Sedangkan di markas, Luca dan yang lainnya tengah memeriksa kamera dashboard mobil pengunjung rumah sakit dan beberapa berkas informasi yang mereka dapatkan dari pertarungan terakhir. Awalnya mereka hanya mengira bahwa ada beberapa pihak pemerintah yang ikut membantu rencana Dimitri, tapi nyatanya bahkan ada pihak rumah sakit yang juga ikut membantu sehingga mereka bisa dengan mudah menerobos keamanan yang di jaga Jack, Matt dan Max.
“Bagaimana bisa kita melewatkan hal sepenting ini,” sentak Luca yang melempar laptop yang masih memperlihatkan rekaman kamera dashboard salah satu mobil pengunjung di rumah sakit pada malam kejadian itu.
“Regis, kau yang bertanggung jawab menangani semua rekaman yang ada, bukan? Lalu kenapa Kay yang bisa mendapatkan semua rekaman ini, Hah?”
Ya, Luca mendapatkan rekaman itu dari putranya sendiri yang diam-diam masih membantunya menyelidiki tentang penyerangan yang terjadi di rumah sakit. Anak sekecil Kay saja langsung menyadari bahwa keamanan rumah sakit yang di jaga ketat oleh dua orang kepercayaan Papahnya ditambah satu orang kepercayaan Levi masih saja kebobolan. Hingga dia menyimpulkan bahwa ada pihak rumah sakit yang turut membantu melemahkan penjagaan di sana salah satunya dengan gas asap obat bius.
“Maaf, tapi Papah dan Kakak juga tidak sampai berpikir ke sana bagaimana kami bisa memikirkan sampai hal itu. Jika memang harus ada yang di salahkan, maka kita semua harus di salahkan kenapa Kakak malah hanya menunjuk padaku saja. Ini tidak adil,” protes Regis karena bukan dia saja yang bertanggung jawab masalah rekaman yang ada.
“Apa yang Regis katakan memang benar, Luca! Kita semua memang salah kerena tidak mencoba mencari rekaman kamera dashboard pada mobil para pengunjung, jadi jangan salah dia saja.” Will pun membenarkan protes Regis.
“Benar, kita beruntung Luca mewariskan kegeniusannya pada putranya. Dengan begitu kita bisa menyelesaikan apa yang masih tersisa,” imbuh Felix yang menengahi keadaan yang sudah sedikit memanas itu.
“Sekarang kita harus menangkap orang itu, tapi rekaman ini tidak begitu jelas sehingga kita akan kesulitan untuk menemukan pelaku sebenarnya,” ujar Jaydon yang jujur saja sulit mengenali orang-orang dalam rekaman dashboard mobil itu.
“Padahal itu rumah sakit milik Kak Levi dan Kak Lucia, bagaimana bisa ada musuh yang bersembunyi di dalamnya. Sedangkan kita tahu sendiri bagaimana Kak Levi dan Kak Lucia menjada keamanan di rumah sakit itu—”
“Artinya orang itu adalah orang yang bekerja di sana selama bertahun-tahun. Dan kemungkinannya hanya dua, mereka dibayar oleh Dimitri atau mereka memang secara suka rela bekerjasama dengan imbalan tertentu,” potong Rayga yang seketika langsung mendapat dua dugaan sekaligus. Maklum saja, Rayga adalah detektif terbaik di kepolisian meski dia hanya menangani beberapa kasus tertentu saja yang berhubungan dengan kejahatan kelas kakap.
Brakk ….
“Jadi, maksud kalian masih ada bajingan kelamin yang masih tersisa diluar sana, terutama di rumah sakit tempat Olivia masih di rawat!” seru Ryuga yang begitu datang langsung menggebrak meja, hingga hampir membuat semua orang di sana mengalami serangan jantung masal.
Plakkk, ….
Sebuah sepatu melayang dan mendarat tepat di kepala Ryuga cukup keras. Ingin sekali Ryuga mengumpat dan memarahi pelaku pelemparan sepatu itu, tapi seketika nyalinya menciut saat melihat sang pelaku pelemparan tersebut adalah Kakak sulungnya sendiri.
“Apa? Sepatuku masih tersisa satu, kau ingin kali ini aku lemparkan pada kepalamu sampai gegar otak, Hah?” sentak Luca menatap tajam pada Ryuga, “Dimana sopan santunmu, datang-datang main gebrak meja seenaknya.” Omelnya.
