"Semoga ayah dan ibu tidak marah saat melihat ini." Sedikit keraguan terlihat di wajah Faran ketika dia menatap kondisi kamarnya. Perangkat VR Horizon terlihat terlalu mewah berada disini, bagaimana pun, kontrakan mereka juga masih menunggak, belum hutang-hutang lainnya. "Aku dengar VR Horizon dapat menjual item in game menjadi uang di dunia nyata, apakah itu benar?" ujarnya sambil menatap VR Googles miliknya.
"Huh, lupakan, kita tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya."
...[Loading Screen...]...
...[Selamat datang di VR HORIZON]...
...[Peringatan! Setiap avatar hanya memiliki satu nyawa. Avatar yang mati akan automatis log out dari game dan disarankan untuk membuat avatar baru agar dapat bermain game VR Horizon]...
...[Avatar telah siap]...
...[Persiapan memasuki game...]...
...[10]...
...[9]...
...[4]...
...[3]...
...[2]...
...[1]...
"Belum juga aku buat avatar nya."
"Terus gender ku apa? Belum juga milih."
"Ini cara mainnya gimana, sih? Tidak ada analog atau semacamnya."
Semua keluh kesahnya menghilang ketika sinar matahari menerangi wajahnya. Tidak hangat, tapi tetap menyilaukan. "Aku sudah masuk?"
"Menyingkir lah dari sana!"
Kaget bukan main, saat Faran mencoba menoleh kearah suara teriakan itu. Namun tanpa dia sadari, satu goblin sedang melompat kearahnya dengan sebilah pisau. "Grwaa!"
Faran hanya bisa nyengir, saat tubuhnya terasa kaku saking takutnya. Beruntung, sebuah anak panah terlebih dahulu mendarat tepat di pelipis makhluk itu sebelum berhasil mendekati Faran.
"A-apa yang terjadi?" tanya Faran dengan kikuknya. "Apakah tidak ada tutorial atau semacamnya?"
Ternyata seorang pria berzirah lengkap itulah yang baru saja menolongnya. Pria yang sama, yang telah memberinya peringatan. "Apa yang kau lakukan dengan hanya berdiri disana?! Apa kau player baru?"
"Ah a-aku... iya aku baru saja main game ini, tapi—"
Belum selesai berbicara, pria barusan terlebih dahulu menepuk bahu Faran dengan senyuman penuh semangat yang terkesan menjijikan. "Selamat datang di VR Horizon, Gate 1 adalah neraka, kau tahu?" dibarengi dengan tawa gila dibalik helm besinya.
Sedangkan Faran hanya bisa nyengir, dia juga baru menyadari bahwa ternyata dirinya juga mengenakan pakaian yang sama dengan pria itu. Zirah besi berwarna silver lengkap dengan helm dan pedang yang tergantung di pinggang bagian kiri. "I-ini benar-benar... ,"
"Sangat keren."
Faran tidak henti-hentinya melihat lingkungan disekitarnya. Kini dia berada di bagian atas sebuah benteng, dimana peperangan hebat sedang terjadi antara ras manusia melawan para goblin.
"Apa kau sudah selesai? Bantu kami menahan gelombang goblin ini, gelombang terakhir akan segera datang!" panggil pria tadi dari kejauhan.
Faran tak ambil pusing, dia juga telah melihat kondisi rekan-rekannya yang tampak terdesak. "Aku datang," kata pemuda itu dengan sedikit tertawa antusias.
Tanpa ragu Faran mengayunkan pedangnya, menumpas makhluk hijau yang menghalangi jalannya.
...[XP +1]...
...[XP + 4]...
'XP adalah poin yang dapat meningkatkan level avatar'
"Jadi, hanya dengan membunuh monster kecil ini levelku dapat bertambah? Tapi 1 XP per goblin terbilang sangat sedikit." Faran mulai merasakan bagaimana sensasi pertempuran didalam game. Tentu saja itu tidaklah sesulit yang dia bayangkan, justru terasa begitu menyenangkan. "Sepertinya aku perlu membunuh makhluk yang lebih kuat dari ini."
"Gelombang terakhir telah datang!"
Seruan salah satu prajurit disana membangkitkan semangat Faran lebih jauh lagi. Namun senyumannya memudar setelah dirinya bergabung dengan rekan-rekannya dan menatap kearah Utara, tepatnya kearah di mana gelombang terakhir itu datang.
"Waa! Banyak sekali," jerit Faran sampai tersandung kebelakang.
Sebuah Troll (makhluk yang jauh lebih besar dari goblin) sedang mendekat bersama dengan ratusan goblin. Tak hanya Faran, orang-orang disekitarnya juga terlihat ketakutan dengan kehadiran monster itu, walau memang hanya Faran yang terlihat paling terpukul.
