"Melyn, apa masih lama mandinya?"
Mendengar suara kakaknya yang memanggil dan mengetuk pintu kamar mandi berulang kali, membuat gadis itu jengkel. "Sabar Kak Faran, ini juga udah selesai."
Dalam posisi rambut panjang yang melekat diwajahnya karena basah, Melyn akhirnya keluar dari kamar mandi. "Kak, bukankah kita hanya akan membeli nasi sayur untuk makan malam? Kenapa harus terburu-buru? Sekarang juga masih jam 5 sore," gerutunya seraya melempar pakaian kotornya ke sebuah ember.
Melihat adik perempuannya yang tampak kesal, Faran justru tersenyum, sesekali dia menundukkan wajahnya karena menahan tawa.
"Kak Faran beneran bikin Melyn khawatir." Menaruh kedua tangan dipinggang. "Gak baik loh Kak, main game berlebihan. Aku tahu Kakak sedang bekerja keras, tapi bermain game berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan."
"Kau pikir aku sudah tidak waras?" Faran benar-benar tidak serius, dia semakin geli mendengar cara adiknya berbicara. "Game itu memang membuatku tidak waras, sedikit."
"Tapi semua itu terjadi karena aku sangat bahagia bisa mengajakmu keluar malam ini, Melyn."
Alih-alih menjawab kakak nya, Melyn lebih fokus mengaplikasikan make up ke wajahnya. Dia terlalu suntuk, seharian dia harus menghabiskan waktunya di sekolah. Sedangkan Faran, sibuk bekerja paruh waktu, sehingga dia kerap sekali membolos disekolahnya. Tidak peduli jika sekarang sudah Tahun ke tiga di SMA-nya, Faran terpaksa bekerja untuk menabung agar dapat berkuliah. Walaupun mungkin impiannya terlalu jauh, karena uangnya selalu habis untuk menyambung hidup, dan juga untuk membayar cicilan perangkat game VR barunya.
"Make up Melyn sudah habis sejak dua bulan yang lalu, mau ditekan sampai kapan pun cairan didalamnya tidak akan keluar," lanjut si kakak dengan mengambil salah satu skincare milik adiknya yang benar-benar habis.
"Aku tahu," balas Melyn mengerucutkan bibirnya. "Tapi bukankah Kak Faran sendiri yang menyuruhku untuk berpenampilan cantik?"
"Bagaimana pun kau akan selalu cantik," Faran tersenyum hingga memperlihatkan barisan giginya didepan cermin. "Pakai saja jaket ibu, setidaknya jaket ibu masih lebih baru dari milikmu."
"Kita pergi sekarang."
...[VR Horizon : Kebangkitan Pecundang]...
Setelah beberapa menit naik bis, mereka akhirnya tiba. Melyn dan Faran berdiri di depan salah satu mall termewah di kota, suasana malam yang indah semakin diperindah oleh deretan lampu taman yang berkilauan. Cahaya lampu-lampu itu memantul di permukaan marmer lantai, menciptakan efek bayangan yang bersinar di bawah kaki mereka.
Bangunan itu begitu megah, dengan jendela kaca besar yang memamerkan berbagai barang mewah di dalamnya. Selain itu, musik yang diputar dari speaker tersembunyi terdengar samar di telinga mereka, menambah suasana elegan tempat itu.
Lautan manusia memenuhi tempat itu, sebagian besar orang-orang disana berpenampilan glamor. Tentu saja, hal itu memberikan sedikit pukulan di hati mereka berdua, namun kini Faran terlihat percaya diri dengan 8 juta rupiah tersedia didalam dompetnya yang gemuk. Setidaknya hasil dari mengalahkan Khuasar kemarin memberikan pemuda itu sebuah angin segar yang menenangkan.
Namun Melyn malah sebaliknya, ia merasa minder melihat suasana disekitarnya. "Kak, kenapa kita kesini? Aku takut kalau teman-teman sekolah melihatku, mereka pasti akan membullyku," bisiknya, suaranya terdengar cemas. Dia mengeratkan jaket ibunya, merasa tidak layak berada di tempat semewah ini dengan pakaian yang sederhana.
"Tenang saja, Melyn," -memegang bahu adiknya sambil tersenyum- "Tidak ada yang akan membullymu. Dan kalaupun ada, aku yang akan membuat mereka menyesal," ujarnya dengan tenang, suaranya penuh keyakinan. Dia menarik napas dalam-dalam, menikmati udara malam yang segar bercampur dengan aroma bunga dari taman di sekitar mereka.
"Tapi untuk apa kita kesini, Kak? Apakah Kakak punya uang? Bukannya lebih baik digunakan untuk membayar kontrakan rumah, atau membantu ayah dan ibu?"
Melihat Faran murah senyum adalah hal yang langka bagi Melyn, dia menyukai kakaknya bahagia, namun dia juga mencemaskan jika uang ini dihasilkan dari pekerjaan yang membahayakan Faran, seperti yang sudah-sudah.
Faran tertawa kecil, mengusap kepala adiknya. "Melyn, aku sangat ingin membuatmu bahagia. Dan sekarang adalah waktunya. Jangan khawatir tentang uang. Hari ini, kamu bisa memilih semua yang kamu inginkan," jawabnya dengan penuh semangat. "Ayah dan ibu pasti juga akan senang melihatmu bahagia."
