“Apakah aku terlihat ingin melarangmu mendekati adikku? Aku bahkan belum mengatakan apapun bagaimana bisa kau menyimpulkan bahwa aku tidak akan merestui kalian karena kau berasal dari keluarga Xavier?” cecar Oliver seraya tersenyum melihat kegugupan yang terlihat jelas di wajah Ryuga.
“Aku malah merasa sangat lega sekaligus senang setelah mengetahui bahwa kau yang telah membuat adikku perlahan mulai bangkit kembali dengan bunga dan surat yang kau kirimkan setiap hari. Terima kasih karena sudah menyukai adikku dan bersedia menerima dirinya yang seperti ini sekarang,” ucap Oliver dengan tulus, karena bagaimana pun juga adiknya sudah tidak suci lagi karena kejadian malam itu.
“Tidak! Aku yang seharusnya berterima kasih, karena sudah mengizinkan aku untuk mendekati adikmu. Setelah permasalahan keluargaku yang tanpa sengaja membuat adikmu menjadi korban, bahkan ribuan permintaan maaf tidak akan bisa mengembalikan keadaan adikmu seperti semula,” ujar Ryuga yang masih saja merasa bahwa apa yang terjadi pada Olivia karena permasalahan keluarganya.
“Jangan membahasnya lagi! Mungkin saja adikku yang tidak beruntung sehingga kejadian itu menimpanya.” Oliver tidak ingin terus membahas hal yang sudah terlanjut menimpa adiknya, “Jika kau memang menyukai adikku, maka dapatkan saja hatinya dan buat dia hidup lebih bahagia bersamamu.”
“Baik aku maupun kedua orang tuaku tidak pernah sekalipun menyalahkan keluarga kalian atas apa yang menimpa Olivia. Kalian sudah mau meminta maaf dan bertanggung jawab atas hidupnya saja, kami sudah sangat berterima kasih. Apalagi orang tuamu malah menganggap Olivia sebagai putrinya sendiri dan begitu memanjakannya,” imbuh Oliver yang ternyata begitu lapang menerima keadaan yang menimpa Olivia.
Bukan karena dia tidak menyayangi adiknya, begitu juga orang tuanya. Akan tetapi, karena mereka sadar bahwa takdir hidup yang Tuhan rencana tidak akan selalu sesuai keinginan manusia.
“Hmm, aku pasti akan membahagiakannya apapun yang terjadi. Aku akan menjaga dan melindunginya dengan segenap jiwa dan ragaku,” ucap Ryuga yang berjanji pada calon kakak iparnya sekaligus dirinya sendiri, “Dan sekarang aku baru mengerti, mengapa Olivia lebih mirip seorang malaikat di bandingkan manusia biasa. Karena dia memiliki Kakak yang sangat baik dan orang tua yang juga begitu baik.” Lanjutnya.
“Jika aku benar-benar bisa memiliki adikmu itu, maka aku menjadi pria yang paling beruntung karena mendapatkan seorang malaikat yang begitu cantik dan baik hati,” sambungnya penuh kesungguhan.
“Hahaha, aku tidak menyangka bahwa Tuan muda Ryuga yang selalu terkesan seperti gunung es ternyata sangat bucin kalau sudah jatuh cinta pada seseorang. Bahkan sikapmu barusan sangat bertolak belakang dengan karaktermu yang selalu kau tunjukkan pada orang lain. Adikku pasti sangat beruntung bisa memiliki suami sepertimu,” goda Oliver yang berhasil membuat Ryuga tersipu malu karena seketika dia membayangkan menjadi suami Olivia sungguhan.
“Bukankah kau akan menemui Olivia? Masuklah, mungkin saat ini dia sedang tertidur karena tadi telah meminum obatnya. Dan orang tuaku sepertinya akan datang terlambat, jadi kau bisa menemaninya lebih lama dari biasanya,” ujar Oliver yang berhenti menggoda calon adik iparnya yang sudah salting brutal hanya karena membayangkan menikah dengan adiknya.
“Terima kasih, Calon Kakak Ipar!” ucap Ryuga yang membuat Oliver sampai membulatkan kedua bola matanya, karena terlalu terkejut mendengar panggilan baru dari Ryuga.
“Calon Kakak Ipar?” ulang Oliver seraya menaikan salah satu alisnya.
