pemuda itu berlari bersamanya menyusuri kota. "Biar aku tunjukkan padamu, satu persatu."

Faran memandang sekeliling dengan mata berbinar. Jalanan berbatu yang dilapisi lumut hijau, toko-toko seperti bar dan restoran dengan papan nama kayu yang menggantung, serta para NPC yang berinteraksi dengan player menciptakan suasana hidup yang nyata. Player dari berbagai ras dan kelas berjalan hilir mudik, beberapa dengan senjata besar seperti kapak bermata dua, yang lain dengan staf sihir berkilauan. Suara tawar-menawar, dentingan logam dari pandai besi, dan tawa riang dari orang-orang mabuk didalam bar bercampur jadi satu.

Cukup jauh Aqua membawa pemuda itu berlari di jalanan Kota Teralia, akhirnya tempat tujuannya telah berdiri didepan mata.

Tanpa mengetuk pintu, Aqua masuk kedalam toko itu, diikuti oleh Faran yang terus mengedarkan pandangannya ke sekitar seperti seorang pencuri.

"Selamat datang di toko senjata terbaik di Teralia! Silahkan katakan apa yang sedang kalian cari disini." Sambutan ramah dari pria botak berjenggot tebal itu menyadarkan Faran tentang alasan Aqua membawanya ke tempat ini.

"Semuanya terlihat keren dan berkilau," ujar Faran ketika melihat senjata dan zirah yang di pajang di dinding toko.

“Jangan terlalu terburu-buru menghabiskan Zon Credits-mu di sini,” Aqua memperingatkan. “Banyak godaan, tapi kau harus bijak mengelola sumber daya.”

Peringatan Aqua tertuju pada seorang pemula yang sedang menggenggam sebuah item pedang bernama Manta X Sword yang berharga senilai 5000 Zon Credits. Pemula sinting itu tidak mungkin sanggup membelinya, walaupun dia tidak makan apapun selama 3 bulan penuh.

"Maafkan aku," jawab Faran setelah dia hampir saja menjatuhkan pedang itu.

"Pak, apakah ada senjata yang cocok untuk seorang pemula?"

"Apakah yang Nona maksud untuk teman laki-laki mu itu?" jawab si penjual botak.

"Benar, Pak." Aqua tersenyum kearah Faran yang berdiri dibelakangnya, lalu meletakkan kedua tangannya diatas meja si botak. "Berikan kami pilihan senjata yang cocok untuknya, maksimal seharga 30 Zon."

Si botak malah tertawa keras, mengagetkan pemula yang sedari tadi melirik kesana sini karena gatal ingin mencoba setiap item yang tersedia. "Baiklah, lihatlah di panel kalian! Karena dia telah ditetapkan sebagai Swordman, maka aku berikan berbagai pilihan pedang kelas D dengan harga 15-30 Zon Credits."

"Aqua, apa bapak itu baru saja memanggilku Swordman?"

Aqua menatap Faran sesaat, sebelum menepuk helm besi di kepalanya. "Huh, sepertinya aku lupa menjelaskanmu tentang role atau job saat kamu baru saja bermain game ini."

"Bukankah, seharusnya kita yang menentukan sendiri ingin menjadi apa?!" kata Faran merasa tidak terima dengan job yang baru saja dia dapatkan. "Game ini unik juga ternyata, padahal aku ingin menjadi penyihir," hampir nangis.

"Sudahlah, pilih saja pedang mana yang ingin kau beli, Faran. Lagipula kau juga tetap bisa mengganti job setelah levelmu mencapai level seratus."

Pasti akan memakan waktu sangat lama, menyadari levelnya saat ini baru berada di level 3, sedangkan level tertinggi di game adalah level seratus. "Untuk ke level 4 saja ternyata memerlukan banyak XP," batin si pemula.

...[Faran]...

...[Level 3]...

...[Item]...

...[Zirah Besi - Tidak berkelas] [Sedang dipakai]...

...[Helm Besi - Tidak berkelas] [Tidak dipakai]...

...[Pedang Biasa - Tidak berkelas] [Sedang dipakai]...

Membuka panel didepan matanya benar-benar membuat hatinya sedih sekaligus bersemangat. Tentu saja level yang rendah dan item yang busuk bapuk berkarat membuat dirinya pesimis untuk dapat menjadi Warlord seperti yang sejak dulu ia impikan. Namun disisi lain, kehadiran Aqua yang secara kebetulan bertemu dengannya benar-benar sangat membantu dirinya agar dapat berkembang menjadi lebih kuat. Untuk itu, pilihan terbaik baginya adalah untuk menjadi kuat dengan cara yang logis.

"Coba kita lihat, apa yang ditawarkan disini," gumam Faran ketika membuka panel penjualan yang telah disediakan oleh penjual botak.

...[Item]...

...[Pedang Biasa - Kelas D] [15 Zon Credits]...

...[Pedang Perunggu - Kelas D] [20 Zon Credits]...

...[Pedang Perunggu II - Kelas D] [22 Zon Credits]...

...[Pedang Perak - Kelas D] [26 Zon Credits]...

...[Pedang Perak II - Kelas D] [30 Zon Credits]...

"Astaga, kenapa aku malah makin bingung," mengacak-acak rambutnya seperti orgil. "Semua pedang ini terlihat sama, hanya berbeda warna di gagangnya saja."

"Pak, apakah kita dapat melihat status dari pedang-pedang ini?" tanya Faran.

"Sayangnya tidak bisa, kawan ku," jawab si botak dengan menggaruk ubun-ubun kepalanya yang tidak gatal. "Kau bisa melihatnya dengan item atau kekuatan khusus."

"Pilihlah yang menurutmu paling bagus, Faran," timpal Aqua yang sejak tadi juga sedang sibuk melihat-lihat item yang dijual.

"Baiklah, aku pilih yang ini saja."

Setelah selesai membayar dan melihat senyuman lebar super ramah dari bapak penjual, mereka akhirnya keluar. Dengan menarik nafas dalam-dalam, Faran melihat senjata baru miliknya dengan begitu antusias. Dipegang dengan lembut setiap detail dari pedang barunya yang terbungkus selongsong cokelat berbahan kulit. "Tolong bantu aku menjadi Warlord, wahai pedang yang tangguh."

"Faran."

"Ah iya?!" balas Faran kaget, berpikir jika Aqua akan mengiranya menjadi gila hanya karena melihatnya berbicara pada sebuah pedang kelas D didalam game.

"Kau sudah siap bertempur sekarang, mau bergabung dengan guild ku?"

Pertanyaan yang membuat senyuman dibibir Faran seketika memudar.

...[Bersambung]...

Terpopuler

Comments

kwon dae

kwon dae

yah, ngebosenin, dikit' cewek aja lu pemula woy, ga pantes

2024-10-01

0

Author2074

Author2074

Benar juga, makasih sarannya

2024-07-17

0

Mr. Wilhelm

Mr. Wilhelm

Jangan pakai kata 'kita' menurutku, jadi kayak PoV 1.

2024-07-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!