Bahkan Mamah Aria hampir saja tidak sadarkan diri mendengar kemalangan kembali menimpa putri satu-satunya. Zhia sendiri tidak bisa berkata apapun lagi, meski Lucia mengatakan bahwa itu masih dugaannya saja sebagai seorang dokter. Akan tetapi, Zhia tahu persis bahwa putrinya dokter terbaik di rumah sakit itu yang kemungkinan salah diagnosisnya sangat kecil dibandingkan dokter lainnya.
“Astaga, kemalangan apa lagi yang harus menimpa putriku lagi! Hiks … Tidak cukupkah dengan semua penderitaan yang dia alami saat ini,” ujar Mamah Aria disela isak tangisnya meratapi nasib buruk Olivia yang harus mengandung beni dari orang yang menghancurkan hidupnya sendiri.
“Mah, tenanglah! Oliver akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terlebih dahulu, kita berharap saja dugaan Dr. Lucia kali ini meleset,” ujar Oliver yang juga berharap bisa mengubah hasil pemeriksaan, tapi tetap saja dia tidak bisa merubah kenyataan.
“Benar, kita tunggu hasil pemeriksaannya dan berdoa mendapatkan hasil yang sesuai kita inginkan,” ujar Zhia yang sebenarnya dia sendiri ragu dugaan putrinya akan salah.
Namun, bagaimanapun semua orang membujuk Mamah Aria untuk tenang tetap saja sebagai orang ibu dia bisa membayangkan betapa hancurnya menjadi Olivia ketika mengetahui bahwa dia tengah mengandung benih hasil pelecehan yang dialaminya. Luka fisik dan mentalnya saja belum sepenuhnya pulih, kini dia malah harus dihadapkan dengan luka lainnya.
“Lakukan saja pemeriksaannya sebelum Olivia sadar, sehingga kita bisa memikirkan jalan keluar yang terbaik setelah hasil pemeriksaan itu keluar tanpa sepengetahuan Olivia,” ujar Papah Erik yang ingin memastikan kebenarannya sekaligus tidak ingin membuat putrinya mengetahui tentang pemeriksaan tersebut. Ingat, Olivia juga seorang dokter hebat akan sangat sulit membohongi hasil pemeriksaan itu kalau Olivia dalam keadaan sadar sepenuhnya.
“Baik, Pah! Oliver akan mulai melakukan pemeriksaannya sekarang,” sahut Oliver yang bergegas keluar untuk mengambil peralatan yang dia butuhkan. Sedangkan Lucia megambil sampel dari Olivia untuk dilakukan pemeriksaan lebih detail di Lab.
...****************...
Disisi lain, Rayden dan Levi masih berusaha mengejar pria bertopeng itu bahkan sampai keluar dari area rumah sakit. Seberapa jauh pria bertopeng itu berlari, Rayden dan Levi tidak akan membiarkannya lolos dengan mudah. Hingga pada akhirnya pria bertopeng itu tersudut pada sebuah gang buntu.
“Aish, sial!” umpat pria bertopeng itu yang tidak bisa lari kemanapun lagi, bahkan tubuhnya kini juga sudah terluka cukup parah tapi malah harus berhadapan dengan Rayden dan Levi.
“Mau kabur kemana lagi, Hah?” ujar Levi dengan deru napas yang tersengal-sengal.
“Bahkan sampai ke ujung neraka pun kami akan terus mengejarmu, bajingan sialan!” geram Rayden yang sama seperti Levi berusaha mengatur napasnya.
“Hahaha, kalian pikir bisa menangkapku dengan mudah, Hah?” Tiba-tiba pria bertopeng itu malah tertawa seraya kembali berkata, “Lihatlah, di belakang kalian!”
Siapa sangka tepat di belakang Rayden dan Levi sudah banyak gangster yang telah mengepung mereka dengan membawa berbagai senjata tajam. Rayden dan Levi pun semakin geram setelah menyadari mereka malah masuk ke dalam jebakan bajingan sialan itu. Namun, dengan tenang Rayden meraih ponsel di saku celananya dan menelpon pada Luca untuk meminta bantuan.
Para gangster itu pun tidak tinggal diam, mereka tidak akan membiarkan baik Rayden maupun Levi meminta bantuan kepada yang lainnya. Para gangster itu langsung menyerang Rayden dan Levi secara membabi buta, tapi hanya Levi yang nahan semua serangan itu.
“Pah, jangan sampai bajingan itu lolos apapun yang terjadi. Aku akan coba membereskan mereka, Papah fokus menangkapnya saja apapun keadaannya yang penting masih hidup,” ujar Levi disela pertarungannya.
