Olivia perlahan mulai membuka surat tersebut dan perlahan membacanya yang ternyata berisi,
Hai, namaku bunga Hydrangea!
Aku terlihat sangat cantik ‘kan? Seperti yang menerima bunga dan surat ini.
Olivia tampak sedikit menyunggingkan senyumannya setelah membaca dua bait surat tersebut. Orang tua dan Kakaknya tentu melihatnya dengan sangat jelas, meski senyuman itu setipis tisu yang dibagi dua. Mereka tentu menyadari bahwa putrinya mulai terhibur saat membaca surat itu.
Bukankah aku terlihat semakin cantik dengan berbagai warna yang berbeda. Karena pada dasarnya bunga Hydrangea tetaplah bunga Hydrangea terlepas bagaimanapun bentuk dan warnaku. Aku tetaplah bunga Hydrangea yang cantik.
Begitu juga denganmu yang menerima bunga dan surat ini. Kau tetap dirimu sendiri terlepas dari apapun yang telah terjadi padamu, apapun yang telah kau lalui dan apapun yang telah hilang darimu. Kau tetap dirimu, tidak ada yang bisa mengubah dirimu menjadi orang lain. Atau men- statement dirimu untuk menjadi kau versi mereka.
Kali ini bukan senyuman tipis lagi, melainkan butiran air mata yang kembali mengalir deras membasahi wajah cantiknya. Namun, bukan tangisan histeris seperti sebelumnya, tetapi tangisan haru dan tersentuh dari setiap kata yang tertulis dalam surat itu.
Apa kau tahu mengapa orang itu lebih memilihku, bunga Hydrangea untuk menyampaikan surat ini padamu?
Sebab dalam budaya Jepang aku dilambangkan dengan emosi yang tulus, rasa terima kasih dan permintaan maaf.
Olivia tampak terhenti sejenak menatap bait demi bait kata dalam surat itu. Entah mengapa lambang bunga itu seolah bisa menggambarkan kehidupannya. Dimana dia dengan tulus merawat para pasiennya selama ini, ucapan terima kasih selalu dia dapatkan setelah berhasil menyelamatkan dan menyembuhkan pasiennya dan permintaan maaf setiap kali dia gagal menyelamatkan pasiennya, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga pasien.
Sejak aku melihatmu dan bertemu denganmu, sosokmu terlihat bagaikan sosok malaikat tak bersayap melainkan malaikat yang mengenakan snelli putih. Kau memiliki emosi yang begitu tulus merawat dan menyembuhkan para pasienmu.
Tapi di mataku kau lebih terlihat bagaikan bidadari yang Tuhan kirimkan untuk menjadi penyemangat hidupku dan … mungkin menjadi masa depanku. Hehehe ….
Olivia kembali menyunggingkan sedikit senyumannya, karena orang itu menuliskan sesuai apa yang dia pikirkan tadi. Dan yang membuatnya sedikit terhibur, karena orang itu melihatnya seperti sosok malaikat sekaligus bidadari. Dari tulisan itu Olivia bisa langsung menyadari bahwa orang yang mengirimkan bunga dan surat itu pasti diam-diam menyukainya.
Lalu terima kasih sudah menjadi harapan hidup untuk para pasien mu yang sebelumnya sudah putus asa. Jadi, kau juga harus jadikan bunga Hydrangea ini sebagai penyemangat hidupmu. Dan maaf, bukan kesalahanmu karena terlibat dalam kejadian malam itu. Aku ….
Akan aku pikirkan lagi akan menulis apa, sepertinya surat ini harus berakhir sampai di sini dulu. Aku pasti akan kembali dan harap saat itu sudah bisa melihat senyuman cantikmu lagi.
Pertanda,
◦•●◉✿ 𝙍 ✿◉●•◦
“R! Siapa ‘R’ ini?” gumam Olivia setelah selesai membaca surat tersebut.
Jujur saja, setelah dia membaca surat itu kini perasaannya jauh lebih tenang. Seperti yang tertulis dalam surat, bagaimana bentuk dan warna hidupnya dia tetaplah Olivia dan tidak akan menjadi orang lain. Apapun yang nantinya dia hadapi setelah kejadian malam itu, dia tetap akan menjadi Olivia Serena Jansen. Putri dari pasangan Eric Bernando Jansen dan Aria Safina Jansen, serta adik kesayangan dari Oliver Sterling Jansen.
“Olivia, Adik kesayangku!” panggil Oliver dengan suara yang begitu lembut, hingga membuat Olivia menatap ke arahnya.
