"Apa? Dimana aku?" ujar Faran setelah menyadari dirinya sedang berada didalam sebuah gua yang begitu gelap. "Bukankah seharusnya aku mengulang lagi dari awal?"
Mengetahui terdapat hal yang janggal, lantas Faran segera membuka panelnya, semuanya dia lihat, mau itu status tentang dirinya, brankas, item, hingga ke setelan atau yang biasa disebut pengaturan.
...[Level 4 - Faran]...
Kedua matanya terbuka ketika menyadari statusnya sekarang. "Level ku tidak di reset?"
"Apakah aku tidak dibunuh waktu itu?" imbuhnya.
Diwaktu yang sama, sebuah jawaban tiba-tiba muncul, suaranya terdengar begitu datar.
...[Tuan, Anda tidak dibunuh oleh siapapun. Namun, saldo Zon Credits Tuan telah habis setelah kejadian terakhir. Apakah Tuan ingin melihat rekaman kejadian yang terjadi ketika Anda keluar dari permainan?]...
"Untung lah, setidaknya game ini masih memiliki sistem semacam ini." Memang sedari awal, Faran terlihat kewalahan bermain game tanpa tutorial seperti ini, dimana ketika avatarnya tewas, dia harus membuat avatar baru dan mengulang dari awal. Namun, setelah mendengar bahwa suara wanita yang mereka sebut sebagai sistem pemandu, membuat perasaannya lega, setidaknya kebingungannya dapat berkurang. "Berikan segala informasi tentang semua yang terjadi padaku ketika aku meninggalkan permainan," ungkap Faran menggebu-gebu.
...[Waktu offline : 1 hari 8 jam 47 menit]...
...[Rekaman ulang kejadian terakhir akan diputar sebentar lagi]...
...[Memuat video...]...
Setelah menunggu beberapa saat, panelnya seketika berubah. "Bukan kah itu aku?"
Tepat didepan matanya, Faran menyaksikan kejadian yang belum lama terjadi padanya. Ini momen dimana Faran baru saja mendapatkan pukulan telak dari ganasnya sambaran tombak milik ketua guild God's Hand.
Dia melihat semuanya, seolah dirinya kini menjadi salah satu anggota guild yang sibuk menonton pada waktu itu.
"Bangkit dan lawan aku jika kau bukan seorang pecundang," kata Sang Kepala Suku setelah mengembalikan pedang Faran yang tadi terlempar jauh.
Faran mengingat betul ekspresi angkuh dari pria brengsek itu. Setidaknya kini dia dapat melihat wajahnya lebih jelas.
"Oh sayang sekali," lanjut si angkuh dengan nada datar. "Sepertinya gelandangan ini baru saja keluar dari game, apa benar dia setakut itu?"
Tak kuasa melihat satu dunia menertawakan dirinya kala itu, Faran merapatkan rahang dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "A-aku bisa melewatinya, pasti... ,"
"Pasti, aku akan menjadi yang terkuat."
Didepannya, kini Faran melihat dirinya berlutut kaku dan terdapat notifikasi diatas kepalanya, dimana dirinya yang disana telah meninggalkan permainan. Lalu disaat yang sama, hal yang paling paling dia benci dalam posisi itu akhirnya muncul didepan kedua matanya.
Kepala Suku, berkata dengan datar kepada anak buahnya. "Geledah mereka, aku yakin Aqua memiliki beberapa item berharga."
Kakinya bergeser, seakan ingin mencoba menyelamatkan Aqua sekali lagi. Namun, apa boleh buat, ini semua hanyalah sebuah video rekaman ulang.
"Tidak ada apapun, Tuan Kepala Suku," ujar salah satu anggotanya yang baru saja menggeledah avatar Aqua. "Yang tersisa hanyalah kalung mana kelas D ini."
"Apa?! Berikan padaku!" -merebut kalung itu dan melemparkannya ke sebuah tungku api raksasa- "Menjijikkan, ternyata selama ini Aqua hanyalah seorang gelandangan, bagaimana mungkin dia memakai kalung murahan seperti itu." Kepala Suku terlihat begitu geram. "Bagaimana dengan Zon Credits miliknya?"
"Saldonya tersisa 1.300 Zon Credits, Tuan."
Bagai hujan tanpa angin, wajah geram makhluk angkuh itu seketika tersenyum licik. "Aku ambil uangnya."
"Lalu bagaimana dengan si pemula disebelahnya, Tuan Kepala Suku?"
Pertanyaan dari bawahannya itu lantas menghentikan langkah pergi Kepala Suku. "Ah, aku hampir saja lupa," katanya dengan memainkan dagunya.