"Tapi jujur saja, pasti akan repot jika mereka mengetahui aku memiliki uang yang banyak," lanjut Faran, garis lengkung diwajahnya memudar sejenak saat membahas hal itu, namun tak lama sebelum senyumannya kembali.
Melyn menatap kakaknya, ragu-ragu namun juga merasa tersentuh. "Tapi, Kak—"
"Percayalah padaku," potong Faran, menarik adiknya masuk ke dalam mall. "Hari ini adalah hari spesial untukmu. Kita akan berbelanja baju, sepatu, dan semua keperluan sekolahmu... apapun yang kau mau."
Begitu mereka memasuki mall, aroma harum parfum yang bercampur dengan harum hidangan lezat dari toko-toko sekitar menyambut mereka. Lantai marmer berkilau di bawah cahaya lampu, Melyn menghela napas panjang, mencoba menghilangkan rasa minder yang masih tersisa. Dia menatap Faran yang berjalan di depannya, penuh keyakinan dan senyuman di wajahnya. Seperti bukan Faran yang dia kenal, namun ia bersyukur bisa melihat kakaknya begitu bahagia.
Setelah berkeliling, Faran memutuskan untuk membawa Melyn ke sebuah brand toko pakaian yang terkenal. "Ayo, pilih baju yang kamu suka," katanya, membimbing Melyn masuk.
Melyn terdiam sejenak didepan pintu kaca, merasa canggung. Dia melihat sekeliling, berbagai pakaian yang digantung dengan rapi dengan berbagai model yang tentu saja, menarik perhatiannya.
Dia mencoba beberapa pakaian, dan setiap kali dia keluar dari ruang ganti, Faran selalu memujinya.
Namun, ketika Melyn keluar dari ruang ganti dengan gaun cantik yang baru saja dicobanya, seorang pegawai toko menatapnya dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan merendahkan. "Kalian yakin bisa membeli semua ini? Ingat ya, boleh dicoba tapi harus beli."
Melyn tertegun, wajahnya memerah karena malu. Dia melihat ke arah Faran yang berdiri di dekat pintu, senyum di wajahnya mulai pudar. Namun, Faran segera mendekat, menatap pegawai itu dengan tajam. "Ya, kami yakin," jawab Faran tegas. "Kami akan membeli semua pakaian yang telah kami coba."
Setelah puas berbelanja baju, mereka menuju sebuah restoran untuk makan malam. Mereka memesan seblak mahal yang sangat diidamkan Melyn. Aroma harum dari seblak ekstra pedas itu menggugah selera mereka, dan keduanya mulai menikmati makanan dengan lahap.
Suapan demi suapan terus dilancarkan hingga mulutnya membulat, penuh "Wah, enak sekali, Kak! Pedasnya pas."
Berbeda dengan adiknya, Faran malah terlebih dahulu tepar akibat mulutnya yang terbakar. Rasanya menghabiskan segelas lemon tea dingin hanya menambah kobaran api di mulutnya. "Melyn... boleh aku minta minumanmu?" ujar si tidak kuat pedas menahan tangis.
Namun ditengah momen penuh kebahagiaan itu, beberapa orang mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arah mereka. "Lihat mereka, penampilan mereka jelas tidak cocok makan di sini. Keberadaan mereka disini membuatku tidak mood makan," bisik salah satu dari mereka dengan nada meremehkan.
Melyn mendengar bisikan itu, wajahnya kembali memerah karena malu. Namun, Faran tetap tenang, meletakkan tangannya di atas tangan Melyn dan tersenyum. "Jangan pedulikan mereka. Nikmati saja makanan kita. Kamu berhak mendapatkan ini semua."
Melyn membalas kakaknya tersenyum, lalu kembali mengambil seblak dengan sendoknya. Namun tentu saja, suasana hatinya kini tidak lagi sama.
Belum juga pulih dari serangan cibiran dari orang-orang sekitar, sebuah kabar buruk seketika muncul. Kabar itu datang setelah Faran tidak sengaja mendengar perbincangan dua orang pria di meja sebelah.
"VR Horizon akan segera hancur. Nyx mulai menyerang Teralia," ujar salah satu dari mereka sambil menunjukkan layar ponselnya ke temannya.
"Sulit dipercaya. Tapi seperti yang barusan aku dengar, jika program 999 juga terkena serangan bug, sehingga terpaksa dihentikan," balas temannya.
Faran mendadak tegang. Dia segera membuka ponselnya dan melihat begitu banyak pesan masuk dari nomor misterius. Pesan-pesan itu mendesaknya untuk segera login ke VR Horizon dan pergi ke Teralia untuk melawan Nyx. Namun sepertinya dia terlambat menyadari hal itu, karena pesan itu telah muncul 3 jam yang lalu.
Faran mematung, menatap layar ponselnya dengan wajah tegang. Melyn yang duduk di depannya, mulai khawatir melihat perubahan ekspresi kakaknya. "Kak, ada apa?"
"Kita harus pulang sekarang," jawabnya singkat, matanya masih tertuju pada layar ponselnya.
...[Bersambung]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Kerta Wijaya
🤟🤟
2024-07-07
1
Fendi Kurnia Anggara
up
2024-06-16
1