Bab 7

"Kenapa rasanya begitu mual." Seketika air mata Faran merembes keluar melalui celah perangkat VR Horizon Googles yang sedang dia pakai. "Aku tahu ini semua hanya virtual, tapi... ."

"Aqua, maaf kan—" lanjut Faran dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

Perasaannya begitu sakit, hatinya hancur, melihat bagaimana orang yang mereka sebut sebagai Kepala Suku itu kembali menusuk Aqua dengan tombaknya. Kini tombaknya menancap kuat di punggung wanita yang telah tengkurap tidak bernyawa. "Aqua terlalu naif. Dia berpikir bahwa semua orang bisa menjadi kuat hanya dengan berusaha. Tapi kita hanya butuh yang terbaik, yang terkuat, yang paling tangguh dihadapan semua player di Horizon! Kita tidak memiliki waktu untuk bermain-main dengan seorang pemula. Jadi ini adalah ujian untuknya, dan dia telah gagal," ujarnya tersenyum sinis.

...[Level 44 - Aqua]...

...[Sambungan player ini telah terputus]...

"Kau... ," matanya menyala penuh kebencian.

Dengan satu teriakan dahsyat, Faran mencabut keluar pedang barunya dan segera berlari untuk menebas leher pria bejat itu. "Matilah kau, bajingan!" tubuhnya bergetar dengan amarah, setiap langkahnya semakin cepat, mengarah pada target yang dia anggap sebagai musuh utamanya.

Tidak peduli bagaimana penampilannya, tidak peduli seberapa kuat senjata yang ia miliki, tidak peduli berapa banyak pasukan yang ia miliki, tidak peduli statusnya sebagai seorang pemimpin guild, Faran telah membulatkan tekadnya untuk membalaskan dendamnya sekarang juga.

Sedangkan, Sang Kepala Suku hanya berdiri di tempat, senyum sinisnya tetap terpahat di wajahnya. Lalu ketika Faran mendekat, hanya dalam sekejap, Kepala Suku mengayunkan tombaknya dengan kecepatan kilat. "Kami tidak menerima seorang gelandangan di guild kami," ujarnya dengan nada dingin.

Suara dentuman keras terdengar, ketika tombaknya menyambar Faran dengan kuat. Faran terlempar jauh menabrak dinding, tentu saja, pria itu bukanlah lawan yang sepadan baginya, setidaknya untuk saat ini.

"Sialan!"

"Panel ku kacau." Ia mencoba memperbaiki penglihatannya yang buram, tapi usahanya sia-sia. Semua seketika tampak tidak beraturan, nama, status, level, semuanya kacau.

"Tapi ini samasekali tidak terasa sakit, tentu saja karena ini hanyalah sebuah game."

"Ya, ini hanyalah sebuah game, tidak ada yang perlu dicemaskan, tidak ada pula yang perlu untuk disesali."

"Tunggu... apakah ini game yang katanya nomor satu di dunia? Ini sama saja seperti dunia nyata, kenapa orang-orang brengsek selalu mengikuti ku?" Faran menggaruk rambutnya dengan brutal, suaranya semakin tidak stabil, campuran antara tawa dan tangis keluar dari bibirnya.

Faran yang terlalu sibuk berbicara dengan dirinya sendiri, kini tertawa terbahak-bahak seperti orang sinting.

"Lihatlah dia, baru satu kali serangan dari Kepala Suku sudah membuat dirinya gila," ejek salah satu penonton.

"Kau benar, kasihan sekali nasibnya."

"Aku rasa malah bagus kalau dia mati di awal," timpal player lainnya, tawanya meledak. "Jika menjadi dia, aku akan bermain lagi dari awal dengan akun yang baru."

Ujaran kebencian dari setiap orang yang melihatnya terdengar begitu nyata, menusuk hingga ke dalam jiwanya. Setiap tatapan hina itu membuat Faran semakin tersudut, tenggelam jauh lebih dalam ke dalam jurang keputusasaan. Ini bukan pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini oleh orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, mau dimana pun ia berada, Faran memanglah terlahir sebagai seorang pecundang.

Bunyi besi dari pedang yang berguling kasar diatas permukaan lantai aula utama, seketika membuat suasana disana menjadi lebih meriah. Semua player disana bersorak-sorai, memuja pemimpin mereka yang tangguh.

"Bangkit dan lawan aku jika kau bukan seorang pecundang," kata Sang Kepala Suku setelah mengembalikan pedang Faran yang tadi terlempar jauh. Kini ia sedang berjalan mendekati pemuda menyedihkan yang sedari tadi bertekuk lutut tidak berdaya.

"Oh sayang sekali," lanjutnya dengan nada datar. "Sepertinya gelandangan ini baru saja keluar dari game, apa benar dia setakut itu?"

Mendengar hal itu, markas guild God's Hand seakan bergetar, karena tawa serentak dari semua player disana. Seakan-akan seluruh dunia sedang mengejeknya.

