"3."
"4."
"5."
"6."
"7."
"Setidaknya sekarang aku memiliki 7 juta rupiah didalam genggaman tanganku." Faran duduk didalam kamarnya yang sempit, melihat tumpukan kertas merah diantara kedua kakinya.
Telapak tangan kanannya kini mendarat tepat di keningnya, sebelum turun untuk menutupi wajahnya dengan bantuan tangan kirinya."Semua yang terjadi di VR Horizon benar-benar membuat kepala ku pusing, tapi... ,"
"Bagaimana dengan dunia dimana aku tinggal?" lanjutnya. "Terakhir kali aku dihajar oleh para penagih utang, namun keesokan harinya pria itu tidak kembali menagih, dan dihari yang sama... ibu pergi dari rumah seharian penuh. Apakah ibu belum berhenti dari pekerjaan kotor lamanya?"
Kipas angin kecil didepannya terus berputar, menghembuskan angin yang menyejukkan dirinya, namun tidak dengan hatinya. Faran merasa frustasi, ia meremas rambutnya dengan tangan, sebentar, sebelum dia membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Ayahku penjudi, tukang selingkuh sekaligus pemabuk. Sedangkan ibuku seorang pelacur yang juga mendedikasikan hidupnya untuk meminum minuman yang sama seperti kesukaan ayah. Lalu kenapa aku juga yang harus menanggung beban dari kebodohan mereka sendiri?"
"7 juta masih terlalu kecil, aku harus mencari tambahan uang. Tapi... apakah mereka yang menolongku di Horizon... apakah mereka melakukannya secara sukarela? Atau malah menipuku seperti yang sudah-sudah?"
"Walaupun begitu, setidaknya mereka telah membantuku untuk mendapatkan lebih banyak uang dengan cepat. Ya, lebih baik aku berpikir begitu."
"Aku harus percaya dengan mereka."
...[VR Horizon : Kebangkitan Pecundang]...
*Kejadian sebelumnya
"Apa itu Guardian Angels?" Faran membuka obrolan."Lalu... untuk apa kalian menolong ku?"
Mildred merapatkan kedua tanganya, tatapan matanya tertuju pada perapian dengan api yang menyala didekat mereka berkumpul. "Baiklah, biar aku jelaskan semuanya."
"Semuanya berawal dari bulan Maret, disaat seorang player bernama Nyx mengikuti sebuah perlombaan resmi yang diselenggarakan oleh pihak developer."
...[Selamat datang di Inferno Arena]...
Terik sinar matahari menyoroti hampir setiap sudut koloseum yang penuh dengan lautan manusia. Semua penonton disana bersorak-sorai, memberi dukungan kepada jagoan yang sedang bertanding di tengah koloseum.
"Hajar dia, Blitz!"
"Incar kakinya, lalu pecahkan kepalanya!"
"Jangan beri dia ampun, Blitz!"
Blitz, seorang player berpenampilan tangguh. Badannya kekar, berbalut zirah hitam di beberapa bagian tubuhnya, namun masih dapat memperlihatkan bagian lengan dan perutnya yang atletis.
Blitz menggenggam sebuah mace. Singkatnya, senjata mace adalah senjata pukul yang terdiri dari sebuah kepala yang berat dan biasanya terbuat dari logam, dipasang pada ujung sebuah gagang. Senjata ini dirancang untuk memberikan pukulan yang menghancurkan serta mampu menembus armor lawan.
Walaupun terlihat berat, Blitz mempu mengayunkan senjata itu berulang kali. Suara besi yang saling berbenturan bercampur jadi satu dengan riuhnya sorakan dari penonton. Hingga sorakan mereka makin menjadi setelah Blitz berhasil menumbangkan musuhnya.
"Pemenang kita kali ini, lagi-lagi adalah orang yang sama, Blitz Morghen!"
"Blitz Morghen! Blitz Morghen! Blitz Morghen!"
Blitz mengangkat senjatanya ke langit, menyambut sorakan pendukung dan menyambut lawan berikutnya dengann lantang. "Keluarlah pengecut! Keluar dan lawan aku sampai mati!"
Hal itu memancing sorakan pendukungnya lebih keras lagi.
Sedangkan disisi lain koloseum, tepatnya di sebuah ruangan dimana player akan bersiap-siap sebelum memasuki area pertarungan, dua orang sedang berbincang-bincang dalam hening.
Wanita yang sedang diceritakan oleh Mildred, Nyx sedang duduk di sebuah bangku panjang, matanya menatap kosong ke depan. Di depannya, seorang pria gendut dengan jas mewah berdiri, memandanginya dengan senyum genit.
