"Breaking news!"
"Horizon terselamatkan!"
"Sebuah party muncul dan mulai memukul mundur mantan top player peringkat ke 15 VR Horizon sebelumnya, Heksa."
"Namun pertanyaanya adalah, dari mana para malaikat ini muncul, apakah mereka NPC atau player? Kita akan mencari tahu lebih lanjut."
"NPC. Apa kalian tidak menyadarinya? Status mereka tertulis jelas disana," ujar Faran ketika melihat berita viral itu melalui panelnya.
Orang-orang disekitarnya masih belum berhenti bersorak, memberi dukungan. Sedangkan disisi lain, Faran merasa begitu hampa. Namun dirinya juga tidak mengharapkan apapun karena pada kenyataannya, dia juga hanya berlarian kesana-kemari setelah pedangnya hancur berkeping-keping. Itu cukup membuat dirinya malu saat mengingatnya.
"Setidaknya masalahnya telah selesai," kata pemuda itu, tersenyum lega. Faran duduk kelelahan, melihat bagaimana musuh mereka perlahan mundur.
Guardian Angels benar-benar kuat, mereka terus menyerang dengan koordinasi yang begitu rapi. Walaupun tidak ada satu diantara mereka yang berteriak, bahkan berbicara, setiap serangan mereka tidak dapat ditepis oleh Heksa dan pengikutnya.
"Kalian akan membayar ini!" pekik Heksa, melancarkan sihir balasan kearah mereka bertiga namun tidak berhasil.
Mr.Stitches tewas, Khaias kembali berkumpul dengannya, namun kehilangan lengan kirinya, sedangkan Cerber terus bersembunyi dibelakang Heksa, ketakutan, walaupun kepala yanng tadi terpenggal telah pulih.
"Ingatlah kalian semua! Aku, Heksa! Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pemimpin kami, Nyx. Aku harap kalian mengingat itu baik-baik, player tolol! VR Horizon akan musnah dan jangan harap kalian bisa menghentikan kami," lanjut gadis itu sebelum menghilang tersedot sebuah bayangan hitam yang ternyata adalah sebuah portal.
Melihat keadaan kembali normal, bahkan setelah barisan zombie dan kerangka yang jumlahnya ribuan seketika lenyap menjadi abu, orang-orang disana mulai berlarian keluar rumah maupun tempat persembunyian mereka.
Mereka melakukan itu hanya untuk sekedar mengucapkan terimakasih serta memuji ketiga pahlawan itu secara langsung, bahkan tak sedikit diantara para player mengajak mereka untuk ber-selfie.
Sungguh malam yang kelam bagi para player yang gugur dalam pertempuran ini, namun usaha mereka tidaklah sia-sia.
...[Terimakasih telah berpartisipasi di dalam event ini, hadiah Anda akan segera terkirim]...
...[Total hadiah Anda adalah 2 juta rupiah]...
"Event? Ini sebuah event?" Faran mulai bertanya-tanya tentang pesan sistem yang barusaja muncul, setidaknya kata '2 juta rupiah' berhasil membangkitkan semangatnya.
...[Event melindungi Horizon]...
"Bagaimana aku tidak menyadari ada hal seperti ini." Tersenyum lebar. "Mana mungkin ratusan player hadir secara cuma-cuma, bukan?"
"Huh, Jika tahu akan begini, aku seharusnya asal maju saja dan mati, aku yakin mereka akan memberikanku kompensasi lebih," lanjutnya, kini lebih ke tersenyum licik.
"Baiklah, tugasku disini telah selesai, sekarang waktunya untuk keluar dan membeli nasi goreng."
Namun saat dirinya bangkit dari posisi duduk, orang-orang disekitar serentak menatap dirinya dengan rahang tergantung, suasananya juga hening.
"A-ada apa?" Pertanyaannya akhirnya terjawab setelah kedua matanya menangkap bagaimana ketiga pahlawan itu berlutut kepadanya. "Seriusan?"
"Nama saya Hamon."
"Saya Mildred."
"Saya Oda."
Melihat mereka memperkenalkan diri satu persatu sambil berlutut, Faran hanya bisa nyengir. Dia berpikir bahwa ketiga pahlawan itu sinting, disisi lain, ia juga berpikir jika ketiga pahlawan itu telah kehilangan akal sehat mereka.
"Tunggu... kalian pasti salah orang." Faran berusaha meyakinkan kedua orang itu, sampai-sampai dirinya ikut berlutut. "Aku masih pemula, mana mungkin—"
"Tidak perlu sungkan, Tuan Faran," ujar Hamon yang berada ditengah dan diposisi paling depan. "Kami memang telah diciptakan untuk memastikan keselamatan Anda di VR Horizon."
