Bab 15

"Satu gelas lagi tidak akan cukup bagiku, berikan aku satu botol lagi, Lie Jiaying!" Kedua matanya yang cekung memerah menatap kearah wanita berambut pendek yang berdiri disampingnya.

CEO Half-Life Corporation, Zhang Wei benar-benar mabuk berat. Sekali pun begitu, dia tidak dapat berhenti menenggak minumannya dan terus meminta Lie Jiaying, sekretaris pribadinya, untuk mengambilkan botol minuman yang baru.

"Apa sudah ada perkembangan?" tanya Lie Jiaying sambil menuangkan minuman ke sebuah gelas kecil milik Zhang. Pertanyaan wanita itu tertuju kepada seorang pria yang berdiri begitu dekat dengan layar monitor raksasa diruangan itu.

Irwan Rahantyo, terlalu sibuk menjatuhkan harapan pada bocah yang mereka pantau didepan layar. "Faran masih kesulitan menghadapi anjing itu," ujarnya serius.

AC ruangan yang begitu dingin, menyejukkan ruangan, tidak mampu menahan emosi Sang CEO yang sedang duduk santai di sofa. Zhang Wei, menenggak minuman kerasnya sekali lagi sebelum berbicara penuh emosi. "Kenapa bocah itu masih berbaring di sana? Bukankah dia sama saja dengan yang lain? Program999 benar-benar sudah tamat."

"Setidaknya Kita harus terus memantau perkembangannya, Tuan Muda Zhang. Meskipun kita tahu Program999 telah tamat. Namun statusnya masih aktif pada Faran. Oleh karena itu–"

"Diamlah, Lie Jiaying! Aku tidak sedang berbicara denganmu," potong Zhang melambaikan tangannya kesal, seperti orang sinting. Maklum, mabuk berat.

"Hei, Irwan... kau sahabatku sejak kecil... kau seharusnya mengerti jika ayahku jika tidak akan memaafkanku jika perusahaan ini bangkrut, dia akan terus menghantuiku seumur hidup. Kau pasti punya rencana cadangan, bukan?" lanjut Zhang.

Irwan mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Aku punya rencana yang Tuan Muda maksud, dan hal itu sedang dijalankan."

"Bisa jelaskan padaku secara rinci, bagaimana rencana itu dapat bekerja?"

Mendengar wanita itu berbicara kepadanya, Irwan menoleh kebelakang dan melihat bos muda mereka telah tertidur pulas di sofa. Pria itu berdehem sebelum berbicara. "Aku menyebutnya Guardian Angels."

Jiaying mengerutkan kening, penasaran. "Guardian Angels?" rambut pendeknya bergerak ringan saat ia memiringkan kepalanya, bertanya-tanya apa yang sedang dimaksud pria tua didepan layar.

"Aku tidak perlu menjelaskannya sekarang," jawab Irwan dengan singkat. "Lagi pula... sebentar lagi kita akan melihatnya langsung di depan layar."

...[VR Horizon : Kebangkitan Pecundang]...

Sepertinya dia mulai kehabisan napas, jantungnya berdetak begitu kencang saat Faran memaksa kedua kakinya untuk terus berlari. Pemuda itu melompat, berguling, tengkurap dan segala gerakan lain yang dapat menyelamatkan dirinya dari serangan Cerber.

Bukan main, Cerber yang memiliki liur begitu asam, ternyata juga dapat menyemburkan api berwarna hijau. Entah apa yang dimiliki Heksa, sepertinya semua pernak-pernik miliknya didominasi dengan warna itu.

"Aku tidak bisa lagi, energiku telah habis," ujar Faran ketika avatarnya tidak lagi mampu untuk berlari, bahkan berjalan pun tak sanggup. "Dadaku sesak, game ini sepertinya benar-benar sedang mengambil separuh nyawaku."