“Maaf, Kak! Tidak sengaja kelepasan tadi,” ucap Ryuga dengan wajah tertunduk, karena takut bertatapan langsung dengan mata tajam kakak sulungnya.
“Cepat ambilkan sepatuku ke sini!” perintah Luca yang langsung dipatuhi Ryuga, sebelum terkena amukan lainnya.
Sontak, semua orang yang ada di dalam ruangan itu pun diam-diam menertawakan Ryuga. Sudah tahu Luca sedang dalam mode garangnya, bahkan saat bicara ditelepon saja langsung to the point. Ini lagi, Ryuga yang baru datang main gebrak meja dan alhasil mengamuk ‘lah anak sulung sang raja iblis keluarga Xavier ini.
“Kak, jika masih ada pelakunya di rumah sakit itu maka saat ini Olivia masih dalam bahaya ‘dong! Kenapa Kakak tidak mengatur keamanan yang lebih ketat di sana? Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada Olivia, Kak?” cecar Ryuga yang jelas sangat mengkhawatirkan sang pujaan hatinya.
“Apa kau tidak tahu mengapa Papah, Kak Levi dan Kak Lucia tidak berada di sini sekarang?” sela Rayga yang mengalihkan perhatian Ryuga dan yang lainnya, “Karena mereka tahu bahwa kemungkinan Jack, Matt, Max dan Dr. Olivia akan dalam bahaya di sana. Oleh sebab itulah, mereka selalu berada di rumah sakit terutama sering mengunjung ruang rawat Dr. Olivia.” Lanjutnya.
“Jadi, sejak awal kalian sudah mengetahuinya! Lalu kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang ini?” sungut Ryuga yang merasa hanya dirinya yang tidak mendapatkan informasi tersebut.
“Siapa yang menyuruhmu sering menghilang secara tiba-tiba, Hah? Sekarang kau tidak tahu informasinya ingin menyalahkan siapa? Tentu saja salahkan dirimu sendiri, Ryuga Cano Xavier!” sentak Luca yang membuat Ryuga seketika langsung terdiam saat menyadari kesalahannya.
“Lalu apa rencana kita sekarang untuk menangkap orang-orang yang tersisa. Jika mereka orang biasa, maka akan mudah untuk menjebaknya dalam sebuah perangkap. Namun, jika mereka sebanding dengan anggota mafia maka akan sulit bahkan untuk menemukan identitas aslinya,” ujar Felix yang kembali pada pembahasan utama mereka.
“Kita tunggu saja perintah dari mereka bertiga! Karena mereka sudah mengantongi beberapa orang yang cukup mencurigakan,” ujar Luca yang menunggu perintah selanjutnya dari Rayden, Levi dan Lucia, “Untuk sekarang temukan dan tangkap orang-orang yang identitasnya telah di ketahui saja.” lanjutnya.
“Kak, Biarkan aku ikut menjaga Dr. Olivia! Aku tidak ingin kejadian malam itu terulang lagi padanya. Lagi pula, bukankah kita sudah berjanji akan menjamin—”
“Hmm, Kau, Regis dan Rayga akan melindungi Dr. Olivia secara diam-diam mulai sekarang. Dan cobalah untuk memancing orang itu agar segera memunculkan dirinya,” potong Luca yang langsung menyetujui permintaan adiknya, “Jika memancingnya keluar masih cukup sulit, maka coba cari tahu motivasi orang itu mau membantu Dimitri.” Imbuhnya.
“Baik, Kak! Kami akan melakukan yang terbaik untuk itu,” jawab Ryuga, Rayga dan Regis serentak.
“Untuk masalah pelaku dalam pemerintahan, bukankah Paman Will, Paman Felix dan Paman Jaydon yang menjadi ahlinya. Jadi, Papah menyuruh kalian untuk membereskan orang-orang itu,” ujar Luca menyampaikan apa yang Papahnya katakan.
“Haah, sudah aku duga kita pasti akan kebagian yang merepotkan!” gerutu Felix sembari menghela napas pasrah dengan tugas yang harus mereka selesaikan.
Bersambung, ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
🅴🆉🆁🅰
kayaknya arshan juga sangat pintar biar terhindar dari kecurigaan keluarga xavier
2024-11-17
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
ayo semua bergerak sesuai tugasnya... cepat... cepat
2024-07-09
0
Niar@weLLio
tugas sudah di bagi...tinggal menunggu hasilnya...semoga cepat ketangkap pelakunya biar gak ada lagi tuh penjahat kelamin😠😠
2024-07-06
1