"Bang! Bang! Bang!" gadis psikopat itu terlihat begitu menikmati pertarungan mereka. "Perkenalkan, mereka adalah pelayan kehancurkanku. Aku harap kalian dapat berteman baik dengan mereka, benarkan, Cerber?" ujar gadis itu seraya membelai manja anjing raksasa berkepala tiga yang duduk disampingnya.
Tak jauh didepannya, dua pengikut setia yang lain, sedang menghadapi ratusan player.
...[Level 100 - Heksa]...
...[Job : Necromancer]...
...[Status Aktif : Barrier, Summons effect]...
...----------------...
...[Level 50 - Mr. Stitches]...
...[Status : NPC - Summoned by Heksa]...
...----------------...
...[Level 50 - Khaias]...
...[Status : NPC - Summoned by Heksa]...
...----------------...
...[Level 50 - Cerber]...
...[Status : NPC - Summoned by Heksa]...
Semua status yang muncul di panelnya terlihat begitu menyeramkan. "Setelah mengalahkan Khuasar, aku baru mencapai level 8, bukankah musuh kali ini begitu kuat? Level seratus adalah level tertinggi di game ini." Walaupun hanya sebuah game, permain virtual ini benar-benar berhasil membuat Faran banjir keringat.
"Mr.Stitches ku," teriak Heksa, gadis gila itu dari kejauhan. "Habisi orang-orang tolol itu!"
Monster besar dengan perut buncit dan mata yang dijahit rapat, melangkah maju. Disaat yang sama, para player menyambutnya dengan hujan panah dan serangan sihir. Berbagai macam serangan yang dilancarkan pada waktu itu telah mengubah kegelapan malam seketika terang, penuh warna.
"Dia sudah dekat! Tanker, Swordman, ini waktunya kalian maju!" salah satu player memberikan perintah yang lain untuk maju, tentu saja mereka datang kesini bukan hanya untuk asal bertarung. Strategi juga telah mereka persiapkan dengan matang.
Beberapa player berzirah tebal, lengkap dengan helm baja dan perisai yang kokoh berlari menerjang Mr.Stitches, mengayunkan pedang dan kapak mereka hingga merobek tubuh monster besar itu. "Kita berhasil!" ucap salah satu Tanker sebelum monster buncit itu melahapnya dengan satu kali suapan.
...[Sambungan player ini telah terputus]...
"Mustahil!" rekan disebelahnya terbelalak tidak percaya. "Tanker terkuat yang kita punya bisa mati semudah itu."
"Bagaimana cara mengalahkannya?! Dia terus bangkit!" timpal player lainnya sambil melemparkan pedangnya, putus asa.
Bagaimana tidak, setiap kali mereka berhasil menjatuhkannya, tubuhnya yang penuh luka jahitan kembali menyatu dan pulih dengan cepat, seperti boneka kain yang dirajut ulang. Tidak adanya status bar HP yang ditampilkan dipanel mereka juga membuat mereka lebih cepat menyerah.
Sedangkan dibelakang sana, Heksa tertawa riang, "Hahaha! Mr.Stitches ku tidak akan kalah semudah itu. Dia punya kemampuan regenerasi yang luar biasa. Jangan buang energi kalian seperti orang tolol!"
Melihat lini depan mereka mulai kewalahan, para penyihir, pemanah, dan semua player dengan daya serangan jarak jauh mulai merasa cemas. Serangan yang seharusnya dapat memberikan dampak besar justru tidak mempan terhadap monster buncit di sana. Kepanikan mulai menyebar di barisan belakang.
"Mana ku mulai menipis," keluh seorang penyihir berjenggot panjang. "Lebih baik kita serang pria gondrong itu terlebih dahulu!"
Mata mereka tertuju pada Khaias, yang tampak santai meskipun situasi di sekitarnya kacau balau. "Akhirnya, seseorang memperhatikanku di pertempuran ini. Kakiku mulai kram berjongkok di sini semalaman," katanya sambil bangkit, menepuk-nepuk celananya yang berdebu. Ia terlihat seperti orang gila yang tengah menikmati pertempuran ini.
"Ide yang bagus, Tetua Sigurd!" balas player lain dengan membidikkan panahnya kearah posisi Khaias. "Kita akan mulai dari pria gondrong itu terlebih dahulu."
Namun, sebelum dia sempat menarik tali busurnya, Khaias sudah menghilang dari pandangan mereka. "Hah?! Kemana perginya orang itu?" serunya, panik.