“Hmm, karena mulai sekarang aku benar-benar akan mengejar cinta adikmu dan menjadikan dia satu-satunya wanita dalam hidupku yang akan melahirkan anak-anakku serta menjadi teman masa tuaku nanti,” terang Ryuga dengan wajah yang sudah sangat memerah karena menahan malu mengatakan semua itu dengan penuh percaya diri.
“Hahaha, baiklah calon Adik Ipar-ku! Aku akan menunggu lamaranmu untuk adikku dan melihat perkataanmu barusan menjadi kenyataan atau tidak. Berjuanglah untuk mendapatkan hati adikku itu,” ujar Oliver yang semakin menggoda Ryuga dan juga menyemangatinya untuk mengejar cinta Olivia.
...****************...
Setelah pembicaraan itu, Oliver pun pamit pergi untuk memeriksa pasiennya yang lain. Sedangkan Ryuga pun masuk ke dalam ruang rawat Olivia dan seperti biasa dia akan melihat wajah cantik Olivia yang tengah tertidur karena efek obat yang diminumnya. Meski sering kali Ryuga melihat Olivia mengerutkan kening seakan tidurnya tidak pernah nyenyak. Mungkin dalam mimpinya Olivia masih saja mengingat kejadian keji yang dialaminya, sehingga dalam tidurnya pun merasa tidak nyaman.
“Cepatlah sembuh, Olivia! Kembali ‘lah tersenyum seperti dulu, karena senyumanmu secerah bunga matahari yang aku bawa hari ini. Dan cepatlah bangkit dari keterpurukan mu ini, karena aku ingin kembali melihat Olivia yang begitu bersemangat menyelamatkan para pasiennya. Dan izinkan aku untuk menjadi obat untuk luka hatimu, menjadi pria satu-satunya dalam hidupmu dan ayah dari anak-anak kita nantinya,” ungkap Ryuga seraya menggenggam tangan Olivia dan mengecupnya berulang kali.
“Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Mereka yang berani mengusikmu, maka harus berhadapan denganku lebih dulu. Akan aku buat siapapun yang berani melukai malaikat cantikku lagi, maka hanya kematian yang akan menjadi akhir baginya,” sambung Ryuga yang tidak akan membiarkan Olivia terluka lagi.
Drrtt … Drrrt ….
Lagi-lagi ponsel Ryuga terus berdering, padahal dia sudah mengabaikannya berulang kali. Dia hanya ingin menyempatkan waktunya sedikit lebih lama untuk menemani Olivia, tapi kenapa saudara kembarnya itu terus mengganggunya. Dengan kesal Ryuga mengambil ponsel di saku jaketnya dan cukup terkejut saat melihat nama sang kakak sulung tertera sebagai nama sang pemanggil.
“Ha-halo, Kak Luca!” sapa Ryuga yang langsung menerima sambungan telepon tersebut.
“Kau dimana? Cepat ke markas sekarang, karena kami menemukan pelaku lainnya dalam penyelidikan! Cepat datang dalam waktu sepuluh menit, kalau tidak kau akan mendapat akibatnya dariku!” sentak Luca yang terdengar sangat kesal di sana.
“Ouh, aku pergi ke markas sekarang juga, Kak!” ujar Ryuga yang kini panik mendengar ancaman dari Kakak sulungnya.
“Ingat, hanya sepuluh menit, Ryuga!” Luca kembali menegaskan batas waktunya dan setelah itu langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.
“Aish, apakah Rayga dan Regis mengadu pada Kak Luca bahwa aku tiba-tiba menghilang dari markas? Sudahnya yang terpenting sekarang aku harus datang kesana tepat waktu,” gumam Ryuga.
“Maaf, ternyata aku tidak bisa menemanimu terlalu lama. Aku harus pergi sekarang, semoga kali ini kau juga menyukai bunga dan suratnya.”
Ryuga tidak lupa berpamitan seraya mengecup kening Olivia yang kembali berkerut karena mimpi buruknya, setelahnya Ryuga langsung meninggalkan ruangan itu dengan tergesa-gesa.
Saat itu, Ryuga bahkan tidak menyadari bahwa Arshan sebenarnya tidak meninggalkan area tempat Olivia dirawat. Arshan bahkan mendengar semua pembicaraan Ryuga dengan Oliver dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Bersambung, .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
🅴🆉🆁🅰
gawat itu kalo arshan sampi masuk ke ruangan Olivia karena tidak ada orang yang menjaganya
2024-11-17
0
Kalsum
aduh kenapa gk ada yg jaga dr olivia si
2025-02-11
0
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
adduuuh.... jangan lengah lagi menjaga Olivia..
2024-07-08
1