Dor … Dor ….
Dan belum sempat Rayden memberikan jawaban, tiba-tiba dari arah bangunan tinggi yang tidak jauh dari gang tersebut, ada sekelompok penembak jitu yang menargetkan keduanya. Meski menangkap pria bertopeng itu penting, tapi keselamatan keduanya jauh lebih penting dari apapun.
Rayden dengan sigap langsung menarik Levi untuk berlindung dari peluru yang menuju ke arah mereka. Dan di saat yang bersamaan, pria bertopeng dan para gangster itu juga memanfaatkan tersebut untuk melarikan diri. Rayden pun memilih untuk melepaskan pria bertopeng itu lebih dulu, tapi tidak untuk lain kali.
“Apa kau terluka?” tanya Rayden memastikan keadaan menantunya.
“Tidak, Pah! Beruntung Papah dengan cepat menyadari keberadaan para penembak jitu itu,” ujar Levi yang merasa cukup lega karena berhasil selamat dari jebakan tersebut.
“Syukurlah, Lucia bisa mengamuk kalau kau sampai terluka,” gumam Rayden yang ternyata takut putrinya mengamuk, bukan takut karena Levi bisa mati kapan saja tadi.
“Syukurlah, Papah juga kelihatannya baik-baik saja. Bisa menggila Mamah Zhia kalau Papah sampai terluka,” balas Levi dengan tidak tahu dirinya dan sontak mendapat tatapan tajam dari Rayden.
“Sudah berani membalas perkataan Papah mertuamu rupanya ‘yah?” geram Rayden masih dengan tatapan tajamnya, tapi Levi malah mengabaikannya.
“Woy, kami berdua ada di sini!” seru Levi saat melihat kedatangan Trio somplak dengan membawa anak buah mereka. Dengan cepat mereka pun menghampiri Rayden dan Levi di tempat persembunyiannya untuk memastikan tidak ada yang terluka.
“Kenapa kalian baru datang?” Levi bertanya dengan kesal.
“Kami hampir saja menangkap bajingan kelamin itu, tapi siapa sangka dia sudah menyiapkan jebakan di sini. Beruntung Papah mertuaku yang tampan, bijaksana dan tidak sombong ini cepat menyadarinya. Jadi, kami bisa selamat dari para gangster dan penembak jitu itu,” sambungnya menjelaskan secara singkat, padat dan jelas apa yang baru saja terjadi.
Tidak lupa memuji sang Papah mertua agar semakin menjadi menantu kesayangan, tanpa dia sadar bahwa trio somplak jengah mendengarkan ocehannya.
“Masih ada kelompok Dimitri yang tersisa, itu artinya kita masih memerlukan bantuan Leonard untuk mencari tahu tentang kelompok itu,” ujar Rayden memberitahu kesimpulan yang dia dapatkan setelah kejadian tadi.
“Maksud Tuan masih ada orang-orang Evan yang ingin balas dendam pada kita?” Will memperjelas kesimpulan itu.
“Aku juga belum yakin sepenuhnya, tapi aku merasa bahwa mereka masih berhubungan dengan Evan dan kejadian yang menimpa Rayna,” jawab Rayden yang masih belum merasa yakin dengan dugaannya kali ini.
“Suruh Leonard untuk segera datang menemuiku,” perintah Rayden sembari berjalan kembali menuju rumah sakit.
“Baik, Tuan! Aku rasa dia juga belum kembali ke negaranya,” sahut Will.
“Lalu bagaimana dengan keadaan Dr. Olivia? Bajingan itu belum sempat melukainya lagi, bukan?” Rayden lalu teringat dengan Olivia yang malam karena sekarang menjadi target dari para musuhnya.
“Kami belum mendapat informasi apapun dari Triple R, Tuan! Kami langsung menyusul anda begitu sampai di rumah sakit,” jawab Will lagi.
“Bukankah ini aneh? Kenapa mereka malah menargetkan Dr. Olivia? Apakah Dr. Olivia mengetahui sesuatu tentang mereka?” celetuk Felix yang sedari tadi diam ternyata tengah mempertanyakan hal itu.
Bersambung, ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
ikutan bingung
2024-07-11
0
Niar@weLLio
kalau masih ada sisa anak buah Evan berarti mereka semua musuh besar keluarga Xavier yang ingin balas dendam.Duh jadi tambah penasaran bacanya
2024-07-06
1
L A
makanya perlu ada hukuman maximal, klo perlu kebiri utk pelaku perkosaan
Karena efek traumatis yg dialami korban sangat tidak mudah ditangani
2024-06-27
1