"Hei, ini tidak adil! Bagaimana pertunjukannya berakhir begitu cepat," keluh Heksa dikejauhan, dia memegang erat ujung roknya dengan kesal, seperti seorang gadis kecil yang memohon untuk dibelikan es krim. Namun yang ini berbeda. "Bangkit dan lawan anjing kesayangan ku, Faran! Kau tidak se-tolol itu kan, sampai-sampai kau tidak mengerti cara menggunakan efek dari Program999 yang diwariskan kepadamu?"

"Berisik!" bentak Faran, saat dirinya kini benar-benar berhadapan dengan anjing raksasa berkepala tiga. "Aku tidak punya senjata, player lain sedang terbantai, Sistem di panelku juga tidak mengirim pesan ataupun pemberitahuan khusus yang dapat menolong ku dalam situasi seperti ini."

Pemuda itu tertunduk sejenak, kedua pundaknya naik turun mengikuti setiap napasnya yang terasa begitu berat."Baiklah," ujarnya mantap.

Faran mengepalkan kedua tangan, suara gemertak ditangannya terdengar begitu meyakinkan. "Aku... ," - menatap lurus, melotot kearah monster dihadapannya- "Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan Horizon!"

Butiran-butiran air seketika melayang disekitarnya, tidak jarang air itu mengenai wajahnya. Baunya familiar seperti bau besi.

Dentuman keras yang terjadi didepan matanya benar-benar membuat Faran terdiam, mati kutu. Dia melihat dengan jelas, bagaimana kapak besar bermata dua itu terayun dan memenggal salah satu kepala Cerber.

Seorang ksatria dengan zirah serba putih secara mengejutkan muncul didepannya, memacung kepala anjing itu dengan sekali serangan yang nampak begitu mudah.

Penampilan pria itu benar-benar seperti seorang ksatria tangguh. Ukiran rumit tercetak di bagian dada dan bahu zirahnya yang begitu kokoh. Sedangkan kepalanya, dilindungi oleh helm yang tidak kalah kuat. Semua bagian seakan tertutup rapat dan terlindungi, bahkan bagian matanya hanya diberikan sebuah garis yang begitu tipis, hingga kedua matanya terlihat bersembunyi dibalik kegelapan.

"Si-siapa kau?" tanya Faran, melihat sosok didepannya dari atas ke bawah.

...[Level 100 - Hamon]...

...[Job : Tanker]...

...[Status : NPC]...

...[Status aktif : Guardian Angels]...

"NPC?"

Ucapan Faran didengar olehnya, Hamon menoleh kearahnya sebentar, sebelum dia mendongak, dimana suara elang terdengar begitu keras.

Disinilah keseruannya dimulai. Faran yang penasaran turut memutar kepalanya keatas, melihat apa yang sedang diperhatikan olehnya.

Memecah keheningan langit malam dan menumpas seluruh hawa jahat yang sejak tadi menyelubungi Teralia, seekor Gryphon kini terlihat terbang bebas diatas langit kota.

Gryphon atau yang biasa mereka panggil Griffin adalah makhluk legendaris bertubuh singa, namun berkepala elang dan memiliki dua buah sayap. Suaranya benar-benar terdengar seperti elang pada umumnya, hanya saja jauh lebih keras.

Faran melihat makhluk itu dengan rahang tergantung, pikirannya berkecamuk, cemas jika makhluk itu adalah musuh baru yang datang untuk membantu Heksa, namun kenyataannya tidak.

Karena Gryphon itu tidak sendirian, seorang wanita berzirah lengkap sedang menaikinya. Secara penampilan sangat mirip dengan Hamon, hanya saja zirahnya terlihat ramping dan dia tidak membawa kapak bermata dua, melainkan sebuah staff atau tongkat sihir berwarna perak berkilauan yang memantulkan cahaya bulan.

Tak hanya berputar-putar diatas sana, hal yang dinantikan akhirnya tiba. Sebuah cahaya keemasan melesat turun dari tongkat ditangannya. Terlihat seperti sebuah laser yang ditembahkan dari atas. Akibatnya ledakan hebat terjadi, setiap kali laser itu menyentuh permukaan tanah.