“Seperti bunga Hydrangea ini, apapun yang terjadi padamu kau akan selamanya tetap menjadi adik kesayangaku! Adik yang selalu bersikap manja dan selalu ingin mengikuti jejak Kakaknya. Kau akan tetap menjadi adikku yang terhebat,” ungkapnya sembari menahan tangis, tapi semua itu percuma ketika melihat adik kesayangannya yang langsung memeluk dan menangis terisak dalam dekapannya.
“Benar, Olivia sayang! Apapun yang terjadi padamu, kau akan tetap menjadi putri kesayangan Papah dan Mamah. Adik kesayangan Kak Oliver, semuanya tidak akan berubah karena kami semua akan selalu berada di sampingmu. Kita akan menghadapinya bersama, hmm?” ucap Aria disela tangisannya. Meski tidak ada jawaban, tapi kali ini Olivia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia sudah mengerti dan mulai menerima apa yang telah terjadi padanya, hingga membuat orang tua dan kakaknya bisa sedikit bernapas lega.
...****************...
Beralih beberapa jam kemudian pada Ryuga yang saat itu tengah dalam pertarungan. Suara tembakan, adu pedang, teriakan kesakitan dan penuh amarah terus terdengar memenuhi wilayah tersebut. Mereka semua saling menyerang, membunuh dan menggila tanpa ampun kepada orang-orang yang telah menciptakan kehancuran kebahagiaan keluarga Xavier. Namun, yang benar-benar sangat menggila dalam pertarungan itu hanya Rayden, Ryuga dan Rayga.
“Dia benar-benar gila! Membunuh dan menyerang siapapun yang terlihat di matanya,” gumam Frank yang tentu saja merujuk pada Rayden.
“Wah, setia kawan sekali kalian! Bagaimana kalau kami mengantarkan kalian ke neraka bersama-sama, seperti kalian bersama-sama membunuh dan melukai orang-orangku!” seru Rayden yang kini sudah berdiri berdampingan dengan Ryuga yang ternyata mengejar Ryan.
“Kenapa Papah perlu menanyakan itu? Sebab kita akan memastikan mereka semua mati dalam hari dan waktu yang sama yaitu hari ini dan beberapa menit ke depan,” ujar Ryuga yang menunjukkan seringainya yang mengerikan sama persis seperti Rayden.
“Namun, sebelum itu setidaknya aku harus memotong burung sampah kalian yang telah berani melecehkan dokter yang tidak terlibat apapun dalam masalah ini. Membunuh, melukai dan melecehkan adalah alasan yang sudah sangat kuat bahwa sampah seperti kalian tidak pantas lagi hidup di dunia ini!” Lanjut Ryuga sembari memainkan pisau belati di kedua tangannya yang dia akan membalaskan dendam untuk sang pujaan hatinya.
Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi, Rayden dan Ryuga kembali melancarkan serangan mereka. Ryan dan Frank pun tidak diam saja, keduanya turut membalas serangan yang dilancarkan Rayden dan Ryuga yang tengah menggila.
Namun, sayangnya serangan ayah dan anak itu sulit sekali diprediksi. Alhasil, Ryan juga harus menerima banyak luka sayatan pada seluruh urat nadi seluruh bagian tubuhnya. Baik itu di bagian kedua tangannya, kedua kakinya serta beberapa tusukan diperutnya.
“Ingat, kalian harus membayar berkali-kali lipat atas perbuatan yang telah kalian lakukan padanya. Aku sudah menahan diri untuk tidak mendekatinya, karena takut dia terlibat dan terluka. Tapi kalian malah tetap melukainya, melecehkannya dan membuatnya trauma. Kalian memang tidak pantas disebut manusia!” ujar Ryuga dengan sorot mata yang penuh dengan dendam.
Yang kemudian berakhir pada bagian urat nadi yang berada di lehernya. Dimana Ryuga yang melakukannya sembari berkata, “Sampah sepertimu tempatnya memang di neraka!”
Bersambung, ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Kalsum
bangus ryuga km harus bisa bunuh yg melecehkan pujaan ht mu
2025-02-10
0
𝐀⃝🥀senjaHIATᴳ𝐑᭄⒋ⷨ͢⚤🤎🍉
bagus Ryuga, habisi semua penjahat yang tega menyakiti keluarga Xavier... mereka pantas mendapatkan kematian yang menyakitkan
2024-07-14
0
𝐀⃝🥀senjaHIATᴳ𝐑᭄⒋ⷨ͢⚤🤎🍉
aaaa Ryuga bisa juga bikin suratnya,aku ikut meleleh☺️☺️
2024-07-14
0