"Archer bersiap!" seru pria yang tadi bertemu dengan Faran. Rasa kagum saat melihat semangat pria itu membangkitkan semangat Faran, dia mencoba bangkit menguatkan kakinya.
"Ini hanya game, kalau aku mati, ya tinggal main lagi dari awal," kata pemuda itu ketika bangkit dengan menancapkan pedangnya ke sela-sela batu benteng untuk memudahkan dirinya berdiri.
"Tembak!"
Perintah prajurit yang mungkin seorang pemimpin itu diikuti dengan barusan prajurit lainnya dengan melepaskan ratusan anak panah kearah musuh. Namun, tak lama setelahnya, lantai dan dinding benteng seketika menjadi memerah, menyala saat sebuah batu besar yang terbakar oleh api menghantam dan meledak tepat mengenai pria barusan.
...[Sambungan player ini telah terputus]...
Setidaknya seperti itulah panel yang muncul diatas pria itu, ketika Faran selesai mengamati kejadian mengerikan barusan. "B-bang? Padahal kita belum juga kenalan."
Satu, dua, tiga bola meteor datang menghancurkan benteng dan seisinya. "Bukankah ini terlalu sulit?!" keluh Faran kepada rekan-rekan lainnya yang masih terus memberikan perlawanan, namun tidak ada satupun yang menghiraukan keluhannya.
Disaat yang sama, beberapa goblin telah berhasil menaiki benteng, tak terkecuali Troll yang hampir saja menghancurkan tubuh Faran dengan tangan besarnya yang lebih keras dari batu. Beruntung, pemuda itu dengan sigap berguling menghindar.
Belum juga bangkit dengan sempurna, pedangnya harus kembali dia ayunkan untuk menumpas goblin yang melompat kearahnya. Beberapa rekannya disana juga mulai terbantai.
"Sial! Sepertinya aku harus mengulang lagi dari awal, ini terlalu sulit."
...[Sambungan player ini telah terputus]...
"Lebih baik aku bermain dengan anjingku ditaman saja," lanjut player lainnya.
...[Sambungan player ini telah terputus]...
Namun Faran tidak putus asa. "Bagaiman... bagaimana aku menyerah disini, jika aku baru saja menghabiskan semua uangku untuk bermain game ini." Pemuda itu bangkit dengan kuda-kuda yang mantap.
...[Grath, Troll level 30]...
"Majulah monster jelek!" pekik Faran memegang erat pedangnya dengan kedua tangan.
Keadaannya menjadi begitu dingin ketika Troll didepannya mengangkat kakinya tepat diatas kepala Faran. Bahkan sekalipun dia memiliki perisai, dia tidak akan mampu menahan serangan itu. Namun, disinilah keseruannya dimulai, sebuah siluet hitam di langit tampak begitu silau karena terangnya cahaya matahari.
Faran memperhatikan dengan kagum, bagaimana wanita itu melompat tepat di atas kepala botak Troll itu dan mulai membelah wajah hingga perut monster itu dalam sekali serang. Suaranya terdengar begitu menjijikkan bagaimana pedang itu membelah daging.
Sedangkan Faran yang dibawah, hanya bermandikan darah kotornya saja, dia pun dengan sigap menghindari tubuh monster itu yang seketika ambruk tak bernyawa. "Apakah kau juga player?" tanya Faran.
"Ya," balas wanita itu, berdiri angkuh diatas mayat Sang Troll. "Namaku Aqua."
...[Level 44 - Aqua]...
Sebuah panel data tentang wanita itu seketika muncul didepan Faran.
Aqua berjalan mendekat setelah menumpas beberapa goblin yang datang menyerang tanpa harus melihat kearah mereka.
Zirahnya berkilau, potongan pada zirahnya juga pas, mengikuti lekuk tubuhnya yang ramping. Penampilannya benar-benar mirip seorang ksatria yang kuat, lengkap dengan helm besi yang melindungi kepalanya. "Siapa namamu, pemula?" ujar wanita itu seraya merapikan poni rambut yang keluar dari helmnya.
Faran yang kagum sekaligus terpesona, menjawab dengan serius dan lantang. "Kenalin, namaku Cinta!"
...[Bersambung]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Mr. Wilhelm
Penulisannya sudah sangat rapi, paragraf narasinya juga sudah bagus. Tapi untuk Chapter ini, bakal lebih bagus jika ada Build Up terdahulu sebelum masuk ke pertempuran.
Kyk mencoba agar para pembaca membiaskan diri dengan dunianya sebelum masuk adegan aksinya terutama dunianya masih asing.
2024-07-16
1
Fendi Kurnia Anggara
up
2024-06-15
1