Hembusan napas naga Khuasar masih terasa hangat di wajahnya, membuat setiap tarikan napasnya terasa berat. Pilihan apa yang seharusnya dia ambil disaat seperti ini? Faran tidak dapat memutuskan karena terpaku pada kedua mata Sang Naga yang melotot kearahnya.
Dalam waktu sepersekian detik sebelum semburan api membakar habis avatarnya, sebuah keajaiban terjadi.
"Tuan, pergilah dari sana!" Seorang gadis bermata biru berdiri di samping Khuasar dengan tangan terangkat tinggi. "Es yang membekukan, dengarkan doaku. Bekukan lah naga itu di bawah kekuasaanku!"
Seketika keempat kaki Khuasar membeku, diselimuti bongkahan es besar berbentuk kristal.
Ini kesempatan yang tidak mungkin Faran sia-siakan. Dengan sigap dia melompat turun dari bebatuan gua tempat dia bersembunyi. "Apakah kau bisa menahannya lebih lama?" tanya Faran disebelah gadis itu.
Gadis itu hanya menggeleng. "Aku tidak yakin, Tuan."
"Pergilah keluar bersama yang lain," lanjutnya tersenyum pahit.
"Kau gila ya?!" sergah Faran menatap wajah gadis itu dengan serius. "Makhluk itu belum dapat bergerak, kita bisa keluar bersama-sama."
Terus berupaya menolak untuk meninggalkan gadis itu, seorang player yang hendak keluar dari gua, memperingati Faran. "Hey! Jangan pedulikan gadis itu, dia hanyalah seorang NPC! Keluarlah dari sini, selagi masih ada waktu."
"NPC ini yang menyelamatkanku?" Faran tidak habis pikir NPC di dalam game VR Horizon ternyata jauh lebih berperasaan dibandingkan dengan playernya. Tentu hal ini membuat garis lengkung dibibirnya. "Teruslah membuatnya beku," ujar Faran dengan serius. "Aku akan mencari titik lemah makhluk itu."
*NPC (Non-Playable Character) dalam game adalah karakter yang tidak dikendalikan oleh pemain, tetapi oleh sistem atau algoritma game. Jadi mereka bukanlah player/manusia.
"Dasar wong edan." Karena kesal, player terakhir yang barusan memperingatinya akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
*Wong edan \= Orang gila
Dia tahu dirinya bodoh telah membawa perasaan kepada seorang NPC yang jelas-jelas telah diprogram oleh pengembang game. Namun, entah kenapa, kebaikan dari gadis itu membakar semangatnya layaknya sebuah cahaya ditengah kegelapan. "Jika aku harus mati disini, aku tidak peduli!" serunya berlari kearah Khuasar yang masih membeku disana.
"Awas, Tuan!"
Peringatan dari gadis itu tertuju pada salah satu kaki depan Khuasar yang mulai terlepas dari jeratan es. Sang Naga meraung, berniat menginjak Faran, namun si pemula terlalu gesit untuk dikalahkan. Dia menghindari serangan itu, lalu mengayunkan pedangnya tepat di bagian kaki Khuasar.
Jantung seakan berhenti sejenak, setelah menyadari betapa kerasnya naga itu. Faran mundur beberapa langkah, tubuhnya berkeringat hebat, napasnya mulai ngos-ngosan.
"Tuan baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," balas Faran berusaha meyakinkan gadis itu. "Energi di dalam game ternyata begitu tipis, aku juga tidak dapat melihat energi yang aku miliki."
"Berbicara tentang energi, aku malah teringat saat Aqua mentraktirku makan... sialan, aku harus berjuang agar kematiannya tidak sia-sia," lanjut Faran dengan memasang kuda-kuda yang mantap. "Berpikir Faran, berpikir lah, apa yang bisa kau lakukan untuk mengalahkan naga itu... ." Matanya melesat kesana kemari, mencari kelemahan Khuasar dengan memanfaatkan kondisi gua yang sempit.
Menyadari gadis dibelakangnya mulai kewalahan menahan Khuasar dengan sihir es nya, Faran harus segera mengambil keputusan. "Kau! Apakah ada sihir mu yang bisa membawaku keatas naga itu?" terkesan heroik, namun cara berbicara Faran tetap saja terdengar panik.
"Aku bisa membuat dinding es agar Tuan dapat melompat ke atasnya," balas gadis itu, ketakutan setengah mati.