"Sayang," ujar pria itu dengan nada lembut tapi menjijikkan. "Kau tahu kan, pertandingan berikutnya adalah yang terakhir. Kau harus kalah, dan setelah itu... kita bisa menghabiskan malam bersama di hotelku. Sebagai gantinya, aku akan membuatmu terkenal. Semua orang akan tahu siapa Nyx, si top player yang akan menguasai Horizon."
"Kau juga tidak akan meragukan kekayaanku, aku adalah pemilik game ini, aku bisa membuatmu terkenal dalam sekejap."
Nyx hanya mengangguk tanpa ekspresi. Tangan pria itu perlahan meraba bahunya, menyentuh kulitnya dengan cara yang kurang ajar. "Kau setuju, kan? Lagi pula, uang ini tidak sedikit." Pria itu mengeluarkan setumpuk uang dari sakunya, meletakkannya di meja di depan Nyx. Uangnya berbentuk Zon Credits, yang dapat ditukar dengan dengan uang asli.
Nyx mengambil uang itu tanpa berkata apa-apa, hanya menatap pria itu dengan tatapan datar. Pria itu tertawa kecil, meremas pundak Nyx sedikit lebih keras. "Bagus. Kau tahu, kau benar-benar cantik, sama seperti wajahmu di dunia nyata. Aku tidak sabar menunggumu malam ini."
Nyx tetap diam, pandangannya tidak berubah. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, pria itu akhirnya melepaskan tangannya dan berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Nyx sendirian.
Kembali ke Koloseum
Sorakan penonton semakin kencang saat Blitz mengangkat tangan, menikmati kemenangan berikutnya. Tapi Blitz tahu, tantangan sebenarnya masih ada di depan.
"Selanjutnya, kita akan melihat pertarungan yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang! Blitz Morghen sang legenda akan menghadapi salah satu top player baru di Horizon, Nyx!"
Penonton bersorak lebih keras, kegembiraan mereka tak terbendung. Blitz menatap ke arah pintu keluar, menunggu lawannya muncul.
Pintu besar itu terbuka, dan Nyx melangkah keluar. Dia mengenakan zirah berwarna perak yang bersinar di bawah sinar matahari. Dengan setiap langkahnya, sorakan penonton semakin keras.
"Nyx! Nyx! Nyx!"
"Top player? Aku tidak pernah mendengar namamu selain ditempat ini." Blitz menyeringai, memegang erat mace-nya. "Kita akan lihat seberapa kuat kau sebenarnya."
Nyx tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Blitz dengan tatapan dingin. Dia menghunus pedang panjang yang berkilau tajam, siap untuk bertarung.
"Satu pertarungan lagi," pikir Nyx dalam hati. "Hanya satu pertarungan lagi, lalu semuanya akan berakhir."
...[Pertarungan dimulai]...
Suara gong bergema, menandakan dimulainya pertarungan. Blitz langsung menyerang, mengayunkan mace-nya dengan kekuatan penuh. Sedangkan Nyx menghindar dengan gesit, pedangnya berkilau saat dia menangkis serangan berikutnya.
Pertarungan berlangsung sengit. Blitz menggunakan kekuatan dan brutalitasnya, sementara Nyx mengandalkan kecepatan. Setiap benturan senjata membuat penonton semakin histeris, sorakan mereka menggema di seluruh arena koloseum.
Di tengah-tengah pertarungan, Blitz berhasil memukul Nyx ke tanah. Dia mengangkat mace-nya, siap memberikan pukulan akhir. Tapi saat itu, mata Nyx bertemu dengan mata Blitz, dan untuk sesaat, waktu terasa berhenti.
Dalam tatapan itu, Blitz melihat sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatnya ragu. Namun, dia tidak sempat berpikir lebih jauh, karena Nyx dengan cepat meluncur ke samping dan menyerangnya dengan pedang.
Nyx berdiri kembali, napasnya terengah-engah. Dia melihat ke arah penonton, melihat ekspresi mereka yang penuh harap. "Aku harus bertahan," pikirnya. "Aku tidak bisa menyerah sekarang."
Pertarungan terus berlanjut, semakin intens dan brutal. Blitz dan Nyx sama-sama terluka, tapi semangat mereka tidak padam. Sorakan penonton semakin menggila, mereka tidak sabar menunggu pemenang terakhir.
Di sisi arena, Nyx melihat pria gendut yang tadi berbicara dengannya di ruang ganti. Pria itu tersenyum lebar, mengangguk padanya.
"Ini saatnya," pikir Nyx. "Aku harus membuat keputusan."
...[Bersambung]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Kerta Wijaya
🤟🤟
2024-07-07
1
Cassandra🌙
Calon mayat biasanya sifatnya mirip sm si gendut 😂
2024-06-23
1
Fendi Kurnia Anggara
eh thor Nyx itu perempuan kah
2024-06-22
2