Sedangkan targetnya tidak lain adalah Khaias yang lari tunggang langgang ketakutan, hingga secara mengejutkan celananya sempat melorot hingga terlihat sedkit, sebuah belahan yang begitu gelap.

...[Level 100 - Mildred]...

...[Job : Mage]...

...[Status : NPC]...

...[Status aktif : Guardian Angels]...

Kehadiran mereka benar-benar melepas ikatan yang membuat Faran begitu sesak. Kini dia dapat bernapas lega melihat para maniak itu kalang kabut, ketakutan.

Namun bala bantuan tidak selesai sampai disitu. Disana masih ada Mr.Stitches yang dengan santainya melahap player yang tersisa satu persatu. Namun, aksi kejinya itu tidak berlangsung lama, setelah kedua matanya yang dijahit rapat mulai menyadari keberadaan seseorang yang begitu kuat didekatnya.

Lebih tepatnya dibelakang, dimana seorang ksatria samurai tiba-tiba muncul dan menempelkan sebuah kertas misterius di punggung monster buncit itu.

Tentu saja monster itu panik dan berusaha melepas kertas itu, namun dengan gerakan yang begitu cepat, sosok yang baru saja hadir dibelakangnya itu segera menebas salah satu tangan Mr.Stitches, bahkan kaki kanannya kini menjadi korban berikutnya. Alhasil monster besar itu ambruk, berguling, menggeliat seperti balon yang terisi air.

Hingga tak lama sebelum tangan dan kakinya mulai kembali pulih, kertas dipunggungnya terbakar dan meledak, menghancurkan Mr.Stitches berkeping-keping. Dibawah sinar bulan, potongan tubuh monster itu berhamburan tidak karuan.

Pria itu tidak mengangkat pedang katananya dengan sombong, tidak pula berteriak penuh kemenangan, setelah berhasil membunuh Mr.Stitches dengan satu kali serangan, sama seperti Hamon.

...[Level 100 - Oda]...

...[Job : Swordman]...

...[Status : NPC]...

...[Status aktif : Guardian Angels]...

Dibawah sinar bulan yang dihiasi kunang-kunang, zirah tradisional Jepang yang Oda kenakan begitu memukau. Dia memakai helm samurai dari baja dan dihiasi dua buah tanduk yang menjulang tinggi. Sedangkan wajahnya tertutup oleh topeng Menpo, yakni topeng mengerikan dengan gigi tajam dan kedua mata merah menyala.

Zirah yang tersusun dari plat besi juga tidak kalah kokoh dengan milik Hamon, walaupun berbeda bentuk. Yang jelas, warna putih berhias emas yang mendominasi di atribut mereka bertiga benar-benar menjelaskan bahwa mereka berada di satu tim yang sama.

Sorakan kemenangan dari para player yang tengah berjuang disana menggema ke seluruh penjuru Teralia.

"Apakah mereka top player?"

"Tapi aku belum pernah melihat mereka sebelumnya," timpal player lain.

"Pasti mereka adalah sekumpulan orang kaya yang datang untuk menyelamatkan Horizon!" lanjut wanita disebelahnya.

Semua orang menyambut kehadiran mereka dengan baik, tak terkecuali para warga yang telah lama bersembunyi dirumah-rumah. Satu persatu dari mereka mulai membuka jendela, memberi semangat kepada tiga pahlawan yang mereka sebut sebagai Guardian Angels.

Sedangkan Faran, hanya mendapat capeknya saja, tidak ada satu pun orang yang bersorak kepadanya.

Tidak ada.

...[Bersambung]...

Terpopuler

Comments

Kerta Wijaya

Kerta Wijaya

🤟

2024-07-07

1

Fendi Kurnia Anggara

Fendi Kurnia Anggara

up thor

2024-06-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!