Tidak ada pilihan lain selain percaya kepadanya. "NPC ini tidak mungkin berkhianat, kan?" gumam Faran. "Baiklah, ayo kita lakukan!"
Faran beranggapan jika kulit naga itu begitu keras, satu-satunya bagian yang mungkin di tembus oleh pedangnya adalah bagian mata. Mungkin ini terdengar gila untuk sampai tepat diatas kepala Sang Naga, namun Faran tidak khawatir.
Jika dia mati disini, dia hanya perlu mengulang lagi dari awal, itu tidak membebani dirinya samasekali.
Kini Khuasar telah sepenuhnya terlepas dari es yang membekukan kakinya, bongkahan kristal es berhamburan, diikuti dengan raungan Sang Naga. "Kau pikir kau bisa mengalahkan ku?!" seru Khuasar melihat Faran yang dengan berani kembali berlari kearahnya.
Sedangkan Faran, ia malah semakin bersemangat mendengar naga itu berbicara kepadanya. "Sekarang!"
"Roh-roh dari puncak Gunung Utara, bangkit dan bentuklah dinding es!" seru gadis itu dengan suara penuh tekad, matanya memancarkan cahaya biru yang dingin.
Saat mantra itu selesai diucapkan, es mulai terbentuk dari tanah, menciptakan sebuah dinding tinggi yang kokoh. "Naiklah, Tuan!" matanya masih terpaku pada Sang Naga yang sedang mengamuk.
Bongkahan es yang dia naiki ternyata begitu licin, Faran nyaris terpeleset. Namun itu bukanlah masalah baginya, dengan satu teriakan dahsyat, si pemula melompat keatas kepala Khuasar dengan memegang erat pedang jeleknya.
"Dimana sisi hormat mu!" Sang Naga makin mengamuk, dia memutar kepalanya tanpa arah, menyemburkan api ke setiap sudut gua. "Menyingkir lah dariku, bocah!"
Amukan itu membuat Faran begitu sulit untuk menyerang bagian mata Sang Naga, alhasil dirinya melah bergelantungan diatas kepala Khuasar, hingga tubuhnya menghantam langit-langit gua beberapa kali.
"Tuan!" panggil gadis yang jauh dibawahnya dengan cemas. Dia masih berusaha membekukan Khuasar dengan sihirnya, namun pertolongannya tidak seberapa.
"Panel ku mulai buyar, apakah aku akan mati? Berapa HP yang tersisa? Sial, aku baru ingat di game ini tidak memiliki status HP." Zirahnya sampai rusak dan terlepas begitu saja.
*HP adalah singkatan dari "Hit Points" atau "Health Points." HP mengukur seberapa banyak kerusakan (damage) yang dapat diterima oleh avatar sebelum mereka kalah atau mati dalam permainan.
Namun karena kegigihannya, si pemula menemukan sebuah harapan. Faran mengamati pergerakan Khuasar saat dirinya mengamuk, tepatnya ketika naga itu menyemburkan api ke segala penjuru. Setiap kali naga itu mengeluarkan api, sisik atau kulit dibagian lehernya berubah warna menjadi merah dan terlihat sedikit transparan, itu karena Khuasar perlu menyerap udara disekitar agar apinya dapat melesat jauh. Entah apakah cara ini akan berhasil atau tidak, keputusan telah diambil.
"Ingat aku... namaku Faran dan aku akan menjadi yang terkuat di Horizon!" Dengan penuh keyakinan, Faran melepaskan cengkramannya diatas kepala Sang Naga. Tubuhnya terjatuh, namun sebelum tubuhnya sampai mendarat di atas tanah, dengan gesit Faran menancapkan pedangnya tepat di leher Khuasar ketika naga itu tengah bersiap untuk menyemburkan api.
Dia meraung kesakitan, sebagian lehernya mulai terbelah jadi dua. Darah yang keluar mengguyur Faran tanpa ampun.
Namun dibalik serangan yang tidak terduga itu, ketika belum begitu jauh dia merobek leher Sang Naga, pedangnya malah tersangkut di bagian kulit yang begitu keras.
Si pemula akhirnya terjatuh, tersenyum sinis kearah Khuasar yang mulai terlihat takut kepadanya. Sedangkan disaat gadis es itu berlari kearahnya dengan penuh air mata, kaki besar Khuasar terlebih dahulu menginjak Faran tanpa ampun.
...[Selamat Tuan Faran, proses pemberian Program 999 ke akun Anda telah selesai]...
...[Bersambung]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Kerta Wijaya
🤟🤟
2024-07-07
1