Sepersekian detik kemudian, pemanah itu ambruk dengan teriakan kesakitan, memegang betisnya yang berdarah. "Arghh!" pekiknya, matanya terbelalak saat melihat betisnya tergunting. Sedangkan Khaias berdiri di depannya, senyuman gila terukir dibalik kilauan sebuah gunting yang dia bawa.
"Bagaimana bisa–" kata pemanah itu, sebelum darah kembali menyembur dari lukanya. Tak lama setelahnya, Ia meledak menjadi gumpalan darah, mengguyur tanah beserta para player di sekitarnya.
Khaias tertawa terbahak-bahak melihat momen itu. "Satu tumbang, siapa lagi yang mau bermain denganku?" ujarnya, suaranya penuh kegilaan.
"Apa-apaan ini? Gunting itu benar-benar berbahaya!" seru seorang pemain, dia tidak dapat menghentikan kemauannya untuk sedikit melangkah kebelakang, takut. Lawan didepannya benar-benar NPC yang sangat berbahaya.
Namun demikian, Tetua Sigurd tetap berusaha memimpin serangan. "Jangan biarkan dia mendekat! Kita telah mengorbankan waktu dan uang kita untuk bermain game ini!" -mengangkat tongkat sihirnya- "Jangan biarkan mereka menghancurkan Horizon, gunakan seluruh kemampuan kalian!"
Setidaknya hal ini dapat mengembalikan mental player lain yang turut berjuang bersamanya. Walaupun semua usahanya, seakan percuma saja.
Khaias bergerak begitu cepat, dan juga gesit, seperti sebuah bayangan yang tak dapat dikejar. Setiap kali dia mendekati seorang player, guntingnya bergerak cepat, meninggalkan luka-luka yang menyebabkan korban meledak menjadi gumpalan darah, mengubah area disana seakan sedang turun hujan yang mengubah warna latar menjadi merah.
Sebagai balasannya, serangan sihir dan panah dilesatkan tanpa lelah, berusaha mengejarnya bertubi-tubi, namun tetap saja, Khaias terlalu lincah.
"Sial! Aku tidak dapat mengenainya!" teriak seorang penyihir muda. "Dia terlalu cepat!"
Khaias terus bergerak, senyum lebar masih terpampang di wajahnya. Setiap serangannya membuat korban-korban baru, hujan darah semakin deras. Teriakan kesakitan bergema di seluruh penjuru kota, menciptakan suasana horor di tengah medan perang yang begitu kacau.
Suara-suara yang tercipta disana begitu mengganggu, bercampur jadi satu dengan setiap langkah lari Faran yang mantap. Dengan berbekal sebilah pedang yang dipegang erat oleh kedua tangan, Faran memberanikan diri untuk maju. Bagaimana pun juga, dia berada disini untuk menghentikan Nyx, bukannya hadir sebagai seorang pecundang. "Aku harus bertindak sebelum player lainnya habis terbunuh."
...[Level 8 - Faran]...
...[Job : Swordsman]...
...[Status aktif : Program999]...
Bukan main, si pemula dengan berani menyerang Heksa seorang diri. Pedangnya diangkat tinggi, teriakannya meyakinkan, hingga dirinya mulai menebas sihir penghalang yang melindungi gadis itu.
Akibatnya, sekitar 10 meter dia terlempar kebelakang, tubuhnya berguling-guling bercampur dengan lumpur. "Bagaimana mungkin? Seranganku tidak berpengaruh sama sekali!" pikirnya. "apakah karena status barrier yang dia miliki? Tapi Program999 ku?"
Faran terdiam sejenak, "Sialan! Kenapa aku tidak berpikir sebelumnya, dia pasti telah menipuku tentang program ini." Faran mengepalkan kedua tangan, meninju lumpur ditanah berulang kali. Hingga disaat yang sama, suara geraman kebencian terdengar dibelakangnya.
Cerber, anjing berkepala tiga melotot dengan keenam matanya. Giginya begitu besar dan tajam, belum air liurnya yang membakar rumput disekitar Faran.
"Kau pikir aku tidak melihatmu?" kata gadis itu menatap Faran dengan ekspresi datar, sebelum garis lengkung yang khas, kembali terukir diwajahnya. "Aku sudah menunggu mu sejak tadi, Faran yang tolol."
...[Bersambung]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Kerta Wijaya
🤟🤟
2024-07-07
1
Fendi Kurnia Anggara
up
2024-06-17
1