...[Level 4 - Faran]...

...[Meninggalkan permainan]...

Detik jarum jam terdengar begitu keras. "Jam berapa sekarang?" gumam Faran setelah melepas VR Googles miliknya. Kedua kantung hitam dibawah matanya begitu gelap, wajahnya makin memprihatinkan. "Ternyata sudah jam 4 pagi, waktunya bersiap untuk kembali bekerja?"

"Brengsek."

...[VR Horizon : Kebangkitan Pecundang]...

Entah kenapa, semuanya terasa begitu menyebalkan hari ini. Tak hanya karena kenyataan dalam perjalanan hidupnya yang begitu pahit, namun juga karena cuaca terik matahari yang begitu membakar ke dalam jiwanya.

Faran tampak kewalahan menghadapi sengatan matahari ketika dia bekerja. Padamnya listrik adalah penyebab AC di minimarket tidak dapat berfungsi. Sungguh hari yang berat, seperti biasanya.

Walaupun begitu, Faran tetap berusaha profesional meski suasana hati dan fisiknya hancur. Setiap langkah terasa berat, dan setiap pelanggan yang datang menambah beban pikirannya. Ia merapikan barang di rak, memasang senyum palsu untuk melayani pelanggan, sungguh memuakkan.

Beruntung, tidak lama kemudian listrik kembali menyala setelah hari mulai gelap.

"Faran, kau baik-baik saja?” tanya rekannya, Andrew, dengan nada khawatir.

“Hanya lelah, terima kasih sudah bertanya,” balas Faran dengan senyum yang dipaksakan.

Rekan kerjanya mengangguk, meski jelas ia tidak percaya sepenuhnya.

Setelah jam kerja yang panjang dan melelahkan, akhirnya tiba saatnya bagi Faran untuk pulang. Ia merapikan seragamnya lalu berjalan keluar minimarket, merasakan angin malam yang sedikit lebih sejuk dibandingkan siang hari yang menyengat. Jalanan malam yang sepi menjadi temannya saat ia berjalan pulang, pikirannya juga masih dipenuhi oleh kejadian di dalam game dan kenyataan pahit hidupnya.

Ketika sampai di rumah kecilnya, Faran mendapati adik perempuannya, Melyn, sedang menunggunya di depan pintu. Melyn tersenyum lebar begitu melihat kakaknya datang.

“Kak Faran! Kau sudah pulang!” serunya dengan riang.

"Kau pulang malam lagi, Melyn?" tanya Faran, melihat adiknya masih betah memakai seragam SMA di malam hari. "Jangan bilang kau mengambil pekerjaan paruh waktu?"

Melyn tetap tersenyum, berusaha seriang mungkin walaupun terlihat kaku. "Kak, aku punya berita penting untukmu," ujarnya dengan menggandeng kakaknya masuk.

Ditengah kebusukan dunia, hanya adiknya yang tersisa. Ayahnya pergi keluar entah kemana seperti biasanya. Sedangkan ibunya, sibuk menghabiskan botol miras bekas bekas ayahnya di belakang rumah. Mereka tidak peduli dengan Faran, tidak peduli dengan mereka berdua. Yang mereka pikirkan adalah uang, uang dan uang, sisanya adalah pemikiran mereka yang masih terjebak di masa lalu.

"Jadi, berita apa yang ingin kau tunjukkan padaku?"

Adiknya tidak menjawab, karena terlalu sibuk menekan tombol remote untuk mengganti saluran televisi. "Ketemu!" suaranya mengejutkan Faran.

Baru sekilas Faran menonton berita di televisi, kini tidak terasa dia sudah duduk diujung kursi. "Benarkah? VR Horizon akan tutup?" kedua matanya melotot tidak percaya.

"Sepertinya belum, Kak," balas Melyn. "Justru mereka menawarkan hadiah uang senilai miliaran rupiah untuk siapapun yang dapat menyelamatkan Horizon."

"Apakah ini waktunya untuk kembali?" batin Faran mengepalkan kedua tangannya.

"Jika begitu, aku akan melakukannya untuk Melyn."

...[Bersambung]...

Terpopuler

Comments

Mr. Wilhelm

Mr. Wilhelm

Sejauh ini sudah bagus sih, cuman di bab 1,2 dan 3 ada beberapa problem yang sudah aku sebutin.

Untuk bab2 selanjutnya udah bagus. Karena tulisannya rapi bacanya juga enak. Cuman Aku belum nemu yg unik dari MC ini atw sikap yg menonjolnya yang akan jadi salah satu Tema Novelnya.

Kuharap Novelnya bukan tentang menjadi kuat trus banyak duit aja sih. Kasih bumbu2 Plot yang variatif selain itu lebih bgus.

2024-07-16

1

Kerta Wijaya

Kerta Wijaya

🤟

2024-07-07

1

Fendi Kurnia Anggara

Fendi Kurnia Anggara

up

2024-06-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!