"Sepertinya, aku tidak tertarik untuk membunuhnya, apalagi merampok semua sampah yang dia punya," lanjut si ketua.
"Lalu, apa yang akan Tuan lakukan padanya?" tanya anggota lain penasaran.
Tanpa basa-basi, Kepala Suku mengucapkan sebuah mantra yang mengejutkan semua anggota guild disana. "Portal kegelapan terbukalah! Kirim player ini ke tempat yang kau inginkan!"
Melihat cahaya hijau bercampur aura kegelapan bersinar terang melingkupi avatar Faran, beberapa anggota guild terlihat panik. "Tuan Kepala Suku! Bukan kah itu sihir kelas atas? Kenapa Tuan menggunakannya pada gelandangan itu?"
"Tidak masalah," balas Kepala Suku tersenyum licik. "Ini hanya sekedar untuk kepuasan pribadi."
...[Video telah berakhir]...
"Jadi begitu rupanya, melihat cara mereka memperlakukan Aqua membuat dada ku terasa sesak," ujar Faran yang sedari tadi terduduk di dalam gua. "Mereka benar-benar melakukan hal semacam itu di dalam sebuah game."
"Sepertinya dunia benar-benar dipenuhi manusia seperti mereka." Dengan menghela napas panjang, Faran berdiri untuk mencari tahu dimana sekarang dia berada.
...[Selamat datang di Gua Khuasar]...
"Khuasar?"
"Sepertinya tidak terdengar asing bagiku."
Disaat dirinya sibuk meraba dinding gua untuk mencari jalan keluar, getaran hebat layaknya gempa bumi terjadi beberapa kali. Getaran itu terasa sangat keras diikuti dengan teriakan orang-orang meminta pertolongan.
Mendengar hal itu, kedua matanya berkilat. "Aku ingat!" serunya dengan menarik keluar pedang. "Ini tempat yang aku lihat di televisi minimarket beberapa waktu lalu."
"Jika benar begitu... Khuasar." Tubuhnya mulai sedikit bergetar. "Khuasar adalah nama seekor naga."
...[VR Horizon : Kebangkitan Pecundang]...
"Tolong! Aku terbakar!"
"Jangan mundur! Incar saja kepalanya!"
"Ketua! Kita harus mundur! Prajurit NPC yang kita rekrut tersisa sedikit."
"Apa kalian pikir guild kita adalah guild pecundang, hah?! Terus saja serang naga itu!"
Gua yang sejak awal lembab, gelap dan sepi, ternyata menyimpan sebuah pertempuran besar yang sedang terjadi. Sama persis seperti yang beberapa hari lalu dilihat Faran melalui televisi, sekumpulan prajurit sedang melawan seekor naga hitam besar yang bernama Khuasar.
Disisi lain, tepatnya dari sudut gua yang gelap, Faran menyaksikan bagaimana player-player itu bertempur, atau mungkin, lebih tepatnya melihat bagaimana player-player itu terbantai satu persatu.
Khuasar begitu kuat, semburan api yang keluar dari mulutnya seketika membakar habis setiap orang yang menghalangi langkahnya. Tombak demi tombak dilemparkan, busur panah dilesatkan, bahkan kekuatan sihir seperti kekuatan api hingga petir dikeluarkan hanya untuk berharap, Sang Naga dapat tumbang seketika. Namun, semuanya hanyalah ilusi belaka, para penyihir mati, pemanah mati, bahkan ketua guild mereka yang songong sudah terpanggang habis tak bersisa.
Lalu apa yang akan dilakukan si pemula, apakah Faran hanya akan bersembunyi disana hingga semua orang tewas?
"Kenapa tidak ada celah sedikitpun?" ujarnya memegang erat pedang bapuk yang dia harapkan dapat menembus kulit super keras milik Khuasar. "Memangnya apa yang mereka cari dengan melawan naga ini? Aku tidak yakin bisa mengalahkannya, tapi... Jika membiarkan mereka mati, aku juga pasti akan mati."
...[Dengan mengalahkan Khuasar Sang Naga, Tuan dapat memperoleh hadiah sebesar 10.000 Zon Credits]...
Mendengar notifikasi sistem yang tiba-tiba muncul di panelnya, membuat si miskin tersedak bukan main. "Sepuluh ribu?! Bukankah itu setara sepuluh juta rupiah?!"
Suaranya yang begitu keras dijawab oleh Sang Naga dengan menghembuskan nafas hangat yang keluar dari kedua lubang hidungnya tepat menerpa wajah Faran, bagaikan terhembus angin pantai.
"Matilah aku."
...[Bersambung]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Kerta Wijaya
🤟
2024-07-07
1