"Itu benar, Tuan Faran," lanjut Mildred, satu-satunya wanita dalam tim. "Katakan apapun yang kau inginkan, pasti akan kami lakukan selama tujuannya untuk melindungi Horizon."
"Percayakan semua masalah kepada kami, Tuan Faran," timpal Oda.
"Jadi mereka bersungguh-sungguh? Lalu kenapa harus aku? Apakah karena aku adalah salah satu penerima Program999?" segundang pertanyaan seketika muncul dibenak Faran, membuatnya semakin tidak dapat berpikir jernih.
"Apapun?"
"Benar, Tuan Faran," balas mereka serentak, membuat Faran makin merasa gugup. Apalagi orang-orang disekitarnya terus menatapnya dalam keheningan.
"B-baiklah, kalau begitu, anu... bawa aku pergi dari tempat ini."
Tidak perlu lama, setelah Hamon berdiri dan membuka gulungan teleportasi. Sebuah lingkaran bercahaya emas muncul dibawah mereka, berputar dengan simbol aneh disertai aksara kuno, hingga mereka berempat menghilang tanpa sisa.
Namun beberapa player yang tersisa masih mematung disana. Bertanya-tanya tentang siapa Faran sebenarnya. Mereka hanya mengetahui bahwa Faran hanyalah seorang pemula yang sejak tadi sibuk berguling-guling dikejar anjing. Namun secara mengejutkan ia menjadi 'majikan' Guardian Angels.
"Apakah pemula itu top player?" ucap salah satu player, nadanya begitu datar dan tatapannya lurus kedepan.
"Bukan," jawab Tetua Sigurd, tidak kalah melotot dengan pria disebelahnya.
"Orang kaya?" tanya pria yang sama.
Tetua Sigurd menggaruk jenggot panjangnya yang tidak gatal, dia masih melotot. "Tidak mungkin, semua atributnya masih di level dasar, hanya pedangnya saja, itu pun di kelas D, dan sudah hancur."
"Lalu?"
"Jangan tanyakan kepadaku, aku juga masih bingung."
"Yasudah, lantas kenapa kita semua masih berdiri disini?"
Tetua berpikir sejenak sebelum menjawab. "Aku hanya... ,"
"sedikit iri,"
"sedikit."
...[VR Horizon : Kebangkitan Pecundang]...
Lingkaran menyilaukan muncul di bagian lain Teralia.
"Bagus, kalian telah membawaku ke rumah."
"Bukan masalah, Tuan," balas Hamon meletakkan tangannya di dada, bentuk hormat.
"Masuklah, maaf jika rumahku terlaku sempit."
Rumah Faran terbuat dari kayu. Rumah sederhana yang terbagi menjadi dua ruangan, satu ruangan luas berisi perlengkapan dapur, meja makan dan sebuah sofa yang menghadap ke perapian, dan satu ruangan lainnya yang jauh lebih kecil, digunakan sebagai kamar tidur.
Ini hanya game, Faran tahu itu. Itulah kenapa memiliki rumah mewah dengan perabotan yang bagus hanyalah PR terakhir setelah ia selesai membeli berbagai atribut tempur yang memumpuni.
Namun sekarang, tiga orang berzirah lengkap itu telah masuk ke dalam rumahnya yang begitu sempit, bahkan Hamon tidak sengaja menghancurkan pot gantung dengan kepalanya karena dia yang paling tinggi.
"Duduklah," sambut Faran dengan ramah, walaupun ekspresi diwajahnya tidak dapat berbohong, jika suasana saat ini begitu canggung. "Aku akan membuatkan teh untuk kalian."
"Tidak perlu repot-repot, Tuan Faran," balas Mildred dengan cepat. "Aku tahu Anda pasti memiliki banyak pertanyaan, duduklah bersama kami, dan tanyakan apapun yang ingin Anda ketahui."
Mendengar itu, Faran tidak lagi ambil pusing, dia duduk, tepat didepan mereka. Helm pelindung mereka tidak dilepas, ia tahu mereka NPC, namun tetap saja hal itu membuat dirinya semakin gugup. Lagipula, biasanya NPC di game ini terlihat begitu hidup layaknya manusia, contohnya Nayana. Namun, mereka bertiga tampak begitu kaku.
"Baiklah."
"Apa itu Guardian Angels?" Faran membuka obrolan."Lalu... untuk apa kalian menolong ku?"
Mildred merapatkan kedua tanganya, tatapan matanya tertuju pada perapian dengan api yang menyala didekat mereka berkumpul.
...[Bersambung]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Kerta Wijaya
🤟🤟
2024-07-07
1
Fendi Kurnia Anggara
up
2024-06-22
1